![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Meninggalkan ketegangan di meja makan keluarga Zhu, saat ini Liana baru saja selesai membersihkan dirinya.
Dia duduk di atas peraduan dengan dahi yang mengernyit.
"Ah, efeknya sudah muncul," gumamnya dengan nada dingin.
Liana mengatupkan mulutnya kuat saat merasakan efek terbakar pada organ dalamnya. Sangat panas, tapi dia berusaha menahan teriakan dalam mulutnya karena tidak mau Ling yang sedang berjaga di luar kamar mengetahui keadaannya.
Satu hal yang tidak Liana beritahu pada Wan Feng tentang Racun Kalajengking Merah yang ada pada mangkuk sup kacang. Bahkan aromanya saja memiliki setengah efek dari racun itu sendiri. Dan Liana sudah menghirup sedikit aroma racun dalam sup saat dia ingin mengakali antek dari dalang pemberi racun.
Lalu sekarang, dia racun sudah memunculkan efeknya. Beruntung setengah efek racun tak dapat membunuhnya, hanya saja dia akan tersiksa dengan rasa terbakar dari dalam tubuhnya.
Sebab itulah dia melarang keras Wan Feng untuk bahkan menyentuh mangkuk karena aroma racun itu tidak akan menyebar luas dan hanya dapat terhirup jika itu berada sangat dekat dengan hidung si penghirup.
"Tuan?!" Shiro muncul tiba-tiba dengan suaranya yang khawatir meskipun raut wajahnya masih tidak menampilkan ekspresi apapun.
Dia ingin membantu, tapi Liana lebih dulu mengangkat tangannya sebagai tanda suapaya sang Pegasus tidak mendekat.
"Aku ... aku bisa melakukannya sendiri." Napas gadis penyuka warna putih itu bahkan sudah putus-putus saat dirinya berbicara. Keringat juga telah membanjiri pelipis hingga lehernya.
Shiro menuruti perkataan sang majikan. Dia perlahan mundur, menjauh dari tempat Liana, memperhatikan gadis belasan tahun yang menjadi Tuannya itu dalam diam.
Liana sendiri tengah bersusah payah memperbaiki posisi duduknya menjadi bersila. Ketika berhasil, dia menghirup oksigen lebih banyak, menahannya di paru-paru meski pun seluruh tulangnya terasa remuk karena melalukan hal itu.
Liana mengembuskan napas perlahan, setelah dirasa sakitnya menjadi lebih ringan, dia segera memejamkan mata. Melakukan pernapasan beberapa kali dan masuk ke dalam meditasi.
Gelap, itulah yang pertama kali dilihatnya setelah membuka mata.
Liana menghela napas meski pun napasnya mustahil keluar di tempat itu karena dirinya hanya berupa sebuah kesadaran. Hanya saja itu adalah kebiasaan buruknya yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Dia tahu tempat gelap ini, tempat yang selalu dia lihat jika sedang melakukan meditasi.
Sangat gelap hingga dia tak dapat melihat anggota tubuhnya sendiri, hanya saja di tenpat itu dia dapat mendengar suara seperti air yang menetes setiap lima detik sekali.
Jika sudah seperti ini, dia benar\-benar tidak tau apa yang harus dilakukan. Jadi Liana hanya berdiam diri di tempat.
Beberapa saat berlalu, Liana mulai merasa ada yang aneh. Liana merasa jika suara tetesan air itu semakin cepat, jika tadinya berjeda lima detik, tapi kali ini malah berubah menjadi tiga detik. Lalu lama kelamaan semakin cepat hingga tiap detiknya terdengar air yang menetes. Kemudian kembali semakin cepat hingga terdengar seperti suara hujan.
Suara hujan? Ya, hujan yang semakin deras.
Lalu samar\-samar dia mendengar suara kepakan sayap di tengah hujan yang ia yakini itu dari makhluk yang lumayan besar ukurannya, setelah itu dia juga mendengar suara dentingan besi.
Suara\-suara itu semakin jelas terdengar, semakin ramai, semakin ribut dengan suara tangisan, teriakan dan tawa.
