[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
119-Wei Lanhua


__ADS_3

Lanhua menyadari jika sahabatnya Liana tidak lagi berada di sampingnya ketika dia berjalan menuju tengah-tengah pesta. Dia setengah panik berbalik untuk mencari gadis itu.


Dan pemandangan terakhir barusan adalah apa yang dilihatnya, membuat sudut mulutnya berkedut.


Dia baru saja mengoceh tentang berbagai macam keluarga kerajaan dan suku dari para berbagai ras dan menyadari jika lawan bicaranya tertinggal di belakang entah dimana. Dia buru-buru mencari Liana yang membuatnya khawatir jika gadis itu benar-benar tersesat atau melakukan hal tabu yang tidak disukai ras-ras lain itu (sebenarnya dia tidak yakin jika Liana benar-benar akan melakukan kesalahan seperti itu).


Tetapi dia melihat jika sahabatnya baik-baik saja dan malah sedang berbincang dengan seorang Ras Peri dari suku Oliymp yang dikabarkan sangatlah membenci manusia.


“Lalu sebenarnya apa yang aku khawatirkan?”


Liana sahabatnya masih tetaplah Liana seperti dulu. Dia mudah dekat dengan orang atau makhluk lain dengan alami.


Meski pun saat pertama kali mereka bertemu setelah satu abad—setelah Liana sembuh dari penyakitnya dan melihat lagi dunia luar. Dia merasakan banyak sekali perubahan pada Liana. Mulai dari temperamennya yang menjadi lebih pendiam dan acuh tak acuh, atau dia bahkan akan terlihat menakutkan dengan samar-samar sering mengeluarkan aura membunuh tanpa disadarinya sendiri membuat Lanhua agak tidak nyaman dan sedih.


Apa yang dialami sahabatnya itu dalam kediaman Perdana Menteri sehingga menjadikan dirinya seperti itu? dia mau tidak mau berpikir bagaimana kekejaman orang-orang yang ada di dalam istana hanya untuk berebut pangkat, gelar dan kekuasaan. Terlebih lagi orang-orang yang berada di dalam istana belakang, para selir Ayahnya.


Lanhua bukannya tidak mengetahui hal itu. Tapi ibu kandungnya—Sang Permaisuri saat ini selalu menyuruhnya untuk menutup mata atas tindakan-tindakan orang itu jika tidak benar-benar ada yang menyangkut tentang dirinya.


Karena terbiasa seperti itu, dia benar-benar menyisihkan dirinya dari pergulatan dalam istana, bahkan tidak juga ikut campur dalam kegiatan licik sang Ibunda juga Saudaranya yang tertua—Pangeran Mahkota, Wei Muzhi. Dia hanya dapat berpura-pura bodoh dan polos untuk menutupi rasa bersalahnya akan hal-hal yang dilihatnya.


Tetapi setelah melihat Liana hari itu, berpikir jika dia benar-benar mengalami intimidasi dan plot jahat dalam keluarganya sendiri. Dia merasa seperti seorang pengecut, bahkan sampai sekarang.


Hatinya bersalah, tetapi dia masih memilih menjadi lebih egois untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi karena itulah Lanhua memilih untuk menjauh sejauh mungkin dari ibu dan dan saudaranya, dia memilih pergi ke akademi untuk menenangkan diri.


Tidak lagi ingin melihat hal-hal kejam itu dengan mata tertutup erat saat hatinya terkepal sakit dari rasa bersalahnya meskipun dia bukanlah orang yang melakukan hal-hal itu.


Dan saat bertemu Liana lagi, dia hanya ingin lebih dekat dengan gadis itu yang selalu dia merasa akan berkurang beban hatinya. Perasaan nyaman bersama Liana memang sering kali kontras dengan auranya yang tidak bisa ia sentuh. Tetapi dia benar-benar membutuhkan seseorang untuk mengurangi kesepiannya.


Dan benar, dari hari ke hari, dia melihat perubahan Liana menjadi dirinya yang dulu dengan perlahan. Kembali menjadi seperti seorang gadis kecil yang selalu mencari kakak ke-tiga-nya setiap kali berkunjung. Kembali menjadi Liana yang ceria sebelum kejadian naas itu.


Lanhua merasa lega, tetapi entah kenapa dia juga merasa Liana menjadi sangat jauh darinya, gadis itu menjadi lebih dekat dengan saudara ke-tiga. Dan dia menjadi lebih sering bertemu dengan orang baru dan selalu dekat dengan mereka. Bahkan dengan saudara-saudarinya yang dulu bermusuhan atau menjauhinya.


Tetapi tidak dengannya, dia selalu bersikap formal padanya.


Benar, dia selalu memperhatikan Liana. Melihat bagaimana kesehariannya. Selalu mengikuti kemana dia pergi dan memata-matainya.

__ADS_1


Setelah itu dia menjadi kagum dan semakin takut kehilangan Liana.


Dia juga sebenarnya berbohong tentang dirinya menyukai Pangeran dari barat itu karena sebenarnya dia takut jika orang itu akan merebut Liana darinya.


Cukup dengan kakak ke-tiganya yang menyeramkan. Yah, lagi pula jika Liana menikah nanti dengan Wei Wuxian, dia akan sering bertemu dengan Liana di dalam istana.


“…hua?!”


“Lanhua!”


“Puteri ke-enam, Wei Lanhua?!”


Lanhua tiba-tiba tersentak oleh suara akrab namun dia benar-benar tidak senang mendengarnya.


Dan dia berbalik melihat seorang pemuda tujuh belas tahun dengan penampilan yang tampan memakai barokat sutra kualitas terbaik berwarna hijau bambu.


