[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
29-Bukit Awan


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama bagi para rombongan istana dan lainnya sampai ke tempat perburuan, Bukit Awan.


Dinamakan bukit awan karena bukit itu tinggi seperti gunung hingga dapat menembus awan. Dan juga banyak sekali tanaman juga makhluk hidup aneh, kebanyakan mereka memiliki warna putih meskipun masih ada beberapa yang berwarna normal.


Dan juga bukit awan adalah tempat yang sangat cocok untuk berburu dan melatih kemampuan para kultivator muda. Sebab yang menghuni bukit hanyalah sekelompok Binatang ajaib tingkat satu sampai dua belas.


Sedikit informasi...


Binatang ajaib memiliki dua jenis di dunia ini. Pertama adalah Binatang Iblis dan lainnya adalah Hewan Roh.


Kedua jenis ini memiliki beberapa tingkatan sebagai penentu tingkat kekuatan selayaknya kultivator manusia.


Mulai dari tingkat satu hingga dua belas. Ketika Binatang Ajaib telah melewati kedua belas level awal tersebut, maka mereka akan naik ke tingkat Binatang Suci, kemudian lanjut ke jenis Binatang Ilahi, selanjutnya yang terakhir di sebut sebagai Binatang Legendaris, tingkatan yang hanya menjadi legenda bagi dunia.


Sebenarnya ada satu tingkatan lagi, yaitu Binatang Mitologi. Kekuatan Binatang Mitologi sangat luar biasa, bahkan mungkin menyamai atau lebih kuat dari Binatang Legendaris. Contohnya seperti Shiro.


Sesuai namanya, Binatang Mitologi adalah suatu ras binatang yang tercipta dari Mitos kebanyakan orang.


Hei! Jangan pernah meragukan kekuatan pikiran. Sebab terkadang apa yang sering kamu pikirkan bisa menjadi kenyataan. (Seperti, Do'a misalnya)


Cukup dengan itu. Sekarang ribuan orang telah berkumpul di kaki bukit awan yang menjulang tinggi.


Banyak orang luar Kekaisaran Naga memandang dengan takjub bukit yang berdiri kokoh itu.


Sang Kaisar Naga berjalan paling depan memulai pidatonya. Sedikit mengeluarkan Qi pada suaranya agar dapat di dengar semua orang.


"Para peserta, kita semua telah sampai di tempat perburuan. Besok adalah hari pertama dimulainya kompetisi berburu. Dan untuk hari ini, kita akan mendirikan tenda sebagai tempat peristirahatan untuk satu minggu ke depan. Nanti malam akan diadakan jamuan penyambutan. Dengan ini, saya-Kaisar Naga mengumumkan untuk bubar dan memulai persiapan."


Semuanya bubar setelah memberi salam kepada sang Kaisar.


Tenda-tenda telah di bangun. Kaki bukit sekarang nampak seperti permukiman kota yang sederhana dengan banyaknya orang disana.


Semua perwakilan dari negara lain segera dikumpulkan untuk melakukan rapat.


Sedangkan Liana sedari tadi telah menghilang dari keramaian itu dan mencari tempat menyendiri seperti kebiasaannya.


Dan sekarang, di sinilah dia. Merendam kakinya di sungai kecil dengan keranjang buah di sampingnya juga buku di tangannya. Tak jauh darinya, sesosok makhluk cantik serba putih tengah duduk tenang di bawah pohon sambil menutup matanya. Dia nampak seperti makhluk surgawi yang menapak ke dunia rendahan.


Liana tiba-tiba menutup bukunya namun gerakannya tetap pelan dan halus. Dia membuang napas dengan bosan. Memandang ke depan dimana terdapat hamparan pohon-pohon rindang yang menjadi hutan.


"Shiro, menurutmu apakah akan ada yang menarik di acara ini?" tanyanya.

__ADS_1


Shiro membuka matanya dengan perlahan dan tampaklah iris berwarna gelap yang menenangkan namun menghanyutkan.


"Menurut tuan, bagaimana?" Dia malah bertanya balik sebagai jawaban.


Liana masih tak menoleh pada lawan bicara yang berada di belakangnya. "Ku rasa banyak dari mereka yang akan saling membunuh," ucapnya tanpa ekspresi sedikitpun meski tengah mengatakan sesuatu yang mengerikan bagi kebanyakan orang.


"Sifat-sifat duniawi ada keserakahan." Shiro membalas dengan tenang.


Liana terkekeh mendengar jawaban itu. Dia akhirnya menoleh pada makhluk kontraknya yang memiliki wujud luar biasa itu. "Tahukah kau, Shiro? Sikapmu mirip seorang cendekiawan yang mengikuti gaya Bhudisme."


Liana beranjak dari duduknya kemudian mendekati Shiro yang masih nampak begitu tenang bersandar di bawah pohon dengan cara elegan dan berkharisma. Duduk bersila mengamati dunia dengan mata gelapnya.


Liana yang melihat pemandangan itu mendesah, heran ... mengapa dia memiliki makhluk kontrak yang tidak memiliki banyak ekspresi.


"Apa kau tahu sesuatu tentang pria berambut merah?" tanyanya setelah mengambil duduk di sisi pria putih itu.


Dia ingin sekali menanyakan hal ini tapi selalu saja ragu dan lupa. Padahal dia sering memikirkan tentang itu.


Shiro memandang sang majikan dengan mata yang berkedip pelan. "Dia adalah sesuatu yang tak bisa tuan jangkau untuk saat ini."


