![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
"Nona Muda Ke-dua, Bagaimana kabarmu? Ku dengar kau sedang sakit."
Seseorang yang menjengkelkan sudah berada di ambang pintu kamar Liana. Sedangkan gadis itu sama sekali tidak menoleh padanya dan malah sibuk dengan cangkir teh yang berisi kepulan asap hangat yang harum.
Duduk dengan masih bersandar di pembatas ranjang, dia sama sekali tak ingin beranjak dari sana atau menyapa wanita dengan topeng berbudi luhur di wajahnya itu. Hmph!
Wen Canran sendiri dengan diam-diam mengeraskan rahangnya juga mengepal tangannya. Tapi dalam hati dia sudah mengutuk gadis itu dengan ribuan sumpah serapah.
Meski begitu, topeng wajahnya memang masih selalu tebal. Wen Canran dengan lembut tersenyum saat dia berjalan mendekati Liana dengan beberapa pelayan yang mengekor di belakangnya.
"Nona Muda, aku datang membawakan beberapa herbal untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Ini mungkin baik bagimu," ucapnya dengan senyuman tak pernah luntur.
Liana akhirnya menoleh saat seorang pelayan yang mengikuti Wen Canran diberi intruksi mendekat sambil membawa sesuatu yang dibungkus kain kasa berwarna abu-abu.
Wen Canran membuka kain dan memperlihatkan isinya yang ternyata adalah kotak peti kecil yang terbuat dari giok berkualitas.
Liana diam, dia menunggu apa yang akan wanita itu lakukan selanjutnya.
Wen Canran juga tak memperhatikan bagaimana Liana begitu tenang saat ini. Dalam pikirannya adalah dia ingin menyingkirkan gadis itu secepatnya dan menjadi berkuasa atas Manor.
Dia membuka kotak giok lalu berkata, "Ini adalah Ginseng Ungu seribu tahun yang telah keluargaku simpan. Tapi sekarang sepertinya akan lebih berguna bagi Nona Muda." Ucapannya terdengar begitu tulus di telinga orang-orang yang mendengarnya. Namun tidak bagi Liana, dia malah ingin tertawa saat ini. Hanya saja penampilan luarnya masih begitu lurus tanpa ekspresi.
Wen Canran mengira Liana tengah terpesona dengan harta yang dia berikan hingga tak dapat berkata-kata, jadi dia mencibir dalam hati. Mengatai gadis di depannya ini sebagai idiot tak tahu malu.
Huh! Semua orang tentu akan takluk jika disodorkan dengan harta. Begitulah pikirnya. Dia bahkan menarik kata-katanya yang mengungkapkan jika Liana adalah gadis berbahaya dan penuh tipu daya.
"Sepertinya pemikiranku terlalu tinggi pada gadis ini. Dia masih sama seperti kebanyakan orang. Mata yang menyala jika diberikan harta berharga."
Oh ya ampun, jika Liana mengetahui apa yang wanita itu pikirkan. Mungkin dia benar-benar tak dapat menahan tawanya dan berkata, "Hei, tak semua orang memiliki pemikiran yang begitu serakah seperti dirimu!"
Yah, sebagai gadis yang pernah hidup di dunia Modern, hal mewah apalagi yang tidak pernah dia lihat. Dia juga sebenarnya adalah seorang Miliarder di sana, oke. Dan di dunia ini juga dia adalah seorang Nona Muda dari keluarga terpandang, Putri tercinta Perdana Menteri.
Jadi untuk harta kecil keluargamu ini, kenapa seorang Liana harus melihatnya?
Selain Ginseng Ungu, Wen Canran juga memberikan herbal lain seperti, Bunga Anggrek Api, dan Daun Semanggi Surya. Dari namanya saja, semua herbal itu memiliki material Api.
Kini Liana tahu apa tujuan wanita itu. Benar-benar tidak sabar untuk mengakhiri permainan!
Semua herbal yang bermaterial api, itu kedengarannya memang cocok untuk meningkatkan Vitalitas tubuh. Tapi apa? Wanita ini mengetahui jika dirinya telah terkena Racun Kalajengking Merah. Dan Api adalah pemicu sempurna untuk membangkitkan racun, dan itu akan semakin cepat membakar Liana.
Haih, Liana sebenarnya ingin sekali mengeluh tentang IQ penjahat di depannya ini. Sangat tidak kreatif. Dia hampir menyerah untuk berurusan dengan kebodohannya. Liana tak mengerti, kenapa bisa ibunya, Wei Xiening termakan jebakan?
Memikirkan tentang itu, dia tak tahan untuk tidak terbatuk pelan. Apakah ... apa, Aah! Dia tidak ingin memikirkan jika sebenarnya Ibunya lebih bodoh dari wanita penjahat di depannya itu. Pasti tidak mungkin, iya bukan?
