![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Suara dentingan dari pedang yang beradu mengisi keheningan malam di tengah hutan. Banyak dari binatang ajaib berlevel rendah menyingkir dari tempat itu.
Yang mana di sana ada segerombolan orang sedang bertarung. Sepertinya mereka tengah memperebutkan sesuatu.
"Serahkan bunga itu padaku kalau kau masih menyayangi nyawamu!" Seorang pemuda berpakaian mewah berkata dengan ancaman. Dia masih melayangkan tebasan pada lawannya.
"Mimpi saja kau! Bunga ini ... aku yang menemukannya lebih dulu." Orang yang menjadi lawan pemuda berpakaian mewah itu tak mau mengalah.
Dengan saber di tangannya, dia juga mengayun dan menebas. Mengelurkan jurus andalannya berusaha dapat mengalahkan orang yang ingin merebut miliknya.
"Baik, kau mencari mati. Semuanya, terus serang. Jangan biarkan mereka lolos membawa bunga itu. Jika aku mendapatkannya, kalian akan mendapat bayaran yang besar dariku!" Pemuda berpakaian mewah berteriak pada kelompoknya memberi perintah yang tentu saja langsung di sambut dengan antusias.
Sedangkan pemuda yang menjadi lawannya semakin mengeratkan giginya geram. Tapi dia juga tak menyerah, dia ikut memberi arahan pada kelompoknya. "Tetap bertahan dan lawan! Bunga ini sangat penting bagi klan. Jika kita bisa membawanya pada ketua klan, kalian akan mendapat imbalan yang pantas nantinya."
"Baik, Tuan Muda!"
Serentak, pertarungan kembali terjadi, ah atau mungkin dapat di sebut perang kecil karena disana ada lebih dari seratus orang. Dan mereka membuat kerusakan yang tidak kecil.
Tidak ada yang mau mengalah sampai satu persatu anggota dari kedua kelompok itu tumbang.
Mereka bahkan tak sadar jika dua orang dengan pakaian serba putih tengah mengamati mereka dari atas pohon. Duduk dengan santai tak terpengaruh dengan ributnya pertarungan mereka.
Jika saja mereka berada di Dunia Modern, khususnya di Negara Plus Enam Dua, mungkin sudah dikira kuntilanak yang nangrkring di atas pohon. Tapi siapa yang perduli? Toh sekarang latar tempatnya berada di negeri antah-berantah yang bahkan roh gentayangan, hantu, setan, tuyul, dedemit dan sejenisnya tidak ditakuti, bahkan ada yang di buru sebagai pasukan atau bahkan perliharaan, terkhusus pengguna Kultivasi gelap atau sesat.
Lupakan itu! Karena sudah keluar dari topik. Mari kembali pada keadaan saat ini.
"Bunga apa yang mereka perebutkan?" tanya Liana pada Shiro yang duduk di sebelahnya.
Yah mereka memang Liana dan Shiro. Lanhua sendiri kembali ke tenda tadi sore karena para pengawal mencarinya atas nama Permaisuri, ibu kandungnya.
Sebenarnya dia tak di izinkan untuk ikut dalam acara perburuan ini. Entahlah, kenapa sang Permaisuri tidak mengizinkannya? Mungkin karena dia seorang putri yang amat disayangi. Tapi dia nekat dan malah kabur dari penjagaan. Alhasil dia di seret oleh pengawal dan kembali ke tenda. Dan sekarang Liana tidak lagi memiliki teman perjalanan jadi menyuruh Shiro keluar sebagai teman mengobrol. Dan harinya benar-benar berjalan begitu lancar setelah itu. Tak ada lagi gangguan yang tak diinginkan.
"Bunga Kabut Malam," jawab Shiro pelan sambil terus memperhatikan kejadian di depan sana.
"Bunga Kabut Malam?" ulang Liana. "Pantas saja. Itu salah satu bahan langka dalam pembuatan Pil Regenerasi. Sangat dicari oleh para Alkemis."
