[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
111-Dalam Terang Dalam Gelap


__ADS_3

Tempat menjadi hening seketika sampai Liana mengambil alih kembali tubuh Lianhu dari hadapan monster yang masih meraung kesakitan.


“Li’er?!”


“Kakak ke-dua.”


Para saudara-saudari Zhu berteriak penuh syukur. Mereka semua berkumpul lagi, melingkar untuk saling melindungi. Entah kenapa saat melihat Liana, semangat dan sedikit tenaga mereka kembali. Semuanya senang dan lega di saat bersamaan.


“Weiling!” Liana langsung melemparkan busur pada Weiling yang berada tidak terlalu jauh darinya. Dan gadis itu dengan tanggap menangkap senjata itu.


Sempat terpana sebentar melihat dan merasakan perubahan senjata ajaib miliknya. Lalu dia segera memandang Liana dengan tatapan takjub saat mendengar gadis itu mengatakan kelebihan busur yang sudah dimurnikan dan di perbaiki.


“Sekarang itu adalah senjata tingkat tinggi. Kau hanya perlu menyuntikkan sedikit Qi ke dalam busur, itu akan langsung menjadi anak panah Qi. Kau tidak perlu lagi membeli anak panah yang disesuaikan yang sangat mahal itu. Anak panah yang kau miliki tidak akan habis sampai energi spiritualmu habis,” jelas Liana agak panjang lebar.


Bukan hanya Weiling, tapi semua saudara-saudarinya terpana dengan penjelasan Liana. Dan Weiling juga langsung mencoba busur sebagai bukti perkataan Liana. Dan itu benar-benar seperti apa yang di katakana oleh saudarinya itu. Dia hanya menarik tali busur dan menyuntikkan sedikit Qi ke dalamnya dan muncul anak panah transparan berwarna biru segera muncul di sela-sela jarinya yang menarik tali busur.


Weiling melontarkan anak panah ke arah Monster yang hendak menerkam ke arah array pelindung yang si kembar buat segera saat mereka menghampiri Liana. Anak panah itu mengenai sebelah kaki Monster, dan segera terdapat luka besar di sana.


Meski tidak dapat menghancurkannya seperti yang Liana lakukan, tapi luka yang di buat sudah lebih parah dari menggunakan anak panah biasa. Dan itu memperlambat pergerakan Monster, tapi juga membuatnya semakin mengamuk dengan tidak berdaya.


Sial! Kenapa jenius harus diciptakan? Tidak kah takut membuat langit iri? Pikiran para saudara-saudari Zhu adalah sama saat melihat kejadian itu.


“Hei! Bukankah ini seperti senjata bangsa Elves?” Tiba-tiba Yuxia berseru dan memandang Liana dengan penuh selidik. “Bagaimana kau bisa membuatnya? Itu sangat liar biasa, kakak ke-dua!”


“Rahasia perusahaan.” Liana tidak berniat untuk memberitahunya. Tapi sebenarnya dia juga cukup kaget saat mendengar tentang bangsa Elves atau mungkin sering disebut sebagai Elf. Dia tahu itu adalah ras mitologi kepercayaan orang-orang barat di dunia sebelumnya.


Tapi dia tidak tahu sebenarnya makhluk yang di kabarkan berparan rupawan itu juga ada di tiga benua. Sebanrnya seberapa banyak jenis makhluk hidup di dunia ini?


Liana ingin bertanya lebih jauh tentang itu, tapi prioritas utamanya sekarang ini adalah untuk menyembuhkan Lianhu terlebih dahulu. Dia mengalami luka luar dan luka dalam. Akan sulit untuk sembuh jika perawatannya di tunda.


Jadi dia tidak lagi banyak bicara, segera mengeluarkan banyak pil dan eliksir serta alat dan bahan pengobatan lainnya.


Sementara itu, Yuxia dan lainnya nampak mengerti, tak ada lagi dari mereka yang berbicara.


Semuanya segera kembali pada tugas mereka, ada yang berjaga-jaga dari para Monster.

__ADS_1


Hanya, melihat mereka kelelahan, Liana melemparkan satu botol pil pemulihan pada semua saudara-saudarinya. Tidak ada yang bertanya dari mana asal pil dan eliksir itu berasal. Semuanya hanya berpikir untuk selamat dan mengalahkan Monster yang masih saja mengamuk di depan.


