[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
117-Pesta Perjamuan Tahun Baru II


__ADS_3

“Liana, kita sudah jarang bertemu selama berada di akademi. Dan setelah pulang, mengapa kau menghindariku juga?” Lanhua mulai merengek di telinganya.


“Maaf, aku agak sibuk, besok juga akan ada perjamuan di Manor Perdana Menteri, mengundang banyak bangsawan di Negara. Aku harus mempersiapkan semuanya, tidak ada Nyonya di rumah, kau tahu itu, kan?” Liana menjelaskan dengan jujur.


Lanhua masih cemberut, “Kau kan bisa mengirimiku surat.”


Liana merasa tak berdaya saat berhadapan dengan gadis muda yang merengek. “Yang Mulia—”


Perkataannya langsung dipotong, “Nah, nah. Kau masih memanggilku dengan formal, apakah kita benar-benar sahabat? Kau hanya menyukai kakak ke-tiga, tapi tidak denganku.”


“….”


Liana terdiam tidak tahu harus membalasnya dengan apa, menyebabkan Lanhua salah memahami kebungkamannya sebagai pembenaran atas kata-katanya. Yah, dia masih seorang gadis muda yang belum stabil.


Lanhua menginjak-injak tanah dengan kesal, dia akan pergi tetapi suara seseorang menghentikannya.


“Puteri Wei?!”


Saat mereka berbalik, dua pria awal dua puluhan yang memiliki gaya pakaian dan penampilan yang berbeda dengan para penduduk atau pun bangsawan dari Benua Timur. Satu dengan rambut pirang emas dengan mata biru, sementara yang lain berambut gelap dengan mata abu-abu. Jelas mereka adalah tamu dari Negara asing.


Liana dan Lanhua mengenalinya sebagai Pangeran Mahkota dari Negara Virth—Benua Barat, Zeith De Alertio Virth bersama bawahannya, Norhtie Tufa.


Sementara Liana juga mengetahui jika keduanya adalah Tetua dari Klan Yunan.


Sejak pertama kali bertemu dengan keduanya di jalan pasar dalam acara sulap jalanan. Liana sudah sering menghubungi mereka berdua untuk entah sekedar diskusi tentang urusan klan atau meminta bantuan pada mereka tentang itu.


Yah, mencari anggota klan yang lain dan mengumpulkan mereka di satu tempat. Karena Liana tahu jika Zeith lebih memiliki banyak koneksi dan pengalaman dari pada dirinya tentang Tiga Benua.


“Yang Mulia Pangeran Mahkota Virth.” Liana menggunakan sikap anggun dan tata cara kebangsawanan Barat untuk menyambutnya.


Lanhua juga dengan diam-diam mengikuti gerakan Liana, mengangkat sedikit gaun hanfunya dan menyilangkan sebelah kaki ke depan dan sedikit menekuk. Dia juga mengetahui etiket dari negara lain sebagai seorang Puteri.


Melihat tindakan itu, Zeith dan Tufa mengangguk dan membalas formalitas meski agak sedikit tertekan mendapat salam hormat dari Pemimpin klan mereka. Tapi karena tidak ada yang tahu jika mereka adalah para Yunan yang legendaris, dia harus menahan ini.


Setelah saling menyapa dan mengobrol beberapa saat, dua pria dan dua gadis memisahkan diri dan berbaur dengan tamu lain.


Lanhua tak mengerti mengapa pangeran dari Negara bagian Benua Barat itu tiba-tiba menyapa mereka atau lebih tepatnya dia hanya menyapa Liana, bukan dirinya.

__ADS_1


“Liana, kau sepertinya akrab dengan Pangeran barat itu.”


“Hanya kenalan yang lewat.” Liana menjawabnya dengan sederhana.


“Benarkah?” Lanhua agak kurang mempercayainya.


Liana memperhatikan ini, dia mengangkat alisnya memandang Lanhua. “Apa kau menyukainya?” Dia langsung bertanya dengan blak-blakan.


Seketika Lanhua memerah di wajahnya, tersipu malu dengan pertanyaan Liana. Tetapi dia segera memelototi sahabatnya itu dengan tajam. Bukannya membuat Liana takut, itu malah membuat dirinya tertawa dengan kegemasan.


“Mengapa kau tertawa?” Dia semakin kesal dengan hanya membuat tawa Liana semakin jadi.


“Hei, berhenti tertawa!!!”


Liana berusaha mati-matian menekan rasa geli di perutnya. Dia benar-benar hanya bertanya secara santai pada Lanhua tentang itu untuk mengalihkan perhatiannya, tapi dia tidak tahu jika itu malah menjadi kebenaran.


Sungguh? dia meyukai si eksentrik aneh itu. Liana memabayangkan Lanhua-nya yang manis dengan hantu tua itu bersama. Ugh! Mengapa rasanya menjadi agak aneh?


Dengan pikiran seperti itu, dia berhenti tertawa seketika.


Dia yang paling tahu mengapa Zeith dan Tufa menghampirinya barusan. Mereka sepakat memberi beberapa kode dengan itu. Makanya dalam percakapannya dengan Zeith tadi itu hanya terdengar basa-basi saja.


Ngomong-ngomong soal laporan, sudah lama Shiro tidak menghubunginya sejak sore di memberinya tugas. Liana mengernyitkan alisnya, tetapi karena merasa Shiro masih dalam keadaan baik-baik saja, dia cepat kembali tenang.


Liana berharap apa pun yang dihadapi Shiro, semoga bukan hal yang besar dan merepotkan.