"Tuan benar. Tapi selain itu, Bunga Kabut Malam juga memiliki fungsi lain yang sering di butuhkan oleh setiap kultivator."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Itu dapat meningkatkan kualitas akar roh juga memperpanjang umur."
"Aaa, tidak heran jika pemuda yang membawa bunga mengatakan jika itu sangat penting untuk klan mereka. Benar-benar harta." Liana menganggukkan kepalanya pelan. "Tapi, apa benar-benar ada yang bisa meningkatkan kualitar akar roh? Setahuku akar roh adalah bawaan seseorang dari lahir."
"Tentu ada, karena itulah bunga kabut malam menjadi hal yang diperebutkan. Apa kau juga menginginkannya?" tanya Shiro di akhir kalimat.
"Tidak, lagipula itu tidak berguna bagiku. Kau tahu, bukan? Aku tak memiliki akar roh."
Shiro hanya diam menanggapi perkataan Liana. Dan Liana juga diam setelah itu. Mereka hanya memperhatikan pertarungan itu dengan bosan tanpa ada niatan untuk menolong atau ikut campur di dalamnya. Lagipula Liana tak mengenal kedua kelompok itu, dan tidak baik menyinggung mereka yang asing. Liana jelas tak ingin menambah musuh.
Shiro yang merasa bosan mengubah bentuknya menjadi kuda mini dan mendekat kepada Liana. Liana juga sedari tadi menguap, tidak lagi menyaksikan pertarungan membosankan itu menurutnya. Tidak tahu nanti siapa yang menang, toh dia tak perduli.
Tapi yang Liana tidak tahu adalah orang-orang semakin ramai berdatangan. Kelompok-kelompok lain yang mendengar keberadaan Bunga Kabut Malam melesat ke tempat itu untuk ikut memperebutkannya. Siapa yang tidak mau harta langka? Mungkin hanya Liana lah orangnya.
Sedangkan gadis itu sudah dari tadi tertidur lelap di atas pohon, tidak terusik sama sekali dengan keributan yang terjadi di bawah sana. Hingga ....
DUARR!!!
Ledakan terjadi, dan itu mengenai pohon tempat peristirahatan Liana hingga membuat gadis itu jatuh terlempar menghantam bumi.
Hilang sudah sikap kalemnya, kini tergantikan dengan kesuraman yang mengelilinginya. Dia membisu melihat pakaian putih bersihnya kini telah tercampur dengan lumpur dan debu kotoran.
Kemudian tatapannya menajam, menusuk dan menukik ke depan melihat pertarungan yang masih saja berlangsung.
Oh baiklah! Dia benar-benar marah sekarang. Tapi siapa yang disalahkan disini? Dia sendiri yang berleha-leha di tengah pertempuran orang. Tapi ... baiklah, dia memang marah sekarang. Dan jika seorang Zhu Liana marah, akan terjadi sesuatu yang ... ah, jangan di bayangkan!
Aura membunuh menguar dari dalam dirinya. Dengan langkah berat, Liana mendekati orang-orang disana yang belum tahu jika bencana besar akan menimpa mereka beberapa saat lagi.
Shiro? Jangan tanya dia berada dimana! Dia memilih pergi ke dalam dimensi, firasatnya sudah buruk setelah Liana jatuh dan berteriak.
Kini Liana berada di tengah-tengah pertempuran dengan aura membunuh yang begitu kental membuat orang-orang yang berada dalam jangkauan sepuluh meter darinya merasakan sesak.
"SIAPA YANG MENYERANGKU TADI?" tanyanya dengan nada yang begitu dingin.
Pertempuran seketika berhenti saat beberapa orang tiba-tiba terjatuh karena tak dapat menahan aura membunuh yang di keluarkan Liana.