Dia dalah saudara ke-empat dari ibu yang sama, Wei Mufeng—Putra ke-dua sang Permaisuri yang sekarang, Nian Yangchi.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” Pemuda itu menyeringai padanya, hendak menggoda dirinya.


Wei Mufeng menggaruk belakang kepalanya dengan gerakan canggung. Melihat adik kandungnya sendiri bersikap begitu jauh dengannya, Wei Mufeng merasakan penyesalan juga kesedihan.


Sebenarnya Lanhua juga menyadari hal ini. hanya saja, dia memang tidak ernah dekat dengan saudara laki-lakinya yang satu ini. Dia juga tidak memiliki sikap defensif padanya karena memang mereka sangat jarang sekali bertemu.


Wei Mufeng selalu menyibukan dirinya di medan perang, jarang dirinya kembali ke ibu kota. Jika dia kembali pun, hanya untuk istirahat beberapa hari lalu kembali lagi ke perbatasan.


Wajar saja adiknya sendiri bahkan bersikap asing dengannya.


“Ah, apa yang kau lakukan berdiam diri dan melamun di tengah keramaian?” Wei Mufeng bertanya, dia juga melihat ke mana mata adiknya tertuju.


Dia hanya melihat seorang Nona Muda yang agak menawan mengenakan gaun putih bermotif lampion yang sedang berdiri diam mengamati kerumunan dengan sesekali akan ada orang atau ras lain yang mendatanginya, mungkin karena dia memiliki aura yang berbeda dari yang lain, dia nampak mencolok dalam keramaian meski pun penampilannya jauh lebih sederhana dari yang lain.


Sejenak Wei Mufeng bahkan terpesona olehnya. “Siapa gadis itu?” dia bahkan tidak menunggu jawaban sang adik atas pertanyaannya sebelumnya.


Melihat kekaguman di mata sang kakak, Lanhua entah mengapa merasa bangga? “Dia adalah Zhu Liana, putri tertua dari kediaman Perdana Menteri, juga adalah tunangan dari kakak ke-tiga. Dia sahabatku.”

__ADS_1


Mendengar jika gadis itu sudah memiliki seorang tunangan, terlebih lagi itu adalah kakak ke-tiga yang tidak mudah di dekati dan orang paling menjadi kewaspadaan setiap anggota keluarga kekaisaran, Wei Mufeng tersentak kaget, tetapi jauh di dalam hatinya ada juga kekecewaan.


Hanya saja, saat melihat adiknya begitu bahagian saat menyebutkan tentang gadis itu, dia juga memiliki perasaan rumit.


Adiknya sudah terkurung lama dalam istana, dia tahu itu. Sehingga Lanhua sendiri mengembangkan sikap antisosial terhadap orang lain, meski pun dia tampak ceria-ceria saja di luar, tetapi dia tidak mudah mempercayai orang lain.


Hanya gadis itu yang membuatnya benar-benar bersemangat. Wei Mufeng memandang Liana dengan perubahan lain yang lebih tinggi. Gadis yang dapat membuat adiknya sedikit bersikap terbuka pasti sangat hebat.


Saat dia tersadar, dia melihat Lanhua sudah berjalan menuju gadis yang dipanggilnya sahabat itu. Wei Mufeng mau tak mau juga mengikuti di belakangnya. Dia ingin tahu seperti apa sahabat dari adiknya yang asing.


“Liana, aku sudah lama mencarimu, tidak tahu kau bahkan masih tertinggal di belakangku.” Lanhua menggunakan nada merajuk. Dan itu juga membuat Wei Mufeng tercengang.


Inikah adiknya yang tadi bersikap sangat asing padanya tetapi mengapa sangat akrab dengan orang luar. Rasanya dia ingin tertawa sambil menangis. Ekspetasinya tidak setinggi itu, baik. Dia memang melihat sikap adiknya yang berbeda terhadap Liana, tapi tidak menyangka itu menjadi begitu, manja?


“Ugh! Maafkan aku.” Liana sendiri tidak tahu harus menjawab dengan apa. Mungki kah dia harus berkata jika dirinya terjebak dengan pesona ras-ras lain ini?


Eng, sepertinya jika dia mengatakan hal itu, dia malah akan ditertawai.


“Hmm, sudahlah aku memaafkanmu untuk kali ini saja.”


Setelah itu, Liana merasa lega. Tetapi dia melihat sosok lelaki yang kurang lebih mirip dengan sang Pangeran Mahkota namun dengan penampilan yang lebih muda dan sebenarnya lebih kekar. Liana langsung mengenali siapa lelaki ini.


“Salam Yang Mulia, Pangeran ke-empat.” Dia buru-buru menyambutnya dengan salam sopan.


Wei Mufeng ingin menghentikannya, tetapi dia ingat jika mereka tidaklah akrab. Jadi dia mengangguk sebagai jawaban dan memasang wajah ramah. “Tidak disangka Nona Muda dapat mengenali saya.”


“Ah, itu. Anda memiliki kemiripan dengan sang Permaisuri,” jawab Liana. Benar, memang Pangeran Mahkota dan Pangeran keempat sangat mirip dengan ibu mereka. Sedangkan Lanhua mengambil banyak Gen dari sang Kaisar yang dulu pas muda pernah dinobatkan sebagai Pria Tertampan yang memiliki banyak pengagum di dalam negeri.


Tetapi setelah itu, entah hanya perasaan Liana atau apa, dia merasakan kerumitan atau lebih tepatnya ketidaksenangan dari sang Pangeran ke-empat saat dia menyebutkan tentang Permasuri.


Itu tidak benar kan? Jika pangeran ini tidak menyukai ibunya sendiri.


~o0o~


Buat yang pernah nanya, kenapa aku Up ceritanya lama banget?

__ADS_1


Jawabannya, Aku mager gaes.... :v maap lho ya. hehe


__ADS_2