![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Atas pengakuannya, Yuan Feihua menjadi tahanan juga. Tapi kali ini dia langsung dibawa ke penjara istana. Terbunuhnya Wen Canran di tempat Perdana Menteri dan kaburnya satu tahanan yang lain membuktikan keamanan yang sedikit rapuh. Jadi sebaiknya hal ini tidak lagi menjadi urusan keluarga.
Orang-orang istana juga ikut mencari keberadaan An Rong yang menjadi pelaku. Bagaimana pun juga, seperti kata Liana, wanita itu mencurigakan. Tapi terlepas dari itu, dia sekarang menjadi buronan, bukan hanya karena telah membunuh selir Perdana Menteri yang masih berstatus bangsawan—yang artinya dia telah membunuh seorang bangsawan, meskipun yang dia bunuh juga seorang penjahat, tapi tetap saja masih bangsawan. Dan juga karena dia telah berkolusi untuk membunuh Liana yang memiliki status tinggi di dalam Kekaiasan Naga, dia masih memiliki darah keluarga kekaisaran dalam dirinya. Apalagi dia adalah tunangan seorang pangeran. Di mata masyarakat, statusnya meningkat sekali lagi.
Kali ini kediaman Perdana Menteri memang cukup kacau. Orang-orang mulai membicarakan bagaiamana tindakan para selir yang berusaha untuk membunuh anak sah sang Perdana Menteri. Insiden ini terlalu memalukan untuk disebut, tapi orang-orang di seluruh ibu kota masih tetap membicarakan. Menilai bagaimana tindakan tak bermoral yang begitu keji dilakukan pada keluarga sendiri. Dua selir itu benar-benar dicap sebagai orang paling tak berperasaan dalam sejarah dinasti kekaisaran saat ini. Bahkan nama dua keluarga, Wen dan Yuan juga ikut tercoreng.
Karena itulah, saat ini sudah tiga hari setelah penangkapan Yuan Feihua yang saat ini telah berdekam di dalam penjara bawah tanah istana. Tapi penyelidikan masih terus berlanjut karena wanita pelayan yang dibawa oleh Yuan Feihua tak kunjung ditemukan, seolah hilang ditelan bumi, seolah dia tidak pernah ada. Bahkan gambar dan poster-pster wajahnya ditempel di berbagai sudut ibu kota dan bahkan sampai kota-kota lain di dekatnya.
Dia bukan perencana, tapi semua kesalahan seolah dilimpahkan padanya. Yah, lagipula siapa dirinya? Dia orang yang tidak memiliki latar belakang dan identitas apa pun. Hanya wanita yang dipungut oleh Yuan Feihua.
Tapi tak satu pun orang yang tahu jika wanita tak beridentitas itu saat ini tengah berlutut di depan sosok tinggi tegap yang berdiri arogan di depannya dengan punggung menghadapanya.
“Yang Mulia!”
Sosok itu hanya bersenandung pelan sebagai tanggapan untuk panggilannya.
Tapi tunggu dulu! Dibandingkan dengan penampilannya yang sederhana sebagai pelayan Yuan Feihua, penampilan An Rong saat ini sangat jauh berbeda.
Rambutnya yang panjang diikat tinggi membentuk ekor kuda memperlihatkan fitur wajahnya yang tajam dengan kecantikan yang tidak dapat ditolak. Bahkan pandangan yang biasanya selalu kosong kini terisi dengan kedinginan bagai jurang yang dalam. Aura yang dilepaskan di sekelilingnya bahkan terasa sesak dan mengerikan. Dia benar-benar terlihat berbeda dari tampilan yang ia perlihatkan di dalam kediaman Perdana Menteri.
Saat ini memakai pakaian serba hitam yang cukup ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Dan sebentar, auranya menjadi begitu cocok dengan tempat dimana kini dia berada. Sebuah aula istana yang suram, penuh aura kematian yang begitu kental. Begitu dingin hingga dapat menembus sum-sum tulang.
Orang biasa tentunya tak akan betah di dalamnya. Lalu berati An Rong bukanlah orang biasa. Tepatnya dia memang bukan orang, karena dia memiliki sebuah tanduk kecil hitam di atas dahinya. Apa pun dia, yang jelas dia bukanlah manusia.
Tiba-tiba sosok tinggi yang berdiri di depannya berbalik, memperlihatkan tubuh bagian atas yang telanjang dengan hanya ditutupi bebebrapa helai rambut hitam panjang yang tergerai.
__ADS_1
Sosok itu adalah seorang pria dengan wajah tampan mengundang rasa pemujaan. Sayangnya tatapan matanya mengandung kekejaman yang menimbulkan perasaan takut dan teror mendalam bagi siapa pun yang memandangnya. Wajahnya yang tanpa ekspresi bahkan lebih menakutkan.
Merasakan gerakan dari pria itu, An Rong langsung berkata, “Hamba menemukannya.” Suaranya masih mengandung kedinginan, tapi ada rasa hormat yang ditujukan kepada pria itu dalam suaranya.
Mata pria itu sendiri memiliki gerakan kecil karena dua kata yang diucapkan An Rong. Tapi dia masih terdiam menunggu bawahannya itu melanjutkan penjelasannya.
Tentu saja tak butuh waktu lama bagi An Rong untuk kembali berbicara atas persetujuan pria itu yang sebenarnya merupakan majikan sejatinya.
