![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Beberapa waktu yang lalu ....
"Ku pikir anda tak akan datang seperti sebelumnya, Tuan." Lao Huzi yang duduk di kursi kerjanya menatap lurus pada seorang pria yang memiliki aura kemalasan pada dirinya.
Pria dengan surai merah menyala. Dia duduk di kursi panjang nan empuk yang ada di dalam ruangan Lao Huzi. Sambil sesekali menyesap teh pada cangkir yang tetap bertengger cantik di jari ramping dan panjangnya, dia mendengarkan Lao Huzi berbicara. Nampak elegan dengan aura kemuliaan yang mengelilinginya. Lao Huzi sepertinya juga sangat menghormati pria pemilik surai merah itu. Nampak dari bagaimana dia memanggilnya dengan sopan.
Tiba-tiba pria itu tersenyum membuat Lao Huzi tercengang untuk beberapa waktu. Lelaki tua itu bahkan sampai terbatuk berkali-kali akibat terkejut melihat pemandangan yang tak pernah dia lihat selama dia mengenal pria bersurai merah.
Dunia pasti sudah terbalik! Pikir pria tua itu melihat senyuman yang begitu langka dari pria di depannya. Sebab yang ia tahu, pria itu selalunya memiliki wajah yang dingin tak tersentuh. Seolah apa pun yang ada di dunia ini tak pernah mampu untuk menyenangkan dirinya. Dia adalah seorang penyendiri yang layak.
"Apa yang salah dengan itu Janggut Tua?"
Cih, lelaki tua itu benar-benar merusak suasana hatinya. Dia mendengus dan senyumannya telah memudar melihat keterperangahan Lao Huzi yang benar-benar tak cocok dengan kesan yang selalu ditampilkan si tua itu setiap waktu, berwibawa, bijaksana dan suci. Tapi kini itu terpatahkan dengan ekspresi konyol di wajah tuanya. Siapa pun tahu jika itu sangat tidak cocok dengan penampilan Lao Huzi yang berkharisma.
Lao Huzi mendadak pucat dengan keringat dingin di pelipisnya. Astaga, dia lupa jika pria dengan surai merah menyala itu dapat mendengar apa yang ia pikirkan. Dan barusan dia telah memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya. Dia sudah pasti membuat pria itu kesal padanya. Dengarlah jika dia telah menyebutnya sebagai Janggut Tua.
"Tuan, saya bersalah. Mohon beri hukuman!" Dengan buru-buru pria tua itu membenturkan lututnya di lantai. Dia meringis menyadari kecerobohannya yang begitu berani mempertanyakan tindakan Tuannya meskipun itu hanya di dalam hati. Dia sekarang benar-benar merutuki kebodohannya.
Pria bersurai merah itu hendak membuka suaranya, namun tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang di luar ruangan. Senyumnya kembali terbentuk, sayangnya tak ada yang memperhatikan. Sebab Lao Huzi sendiri masih menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya untuk menatap pria itu.
Dengan sekali lambaian tangan, pria bersurai merah itu segera memunculkan sebuah topeng di tangannya. Lalu dia memakainya sebelum menyuruh Lao Huzi bangkit dari posisi berlutut. Dia berkata akan memberi pria tua itu hukuman setelah ini.
Huzi tua tentu menurut karena pria bersurai merah adalah Tuannya yang ia hormati dan segani. Tapi kemudian dia berubah bingung, mengapa Tuan itu memakai topeng? Kebingungannya hanya berlangsung sesaat karena setelah itu pintu ruangan yang tinggi dan berdaun dua terbuka sendiri.
Di luar sana seorang gadis muda dengan pakaian serba putih berdiri menatap ruangan tanpa ekspresi.
Tapi jika seseorang memiliki pandangan jeli, maka ia akan melihat dalam mata gadis itu ada sedikit keterkejutan dan binar kagum.
Liana tak menyangka jika teknologi pintu otomatis telah ada di dunia yang terlihat kuno ini. Dia tercengang untuk beberapa saat ketika pintu terbuka sendiri. Tapi saat menyadari bahwa tingkahnya mungkin akan nampak seperti orang udik, dia kembali pada wajah pokernya.
Gadis itu bahkan tak bergerak seinci pun dari tempatnya karena belum di persilahkan memasuki ruangan. Dia memang cukup tahu diri orangnya. Jika tak di undang maka tak akan datang. Lagi pula dia bukan Jailangkung. Khem!
Mata Liana masih menelusuri arsitektur ruangan itu dari luar. Cukup elegan dengan ukiran di atas dinding batu. Master Abadi yang membuat ini pasti telah bekerja sangat keras.
__ADS_1
"Khem!" Suara deheman seseorang sontak menghentikan kegiatannya memandangi dinding. Liana mengalihkan perhatiannya pada dua orang yang terlihat begitu ... emm, kontras. Satunya pria tua dengan rambut putihnya, yang satu lagi pria bertopeng dengan rambut merahnya.
