![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Benar, mereka memandang dengan mata merah karena amarah ke arah wanita tua Xie yang duduk dengan santai dan seenaknya di atas kursi kepala keluarga milik Zhu Moran, matanya yang terpejam mengantuk dengan di sisi kanan dan kirinya ada pelayan yang mengipasi dan ada pula yang membawa nampan berisi buah untuk di makannya juga set teh serta camilan lainnya, sungguh pelayanan yang sangat luar biasa bahkan hampir mengalahkan pelayan bagi seorang kaisar sekalu pun.
“Kakak, bukankah nenek sihir itu sudah sangat kelewatan? Dia bahkan berani duduk di kursi Ayah?” Di sampaing Liana, sudah ada Yuxia yang setiap kata terdengar seolah dia berusaha keras memerasnya dari sela-sela giginya. Gadis bungsu itu memang yang paling memiliki temperamen di antara para saudara-saudari Zhu.
“Dia, apakah dia memiliki rasa malu?” Di samping lainnya, Weiling melanjutkan dengan ucapan tak percaya, dia menutupi wajahnya dengan kipas bahkan merasa lebih malu melihat pemandangan di depan. Yah, Nona Muda ke-dua Zhu memang orang yang sangat mementingkan wajah dan reputasi.
“Aku ingin memukulnya.” Wan Feng berkata.
Liana, “Aku juga.”
Lianhu, “Aku juga.”
Wuxia, “Hitung aku!”
Baik, para saudara-saudari itu memang selalu kompak akhir-akhir ini.
Tentunya, semua perkataan yang baru saja mereka ucapkan itu hanya lewat transmisi suara. Sebab, meski pun mereka saling berbisik dengan suara sekecil nyamuk, orang yang duduk di singgasana Perdana Menteri di depan sana akan mendengarnya, lagi pula wanita tua itu, meski lemah, dia tetaplah seorang kultivator yang kekuatannya rata-rata di atas para saudara-saudari Zhu selain Wan Feng dan hitung juga Liana.
Jika ada yang lupa, sebenarnya tingkat kultivasi Liana saat ini sudah berada di tahap Penempaan Qi tingkat seratus. Ingat! Kondisi budidaya Liana agak istimewa karena manual praktik miliknya berbeda dari yang paling beda juga karena Dantian Sunyi miliknya yang sangat sangat sangat langka.
Sesuatu yang penting harus diucapkan tiga kali!
^^^^^^Note: Untuk mengetahui tingkatan kultivasi dalam novel ini, silahkan kembali kunjungi [Bab 19-Kebahagiaan Cepat Menular] jika ada yang lupa. Aku tidak terlalu sering membahasnya karena masih fokus pada alur cerita (yang tidak terorganisir :v). Ke depannya mungkin akan beberapa kali di sematkan.
^^^^^^
Segera, mereka sampai di depan Ny. tua Xie dengan persetujuan diam-diam untuk terdiam dan bahkan tidak ingin memberi salam padanya.
Dengan pandangan sinis dan amarah yang tidak di sembunyikan sama sekali, kelompok saudara-saudari itu memelototinya terang-terangan, seolah menantangnya untuk bertarung saat itu juga.
Sepertinya menyadari ada yang menatapnya, mata yang tadinya terpejam segera terbuka dan menampilkan tatapan jijik pada pemuda-pemudi di depannya.
Sebenarnya, penampilan Ny. tua Xie itu tidak begitu jauh berbeda dari seorang wanita 40 tahun di umurnya yang hampir satu abad. Entah apa yang digunakannya untuk membuat dirinya tetap terlihat awet muda.
Satu hal, seorang kultivator memang dapat mempertahankan penampilan mudanya, akan tetapi jika mereka sudah mencapai ranah Pelatihan Roh. Sebab, tubuh jasmani akan selalu terhubung dengan zat rohani. Semakin kuat jiwa seseorang, semakin baik bagi mereka untuk mempertahankan penampilan fisik mereka.
Juga, Liana merasa tidak nyaman dengan Ny. tua Xie itu. Samar-samar dia merasakan haus darah darinya, tapi hanya sekejab, dan perasaan haus darah itu segera menghilang seolah tidak pernah ada sama sekali. Inilah sebenarnya alasan mengapa Liana sangat meragukan wanita tua itu dari pandangan pertama.
