[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
98-Perasaan Shiro


__ADS_3

Yah, dan berakhirlah si bocah hantu—Chao tinggal bersama Liana. Tapi seketika, dia langsung dilempar ke dalam ruang dimensi sayap kembar sebagai tambahan teman Shiro selain pasangan ibu dan anak beruang albino.


Untuk sisa hari itu, Liana hanya memutuskan untuk tidak lagi memikirkan hal-hal lain kecuali istirahat lebih awal supaya tidak telat kelas esok hari.


Dan benar saja, keesokan harinya Liana masih tetap bangun pagi. Menjalani rutinitasnya seperti di rumah dengan olahraga ringan dan lari. Tetapi kali ini dia tidak dapat melakukannya di luar ruangan, dia memilih untuk menetap beberapa waktu di dalam dimensi agar leluasa melakukan kegiatannya.


Selesai, keringat telah menetes dari pelipisnya turun ke wajah Liana. Saat itulah Shiro bekerja sebagai asisten setia, memberikannya handuk kering untuk menyeka keringatnya yang bercucuran, juga air mineral untuk menyegarkan diri.


“Terima kasih.” Liana berucap.


Shiro setelah itu mundur beberapa langkah setelah menyelesaikan pekerjaannya, benar-benar nampak seperti asisten sejati. Chao yang transparan menggeleng dari jauh melihat interaksi antara pasangan tuan dan majikan itu. Duduk santai di atas kursi batu di depan gubuk sederhana yang dibangun Liana sambil memakan buah-buahan spiritual. Nampaknya, kultivasi bocah hantu itu lumayan sehingga dia sudah dapat memakan makanan spiritual.


Liana merasakan Chao memperhatikan dirinya dengan Shiro, tetapi dia hanya mengabaikannya. Dia hanya beralih melihat kedatangan anak beruang yang sudah membawa beberapa embun di cakarnya yang mungil dan berbulu. Memang, setiap Liana berkunjung ke dalam ruang dimensi beberapa kali, anak beruang itu akan selalu memberinya embun yang sudah dikristalisasi sendiri olehnya.


Liana tersenyum dan sangat berterima kasih. Embun yang dikumpulkan dan diekstrak oleh beruang albino memang sangat bermanfaat sebagai bahan obat, bahkan ada yang dapat menetraslisir racun mematikan.


“Xixi, kau anak yang baik.” Liana dengan lembut mengusap bulu putih anak beruang itu. Xixi adalah nama yang Liana berikan padanya, sedangkan untuk induk beruang, dia hanya memberinya nama Xi Niang. Yah, dia tidak ingin memikirkan nama yang terlalu rumit untuk mereka.


Xixi hanya mengeluarkan suara mendengkur kecil, menikmati elusan tangan Liana pada bulunya. Dia menyukai sentuhan pemilik ruang dimensi yang membuat selalu merasa nyaman.


Liana juga yang melihat respon baik Xixi menjadi semakin gemas pada buntalan bulu lembut itu. Mungkin jika tidak diingatkan oleh Shiro, dia tidak akan berhenti dan lupa waktu.


“Tuan, matahari akan segera muncul di luar.”


“Ah, benarkah?” Shiro mengangguk sebagai jawaban. Liana terbatuk pelan merasa sedikit malu karena bersikap terlalu antusias di depan rekan kontraktualnya hingga hampir melupakan waktu. “Terima kasih sudah mengingatkan. Kalau begitu, aku akan keluar. Kau tetap berjaga disini.”


Kemudian, dari pandangan Shiro, dia menghilang, tetapi sebelumnya dia ta lupa mengantarkan Xixi pada induknya yang tengah berkultivasi di sebuah gua tempat tinggal mereka yang ada di dalam ruang dimensi.


Liana yang telah keluar dari dalam ruang dimensi tidak dapat memperhatikan tatapan Shiro yang begitu rumit dan penuh arti padanya. Bahkan sekarang makhluk mitologis itu telah menghela napasnya yang tertahan sejak kedatangan Liana.


Chao yang sedari tadi mengamati tentunya melihat prilaku tak biasa dari orang cantik itu. Dan dia diam-diam memahami sesuatu, melihat kembali ke arah tatapan Shiro yang belum juga lepas dari tempat dimana kepergian Liana, dia berdecak.


“Hei nak, kejar jika kau menyukai dirinya. Melihatmu begitu menyedihkan yang hanya dapat berpura-pura menjadi bawahan yang patuh membuatku sakit mata.” Bocah hantu itu bahkan memberi nasihat dengan gaya orang dewasa, berapa tahun umurnya? Dia bahkan tak lupa mengeluarkan kata ejekan saat berpetuah. Seperti tua bangka yang mencibir generasi yang lebih muda.

