[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
60-Sup Kacang


__ADS_3

Hukuman keduanya akhirnya tetap dijalankan meski dengan berbagai gerutuan Wan Feng dan senyuman tak berdaya dari Liana.


"Li'er, kau tak membantu sama sekali," decak Wan Feng sambil memainkan kuas pena di jari tangan kanannya.


Liana sendiri hanya menggelengkan kepalanya pelan. Terkadang, kakaknya ini lebih kekanakan dari pada umurnya. Heran, bukankah dia sudah begitu lama bergelut di medan perang? Setidaknya bentuklah sifat yang lebih berwibawa.


Haha, Liana tak tahu saja jika Wan Feng hanya dapat bersikap seperti itu pada dirinya dan sang Ayah, Zhu Moran.


"Kakak, dari pada kau terus menggerutu tidak jelas seperti ini, lebih baik selesaikan salinanmu." Gadis itu memandang sang kakak dengan tegas, lalu kembali bergelut dengan kuas dan kertas seraya matanya yang selalu asik mondar-mandir melihat aksara-aksara dalam buku yang terlihat begitu tebal di hadapannya.


Bukannya mendengar kata sang adik, Wan Feng malah mendengus kesal. Tapi kemudian dirinya segera berdiri lalu duduk di dekat Liana. Memeperhatikan gadis itu dari samping beberapa saat sebelum dirinya kembali berbicara.


"Li'er?" panggilnya namun Liana tak menyahut.


"Adik ...."


"Liana ...."


"Nona Ke-dua Zhu?"


Wan Feng berdecih, tapi kemudian dia tersenyum penuh arti.


"Nyonya Wuxian?!" Dan akhirnya dengan jahilnya dia berteriak di telinga Liana cukup keras hingga menghasilkan coretan pada kertas yang Liana gunakan untuk menyalin buku.


Liana seketika menghentikan gerakan tangannya menyapukan kuas. Menoleh pada pemuda tampan yang menyandang gelar sebagai kakak menyebalkannya itu dengan senyuman.


Senyum itu memang terlihat manis, tapi entah kenapa menghantarkan ketidaknyamanan kepada diri Wan Feng.


"Ada apa Ka-kak?" Dengan sudut bibir yang masih tertarik ke atas, Liana mengeluarkan sedikit aura membunuhnya saat dia bertanya kepada Wan Feng.


Wan Feng dengan susah payah menelan ludahnya. Dia tak menyangka jika gadis serba putih yang selalu nampak tenang itu akan begitu menyeramkan ketika sedang marah.


Benar kata orang, 'danau yang tenang belum tentu tak ada bahaya'.


"Ehe-he, Li'er. Kakak hanya ... hanya itu, anu ...."


"Hmm?" Liana malah melebarkan senyumannya mendengar jawaban gugup dari Wan Feng.


Dia berdiri dengan tiba-tiba, mengambil kertas dan menggulungnya.


"Li- Li'er?"


Setelah itu ....


Plakk!! Plakk!!


~o0o~


Semua kembali tenang di dalam ruangan itu. Liana dengan duduknya yang elegan kembali menyapukan kuas di kertas yang baru.

__ADS_1


Gara-gara kakaknya itu, Liana harus mengulang salinannya karena kertas yang sebelumnya dipakai malah memiliki coretan besar di sana. Mata Liana kembali berkilat dingin saat menatap pemuda itu.


Wan Feng yang kini sudah kembali duduk di tempatnya semula hanya menunduk sambil mengusap kepalanya yang memiliki benjolan besar.


Adiknya itu sangat kasar, dia bahkan tidak segan memakai Qi untuk memukul dirinya. Dia kan hanya ingin mengurangi kebosanan dengan menjahili Liana. Apa salahnya?


"....?!"


Tiba-tiba Wan Feng kembali merasakan dingin di punggungnya. Dengan cepat dia mengerjakan salinan menghiraukan Liana yang masih menatapnya dengan tatapan permusuhan.


Semua kembali hening, hingga ....


Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian kedua pasangan adik-kakak tersebut.


"Permisi, Tuan Muda Pertama dan Nona Muda Ke-dua. Kami membawakan makan siang."


Ah, itu Ling dengan beberapa pelayan di belakangnya membawa nampan-nampan berisi makanan.


Wan Feng menganggukkan kepalanya sebagai isyarat untuk para pelayan itu membawa masuk semua makanan dan meletakkannya di meja lain dalam ruangan itu.


Tentunya para pelayan itu menurut. Dengan instruksi dari Ling selaku yang mengetuai mereka, nampan-nampan itu telah berjejer rapi di atas meja.


Setelah semua pekerjaan mereka selesai, para pelayan itu termasuk Ling mengundurkan diri dari hadapan dua majikan muda itu.


Tapi sebelumnya mereka tentu menundukkan kepala memberi hormat sebagaimana mereka selaku pelayan pada majikannya.


Wan Feng lebih dulu berdiri menghampiri meja berisi makanan di atasnya itu.


"Jangan makan sup kacang!"


Perkataan Liana yang berupa perintah itu membuat Wan Feng mengernyit heran. Jangan makan sup kacang?


"Apa kau segitu sukanya dengan sup kacang hingga tidak memperbolehkanku memakannya?" tanya Wan Feng yang hanya di balas keterbungkaman Liana.


Gadis itu tentu kembali bergelut pada pekerjaannya membuat sang Tuan Muda Pertama Zhu itu mendengus.