Liana selalu memiliki insting saat berhadapan dengan bahaya, dan dia tidak pernah ragu-ragu dengan instingnya, karena itulah yang sering menyelamatkannya dari bahaya maut setiap kali semasa dirinya masih berada di militer dunia modern.
Menampilkan wajah tertekuk tak senang, Ny. Tua Xie mengangkat suaranya dengan nada penuh penghinaan dan sarkasme, “Oh, betapa sopan dan penuh etiketnya para anak muda zaman sekarang? Bahkan tidak repot-repot memberi salam pada seorang tetua.”
Saat Wan Feng hendak maju ingin menghajar wanita tua itu, Liana yang berada di sampingnya segera menghentikan gerakannya dengan meraih tangan sang kakak dengan kuat, mengisyaratkan untuk mundur, biarkan dia yang menghadapi orang yang merepotkan dan tak tahu malu di depan sana itu.
Mungkin saudara-saudarinya yang lain mengerti, mereka juga bungkam. Setelah apa yang terjadi pada Wen Canran dan Yuan Feihua, mereka sebenarnya menaruh banyak kepercaan pada kakak perempuan tertua itu.
__ADS_1
Tentunya, tindakan mereka semua tak luput dari perhatian Ny. Tua Xie, dan itu membuatnya semakin tidak senang. Dia mendengus dengan dingin, tapi saat hendak mengatakan sesuatu lagi, Liana sudah menginterupsinya membuatnya tersedak marah, bahkan lebih setelah mendengar apa yang Liana katakan.
“Ny. Tua Xie, kami hanya mengikuti etiket sopan santun yang kau tunjukkan pada kami.” Perkataan Liana sangat sederhana, namun memiliki banyak makna yang tentunya dimengerti oleh Ny. Tua Xie yang memiliki hati nurani yang bersalah.
“Kau …! Hal kecil yang tidak sopan, menjawab tetua!” Dia berteriak dengan wajah memerah karena amarah dan rasa malu.
Tapi tentu saja, karena wanita tua itu memiliki gengsi yang sangat tinggi, dia tidak akan mengaku jika dirinya lah yang bersalah. Meski begitu, dia sudah duduk dengan gelisah tapi tak mau berdiri dari kursi kekuasaan yang nyaman itu.
Melihatnya seolah tengah di gerubungi semut, para saudara-saudari Zhu sudah tertawa di dalam hati, mereka mengobrol lewat transmisi suara.
“Kakak perempuan ke-dua memang yang terbaik dalam membuat marah orang.” Tawa Wuxia terdengar keras oleh semua saudara-saudarinya.
“Yah, ada seseorang yang sudah menjadi contoh.” Yang ini adalah suara Lianhu.
“Oh, Benar.” Kembali Wuxia membalasnya.
Dua gadis yang tersinggung: Weiling, “….” — Yuxia, “….”
Liana tidak mendengarkan ocehan saudara-saudarinya, dia hanya memperhatikan Ny. Tua Xie yang kini begitu cepat meredakan amarahnya, dia sudah kembali pada mode malas memegang cangkir teh dan menyesap isinya. Mata Liana menyipit membentuk bulan sabit, tanda di telah melihat sesuatu yang tersembunyi dari wanita tua itu. Dia memperlihatkan sisinya yang mendominasi seperti ini hanya setelah Zhu Moran tidak ada di rumah.
Maka sekarang, Liana memutuskan untuk terus memprovokasinya sampai Liana yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya.
“Ny. Tua Xie, tempat yang kau duduki sekarang adalah kursi milik kepala keluarga yang bahkan adalah seorang Perdana Menteri Kekaisaran. Apa kau … berniat untuk mengambil alih posisinya? Jika ya, aku, Zhu Liana sangat tersanjung dengan ambisi Nyonya tua.”
Ikatan darah mungkin membuat yang lain saling memahami dengan diam-diam, maka pasangan saudara-saudari Zhu mulai ikut dalam kesenangan tanpa memberikan wanita tua itu kesempatan untuk membalas sarkasme Liana.
“Benar, nenek Xie, Weiling juga mengagumimu.” Dan si Lotus Putih mulai menunjukkan aktingnya yang layak. Kata-katanya sopan, tapi penuh dengan plot kemunafikan.
“Haha, benar, Nyonya Tua Xie memiliki aura yang agung dan mulia. Bahkan mungkin layak menjadi seorang Kaisar.” Suara renyah Wuxia bercampur tawanya terdengar dengan kata-kata yang sangat berlebihan, sudah mungkin menjadi fitnah yang kejam yang bahkan membuat yang lain kehilangan kata-katanya.