__ADS_1


Tapi Shiro tahu, bahkan bocah hantu itu telah hidup lebih lama darinya dan mati menjadi hantu juga lebih lama darinya. Sebab itulah dia tidak mengoreksi Chao yang berisik dan bawel.


Dia hanya tersenyum pahit dan bahkan tidak menyembunyikan perasaannya sedikit pun dari Chao. Toh, bocah hantu itu memiliki persepsi dan intuisi yang tinggi. Hanya Liana yang bergelar idiot tentang cinta dan memiliki EQ rendah mengenai itu pula yang tidak dapat melihat perasaan Shiro padanya.


Tetapi jika Liana melihat Shiro telah dapat mengubah ekspresinya dari hanya kaku seperti patung batu, dia pasti akan berseru dengan suka cita dan bertepuk tangan. Sayangnya dia memang selalu gagal untuk melihat perubahan ekspresi Shiro.


Tanpa mengeluarkan suara untuk membalas Chao, Shiro juga menghilang dari halaman gubuk, kembali ke tempat peristirahatannya di kedalaman gunung bersalju, tempat dimana dirinya pernah membawa Liana menemukan sebagaian kebenaran tentang Wei Xiening.


Dia lebih suka mendinginkan hati dan perasaannya pada majikannya sendiri ketimbang memecah hubungan yang sudah baik dengan mengungkapkan keinginannya pada gadis itu. Liana sudah memiliki takdirnya. Dan dirinya juga, takdirnya berada di samping gadis itu, menjadi rekan kontraktualnya untuk melindunginya hidup maupun mati. Sepertinya hubungan seperti ini sudah cukup selama dia berada di sisi Liana, melihatnya dari dekat dan menjadi semakin kuat, dia puas.


Dan lagi pula dia tidak dapat bersaing dengan orang itu. “Aku hanya berharap, nantinya kau tidak akan melupakanku, Tuan.” Dia bergumam dengan lirih memandang langit dimensi yang cerah berawan di atas sana.


~o0o~


Liana yang bahkan tidak tahu kegundahan Shiro kini telah keluar dari dalam kelas bersama murid lainnya. Kelas pagi telah usai, dan sekarang adalah waktunya istirahat siang, dari pada berkeliaran seperti kemarin, Liana memilih melangkah menuju perpustakaan akademi yang jaraknya tidak jauh maupun dekat dari kelasnya.


Tak sampai setengah jam atau sekitar waktu dua pembakaran dupa menurut pengukuran waktu di dunia itu, Liana telah melihat sebuah gedung bertingkat yang megah di depannya dengan banyaknya murid-murid akademi yang keluar masuk dari dalam sana.


Tujuan Liana datang ke perpustakaan tentunya adalah mencari informasi dan sejarah-sejarah tentang klan Yunan. Di dunia tanpa internet ini, informasi bahkan lebih berharga dari nyawa seseorang. Maka dari itu, dia yang tidak begitu suka membaca buku sekarang sudah memiliki hobi membaca.


Sebenarnya Liana bisa saja bertanya pada Wei Wuxian mengenai klannya yang telah hancur berates-ratus tahun yang lalu. Tapi dia tak bisa dan Wei Wuxian pasti tidak akan memberinya informasi lebih. Sebab ini adalah misinya sebagai orang yang menjadi pemimpin klan dan disebut sebagai tunas baru.


Juga, karena Wei Wuxian telah selesai dengan kewajibannya menjadi Zanzhu Ren Zuxian klan Yunan pada saat dimana dia mengirim selueruh klan ke jalur reinkarnasi. Sekarang tugasnya hanya mengikuti, mendampingi dan menjaga Pemilik Sayap Takdir, yaitu Liana.


Setlah masuk, Liana dapat mencium aroma kertas dan dupa-dupa harum yang melayang di dalam perpustakaan. Dia melihat buku-buku tebal dan gulungan-gulungan berjejer rapi di atas rak yang menempel di dinding dan menjulang tinggi hingga langit-langit bangunan lantai pertama yang dia hitung kasar setinggi tiga puluh meter. Bahkan ada tangga yang tersedia untuk mengambil buku dan gulungan yang berada di rak atas.


Yang Liana ketahui bahwa, perputakaan akademi Yilongfei tidak hanya satu, namun itu tersebar menjadi beberapa cabang di berbagai sisi akademi, yang Liana kunjungi sekarang adalah salah satu cabangnya. Gedung ini memiliki tiga lantai, semakin tinggi lantai, semakin langka informasi yang tersedia.


Lantai pertama sendiri hanya berisi tentang pengetahuan umum dari berbagai keahlian dan bidang-bidang yang tersedia di kelas akademi Yilongfei, tapi itu semua masih bermanfaat. Karena setiap catatan yang tertulis dalam perpustakaan ini, tidak akan mudah ditemukan di toko-toko atau tempat biasa.