Array pelindung yang di buat Wuxia dan Yuxia juga terlepas karena memang tidak bisa di pertahankan terlalu lama atau itu akan terlalu menguras energi mereka.


Liana juga kembali fokus pada acara mengobati Lianhu. Sambil mengalirkan Qi miliknya, dia juga memberi Lianhu beberapa eliksir dan pil penyembuhan. Lalu membalut luka besar yang tidak segera tertutup oleh eliksir.


Selesai, hanya tinggal menunggu adiknya itu untuk bangun setelah beberapa saat. Liana kemudian beralih pada Wan Feng yang nampak jelas menahan rasa sakit tapi masih terus memaksakan diri melawan Monster.


Liana menghela napas, sangat tahu jika Wan Feng masih merasa bersalah atas kejadian dia yang tidak bisa menyelamatkan Lianhu.


Berdiri dan menepuk pakaiannya dari debu, Liana melangkah meninggalkan tempatnya setelah memasang array pelindung untuk Lianhu yang masih belum sadarkan diri.


Megeluarkan kembali pedangnya dan melesat ke arah Monster. Awalnya Liana tidak ingin menunjukkan dirinya terlalu banyak. Tapi karena mereka semua adalah saudara-saudarinya dan baru saja telah mengalami kejadian antara hidup dan mati, dia tidak bisa terus berpangku tangan dan berpura-pura menjadi lemah.


Dia memang tidak sekuat Monster di depan sana, tapi dia tentunya masih percaya diri untuk menghadapinya. Sudah berkali-kali dirinya hampir mati saat berlatih di dalam dimensi sayap kembar, ditambah dengan pengalaman menantang maut dari saat dirinya masih menjadi anggota WSA di dunia modern. Jika dia bahkan tidak dapat mengambil satu tangan atau kaki makhluk jelek itu, maka kultivasinya saat ini hanyalah sebuah pajangan saja.


Liana bukanlah seorang pahlawan operpower, juga bukan protagois yang memiliki jari emas atau kekuatan yang amat luar biasa sampai-sampai mengguncang dunia, ah mungkin itu terlalu berlebihan untuk dikatakan.


Tapi yah, Liana hanya selalu menganggap dirinya sebagai pekerja keras yang senang menyiksa dirinya sendiri untuk menjadi kuat, dan dia akui memang sedikit beruntung. Yah, tapi apa? Bukannya dia akan selalu beruntung setiap saat.


Dia bahkan hampir setiap berlatih dalam dimensi, tubuhnya yang selalu hampir menjadi mayat diseret kembali oleh Shiro ke dalam gubuk kecil yang dibuatnya untuk diobati. Maka dari itu Liana selalu sering berlama-lama di dalam dimensi sayap kembar miliknya.


Selalu dan selalu ingin menjadi kuat. Karena Liana tahu dia memiliki tanggung jawab yang berat di pundaknya untuk diurusi. Apalagi dia juga memiliki musuh yang masih berada dalam kegelapan sedangkan dia berada dalam terang. Itu membuatnya harus waspada setiap saat.


Dan sekarang musuh memperlihatkan dirinya dengan perlahan. Liana memiliki firasat bahwa siapa pun yang berada di balik semua ini sedang memperingatinya. Memikirkannya membuat tubuh Liana menjadi dingin seiring dengan ekspresinya yang semakin serius saat melawan monster.


Bahkan saudara-saudarinya menatapnya dengan kedipan yang jarang. Aura di sekeliling Liana berubah lagi membuat mereka juga ikut merasakan dingin.


“Kakak ke-dua menjadi marah.” Wuxia berbicara dengan berbisik pada Yuxia dan Weiling yang ada di dekatnya.


“En, entah kenapa aku sekarang merasa kasihan pada monster itu. Meski pun dia jelek dan menyebalkan dan dia telah menyakiti kakak ke-tiga.” Yuxia juga menanggapi itu dengan balas berbisik.