Melihat Liana menjadi linglung setelah berhenti menertawakannya, Lanhua berpikir ada sesuatu yang salah dengannya. Dia telah memanggil gadis itu berkali-kali, tapi tidak mendapat respon. Apa yang terjadi pada sahabatnya itu? Apa dia kerasukan?


“Na—”


“Liana!”


Baru pada saat itulah Liana tersadar dari pikirannya yang berkelana. “Kenapa?” tanyanya langsung pada Lanhua yang kini masih sebal.


“Aku memanggilmu! Semua orang telah disuruh untuk berkumpul di aula oleh Ayah Kaisar. Kita juga harus bergegas kesana.”


“Ah? baiklah.” Dia menjawab begitu singkat membuat Lanhua semakin cemberut.

__ADS_1


“Ada apa denganmu?” Mengendalikan kekesalannya, Lanhua mengembuskan napas dalam.


Mereka berbicara sambil berjalan, tidak banyak orang di sekitar mereka dan jarak antar orang-orang itu dengan keduanya juga cukup berjauhan. Meski begitu, Liana masih khawatir jika apa yang hendak dia bicarakan dengan Lanhua terdengar oleh mereka. Lagipula, semua orang yang hadir malam ini di istana adalah para pembudidaya dari tiga macam seni (kultivasi, bela diri/tenaga dalam, sihir.)


Jadi Liana memasang kedap suara di sekitarnya dan Lanhua.


Lanhua memperhatikan ini tetapi tidak bersuara. Dia pikir jika Liana tidak ingin didengan oleh orang lain, itu mungkin adalah pembicaraan yang serius.


Tebakan Lanhua memang benar, Liana segera bertanya padanya, “Tuan Pu- akhem! Lanhua, apa kau juga mendengar tentang kejadian tadi siang di Manor Perdana Menteri?”


Lanhua langsung berubah serius setelah mendengar pertanyaan serius itu. sebagai anggota inti keluarga Kekaisaran yang pantas mewarisi takhta, tentunya dia mengetahui hal umum mau pun rahasia yang terjadi dalam istana, termasuk laporan tentang menyusupnya Monster ke dalam Manor Perdana Menteri Zhu tadi siang.


Dia mengangguk membenarkan. “Ku dengar, kau dan kelima saudaramu yang lain mengalahkan Monster itu.”


“Ya, dan kami semua masih mencari keberadaan Nyonya Tua Xie. Monster itu telah menayamar menjadi dirinya. tidak tahu apakah sekarang dia masih hidup atau tidak.” Liana menyipitkan matanya melanjutkan ucapan selanjutnya dalam pikirannya, “Tetapi sebaiknya dia masih hidup. Jika tidak, mungkin aku harus menarik jiwanya kembali dari dunia bawah.”


Sebenarnya saat sebelum Monster itu meleleh setelah dikalahkan, Liana sesaat merasakan aura manusia yang mirip dengan aura yang ada pada diri Nyonya Tua Xie. Dia menumbuhkan kecurigaannya pada wanita tua itu dan menyuruh Shiro untuk menelusuri setiap tempat, lorong dan sisi ibu kota untuk menumpas para Monster yang berbaur dengan orang-orang.


Jika di pikir-pikir, Monster itu terlalu alami meniru setiap tindakan dan sifat dari Nyonya Tua Xie. Mereka bahkan memiliki temperamen yang sama.


Baik, Monster itu hanyalah Monster tingkat tinggi yang hanya setera dengan ranah Pelatihan Roh. Meski pun memeiliki kebijaksanaan layaknya manusia, tapi apakan mereka dapat mampu meniru seseorang sampai sedemikian mirip?


Hanya tiga kemungkian yang dapat Liana pikirkan saat ini yang namun tidak dapat membuktikan benar atau salahnya.


Pertama adalah tebakan utamanya tentang Monster itu menyamar sebagai Nyonya Tua Xie, tetapi dia menyembunyikan kemampuan aslinya dan hanya tetap di Pelatihan Roh saat menghadapai mereka, Zhu bersaudara. Tapi kemungkian ini tidak cukup konstan. Jika begitu, seharusnya dia tidak mudah dikalahkan. Dan jika itu hanyalah kloning, maka dia monster itu tidak akan meleleh setelah dilenyapkan.


Yah, pengaturan itu adalah rahasia yang diketahui Liana dari masa kehidupannya sebagai Bai Lan Jin.


Lalu yang kedua adalah monster itu mengambil paksa tubuh Nyonya Tua Xie. Kemungkinan ini, Liana tidak dapat mengetahuinya. Sebab belum ada kasus dimana seseorang kerasukan Monster, lagi pula mereka juga makhluk dengan fisik bukannya makhluk halus yang dapat memasuki tubuh seseorang.


Lalu yang terakhir adalah Monster itu adalah Nyonya Tua Xie sendiri. Meski pun Liana tidak dapat memebenarkan ini sendiri, tapi kemungkinan ini adalah yang paling besar dari dua lainnya. Dan lagipula, kebiasaan dan temperamen seseorang tidak dapat berubah dengan begitu mudah.


Hanya, kebiasaan dan tingkah laku memang dapat ditiru, akan tetapi akan ada detai kecil yang berbeda dari yang aslinya.


Meski pun Liana telah berinteraksi dengan Nyonya Tua Xie hanya dalam beberapa hari, dia sudah mengenal kebiasaan dan sifatnya.


Yah, jangan lupa jika dia juga pernah belajar psikologi di militer dulunya. Dan sebenarnya sudah mendapat lisensi untuk membuka praktik sendiri.

__ADS_1


~o0o~



__ADS_2