Tapi setelah itu dia hanya kembali melangkahkan kaki ke tempat tujuan sebelumnya.


Dia duduk di depan hidangan. Tanpa sengaja matanya melihat mangkuk berisi sup dengan kuah merah bening yang terlihat begitu menggugah selera.


Wan Feng sebenarnya ingin mencoba, hanya saja adiknya sudah melarang. Jadi dia sama sekali tidak menyentuh sup itu sama sekali.


Liana sendiri menghentikan tugas menyalinnya dan menghampiri meja makan, berhadapan dengan Wan Feng yang menyuap nasi dengan sumpit.


Dia juga tak menyentuh sup kacang sama sekali membuat sang kakak mengernyit heran.


"Kenapa kau menyuruhku untuk tidak memakannya jika kau sendiri juga tidak menyentuhnya sama sekali?"


Mendengar pernyataan Wan Feng, Liana mengangkat mangkuk sup dan mendekatkannya di bibir.

__ADS_1


~o0o~


"Apa kau yakin mereka akan memakannya?" tanya seorang wanita dengan gaun hanfu berwarna biru tua pada wanita lain berhanfu serba ungu.


Wanita serba ungu itu menutupi wajahnya yang tersenyum dengan kipas lipat mendengar pertanyaan wanita di hadapannya. "Kakak, kita telah lama saling mengenal, tapi kau masih meragukan kemampuanku?"


Perkataannya sama sekali tidak menjawab pertanyaan wanita berhanfu biru.


"Hmph! Feihua, aku tahu kau memiliki banyak kartu truf di balik lenganmu, akan tetapi kita tidak boleh meremehkan gadis itu. Dia benar-benar menunjukkan diri setelah semua penyakitnya menghilang." Wanita berhanfu biru itu tak lain adalah Wen Canran. Dia memperingati sekutunya Yuan Feihua, sang selir Ke-dua yang tidak terlalu mencolok di penglihatan Liana.


Tapi percayalah, kedua wanita itu sama berbahayanya.


"Kakak, kau terlalu khawatir. Dia hanyalah seorang gadis kecil, apa yang kau takutkan pada anak yang masih bau susu?" Yuan Feihua lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi peringatan dari Wen Canran yang kerap dia panggil sebagai kakak itu. Dia sama sekali tidak mengindahkan perkataan Wen Canran yang menurutnya sangat konyol. Takut pada seorang gadis belasan tahun?


Huh?! Sejak kapan Wen Canran yang terkenal dengan akal liciknya itu memiliki ketakutan pada gadis kecil? Yuan Feihua malah mentawai pikirannya sendiri juga sikap hati-hati Wen Canran yang tidak perlu.


Sampai tiba seseorang mengetuk pintu ruangan mereka.


"Ini hamba, Nyonya." Sebuah suara lirih terdengar dari balik pintu membuat sudut bibir Yuan Feihua semakin tertarik ke atas.


"Masuklah!" titahnya.


Pemilik suara itu adalah seorang pelayan wanita yang sekiranya masih terlihat berumur 20-an tahun membuka pintu dengan hati-hati.


Wajahnya begitu tenang saat sudah sampai di depan dua ular berwujud wanita lemah lembut itu. Tak sama sekali menampilkan raut wajah takut atau pun khawatir.


"Bagaimana?" tanya Yuan Feihua langsung padanya.


Fia sebelumnya menunduk hormat pada Yuan Feihua sebelum berbicara.


"Sudah dipastikan. Tapi, Nyonya, hanya Nona Muda Ke-dua yang memakan sup," ucap si pelayan yang diketahui bernama An Rong itu.


An Rong adalah tangan kanan Yuan Feihua, dia menemukan gadis itu dalam keadaan mengenaskan ketika dalam perjalanan ke kuil. Yang menarik dari gadis itu hingga membuat sang selir Ke-dua Zhu Moran itu memungutnya adalah mata An Rong sama sekali tidak menunjukkan cahaya kehidupan. Terlihat kosong. Namun gadis itu begitu patuh dan selalu membuatnya puas, seperti saat ini.


Yuan Feihua tertawa begitu lantang mendengar jawaban pelayannya itu. "Itu lebih baik. Yah, lebih baik gadis itu berakhir sama seperti ibunya," ungkapnya dengan nada centil namun mengandung kekejaman.


Sedangkan Wen Canran hanya diam sedari tadi. Namu tak dapat dipungkiri, dirinya juga senang mendapat berita itu.


Akhirnya, akhirnya dia akan mengakhiri semua ini. Hanya tinggal menyingkirkan dua orang lagi hingga dia dapat memiliki segalanya, segala yang ada di Manor ini.


~o0o~


Halo, dengan diriku sang Author pemalas (Semoga cepet berubah :v).


Jangan nyinyir minta Up cepet ya, mending kita perang nyok?!


Eh becanda deng...!


Semua memiliki hak masing-masing. Begitu pun dengan Readers dengan hak protesnya juga Author dengan Hak berkaryanya. So, kita santai aja yah.... Soalnya mikir itu pekerjaan yang paling melelahkan, bahkan lebih melelahkan dari pada menunggu kepastian darinya (Fix mode gabut!><)

__ADS_1


Udah deh...


Note: Btw, buah kan emang enak dimakan, kecuali kalo kita nggak suka :v. Aku suka bun ah Pear (Pir) lho ya... hehe


__ADS_2