Dia segera memikirkan sesuatu tapi dia tak mengerti sebenarnya apa yang ingin dia pikirkan. Aneh! Sepertinya memang ada sesuatu yang Liana lupakan.
Dengan helaan napas karena bingung dan gagal mengingat sesuatu, Liana menyerah untuk mengingat. Gadis itu memilih untuk segera memberi salam pada dua sosok berbeda di dalam ruangan. Dia belum memasuki ruangan itu karena belum dipersilahkan.
"Zhu Liana?" tanya seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih semua juga janggutnya yang panjang. Liana dapat yakin bahwa pria tua itu adalah Lao Huzi, melihat dari ciri\-cirinya yang memang mirip dengan sang Patriark Sekte.
Liana mengangguk dari luar. Sedangkan pria tua itu mengernyit heran. Lalu pria bertopeng hanya diam sedari tadi tak memperhatikan. Dia malah fokus pada cangkir teh di tangannya.
"Gadis muda, mengapa kau hanya berdiri di luar?" tanya Lao Huzi agak gemas.
Lao Huzi terbatuk sedangkan pria bertopeng malah terkekeh mendengar penuturan gadis serba putih itu.
Liana sendiri masih dengan sikap tenangnya berdiri di luar sana menunggu intruksi. Karena terlalu lama di kemiliteran, mungkin dia terbiasa dengan sikapnya itu. Menunggu perintah lalu jalankan! Karena dia menganggap kedua orang di dalam itu asing. Lain lagi jika dia berhadapan dengan orang yang di kenal, terkhusus keluarganya. Liana akan bersikap seperti anak gadis pada umumnya. Intinya, dia cukup pandai beradaptasi dengan lingkungan, dengan catatan dia ingin. Oh jangan lupakan jika seorang Zhu Liana, jenderal wanita kita ini adalah seorang introvert.
"Uhuk, khem! Kau boleh masuk, gadis muda," pinta Lao Huzi setelah dirinya menjadi sedikit malu karena ucapan seorang gadis kecil.
Oh, ayolah. Dia tak pernah melihat perilaku sesorang seperti Liana. Dia tak terbiasa dengan itu. Tapi pria tua itu cukup terkesan dengan pandangan tegas dan sikapnya yang tidak berpura\-pura. Gadis itu jujur di setiap langkahnya, dan akan mengungkapkan isi hatinya dengan terus terang. Dia juga memiliki sikap hormat namun tak berlebihan.
__ADS_1
Lao Huzi melihat jika Liana adalah seseorang yang memandang semua orang sama tanpa perbedaan, terlebih dari status maupun seberapa kuat orang itu. Dia cukup salut pada kepribadian Liana. Itu tak buruk menurutnya. Orang tak akan mudah tersinggung dengan sikapnya yang seperti itu. Kecuali jika orang itu memiliki sifat tinggi hati.
Liana mengangguk dan melangkah memasuki ruangan mendekati kedua orang berbeda itu. Dia kembali menangkupkan tangannya di depan dada dan membungkuk sedikit untuk memberi salam hormat dan salam temu pada keduanya.
Meski salamnya hanya di balas anggukkan kecil, Liana tak mempermasalahkannya. Dia mengerti, kedua orang ini lebih kuat darinya. Dia merasakan itu.
"Patriark, apa aku boleh duduk?" Liana sebenarnya tak terlalu suka dengan keformalan. Jadi dia berbicara dengan gaya sehari\-harinya meski yang ada di depannya saat ini adalah orang yang begitu penting dan di hormati oleh penduduk Benua Timur.
Lao Huzi kembali berdekhem, dia benar\-benar tak biasa dengan sikap terang\-terangan gadis itu meskipun dia tak membenci sikap seperti itu. Karena selama ini dia selalu menerima sikap pemujaan dari orang lain. Rasanya ... agak berbeda. Entahlah.
Pria tua itu segera mempersilahkan Liana duduk di kursi empuk sebelah kanan, berhadapan dengan tempat duduk pria bertopeng. Setelah itu Lao Huzi juga duduk di tempatnya.
Pria tua itu menepuk tangannya hingga beberapa manusia rambat keluar dari dinding dan berjalan ke arah ketiganya. Manusia rambat itu memiliki tugas sebagai seorang pelayan, menuangkan teh pada cangkir para tamu. Juga membawa cemilan.
Manusia rambat segera kembali ke dinding batu saat tugas mereka telah selesai.
Liana mengangguk kagum. Sepertinya ini salah satu rahasia menara. Dia menebak. Itu cukup ... keren. Dia berpikir, mungkin suatu hari nanti akan membuat satu yang seperti ini.
~o0o~
__ADS_1
**Fyuuh! Akhirnya... sempet juga ternyata. Hehe, ketemu lho mereka. Tapi ada yang lupa ingetan nih.... wkwk**