[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
74-Menemukan Pelaku


__ADS_3

Tabib Han sejenak terdiam memperhatikan sosok pemuda dengan warna matanya yang cokelat jernih, penuh vitalitas masa muda itu. Sedikit mengerti apa yang hendak Wan Feng lakukan.


Dia maju setelah mengangguk, membuka penutup kotak dan mulai mengidentifikasi. "Ini adalah herbal seribu tahun yang memiliki material api. Baik untuk vitalitas tubuh dan juga sebagai penawar bagi racun dingin. Tapi sebaliknya, jika seseorang terkena racun api atau sejenisnya, itu dapat membahayakan nyawa jika dikonsumsi," jelas Tabib Han sedikit lebih panjang.


Zhu Moran yang melihat benda familiar itu mengangkat alisnya sebelum akhirnya berdiri. "Wan'er. Kenapa mereka semua ada padamu? Bukankah Ling kemarin hendak mengembalikannya pada pemilik asli?" Saat dia berkata, mata pria paruh baya itu melirik Wen Canran dengan cahaya tertentu, mengandung beberapa kemarahan, kebencian, lalu permusuhan.


Sebenarnya dia belum menghukum wanita itu. Tapi sekarang sepertinya tangannya sedikit gatal untuk merobek wajahnya yang penuh topeng. Sudah lama Zhu Moran muak, hanya saja dia masih memberinya keringanan, masih mengingat hubungan persahabatan wanita itu dengan Wei Xiening dan masih bersikap ringan padanya. Dia sedikit berharap jika Wen Canran tak melampaui batas selama masih memiliki status yang ia berikan. Akan tetapi sepertinya harapan tak pernah ada pada wanita serakah seperti Wen Canran.


Wanita itu bahkan tega untuk menyakiti putrinya? Apakah sekarang dia bisa dimaafkan?


Tangan Zhu Moran mengepal dengan erat saat akhirnya dia memanggil, "Wen Canran, jelaskan apa maksudnya ini?" Nadanya begitu dingin dan masih menahan amarah dengan susah payah.


Tubuh Wen Canran seketika menegang. Semua mata sekarang tertuju padanya. Tapi dia dengan enggan menyangkal, berpura-pura tidak mengerti. "Tuanku, apa yang kau katakan? Aku ... aku hanya khawatir dengan kondisi tubuh Nona Muda Ke-dua. Dia sering jatuh sakit akhir-akhir ini. Karena itulah ... aku mengirimkan herbal untuknya." Jika orang lain yang mendengar pengakuan Wen Canran dengan wajahnya yang nampak seperti tengah dianiaya, mungkin mereka akan percaya juga iba padanya.


Namun orang-orang dalam ruangan itu sebenarnya sudah mengetahui perangai tersembunyi miliknya. Dari pada iba, mungkin jijik lebih tepat untuk mengabarkan tatapan Zhu Moran padanya saat ini.


Liana sendiri hendak bertepuk tangan untuk kalimat lancar yang diucapkan wanita itu.


Lalu Wan Feng, dia mendengus.


Sedangkan Yuan Feihua, wanita satu ini sepertinya tengah berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Bisakah dia selamat?


Untuk Zhu Weiling, gadis itu sebenarnya kurang mengerti apa yang terjadi. Tapi dia tahu keadaan sekarang ini memamg tidak begitu baik untuk dirinya ikut campur. Dia memang tidak menyukai Liana dan posisinya sebagai Nona Muda sah. Tapi dia juga dapat berpikir rasional untuk tidak menyinggung gadis serba putih itu, mengingat bagaimana dia sering ketakutan saat berhadapan dengan sikap Liana terakhir kali padanya.


Lupakan soal Zhu Yuxia. Dia bahkan tidak perlu repot-repot untuk melirik drama yang dimainkan ibu asuhnya itu. Jika dia tidak menyukai Liana karena gadis itu lemah. Maka dia membenci Wen Canran karena suatu alasan di masa lalu. Tapi sekarang Liana tak lagi lemah seperti dulu, dia bahkan mulai mengagumi gadis yang menjadi kakak tirinya itu karena sikap tenangnya dalam menghadapi situasi apapun. Dan juga, Liana telah menjadi kuat. Sekuat dia dapat menghentikan pergerakan para Monster di Bukit Awan. Meski sebentar, itu dapat menyelamatkan orang-orang. Dan dia juga lah yang menghentikan perseteruan para pemuda dengan kekuatannya di tempat itu karena berebut Bunga Iblis yang dikira sebagai Bunga Kabut Malam.


Wan Feng yang jengah melihat akting wanita itu kembali menginstruksikan pengawal yang satu lagi untuk membuka benda yang masih terbungkus kain.