__ADS_1
"Si- siapa kau?" Seseorang yang berada paling dekat dengan Liana berusaha melepaskan tekanan aura membunuh Liana.
Liana menoleh dengan pandangan tajam menusuk membuat orang itu seketika berkeringat dingin.
"KU TANYA SEKALI LAGI, SIAPA YANG TELAH MENYERANGKU?!" Nadanya semakin dingin saat aura membunuh itu semakin kuat, membuat beberapa orang yang memiliki kultivasi rendah memuntahkan darah, bahkan ada yang pingsan karenanya.
Tak ada yang menjawab Liana karena tekanan. Semuanya yang berada di sana memang hanyalah para pemuda-pemudi yang ikut dalam kompetisi, tak ada yang memiliki kultivasi di atas Pembentukan Inti, sebab itu salah satu syarat menjadi peserta dalam Perburuan Musim Semi.
Menghadapi tekanan yang begitu besar tentu bukanlah kemampuan mereka. Apalagi rata-rata dari para peserta yang kini di berada di hadapan Liana memang masih berada di penempaan Qi, beberapa memang sudah berada di Fondasi Alam, merekalah yang cukup lama bertahan dari tekanan.
Liana mengalihkan pandangannya pada pemuda yang dia yakini sebagai orang yang membawa Bunga Kabut Malam.
Mengangkat tangannya, Liana mengendalikan angin di sekitarnya untuk mengangkat pemuda itu. Semuanya terbelalak kaget, apalagi pemuda yang di angkat Liana. Mereka tidak tahu bagaimana cara Liana begitu mudah mengangkat orang, mereka bahkan tidak dapat melihat Qi atau merasakannya dari dalam tubuh gadis itu. Tapi mereka yakin, Liana lah pelaku yang mengangkat pemuda itu, dilihat dari gerakan tangannya yang begitu santai, naik dan turun.
Liana masih menekan banyak orang di sekelilingnya. Yang tidak terkena tekanan pun tak berani mendekat apalagi menyerangnya, mungkin takut.
"Apa ... apa yang kau inginkan?" tanya pemuda itu begitu ketakutan saat dirinya kini masih berada di udara.
Liana membawa pemuda itu ke dekatnya kemudian segera mengambil bunga dari saku pemuda itu.
Dia tersenyum miring, "Hanya karena setangkai bunga yang terlihat jelek ini kalian rela saling membunuh dan melukai sesama? Konyol!" ucapnya merendahkan dengan nada mengejek.
Liana melempar pemuda itu sampai ke tempat kelompoknya berada.
Dia kembali melihat bunga berwarna hitam pekat di tangannya. Sangat jelek! Pikirnya.
Dia bukannya membenci warna hitam, tapi bunga itu memang benar-benar terlihat jelek di matanya. Katanya dapat memperpanjang umur, tapi Liana tidak merasakan sedikit pun energi kehidupan di dalamnya. Apa informasi itu salah?
Tapi dia kembali mengingat jika seseorang yang berkultivasi gelap atau sesat memilki umur yang lebih panjang atau bahkan memiliki penampilan yang lebih muda dari orang dengan kultivasi biasa.
Hmm, bisa jadi Bunga Kabut Malam ini adalah bunga iblis.
Tatapan Liana kembali menajam, dia meremas bunga itu dengan Qi unik miliknya yang ia rubah menjadi api transparan.
Orang-orang yang melihat tindakannya hampir semuanya menahan napas, marah, kesal dan lain sebagainya. Banyak yang mengutuk Liana dalam hati mereka. Tapi mereka takut bertindak langsung, sebab tak ada yang dapat melihat tingkat kultivasi gadis yang terlihat masih belasan tahun itu.
"Apa?!" tanya Liana sinis. "Kalian benar-benar ingin saling membunuh hanya karena setangkai Bunga Iblis?" tanyanya membuat semua orang disana terkejut.
__ADS_1
Kenapa bisa menjadi Bunga Iblis?!
~o0o~