Suara\-suara itu sangat tidak nyaman di pendengaran Liana hingga dirinya memutuskan untuk menutup mata dan telinganya berharap suara\-suara itu menghilang.
Namun tidak, suara\-suara itu malah semakin jelas. Seolah itu terdengar dari otaknya langsung.
Liana ingin menyuruh suara\-suara itu diam, tapi suaranya sendiri tak dapat dikeluarkan. Dia tak dapat berbicara di tempat itu.
Jadi Liana hanya mampu meringis sambil menutup telinganya erat\-erat tuk mengenyahkan suara sialan yang membuat kepalanya terasa pecah.
__ADS_1
Semakin jelas, tangis, jeritan dan tawa. Suara meminta tolong, suara hinaan, suara yang pilu hingga menyayat hati semuanya bercampur menjadi satu hingga ....
Patss~!!!
Semua suara itu berhenti seketika dan hanya meninggalkan siulan angin dan kesejukan yang menerpa tubuh Liana.
Perlahan, gadis itu membuka mata namun dia kembali menutupnya karena tak terbiasa dengan cahaya yang tiba\-tiba masuk.
Kali ini Liana berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya. Dia mengerjabkan matanya berkali\-kali membuat bulu matanya yang panjang nampak seperti kepakan sayap kupu\-kupu. Sangat cantik.
Hal pertama yang dia lihat saat mendapatkan penglihatannya kembali ialah sebuah danau besar dengan air tenang juga bukit\-bukit kecil sekelilingnya.
"*Dimana*?" Liana membatin karena dia belum dapat mengeluarkan suaranya.
"Ini disebut sebagai alam mimpi." Sebuah suara menjawab pertanyaan Liana.
Gadis itu entah kenapa tidak merasa kaget mendengar suara itu, tapi malah merasa tenang. Dia bahkan tidak mengenali suara siapa itu, akan tetapi dia terdengar seperti seorang wanita dewasa. Suara yang lembut dan membuat hatinya menghangat.
"*Siapa*?" Meski tidak terkejut, namun Liana masih merasa heran. Jadi dia bertanya.
Seorang wanita anggun dengan gaun putih polos sama seperti dirinya. Bahkan wajah wanita itu begitu mirip dengan Liana, hanya saja yang membedakan mereka adalah wanita itu yang terlihat lebih dewasa seperti umuran dua puluhan lalu rambutnya yang unik, memiliki dua warna, warna biru laut dengan sedikit aksen emas. Itu terlihat sangat indah.
Wanita itu tersenyum pada Liana saat tangannya beralih mengusap pipi gadis itu.
"Kau tumbuh dengan baik," ucap wanita itu membuat Liana semakin heran.
Liana yakin wanita di depannya ini bukanlah Wei Xiening, ibunya dan Wan Feng. Lalu, siapa dia?
"Aku memang bukan Wei Xiening, tapi aku juga adalah ibumu."
Liana kali ini sedikit terkejut mendengar balasan wanita itu atas pikirannya yang sepertinya mampu dia dengar.
"Ibuku?"
Ah, akhirnya suara Liana keluar, tapi bukan itu yang penting saat ini.
Wanita itu mengangguk, "Mn, aku ibu yang pertama kali melahirkanmu," jawabnya.
__ADS_1
Liana berkedip. "Aku ... tidak mengerti."
Wanita itu malah terkekeh mendengar ucapan Liana dan reaksi gadis itu yang menurutnya menggemaskan.
"Mau mendengar sebuah cerita?"
Liana mengangkat alisnya sebelah kiri, entah kenapa pertanyaan itu terasa dejavu? Dia pernah mendengar di suatu tempat.
Tanpa mendengar jawaban Liana, wanita itu lebih dulu berkata, "Ah ya, aku belum memperkenalkan diri ya?" Wanita itu duduk di rumput memandangi danau kemudian Liana. Dia tersenyum saat gadis itu juga ikut duduk di sampingnya. "Namaku Yunan Pavitri, tapi kau bisa memanggilku Ibu."
Liana membuka matanya, mengakhiri meditasi yang tadinya dia lakukan. Sedikit linglung dengan mimpi yang baru saja dia lihat.