Sedangkan Weiling yang pernah merasakan sedikit amarah Liana hanya terdiam mendengar saudara-saudarinya bergosip. Dia juga merasakan perasaan takut yang sama seperti dulu. Tapi tangannya tidak pernah berhenti membidik monster itu dan berusaha melukainya sebanyak mungkin untuk melemahkannya.


Ck, tapi semakin lama di perhatikan, monster itu sebenarnya juga dapat beregenesi. Itu yang membuatnya sangat merepotkan dan tidak mudah di tumbangkan. Bahkan tangan yang pernah di lukai Liana dengan batu tempa suda tumbuh kembali dan memiliki penampilan yang lebih menyeramkan.

__ADS_1


Liana juga memperhatikan ini, tapi dia masih terus mencoba untuk melukai monster di berbagai tempat untuk mengetahui di mana letak kelemahan makhluk jelek berlevel tinggi itu.


Tidak terasa sebenarnya sudah setengah sichen mereka melawan monster itu. Tapi belum ada tanda-tanda kekalahan dari kedua belah pihak.


“Sial, jika terus seperti ini, kita hanya akan kehabisan tenaga lebih dulu. Sedangkan monster itu sama sekali tidak terlihat kelelahan.” Wan Feng sudah memaki dengan tidak sabar. Dia sudah bernafas dengan keras karena terlalu memaksakan diri.


Liana sebenarnya ingin menyuruh kakaknya itu untuk beristirahat, tapi diurungkan karena dia tahu bagaimana watak seorang Wan Feng yang sama keras kepala seperti dirinya.


Apalagi Wan Feng masih belum keluar dari rasa bersalahnya dengan pikiran jika dialah yang membuat Lianhu terluka karena telah menyelamtkan dirinya. Tentunya dia memiliki gengsi sebagai seorang kakak, itulah mengapa rasa bersalahnya tidak menghilang sampai sekarang meski pun Lianhu telah di selamatkan.


“Ck!” Liana juga berdecak karena jengkel.


Dia memang pernah menghadapi monster yang sama kuatnya dengan yang sekarang, sang Belut Naga. Tapi itu hanya kebetulan belaka karena dia coba-coba menggunakan sihir ruang untuk menyelamatkan diri.


Tapi jika dia menggunakan sihir ruang itu sekarang, itu tidak akan terlalu efektif untuk melawan makhluk dengan kepintara yang sama seperti manusia.


Belut naga saat itu juga memang telah berada di tingkat kebijaksanaan karena sebelum menjadi Monster, itu sudah berada di tingkat binatang suci. Tapi apa, binatang tetaplah binatang. Pikiran mereka masih lebih naif daripada manusia yang licik.


“Weiling! Berikan busur itu padaku!” teriak Liana dengan nada sedikit frustasi.


Dia sekarang memutuskan untuk tidak menunjukkan lebih banyak pada mereka. Bukannya Liana tidak percaya diri atau tidak mempercayai saudara-saudarinya, tapi seperti kata pepatah ‘Semakin banyak yang kau ketahui, semakin mudah engkau mati.’ Liana tidak ingin membahayakan mereka, itu saja.


Weiling yang hampir kehabisan Qi tentunya tidak menolak permintaan Liana. Dia segera melemparkan kembali busur itu pada pemurninya.


Liana dengan cekatan menangkap busur, mengalirkan sejumlah Qi yang langsung membentuk tiga anak panah tranparan tanpa warna sedikit pun. Yah, Liana hanya menaruh elemen angin di dalamnya menjadi anak panah.


Di tariknya tali busur hingga merenggang maksimal. Mata Liana menyipit ke arah target. Menentukan titik lepas panah. Anak panah segera melesat dengan kecepatan tak terlihat, mengarah langsung pada kepala monster yang Liana sudah yakini sebagai titik vital terlemah dari makluk tersebut.


Ketiga anak panah langsung mengenai dan meledakkan kepala monster. Membuat darah beserta otak yang sudah membusuk dengan bau anyir yang membuat mual berserakan di tanah.


Para gadis kecuali Liana menahan mual melihat pemandangan yang begitu menjijikan itu, sedangkan para laki-laki memalingkan wajah karena tak tahan.


Hanya Liana sendiri yang menghampiri monster yang tubuhnya masih mengejang seperti sapi yang baru selesai disembelih.


~o0o~

__ADS_1


__ADS_2