Lalu lantai kedua berisi tentang berbagai manual kultivasi, jurus-jurus seni bela diri dan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan kultivasi, sihir dan sejenisnya. Yah, akademi Yilongfei sebenarnya juga memperlajari sihir Benua Barat.


Sedangkan lantai ketiga, itu hanya dapat diakses oleh murid-murid yang berprestasi dari kelas elit. Yang mana namanya telah diukir dalam batu memori yang legendaries bagi pada murid akademi Yilongfei. Dan juga adalah hak istimewa dari keluarga Kekaisaran Naga untuk dapat masuk ke dalam sana. Mau bagaimana pun, Yilongfei adalah milik Kekaisaran yang dibangun sendiri.

__ADS_1


Dalam hal ini, Liana yang seorang murid baru dan belum mengikuti ujian semester tentunya tidak dapat memasuki lantai ke tiga. Jadi dia hanya bisa menelusuri lantai pertama, berharap ada hal yang ia temukan di sana.


Sayangnya sepertinya keberuntungan tidak akan selalu berpihak padanya. Setelah satu jam mencari, dia hanya menemukan catatan-catatan biasa. Tapi Liana tidak menyerah, ini masih satu jam, masih ada ribuan buku dan gulungan yang belum ia buka.


Dengan tekad sambil mengeraskan rahanganya memfokuskan diri, Liana pindah ke tempat lain. Kali ini dia akan mencari di rak-rak teratas.


Tapi belum di sampai memegang tangga, seseorang sudah menyerbu lebih dulu, membuat Liana jengkel. Memperhatikan punggung seseorang, Liana merasa itu familiar.


Seorang gadis dengan temperamen arogan, namun menurut Liana dia hanya memiliki Sindrom Kelas Delapan—Chuunibyou* dalam dirinya. Bukankah dunia ini begitu sempit?


^^^^^^Note: Chuunibyou, sering disebut juga sebagai Sindrom Kelas Delapan karena memang penderitanya lebih sering para remaja sekolah menengah. Istilah ini terkenal di Negara Jepang. Yang mana penderitanya menganggap dirinya sebagai tokoh protagonis dengan kekuatan luar biasa yang bisa segalanya. Intinya, mereka hanya suka banyak berhayal tentang diri sendiri.


Liana tak menyangka gadis Negara Merak itu juga akan datang ke Yilongfei untuk belajar. Lagi pula, bukankah dia seorang putri? Yang Liana tahu, Kekaisaran Merak juga memiliki sebuah akademi, meski pun tidak sebesar dan sepopuler Yilongfei, tapi masih layak disebut sebagai akademi kekaisaran.


Liana tak tahu apa yang Murong An Fei tuju di Yilongfei. Dia hanya tahu sebuah peraturan di akademi Yilongfei mengatakan bahwa pangkat bangsawan apa pun dan seberprestasi atau sejenius apa pun murid yang hadir dari luar Kekaisaran tidak akan dapat memasuki kelas elit. Ini demi menjaga kerahasiaan Negara dari tangan orang luar.


Liana hanya tak menyangka, Murong An Fei dengan tempramennya yang sombong akan rela merendahkan diri bersama murid-murid di kelas biasa. Mestinya da hal penting yang ia cari di Yilongfei, namun apa itu, Liana tak tahu. Tapi toh, dia juga tidak perduli. Hanya saja gadis ini pernah mengganggunya, dan Liana bukan orang yang mudah melupakan hutangnya.


Matanya menyipit melihat penampilan dan pembawaan angkuh putri Kekaisaran Merak tersebut. Haruskah dia memberinya pelajaran kali ini?


Dulu, saat perburuan musim semi di bukit awan, dia belum sempat membalas panah yang hampir mengenai dirinya. Liana masih mempertimbangkan.


Tapi sepertinya Murong An Fei sudah menyadari jika seseorang telah memperhatikannya. Dia berbalik dan memandang Liana masih dengan tatapan angkuhnya dan menyadari siapa itu. “Oh, siapa ini? Nona Muda Zhu yang terkenal itu, bukan?” Nada sarkasme tak terelak saat dia mengeluarkan suaranya dan senyum sombong muncul dari ekspresinya yang mencoba mendominasi.


Liana memiringkan kepalanya saat matanya semakin menyipit dengan berbahaya. Tersegel, dia tidak menyukai gadis Murong ini.


~o0o~



Noh... aku inget ada yang pernah nanya-nanya tentang Love Triangle, ada nggak di cerita ini?


Nah, ini ada kok. Aku emang punya ide begini dari pertama bikin nih naskah... wkwk. Gimana yak, tapi kasian aja ama Shiro... tepuk tangannya cuman sebelah, nggak bisa bikin suara dong? Hiks, sadboy *_*

__ADS_1


__ADS_2