Semua orang masih memperhatikan Liana yang saat ini, ah syukurlah dia sudah kembali ke dunia nyata dan menghilangkan pemikiran konyolnya.
__ADS_1
"Ling, bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin berbicara berdua dengan Selir Wen," ucap Liana pelan.
Ling awalnya ragu, tapi melihat tatapan tegas majikannya, dia mau tak mau tetap menurut. Dia keluar bersamaan dengan pelayan yang di bawa Wen Canran.
"Duduklah," intruksi Liana saat kamarnya untuk yang ketiga kalinya dalam keheningan. Menunjuk pada kursi yang tak jauh dari tempat tidurnya. Dia juga berdiri, membawa nampan berisi teko dan cangkir teh, meletakkannya di atas meja. Lalu menuangkan teh ke cangkir di depan Wen Canran.
Wen Canran diam, tapi mengerutkan keningnya antara bingung dan heran. Dia entah kenapa tiba-tiba menjadi waspada dan caranya duduk menjadi benar-benar kaku.
"Nona Muda, kau telah direpotkan," ucapnya saat tangannya tiba-tiba merebut teko dan cangkir teh Liana. Dia juga melakukan hal yang sama pada gadis itu, menuangkan teh untuknya.
Liana sendiri tersenyum tipis. "Bagian mana yang merepotkan dari melayani seorang senior?" Saat mengatakan hal itu, Liana dengan sengaja memperhatikan hadiah yang diberikan Wen Canran dengan ekor matanya.
Tentu saja wanita itu memperhatikan gerakan kecil Liana. Dia tiba-tiba menghela napas lega dan kembali pada pikiran awalnya.
Liana yang bersikap baik padanya ini sepertinya tengah mengungkapkan terimakasih padanya atas hadiah berharga itu.
Wen Canran kemudian tersenyum. "Nona Muda, bagaimana pun juga. Status kita tidak dapat dibandingkan. Aku hanyalah seorang Selir. Tidak patut diberikan julukan senior olehmu." Raut wajah Wen Canran menjadi rumit saat mengatakan hal itu. Tapi tentu saja itu hanyalah salah satu dari kepura-puraannya untuk mendapat simpati.
Dari apa yang ingin dia rencanakan, dia masih sempat ingin mengambil hati Liana. Ah, benar-benar penuh bisa ular.
Liana dengan tenang kembali meletakkan cangkir teh di atas meja. Dia terkekeh geli. "Yah, kau benar, Selir Wen. Status kita ... untung saja kau mengingatnya, tidak seperti terakhir kali." Ungkapan sarkasme tentunya adalah balasan yang paling tepat bagi wanita yang penuh bisa itu.
Wajah Wen Canran menjadi merah karena menahan amarah. Dia tanpa sadar berdiri dan membentak, "Zhu Liana!"
Liana masih diam melihatnya dengan tatapan mengejek.
Akh! Dia tak tahan lagi, kali ini dirinya juga dibodohi oleh Liana. Dan dia ... mengapa tadi sempat berpikir jika gadis ini sama dengan yang lainnya? Melihat harta dengan mata berbintang dan penuh serakah.
Oh, baiklah. Kalimat seperti itu mungkin lebih tepat untukmu, Wen Canran.
Alaram berbahaya lagi-lagi dapat dia dengar saat berhadapan dengan gadis yang menjadi anak tirinya itu. Dan hal itu lagi-lagi menjadi pemicu kebenciannya. Dia ingin segera menyingkirkan gadis nakal ini.
Tapi Liana sekali lagi mengangkat sebelah alisnya meremehkan. "Hmm, ada apa Selir Wen? Kau sekarang ingin menanggalkan topengmu?" tanyanya saat tangannya kembali meraih cangkir teh untuk di minum isinya.
Wen Canran, sebaliknya dia menjadi sadar dengan apa yang dia lakukan barusan. Dia masuk ke dalam jebakan gadis muda. Apa yang lebih memalukan dari itu? Tapi pada akhirnya, dia lagi-lagi menebalkan wajahnya tanpa malu. Kembali bersikap biasa seolah tak pernah ada yang terjadi sebelumnya. Hanya saja, dia menjadi manusia kaku selarang. Tak tahu apa yang harus dilakukan.
Jadi .... "Maafkan aku, Nona Muda. Yang rendah ini terlalu impulsif."
Liana sendiri memiliki tatapan geli padanya. Hoo, sekarang masih punya wajah untuk bermain peran? Topengmu sudah ditanggalkan. Tidakkah kau merasa malu?
"Haah, ku pikir Selir Wen akan cepat berkolusi untuk membunuhku saat ini dan membakar Paviliun Teratai Bulan. Seperti bagaimana kau memperlakukan ibuku di masalalu. Bukankah ini cara mudah mendapatkan kursi Nyonya Perdana Menteri?"