“Darah murni, dia memang darah murni. Akan tetapi dia adalah keturunan pria itu,” jelasnya yang hanya dapat dimengerti oleh tuan di depannya itu.
Lalu kali ini orang terakhir memiliki reaksi lebih pada kalimat itu. Matanya melebar saat tangannya juga ikut mengapal erat. Dia menunjukkan rasa permusuhan dan kebencian dalam matanya.
Saat itulah dia tiba-tiba tertawa keras seperti orang yang hilang kewarasannya. Tidak menunggu An Rong berbicara lagi, pria itu dengan cepat berbalik meninggalkan aula suram itu, meninggalkan An Rong yang kini memiliki ekpresi rumit di wajahnya saat menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh.
Saat akhirnya dia tersenyum pahit, entah menertawakan dirinya sendiri atau pria yang meninggalkan dirinya sendiri di dalam aula luas nan suram itu. “Aku yang selalu berada di sisimu, tapi kenapa kau masih memilih wanita itu?” Dia bertanya pada udara kosong yang ditinggalkan pria itu. Sesaat kekejaman juga melintas di matanya, hanya sekejab sebelum akhirnya menghilang.
~o0o~
Namun berbanding terbalik dengan suasanan ruangan yang cerah dan meriah, wanita yang duduk di kursi panjang selalu mengerutkan keningnya nampak tak nyaman dan tak sabar.
Dia tampakmya tengah menunggu kedatangan seseorang. Benar saja, saat suara pintu ruangan itu terdengar dibuka, wanita itu tiba-tiba sudah berdiri. Ekpresi gelisah yang baru ia tunjukkan ketika tengah sendiri digantikan dengan raut wajah dingin dan bermartabat.
Lalu setelah itu seorang momo menghampiri dirinya dan langsung membungkuk hormat.
“Bagaimana? Kau sudah mengurusnya?” tanya wanita itu pada orang yang masih membungkuk padanya.
“Anda dapat tenang, Permaisuri. Dia tidak akan menyebut nama anda. Putrinya masih berada di kediaman Perdana Menteri. Kami masih terus mengawasinya. Bagaiamana pun, wanita itu masih menyayangi putri satu-satunya.” Momo itu segera menjelaskan dengan nada tenang.
__ADS_1
Permaisuri tiba-tiba merasa lega, dia menjadi lebih tenang setelah itu. Memanggil seorang pelayan untuk menuangkan teh aroma untuknya saat dia sudah duduk kembali.
“Jika dia berani mengecapkan satu patah kata lagi, maka bukan hanya putrinya yang berakhir, seluruh keluarga Yuan juga akan ikut hancur.”
Tangan Permaisuri yang memegang cangkir teh menegang saat sebuah pikiran acak terlintas di otaknya. Lalu momo yang menyampaikan pesan padanya kembali angkat suara. “Dia meminta anda untuk membantunya bebas dari penjara. Apa keputusan anda, Permaisuri?”
“Mereka berdua sudah tidak berguna, bahkan yang satu sudah mati dan yang lain menjadi gila karena rasa bersalah. Sayang sekali.”
Bertahun-tahun berada di sisi sang Permaisuri, momo itu sudah mengerti jalan pikir pihak lain. Setelah dia meninggalkan ruangan sang Permaisuri, dia segera mengintruksikan seseorang untuk menemui Yuan Feihua sekali lagi di dalam penjara dan mengucapkan beberapa patah kata. Dia juga menyelipkan sesuatu pada tangan utusan itu lalu berbisik ke telinganya.
Utusan itu juga mengerti, dia segera berbalik untuk melaksanakan tugas.
“Yuan Feihua, bersyukurlah karena kau tidak akan mati. Permasuri sudah berbaik hati padamu.” Momo itu bergumam sebentar sebelum akhirnya dia berbalik melangkah kembali untuk masuk ke dalam kamar Permasuri.
Lalu keesokan harinya, segera tersiar kabar di seluruh ibu kota. Yuan Feihua, selir Perdana Menteri yang berkomplot untuk membunuh keturunan sah menjadi gila karena rasa bersalah.
Orang-orang di ibu kota membicarakannya. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang menaruh simpati pada wanita yang menjadi gila itu. Sebaliknya mencemoh dan mengejeknya sedemikian rupa. Bahkan keluarga Yuan juga menutup mata dan telinga atas berita ini. Mereka bersikap seolah tidak ada hubungannya dengan mereka. Mereka sudah diusir keluar ibu kota terlebih dahulu, dan tidak diizinkan untuk kembali di masa depan. Begitu juga yang etrjadi dengan Wenjia.
Lalu pengumuman disampaian, karena pelaku telah berubah menjadi gila, hukuman eksekusi diganti menjadi kurungan penjara seumur hidup.
Begitu berita ini sampai ke telinga Liana, wajah gadis itu masih terlihat acuh tak acuh seperti biasanya, tapi segera senyuman tipis yang mengandung jejak kedinginan tertarik dari sudut bibirnya.
“Seperti yang diharapkan. Orang-orang yang sangat merepotkan.” Dia mencibir setelahnya.
~o0o~
Huwaaah... sebenernya aku yg nulis juga deg-degan... gereget banget pengen ngungkapin semua mieterinya... tapi yah... inget alur.. inget! harus ngikut alur...
__ADS_1
Hehe... oke deng...