![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Kembali melanjutkan perjalanan mereka. Liana sesekali memetik herbal yang ia anggap berguna. Sedangkan Lanhua terus mengikutinya dari belakang dengan ceria. Mual di perutnya telah teratasi, dan kini dia merasa lebih baik.
Tadi mereka menemukan sungai kecil, jadi penampilan Liana juga kembali bersih. Tidak lagi dipenuhi darah yang beraroma tak sedap.
Sesekali keduanya menemui hambatan dsri para binatang iblis maupun hewan roh, akan tetapi dengan mudah mereka hadapi, tidak seperti di awal melawan serigala yang cukup repot.
Mereka akhirnya melupakan analogi tentang bagaimana binatang iblis level tiga berada di lingkaran terluar bukit awan.
Saat sedang asik-asiknya memetik herbal, sebuah anak panah melesat hampir mengenai Liana jika dia tidak segera menghindar.
"Siapa yang melakukannya?!" teriak Lanhua yang juga terkejut dengan serangan anak panah.
Matanya menelisik sekitar hingga menemukan wajah-wajah menjengkelkan. Dia mendengus tak suka menatap siapa yang datang dengan tajam.
"Wah wah, siapa yang kita temukan?" seirang gadis yang terlihat berumur enam belasan berbicara dengan nada mengejek. Di tangannya terdapat busur panah, berarti dia adalah pelaku serangan anak panah yang hampir mengenai Liana.
Di belakangnya juga ada dua gadis seumuran. Salah satunya Liana kenal, gadis itu adalah Weiling.
"Murong An Fei, apa yang kau lakukan?"
Liana menatap Lanhua yang sepertinya tidak menyukai gadis yang berjalan paling depan.
"Marganya adalah Murong, mungkinkah dia dari keluarga Kekaisaran Merak?"
Tebakan Liana memang tak salah. Gadis dengan jubah hijau bermotif bunga anggrek itu adalah putri tertua dari Kaisar Murong - Kekaisaran Merak, Murong An Fei.
Tempramennya buruk. Dia sangatlah sombong karena menyandang gelar putri Kaisar. Dan juga, Murong An Fei tidak menyukai penampilan orang yang lebih baik darinya, mungkin itu alasan mengapa sekarang dia berada disini mengganggu Liana dan Lanhua, secara Putri Wei itu memang sangat cantik, lebih cantik dari Murong An Fei. Atau ada hasutan dari Weiling, entahlah Liana sendiri tak tahu. Meskipun iya, toh dia tak perduli.
"Weiling?" panggil Liana menyelidik menatap adik tirinya itu. Mengapa bergaul dengan orang dari Kekaisaran lain?
Hubungan Kekaisaran Naga dan juga Kekaisaran Merak memang tidak buruk, akan tetapi juga belum bisa dikatakan akrab. Keduanya netral di perbatasan. Namun siapa yang tahu sampai mana hubungan netral itu berlanjut? Sebab banyak tahu bahwa kondisi Kekaisaran Merak saat ini tidak begitu baik dikarenakan kekeringan.
Weiling yang mendengar namanya disebut pun menoleh pada Liana dengan gugup. Entah kenapa sejak kakak tirinya itu bangun dari koma, dia merasakan aura yang berbeda dan itu membuatnya takut.
Tapi dia kembali mengingat perkataan Murong An Fei. Liana hanyalah sampah pemborosan, sedangkan dirinya adalah bakat yang baik. Untuk apa takut pada seorang sampah?
Dia akhirnya dengan berani mengangkat wajahnya menatap balik Liana.
"Kakak memanggilku?" tanyanya dengan nada setenang mungkin.
"Mn, ya. Kemarilah!"
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Weiling lagi membuat mata Liana menyipit, memberi tatapan elang yang hendak memangsa ular di tanah.
Tubuh Weiling seketika menjadi dingin. Dia menggeratkan giginya. Kenapa dia harus merasa takut pada gadis sampah tak berguna itu? "Tidak, tidak. Aku lebih kuat dari sampah ini."
"Oh, siapa ini?" tanya Murong An Fei tiba-tiba menatap Liana dengan sinis. "Apakah ini kakak tiri yang selalu menganiayamu, Ling Ling?"
