[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
26-Masakan Spesial


__ADS_3

Yah, kejadian saat itu membuat Liana dan Wuxian menjadi begitu dekat. Kadang Liana yang datang bersama Wei Xiening mengunjunginya di istana. Kadang dirinyalah yang berkunjung ke Manor Zhu untuk menemui gadis kecilnya itu. Dan saat itu juga yang membuatnya mengenal Wan Feng, mereka juga dekat seperti saudara.


Akan tetapi setelah kebakaran Paviluin Lianhua Yin, mereka tidak pernah lagi bertemu karena Liana selalu mengurung dirinya di kediaman. Wuxian selalu berkunjung setiap minggu hanya untuk bercerita di balik pintu kamar Liana. Berusaha menghibur gadis kecilnya dengan cerita-cerita lucu yang diajarkan Kasim Dao padanya meskipun tidak pernah mendapat tanggapan apapun dari balik pintu.


Dan akhirnya dia juga berhenti mengunjungi gadis kecil itu karena saat itu dia terserang penyakit yang tidak diketahui hingga membuatnya koma selama satu bulan penuh. Sejak saat itu pula dia menjadi pribadi yang sedikit berbeda, lebih tertutup dan kadang bersifat kekanakan tidak seperti dirinya biasa yang selalu nampak tenang dan dewasa. Tidak ada satu orang pun yang tahu mengapa sang Pangeran Ke-tiga menjadi seperti itu.


~o0o~


"Aku tidak ingat jika mengatakan hal itu padamu!" ucap Liana dengan nada sedikit tinggi setelah mendengar cerita masa lalu dari Wuxian.


Cerita yang menurutnya sangat memalukan itu. Dia sebenarnya ingat, dia ingat semuanya. Hanya saja Liana terlalu malu untuk mengakui bahwa dia pernah berkata akan menjadi istri yang baik untuk Wei Wuxian di masa depan. Aaah! Benar-benar memalukan.


Saat itu dirinya masihlah seorang gadis kecil yang belum sepenuhnya memahami arti hubungan suami istri. Meskipun dia memang agak lebih dewasa dari anak seumurannya, akan tetapi dia tetaplah balita yang polos.


Sekarang saja pipinya telah dipenuhi dengan semburat rona merah. Dan Wuxian malah menertawakan dirinya dengan begitu senang.


Suasana di antara mereka menjadi begitu hangat. Kedekatan yang selama ini renggang kembali merekat. Tak ada lagi kecanggungan atau pun kesan asing antara keduanya.


Mereka terus mengobrol sepanjang hari dan hampir melupakan makan siang. Yah, meski kini Liana telah menjadi kultivator yang bahkan sanggup menahan lapar selama satu bulan penuh, tapi dia belum bisa meninggalkan kebiasaannya yang satu ini.


Menurutnya makan adalah sesuatu yang harus dia lakukan di waktu tertentu untuk melatih indra pengecap sekaligus membiarkan organ dalamnya bekerja dengan baik ketimbang menahan lapar menggunakan Qi. Itu sungguh pemborosan. Selagi masih ada bahan makanan, mengapa tidak dimanfaatkan?


"Li'er, kau bisa memasak?" tanya Wuxian yang sedari tadi mengikuti Liana memasuki dapur.


Keberadaan keduanya benar-benar membuat seisi ruangan itu terkejut sekaligus heran. Sebab sejauh yang mereka ketahui, tak pernah ada bangsawan yang mau menyentuh dapur apalagi berurusan dengan penggorengan dan tungku api yang membuat batuk itu.


Tapi kini mereka melihat sang Nona Muda Ke-dua mereka berkutan dengan bumbu dan pisau, memotong sayur dan daging dengan begitu cekatan. Mungkin koki-koki restoran besar akan kalah dengan keahlian memotongnya. Mereka semua malah menyaksikan sang Majikan dengan takjub dan melupakan pekerjaan mereka.


Wuxian pun, perhatiannya tak pernah beralih dari sosok Liana yang terlihat begitu cantik saat fokus dengan pekerjaannya.


Liana menyadari pandangan semua orang padanya, tapi dia hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Hanya butuh kurang dari satu batang dupa untuk terbakar, yah jika dihitung mungkin hanya sepuluh menit kurang lebih. Dan makanan yang Liana buat telah selesai dan siap di sajikan di atas piring.


Tentunya piring yang ia bawa dari dalam Dimensi Sayap Kembar karena kebanyakan orang di dunia ini hanya makan menghunakan mangkuk kecil yang tentunya tidak cocok dengan masakan yang ia buat.


"Xian gege, ini ... cobalah!" pinta Liana saat dirinya menyerahkan sepiring nasi goreng udang buatannya pads Wuxian yang duduk di kursi batu yang ada di dalam dapur.