Liana merubah ekspresinya seketika menjadi serius. "Maksudmu?" tanyanya.


"Seorang Zanzhu Ren Zuxian tak dapat ditemui secara bebas. Mereka tak akan memunculkan diri di depan publik."


"Lalu, bagaimana dengan klan Yunan?"


Liana tahu tak akan mendapat jawaban mudah dari Shiro, karena makhluk itu sering sekali bermain teka-teki dengannya. Dan dia harus memecahkan sendiri misteri itu jika ingin mengetahui kebenarannya.


"Sebuah masa lalu yang tak ingin diingat."


Sudut bibir Liana berkedut. Kenapa susah sekali mendapat jawaban dari makhluk ini?


"Shiro, sebenarnya kau ini makhluk kontrak milikku atau tidak sih?"


"Tuan adalah majikan Shiro," jawabnya seraya menundukkan kepalanya sedikit.


"Kau menyembunyikan banyak hal," ucap Liana pelan. Setelah itu dia beranjak dari sana meninggalkan Shiro yang masih tenang duduk di bawah pohon memandangi punggung Liana yang menjauh.


"Tuan, tidak semua kebenaran harus diketahui secara bersamaan. Segalanya mesti bergantung dengan waktu."


Secara perlahan tubuh pria putih itu menjadi samar dan kemudian menghilang di udara seperti dia tak pernah ada di tempat itu. Mungkin kembali ke dalam dimensi dimana tempatnya selalu berada.

__ADS_1


~o0o~


Hari telah berganti malam. Langit yang semulanya cerah dengan warna birunya, kini telah menjadi pekat hitam dengan banyaknya butiran bintang yang menghiasi. Nampak indah dengan cahaya purnama sebagai penerang kegelapan.


Kaki bukit awan tentu masih ramai dengan banyaknya manusia yang mengadakan pesta perjamuan. Sangat meriah karena iringan musik dan tarian yang menemani.


Semua orang berkumpul dengan akrab. Saling menyapa ramah, mengankat cangkir anggur pada rekan duduk masing-masing. Tapi siapa yang tahu jika nanti kedekatan itu tak dapat menjamin tentang adanya perselisihan yang bisa saja terjadi.


Benar kata Shiro, sifat duniawi seperti keserakahan akan tetap ada pada makhluk seperti manusia. Sebab, manusia lah yang paling banyak memiliki sifat keduniawian ini.


Liana duduk bersama putri Lanhua, mereka berbincang dengan santai tanpa perduli pandangan beberapa orang yang menatap keduanya dengan mata permusuhan.


"Liana, setelah perburuan ini, aku ingin mengundangmu ke istanaku untuk minum teh bersama. Kau mau, kan?"


"Apa aku bisa menolaknya, Putri?" jawab Liana menggoda.


"Hmph, jika kau berani menolak. Aku akan menghukummu dengan berat," balas Lanhua dengan tampang pura-pura marah.


"Ah, ampuni hamba Yang Mulia. Hamba tidak berani." Liana kembali membalas dengan bercanda.


Keduanya kemudian tertawa dengan pelan takut mengganggu orang lain.


Yang tak mereka sadari sedari tadi sang Kaisar menyaksikan kedekatan keduanya dengan senyuman.


Kaisar menoleh Pada Putra Ke-tiganya yang terus memandangi sang tunangan dengan tatapan yang mungkin Kaisar mengerti. Dia lagi-lagi tersenyum.


"Wuxian, kau tak ingin menyapa keponakanku?" tanya Kaisar tiba-tiba mengagetkan orang-orang di dekatnya.


Sebenarnya sedari pertama banyak orang yang tidak menyadari keberadaan sang Pangeran jika Kaisar tidak berbicara. Banyak yang berpikir bahwa Wei Wuxian tak mengikuti acara ini seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi siapa sangka jika sang Pangeran yang dirumorkan sebagai orang bodoh dan tak berguna itu berani menampakkan diri meskipun sulit nampak di mata mereka.


Satu pikiran yang terlintas di benak semua orang yang baru mengetahuinya. "Hawa keberadaan yang sangat tipis. Mengerikan!"


Wuxian memandang pria paruh baya yang berperan sebagai ayahnya itu. Dia kemudian berdiri sebelum akhirnya membungkuk hormat memberi salam kepada Kaisar dan beranjak dari sana tanpa mengatakan hal lebih.


Kaisar mendesah dengan kelakuan putranya yang begitu irit bicara pada semua orang. Bahkan dengan dirinya.


Mungkin hanya Liana lah yang memiliki kemampuan meluluhkan sang Pangeran.


Wuxian tak pernah dekat dengan anggota keluarga Kekaisaran yang lain. Sebab dari kecil dia memang selalu terkurung dalam istananya dan jarang sekali menemui orang luar. Bahkan keluarganya sendiri. Dan hal itu membuat kepribadiannya menjadi begitu tertutup meski kadang ada waktu dia bertingkah kekanakan juga aneh, tapi sosoknya yang tersembunyi itu menjadi yang selalu terlihat.


Banyak yang mengatakan jika Wei Wuxian tak berguna. Tapi Kaisar sendiri mengetahui bagaiamana Putra Ke-tiga nya itu. Dia sendiri bahkan kewalahan menangani hal ini. Dan satu hal, sikap kekanakannya itu hanyalah sebuah topeng seorang Wei Wuxian untuk menyembunyikan diri.

__ADS_1


Ada sesuatu tidak pernah diketahui banyak orang selain dirinya dan Wei Wuxian sendiri.


~o0o~


__ADS_2