Sebenarnya dari tadi dia kesal karena telah di abaikan oleh gadis serba putih itu. Dia adalah seorang Putri Kaisar, banyak yang menghormati dirinya. Tapi gadis di depannya itu bahkan tak sedikit pun melirik padanya apalagi memberi salam.
Hei hei! Jika Liana mendengar apa yang dia pikirkan, mungkin akan mengatakan ucapan sarkas tentang bagaimana dia melesatkan anak panah yang hampir membunuhnya. Cih! Liana tentu tak akan memandang orang yang berusaha mencelakainya, jangan berharap!
Weiling yang mendapat bantuan pun mengangguk ... dengan lemah. Seolah dia memang korban penganiayaan. Tentu dia tidak melupakan kejadian semalam, dendamnya benar-benar telah dia beri pupuk yang baik.
"Huh? Sampah pemborosan ini?" tanya An Fei sekali lagi dengan nada yang lebih mengejek dan dibarengi sedikit amarah.
"Yang Mulia Putri, anda tidak bisa mengatakan hal itu pada kakak Ke-dua ku. Bagaimana pun dia adalah keluargaku, jika dia dihina, maka aku akan sedih."
Pah! Lanhua memutar bola matanya malas melihat drama menakjubkan itu. Sedangkan Liana memiliki wajah yang datar, tak ada emosi sedikit pun yang ads di sana. Karena menurutnya, yang ia hadapi disini hanyalah sekumpulan remaja yang baru mengenal dunia. Jadi, lupakan. Berurusan dengan mereka membuang-buang waktu.
"Ling Ling, kau adalah gadis yang lembut dan naif. Bagaimana membela gadis sialan ini yang telah menyakitimu? Dia tak layak di sebut kakak!" tegas An Fei membuat sudut bibir Liana sedikit naik.
"Tapi ...." Perkataan Weiling segera terpotong saat suara dingin menyambarnya.
Sayangnya Murong An Fei tidak menyadari itu, jadi dia dengan sombong berkata, "Hmph, masih baik sampah sepertimu menyadari siapa putri ini."
Liana tersenyum. Namun senyumnya bukanlah arti yang baik. "Putri Murong sungguh baik, mengingatkan diriku bagaimana menjaga adik-adikku. Anda benar, aku bukanlah kakak yang baik. Jadi ku pikir anda lebih baik dari padaku untuk menjaga Weiling seterusnya. Mungkin anda dapat mengadopsinya menjadi adik dan membawanya ke istana Merak."
"Kau ...!" Murong An Fei memelototi Liana terkejut dengan ucapan gadis itu.
"Ffft!"
Sedangkan di sebelah Liana, Lanhua berusaha menahan tawanya sedemikian rupa. Mengapa teman kecilnya itu begitu jujur mengutarakan isi hatinya. Menyuruh putri negara tetangga untuk mengambil adiknya sendiri. Ah, jika orang lain yabg mendengar ini mungkin akan mengatakan jika Liana adalah orang yang tega dan semena-mena, tak bertanggung jawab dan lainnya.
Lain Lanhua, lain pula kelompok An Fei. Putri negara Merak itu sendiri merasa napasnya habis beberapa saat. Bagaimana bisa ada orang seperti Liana, begitu lugas dalam berbicara.
Dia memang mau membela Weiling karena gadis itu ada di pihaknya. Dan dia juga memiliki bakat, setidaknya sedikit lebih rendah darinya. Gadis itu berguna untuknya.
Tapi mana mungkin dia akan mengambil gadis licik itu sebagai adiknya. Tidak akan! Dia tentu tahu bagaimana sifat asli seorang Weiling. Penuh tipu muslihat di balik wajah polosnya. Dia begitu kejam di balik sisi lembutnya. Hanya saja Murong An Fei juga tak sebaik kulitnya, jadi berurusan dengan sesama bukanlah hal jarang baginya.
Weiling sendiri hanya diam tak menanggapi. Tapi mungkin jauh dari lubuk hatinya dia berharap memiliki status sama seperti Murong An Fei.
Tapi sekejab dia merubah ekspresinya seperti orang teraniaya. Sehingga gadis yang tadi berdiri di sebelahnya yang juga mengikuti Murong An Fei menjadi lebih iba.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika Nona Muda Tertua dari Manor Zhu bisa sepicik ini sampai memutuskan hubungan dengan saudarinya sendiri." Nada gadis bergaun biru itu terdengar dingin saat menyindir Liana.