Tiba setelah itu, bukan hanya Wen Canran yang menjadi kaku, tapi Yuan Feihua juga menunjukkan perubahan pada ekspresi wajahnya.


Wanita bergaun ungu itu segera melirik pelayan pribadinya, An Rong dengan tatapan sengit. Seolah menyiratkan ucapan, "Kau tidak bekerja dengan baik kali ini."


Dan pelayan itu juga menatap benda berupa mangkuk sup itu. Tapi masih dengan tanpa ekspresi seolah ini tidak ada hubungannya dengan dirinya. Membuat Yuan Feihua semakin geram.

__ADS_1


"Tabib Han?" panggil Wan Feng kembali melirik tabib muda tersebut.


"Tuan Muda, bisa kau jelaskan untuk apa mangkuk ini?" tanya Tabib Han.


"Itu adalah mangkuk sup kacang merah yang hampir kami makan hari itu," ucap Wan Feng lebih jujur. Dia dan Liana memang berencana untuk mengungkapkan apapun kebenaran yang terjadi. "Jika Li'er tidak memperingatkanku hari itu, mungkin sekarang aku juga tak berdiri hari ini. Kami memang tidak memakan sup yang berisi racun, tapi Li'er ...." Dia berhenti sebentar memandang Liana.


"Ah, aku sedikit ceroboh saat itu hingga tak sengaja menghirup aroma sup dari dekat." Liana berucap dengan acuh tak acuh membuat beberapa orang tercengang.


Untuk kedua pelaku, mereka bahkan lebih terkejut. Sepertinya juga marah karena merasa telah dibodohi. Jadi apakah ini akhirnya?


Tabib Han mengangguk mengerti. Dia sekarang memeriksa mangkuk dengan seksama, ekspresinya nampak tidak memiliki riak sama sekali, tetapi di akhir, dia mengernyit seperti tak senang. "Nona Muda, berarti anda tahu jika sup dalam mangkuk ini telah dicampur dengan racun?"


"Iya," jawab Liana singkat.


Tabib Han dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya, sebuah pil penawar yang sebenarnya sempat ia buat beberapa waktu lalu dari bahan-bahan yang di berikan Zhu Moran padanya. Semulanya itu untuk Liana, tapi gadis itu telah sembuh dari racun berkat Pangeran Ke-tiga. Jadilah sekarang itu berguna untuknya.


"Ini memang Racun Kalajengking Merah. Meski efeknya telah berkurang banyak oleh waktu. Tapi itu masih dapat membuat seseorang yang menghirup aromanya menjadi demam tinggi. Apa kau menahan napas tadi?" Tabib Han menyelesaikan penjelasannya dengan pertanyaan pada pengawal yang membawa mangkuk.


Setelah itu mangkuk sup segera disingkirkan untuk di bersihkan karena akan berbahaya jika aroma racun menyebar ke dalam ruangan, meski pun itu tak terjadi. Tapi sebaiknya untuk berhati-hati.


Lalu sekarang, ketegangan kembali memuncak di dalam ruangan itu. Wen Canran dan pelayan milik Yuan Feihua, An Rong yang dicurigai sebagai pelaku berlutut di tengah-tengah aula untuk diadili.


Kini Zhu Moran yang akan berperan sebagai hakim. Bukti dan saksi sudah berada di tempat. Dia tak ragu lagi untuk menyingkirkan Wen Canran dari hadapannya saat ini. Dia bertanya, "Wen Canran, jelaskan sejujurnya untuk apa kau memberikan herbal langka itu pada putriku?" Suaranya begitu dingin untuk didengar.


Tubuh Wen Canran sedikit bergetar karena tekanan intimidasi yang bukan hanya dari Zhu Moran tapi juga Wan Feng ikut menatap tajam dirinya. Tatapan yang menusuk seperti pedang yang seolah jika itu dapat membunuh, Wen Canran sudah mati berkali-kali.


"Tu- Tuanku, aku benar-benar tidak tahu jika Nona Muda Ke-dua memiliki racun dalam tubuh. Aku ... aku hanya ingin memberikan itu karena ... karena mendengar jika Nona Muda Ke-dua jatuh sakit." Dia berbicara dengan terbata-bata. Sangat gugup sekaligus takut. Sekilas Wen Canran mengalihkan pandangan minta pertolongan pada Yuan Feihua yang merupakan sekutunya. Tapi wanita bergaun ungu itu malah memalingkan wajah untuknya. Seolah dia bukan bagian dari rencana yang padahal sebenarnya rencana itu adalah usulan darinya.


Tangan Wen Canran mengepal kuat saat dia menunduk. "Bagus, kau memang tidak bisa dipercaya. Kalau aku jatuh, aku juga akan menarikmu, Yuan Feihua." Dia membatin dengan penuh emosi.