Tanpa sadar bibirnya bergumam, "Yunan Pavitri ya? Ibu?" Bibir Liana sedikit melengkung membentuk senyuman.
Tapi setelah itu dia membuang napasnya antara lega juga entahlah. Dia tidak tahu sedang merasakan apa sebenarnya. Tapi dalam kehidupan dua dunia yang dia jalani, dia tak pernah merasa setenang ini.
Ah ya, syukurlah racun yang terhirup sudah berhasil dirinya netralisir.
Liana menelusuri ruangan kamarnya berharap menemukan Shiro. Tapi sepertinya makhluk kontraktualnya itu sudah pergi entah kemana, dia juga tidak berada di dalam dimensi.
"Jadi sebenarnya kemana dia?" gumam Liana bertanya pada dirinya sendiri. "Mn?" Liana mengangkat alisnya karena mendengar suara Ayam yang tiba-tiba saja sudah berkokok.
Sepertinya meditasi yang dia lakukan lumayan memakan waktu. Dan sekarang sudah pagi saja.
Kembali menghela napas, Liana bangun dari tempat tidur, mengambil pita dari dalam laci, kemudian dia mengikat rambutnya tinggi bersiap untuk melakukan rutinitas paginya seperti biasa, yaitu berolahraga.
Dia mengambil satu lapis pakaian lagi untuk menutupi pakaian tidurnya yang tipis.
Setelah bersiap, Liana melangkahkan kakinya keluar dari kamar bersiap untuk lari mengelilingi paviliun.
Tapi saat dirinya baru saja membuka pintu, yang menyambutnya pertama kali adalah penampakan Ling-pelayannya yang ternyata selalu setia berjaga di depan kamarnya.
Bahkan gadis 25 tahun yang bahkan sampai sekarang belum menikah itu kini tengah susah payah menahan rasa kantuk dengan kepalanya yang terus mengangguk-angguk.
Liana menggeleng pelan. "Ling?" panggilnya namun tak mendapat respon.
Liana menepuk pipi Ling untuk menyadarkan gadis pelayan itu. Dan berhasil, Ling membuka mata dengan kaget melihat Liana sudah berada di depannya.
"Nona?"
Liana menutup mulutnya dengan sebelah tangan untuk menyembunyikan tawa yang hendak keluar.
"Kau mengantuk," ucapnya.
Ling tersentak. "Maafkan saya, Nona." Dia menundukkan kepala merasa bersalah karena telah lalai dalam pekerjaannya.
Jujur saja dia memang merasa begitu kelelahan karena telah bekerja seharian, apalagi semalam dia mendapat perintah dari Wan Feng untuk menjaga Liana tanpa tidur.
Meskipun dia seirang kultivator yang bahkan tak membutuhkan tidur berhari-hari, tapi tetap saja Ling juga manusia biasa, dia juga bisa merasa lelah.
"Beristirahatlah sebentar, aku akan membangunkanmu jika sudah selesai. Kau juga perlu menjaga kesehatan."
Tanpa menunggu jawaban dari Ling yang masih menunduk, Liana terlebih dahulu berlalu daru tempat itu. Berlari dengan ringan mengelilingi Paviliun seperti rencananya.
~o0o~
Oh ya, aku mau sedikit menjelaskan.... untuk beberapa kejadian yang sempat muncul seperti, Monster sama Pulau Terlarang. Itu masih bagian pengenalan konflik di masa depan, makanya ngilang dulu mereka.
Untuk sekarang ini masih fokus pada konflik awal, ya seperti pembalasan dendam, mungkin. Dan juga aku akan sedikit demi sedikit mengupas identitas Liana.
Identitasnya sebagai seorang Yunan, sudah di ketahui ya. Tapi mengenai mengapa dia menjadi seorang yang memegang Sayap Takdir, itu belum di jelaskan.
Dan ya, di episode ini muncul karakter yang sepertinya akan menguak sedikit misteri itu.
Hoho, siapa itu Yunan Pavitri? Kenapa dia menyebut dirinya sebagai ibu Liana? Heh, oke. Ini adalah sesuatu ... fufufu.
__ADS_1
Note: Pavitri (Bahasa Hindi) artinya Suci.