Perkataan Liana tiba-tiba membuat tubuh Wen Canran menegang. Apa maksudnya ini? Gadis ini sudah mengetahuinya. Dia ... benar-benar lebih berbahaya dari yang diperkiraannya.
Tatapannya menjadi kaku mengikuti tubuhnya yang saat ini benar-benar tak mampu digerakkan. "Kau ... kau tahu?"
__ADS_1
Liana mencibir saat dirinya tiba-tiba berdiri untuk mendekati Wen Canran. "Tahu?" ulangnya. "Aku bahkan tahu betapa bodohnya dirimu." Perkataan sarkasme lagi.
"Zhu Liana, apa yang kau inginkan?" tanya Wen Canran dengan nadanya yang bergetar tapi masih berusaha mempertahankan kesombongannya. Ah benar, dia tak lagi memperdulikan topeng martabat dan budi luhurnya yang terlepas.
Haha. Yah, pada akhirnya Liana adalah seorang ahli yang mampu meruntuhkan kemunafikan musuhnya.
Bersikap terus terang dan memperlihatkan jika dia telah menang untuk menakuti mereka adalah caranya setiap kali untuk memenangkan permainan.
"Hmm, apa yang aku inginkan? Pertanyaan ini sepertinya lebih cocok untukmu. Tapi karena aku sudah mengetahui apa yang kau inginkan. Jadi aku akan menjawab dengan tulus ...." Perkataannya terjeda sekejab. "Aku ingin kau enyah!" Nada bicara Liana menjadi dingin saat dirinya dengan kejam melempar Wen Canran ke dinding dan membuat wanita itu meludahkan darah setelahnya.
Ketakutan merajalela pada diri Wen Canran saat dirinya mendengar samar-samar langkah Liana yang mendekat. "Jangan mendekat! Berhenti!" Dia meminta.
Akn tetapi Liana tertawa dengan dingin. Dia berjongkok di depan wanita yang meringkuk.
"Kau takut?" tanyanya. Tapi seperti yang diharapkan, Wen Canran memang takut dan dia tidak menjawab. Jadi Liana melanjutkan, "Hmm, tenang saja. Aku juga tidak ingin ini berakhir lebih cepat. Mari kita bermain lebih lama."
Saat mengatakan hal itu, Liana mengulurkan tangannya membentuk energi spiritual Qi transparan. Secara ajaib, luka Wen Canran bertahap menjadi pulih.
Mau bagaimana pun, Liana sebenarnya tidak suka menganiaya orang lain, dia bukanlah orang yang kejam. Tapi hah, dia tidak dapat mentolerir wanita ini. Dia keji, serakah, penjilat, munafik. Baiklah, segala sifat manusia yang tidak disukai Liana akan dia temukan pada diri Wen Canran.
Pada akhirnya, dia masih membiarkan wanita itu pergi. Hanya saja, matanya berkilat dengan cahaya aneh saat dia tiba-tiba menyunggingkan senyum miring.
Wen Canran, wanita bodoh itu hanyalah pion.
~o0o~
A/N: Sebenarnya jika harus memilih, aku lebih suka jadi karakter antagonis dalam cerita. Karena apa? Karena Antagonis biasanya lebih banyak menang. Yah, meskipun pada akhirnya mereka akan berakhir tragis. hahaha.
Aku juga nggak suka kalau protagonis tuh cengeng atau suka berlindung di balik punggung karakter utama pria. (Ini kebanyakan novel yang ku baca kalau MC-nya cewek).
Jadi disini aku nyiptain karakter Zhu Liana yang kuat, cerdik, bijak dan dewasa meskipun di beberapa kesempatan dia menjadi sosok yang murni dan polos. (Karakter idamanku, beneran :v).
Mungkin ada dari kalian yang pernah mikir kalau interaksi MC kita ini lebih sedikit sama Karakter utama prianya. Maka inilah alasannya.
Aku beneran nggak suka ada karakter yang cengeng, oke. Meskipun itu bikin beberapa plot cerita kurang menarik. Hanya saja, aku emang bikin cerita ini sesuai isi hati, hehe.
Eh, sebenernya aku pengen ngomong lebih panjang.. tapi lain kali aja lah... lagian pada jarang kan baca Author Note.
So, sampai sini aja.
eh bentar dulu. Aku masih rekomended Novel Scumbag System (The Scum Villain's Self Saving System\=Judul lengkapnya.)
Ini rekomen banget buat kalian para penulis. tapi buat pembaca juga oke, jika kalian nggak punya Homophobic sih.
Dari judulnya aja udah tahu kalau ini novel bertema System, dan juga MC nya yang masuk dalam Novel. Hehe...
__ADS_1
Bener-bener cocok buat kita para penulis yang lebih sering ngejar Popularitas dari pada Kualitas Tulisan. Baca aja kalo penasaran... ada di Platform sebelah, Si Orange.