Mereka semua memandangnya dengan kasihan sekaligus ngeri seperti memandang orang yang sudah mati. Mereka semua menyatakan dengan serempak dan masing-masing di dalam hati jika Wuxia bukanlah saudara mereka.
Sangat tabu bagi seseorang menyatakan diri sebagai Kaisar di saat sang penguasa naga itu sendiri belum meninggal, bahkan seorang putra mahkota akan mendapat hukuman penggal jika mengaku sebagai kaisar saat itu. Dia akan dinyatakan sebagai pemberontak, dan mati adalah hukuman yang paling ringan untuknya.
Tapi apa? Perkataan provokasi yang penuh ejekan itu benar-benar membuat Ny. Tua Xie marah besar.
Praangg!!!
Suara nampan logam yang jatuh terdengar nyaring saat menyentuh lantai marmer aula, membuat seisi ruangan itu langsung menjadi senyap seketika. Yang menyejutkan adalah para pelayan yang tadi berdiri di sekitar wanita tua itu sudah tergeletak pingsan.
Dan Liana beserta yang lainnya dapat merasakan bahaya yang datang dari wanita tua Xie.
Aura yang penuh dengan energi kebencian dan haus darah! Sial! Dia adalah Monster! Bahkan sudah berada di level tinggi yang sudah memiliki kebijaksanaan layaknya manusia. Perasaan ini sama seperti saat Liana berhadapat dengan Belut Naga di Hutan Tanah Lumpur tempo lalu.
Para Monster itu tidak pernah bergantung pada tingkat kultivasi, tapi seberapa besar energi kebencian. Semakin besar energi kebencian yang mereka miliki, semakin kuat monster itu. yang sekarang di depan Liana ini setidaknya setara dengan seorang kultivator pada tahap Pelatihan Roh. Mungkin itu sebabnya Ny. Tua Xie—sepertinya—berpenampilan awet muda.
__ADS_1
“Baik-baik. Kalian anak-anak nakal sudah berani menguji kesabaranku. Maka kalian akan menerima hukuman dariku!” Suara Wanita itu bahkan sudah berubah menjadi lebih kasar dan sangat tidak enak di dengar.
Wuxia menunjuk dengan wajah ketakutan dan ngeri yang luar biasa, “A- apa, apa itu?”
“Dia adalah Monster,” jawab Liana dengan nada dingin, dia bahkan sudah mengeluarkan pedangnya.
“Mo- monster?!” Weiling menjerit.
“Sialan! Dia sangat kuat!” Sebaliknya, si maniak pertarungan seperti Yuxia bersemangat. Sebuah saber terangkat dan tersampir di pundaknya.
“Yah, itu benar-benar jelek, seperti di buku.” Lianhu, kutu buku menimpali.
“Perhatikan! Kita sebenarnya sudah berada di dalam array formasi.” Jika Wan Feng tengah serius, dia sebenarnya orang yang cerdas dan teliti, orang yang paling rasional dan stabil. Dia juga telah mengeluarkan pedang ganda dari dalam cincin penyimpanannya.
“Aku tahu. Sepertinya yang ada di depan kita sekarang ini bukanlah Ny. Tua Xie yang asli.” Liana membuat spekulasi.
“Maksud kakak perempuan ke-dua, Monster ini telah menggantikan Nenek Xie dan menyusup ke dalam manor?” Lianhu juga memperhatikan. Dia anak yang cerdas.
“Seperti,” jawab Liana.
“Lalu yang sebelum-sebelumnya?” Kali ini Weiling yang bertanya.
“Itu asli, tapi hari ini bukan,” jawab Liana lagi.
“Ah?! Jadi wanita tua itu memang orang yang menyebalkan.” Sekarang, mengapa Wuxia mengeluh?
Semuanya memandang Wuxia lagi.
Liana, “En.”
Lianhu, “Yah.”
Wan Feng, “Benar.”
Weiling, “Ah?!”
Yuxia, “Bisakah Tuhan tidak mengirimiku saudara kembar sepertinya?”
Wuxia yang malang, membuat garis melingkar di sudut ruangan, “Kali ini apa salahku?
~o0o~
Maafkan kegabutanku!
Aku nahan tawa pas nulis bagian ini :v
__ADS_1