Dia bahkan tak merasa terusik dengan asap yang terus mengepul daru tungku api. Hanya menyaksikan keahlian gadisnya membuat hidangan.


Hmph! Siapa yang bilang jika Li'ernya tidak berguna. Orang itu pasti buta, buktinya kini gadisnya malah memiliki keahlian yang bahkan para gadis lain tak miliki. Dalam hati diam-diam Wuxian merasa bangga untuk itu.


Pandangannya kembali beralih pada makanan yang asing di matanya.


"Apa boleh dimakan?" tanyanya agak ragu karena belum pernah melihat nasi yang dibumbu dan digoreng sebelumnya.


"Tentu saja," jawab Liana dengan senyuman meyakinkan Wuxian untuk mencoba masakan spesial buatannya.


Wuxian segera meraih sendok kayu yang ada di sampingnya. Awalnya dia akan mengambil sumpit tapi Liana menyuruhnya menggunakan sendok karena memang mana mungkin makan nasi goreng dengan sumpit? Ffft!


Tapi saat mengunyah satu kali, dua kali ... dia menjadi ketagihan. Rasa nasi agak pedas dan penuh rasa dengan udang kecil renyah sebagai campuran. Dia bahkan menyendok lagi dan lagi membuat penghuni dapur alias para koki di sana menatap penasaran pada masakan buatan sang Nona Muda Ke-dua Zhu itu.


"Bagaimana? Apa itu enak?" tanya Liana ikut penasaran. Tapi dia sudah tahu jawabannya dari tindakan Wuxian yang tidak berhenti mengunyah nasi.


"Li'er apa nama makanan ini? Xian tidak pernah melihatnya tapi ini sangat enak. Bagaimana kau membuatnya?"


"Nasi goreng, resep dari orang misterius," ucap Liana sekenanya.


Dia tak mungkin mengatakan jika itu adalah makanan yang populer di dunia modern, bukan?


Wuxian hanya berkedip dua kali mendengar jawaban Liana yang ambigu. Tapi dia tidak mempertanyakan lagi, mungkin ini rahasia gadisnya. Jadi diam dan nikmati masakan.


"Ini benar-benar enak. Xian sangat menyukainya."

__ADS_1


Liana terkekeh melihat kelakuan sang Pangeran yang menurutnya begitu lucu. Dia dengan begitu cepat menelan nasi terus berbicara dengan antusias hingga lupa jika ada sisa nasi yang menempel di dekat bibirnya.


Liana membantu Wuxian untuk menyingkirkan itu dengan tangan dan memberi sang Pangeran minum supaya tenggorokannya tak kering karena minyak dari nasi goreng.


Wuxian sendiri hanya diam mendapat perlakuan manis itu, sedangkan orang-orang yang masih memperhatikan keduanya memalingkan wajah karena tersipu atau merasa lancang memandangi keharmonisan atasan. Mereka hanyalah pelayan yang dibayar untuk bekerja bukan menyaksikan sesuatu yang seharusnya tak dilihat seorang bawahan.


Jadi kepala koki menyuruh anggotanya kembali bekerja, masaklah untuk majikan yang belum makan siang! Jangan sampai telat atau nanti terkena hukuman.


Jadi kerumunan segera menyebar dan kembali mengerjakan bagian masing-masing di dapur.


"Kalau Xian gege begitu menyukainya, maka aku akan membuatnya setiap hari untukmu."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Atau aku harus membuka rumah makan ya jika ini begitu enak," ucap Liana sambil menjepit dagunya dengan dua jari, ibu jari dan telunjuk.


Wuxian memasang wajah cemberut saat mendengar Liana mengatakan ingin membuka rumah makan.


"Tidak, tidak. Li'er hanya boleh membuatnya untuk Xian. Jangan untuk rumah makan, tidak boleh!"


Liana mengangkat kedua alisnya mendengar ucapan Wei Wuxian. Tapi akhirnya dia tertawa.


"Apa benar-benar tidak boleh?" tanyanya dengan kekehan di akhir kalimat.


"Mn, tidak boleh berbagi!"


Liana kembali tertawa tapi setelah itu dia menyerobot sendok makan dari tangan Wuxian dan menyendok nasi untuk dia makan sendiri dari piring yang sama. Menghiraukan tatapan cengo dari sang Pangeran yang ada di depannya.


"Mmm, ini memang enak," ucapnya seraya memejamkan mata merasakan rasa masakannya sendiri. Hingga begitu tega menghabiskan makanan di piring tanpa menyisakannya sedikit pun untuk sang Pangeran.


~o0o~

__ADS_1


Pada tahu kan kalo dari 20 atau 21 Nov agak error.. banyak author yang ngeluh telat di Review... aku juga kena.. nunggu lebih dari 24 jam, dan syukur hari ini Up deh...


__ADS_2