Liana menaikkan sebelah alisnya melihat seseorang yang tidak dia kenal. Setelah itu dia mengangkat tangannya, satu dikepal dan satu terbuka. Dia mengetuk tangan yang terbuka dengan yang terkepal. "Ah, orang lurus!" ucapnya tiba-tiba memberi pendapatnya tentang karakter gadis bergaun biru itu.
Ke empat gadis di sekitarnya tentu tak mengerti apa maksud Liana. Tapi Liana tak perduli, dia segera melanjutkan perkataannya. Dia melipat satu per satu jarinya seolah tengah berhitung.
"Satu licik, satu sombong, satu naif. Bukankah perpaduan yang tidak sinkron? Bagaimana menurutmu, Putri Wei?"
Lanhua yang awalnya bingung segera mengerti. "Ku pikir akan ada banyak perselisihan jika ketiga sifat itu bersama." Dia memberi tanggapan menghiraukan ketiga gadis yang terbengong juga kesal di sebelah sana.
Mereka juga akhirnya mengerti akan ucapan Liana yang sebenarnya ditujukan pada mereka.
"Kau! Apa maksudmu?" tanya An Fei dengan wajah memerah menahan amarah. Genggamannya pada busur panah semakin erat.
"Aku yakin, Putri Murong adalah orang yang cerdas," jawab Liana setenang mungkin.
Setelah itu dia beranjak dari tempat itu, berlalu begitu saja tanpa mendengar balasan Murong An Fei lagi. Mengajak Lanhua meninggalkan tempat itu. Dia malas berdebat lebih lama dengan para remaja labil. Sangat melelahkan. Liana diam-diam menggerutu dalam hati. Kenapa dia jadi banyak bicara? Kemana image pendiamnya selama ini? Ah sudahlah, itu sudah terjadi. Jadi biarkan saja.
Sedangkan di belakang sana Murong An Fei dan Weiling memiliki wajah hitam karena kelakuan Liana. Sedangkan gadis bergaun biru nampak termenung, menjauh dari dunia dan memasuki dunianya sendiri memikirkan perkataan Liana barusan. Dia merasa bahwa gadis serba putih itu tengah memperingatinya agar tidak bergaul dengan Murong An Fei dan Weiling.
Dia sadar jika ucapan Liana ada benarnya. Selama ini dia memang terlalu naif, bahkan di keluarganya sendiri dia sering di tipu. Sebab itulah sekarang mengapa dia bersama Putri Kaisar Merak, dia bergaul dengan An Fei semata-mata untuk menjauhi keluarganya.
Dia tahu dengan rumor yang mengatakan kelakuan buruk sang putri, tapi dia tak percaya karena selama bergaul dengannya, An Fei selalu menunjukkan sisi baiknya. Tapi apakah benar sang Putri sebaik itu?
"Berhenti!" Murong An Fei berteriak menghentikan langkah Liana. Tapi gadis itu bersama Lanhua tak menanggapi teriakannya sedikit pun.
"Kalian berdua berhenti! Atau aku akan ...." Perkataan Murong An Fei terhenti saat dia menyadari sosok gadis bergaun biru itu masih di sana.
Dia mengeratkan giginya setelah itu membuangnya secara kasar. " Untuk sekarang kalian selamat karena dia masih di sini. Aku akan membalas penghinaan ini nanti. Tunggu saja."
Dan yah, dia tak lagi berkoar memberi perintah pada Liana dan Lanhua melainkan mengajak anggota yang tadi bersamanya untuk pergi dari sana. Tentunya dengan perasaan masam.
Di sisi lain, Liana dan Lanhua sama sekali tidak memperdulikan Putri Kekaisaran Merak itu. Tetap berjalan santai dengan Liana yang sesekali memetik herbal.
"Apa kau tahu siapa gadis yang bersama Weiling dan Putri Kaisar Merak itu?" tanyanya tiba-tiba.
Dengan mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, Lanhua menjawab, "Dia? Shin Yu Liang, seorang Putri dari Kekaisaran Langit. Kau benar Liana, dia memang naif dan polos. Dia terlalu baik. Sebab itu mudah dimanfaatkan."
Liana menoleh pada Lanhua yang wajahnya terlihat murung. Tapi dia tidak mengatakan apapun. Biarkan saja, ini masalah mereka dan bukan urusannya sama sekali.
~o0o~
__ADS_1