Tapi segera tersentak dengan suara magnetis Wan Feng yang begitu jelas di telinganya.


"Benarkah? Keluarga Wen juga bukanlah bangsawan tingkat tinggi, melihat mereka dapat memilki cukup kekayaan untuk mendapatkan Herbal langka seperti itu, cukup mengesankan, bukan begitu? Lalu memberikannya pada anak seorang selir, apa tujuanmu? Ah tidak, maksudku apa tujuan dari keluarga Wen?" Perkataan sarkasme pemuda itu langsung menusuk tepat di titik lemah Wen Canran.

__ADS_1


Dan perkataan itu pula membuka mata Zhu Moran. Benar saja, keluarga Wen bukanlah golongan bangsawan tinggi. Posisi mereka tak begitu menonjol di Pengadilan Tinggi Istana. Dan mereka juga hanya memiliki bisnis kecil di bidang pakaian.


Tapi setelah Wen Canran masuk menjadi selir Zhu Moran, keluarga Wen perlahan mendapat perhatian. Meski pun Wen Haotian--Kepala keluarga Wen masih tak begitu menonjol di pengadilan tinggi, tapi bisnis mereka memang cukup lancar karena berbagai koneksi.


Tapi sebenarnya itu belum cukup untuk menjadi alasan mengapa Keluarga Wen menyerahkan harta yang begitu berharga milik keluarga diserahkan pada Wen Canran yang hanya untuk diberikan kembali pada Liana.


Meski pun sekarang reputasi Liana sudah lebih baik dari pada dulu. Tapi itu juga bukan berarti ia akan dipandang begitu tinggi oleh orang-orang. Jika alasannya Liana adalah putri kesayangan Zhu Moran dan keluarga Wen ingin menjilat dengan itu, mengapa tidak mereka lakukan dari dulu? Bukankah dari dulu Liana adalah tetap putri kesayangannya.


Satu hal yang menjadi masuk akal sekarang. Keluarga Wen adalah sekelompok orang serakah. Jika mereka ingin memusnahkan garis keturunan Zhu Moran yang sah. Jangan lupakan jika target dari peracun adalah Liana dan Wan Feng.


Yah, mereka mungkin ingin menyingkirkan anaknya terlebih dahulu, baru dirinya.


Meski begitu, masih ada beberapa yang kurang. Liana juga memikirkan hal ini, karena itulah dia diam saja dari tadi.


Keluarga Wen tidaklah begitu kuat hingga berani mengusik keluarga Perdana Menteri. Pasti mereka memiliki dukungan tersembunyi yang bahkan tidak dapat dikalahkan oleh sang Perdana Mentri. Jika itu benar, maka keluarga Kekaisaran juga harus dicurigai. Lalu siapa?


Karena Wen Canran tidak mengaku, dia akhirnya dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah milik Perdana Menteri.


Sementara An Rong, pelayan di bawah Yuan Feihua juga bungkam.


Liana berpikir jika orang ini cukup sulit dikendalikan. Dari mana Yuan Feihua mendapatkan dirinya? Itu juga patut dicurigai. Begitu loyalnya pada Yuan Feihua hingga rela menanggung kesalahan wanita itu.


Ck! Tapi sekarang para penjahat ini tengah berhadapan dengan Zhu Liana, sang Jenderal Wanita WSA yang tidak pernah kalah kecuali saat kejadian terakhir. Jika dia tak mampu mengungkapkan kedok mereka, maka nama keluarganya bukan lagi Zhu.


Kedua pelaku itu di tahan dalam penjara. Sedangkan Yuan Feihua menjadi pihak kecurigaan orang-orang. Dia hanya menjadi tahanan rumah sampai kebenaran terungkap. Karena kelalaiannya dalam mengajari pelayannya, dia juga dihukum.


Orang bilang, "Jika anjing menggigit orang, maka pemiliknya yang perlu dipertanyakan." Bukan begitu?


Akhir hari, Liana hanya menghela napasnya. Wajahnya tak menunjukkan fluktuasi emosi apa pun. Hingga dia memutuskan untuk bermeditasi. Minggu depan dia sudah akan berangkat ke akademi. Untuk waktu ini, dia akan cepat mengurus masalah yang merepotkan dalam Manor lebih dulu agar dia tidak menjadi gelisah di masa depan jika meninggalkan Zhu Moran.


Wei Wuxian juga kembali untuk melaporkan kejadian ini pada Kaisar. Untuk tindak lanjutnya, biarkan hukum yang menangani. Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, lambat laun itu akan tercium juga baunya.


~o0o~

__ADS_1


__ADS_2