
"Sayang, adik-adik sekarang dimana?" tanya Derry kembali setelah baju yang di pakaikan oleh istrinya itu terkancing rapi.
Soraya bingung ingin menjawab apa sekarang, dia tidak ingin membohongi suaminya tersebut. Dan rasanya dia juga tidak mungkin menyebutkan kalau adik-adiknya ditumpangkan di rumah Tio lagi, pasti nanti Derry akan banyak bertanya, pikir Soraya.
"Sayang, kenapa diam? apa ada sesuatu yang disembunyikan dariku?" tanya Derry kembali.
"Tidak sayangku, adik-adik sekarang di apartemen, tenang saja, ada Yumita bersama mereka yang bisa mengatur segalanya," jelas Soraya membuat Derry sedikit tenang.
"Oh.. benarkah begitu, syukurlah. Tapi, kemana papa mama pagi ini ya? aku sudah tidak sabar ingin pulang," ucap Derry kembali.
"Mungkin saja mereka sedang sibuk menyiapkan persiapan untuk kepulanganmu, tenang lah ini masih pagi, lagi pula kan ada aku," sahut Soraya kembali.
"Iya sayang, kamu itu lebih dari segalanya," kata-kata mengandung gula sekilo.
"Idih.. suamiku sekarang pintar menggombal," sahut Soraya kembali.
Dan satu sisi saat ini, Mama Derry yang baru saja bergabung masuk di ruangan tersebut, mendekati suaminya.
"Pa, jangan ganggu Fanni dan Klienya!" nada itu terdengar sinis dan cukup kuat.
"Ma, papa dan Tio tidak mengganggu Fanni, papa dan Tio hanya berkunjung, perusahaan kita kan bertetangga," ucap Tuan Frans saat ini memang sedang bermain perannya.
Tio hanya tersenyum lebar sekarang, tampaknya papa Derry itu memiliki kekuatan untuk membasmi permainan jahat yang dilakukan Fanni dan Tuan Osman tersebut di belakang mereka.
Mata mama Derry menyiasat tajam, dia tampak tidak mengenali karakter suaminya yang seolah seperti pria yang lebih aktif lagi, yang biasanya dingin kini tampak perubahan sikap yang berbeda.
Tuan Frans memberikan kode kepada Tio saat ini, dia pun tampak membuka ponselnya, dan mengirim beberapa gambar Fanni itu ke nomor ponsel istrinya tersebut.
Mengkerut dahi wanita paruh baya itu, dia pun mengambil ponselnya yang berulang kali berdering karena notifikasi masuk ke dalam ponsel itu.
Tio sengaja mengirimi foto itu dengan nomor ponsel yang baru, wajah mama Derry masih bingung gambar apa yang dikirim oleh nomor tidak bernama itu.
Gambar masih dalam proses download, tampaknya begitu serius dia menunggu proses itu selesai, sedikit penasara, wajahnya pun berubah menjadi lain.
"A.. apa! tidak mungkin!"
"Ma, kenapa Ma?" tanya Fanni yang seolah pura-pura khawatir.
"Fanni, jelaskan kepada mama, ini pasti rekayasa bukan??" gambar itu pun di tunjukkan kepada Fanni saat ini.
Fanni tak kalah terkejutnya sekarang, entah siapa yang mengambil foto dirinya bersama Tuan Osman itu sedang mabuk bersama malam itu.
__ADS_1
"Hm.. iya Ma, itu pasti rekayasa,"jawab Fanni dengan cepat.
"Aku tahu, pasti ini kerja licik kalian berdua yang merusak kepercayaanku kepada Fanni!" sekarang tangan mamanya menunjuk wajah Tuan Frans.
"Oh, mama masih menganggap ini rekayasa?" tanya Tuan Frans tidak sabar ingin mengungkap semuanya.
"Saya tidak ingin masuk campur urusan kalian semua, dan biarkan saya keluar!" ucap Tuan Frans tiba-tiba berdiri dan ingin keluar.
"Lihat Ma, pria itu sekarang ingin melarikan diri! ma, kalau mama tidak ingin menyesal, hentikan langkah pria itu sekarang," ucap Tuan Frans lagi.
"Tidak! tidak ada yang perlu disesalkan, Tuan Frans maafkan dengan kejadian ini, anda boleh keluar," ucap Nyonya besar dengan tampak begitu sopan.
Dia pun mengangguk, dan alisnya naik satu saat ini, TIO membiarkannya namun tampak Tuan Frans ingin dengan cepat ini terungkap.
"Ma, bahkan Fanni pasti telah memberikan tanahmu kepada pria itu!" ucap Tuan Frans membuat semuanya terkejut.
Tio sendiri masih belum memastikan, aset itu telah diberikan atau tidak, dia menatap khawatir kepada wajah Tuan Frans yang menuduh Fanni sembarangan. Namun, hal ini terpaksa Tuan Frans lakukan, agar istrinya itu membuat suatu tindakan penyelidikan.
"Tidak mungkin! mama akan membuktikannya di depan Papa, kalau Fanni itu yang terbaik!" ucap mamanya itu.
Wajah Fanni sedikit pucat sekarang, dia panik saat ini. Bahkan Tuan Osman dengan lenggangnya dia berjalan keluar dan sudah melewati ambang pintu itu, bahkan apapun darinya tidak terlihat lagi.
"Fanni sayang, tunjukan pembayaran sewa hari ini, dan tunjukan dokumen identitas Tuan Osman kepada mereka ini!" ucap Mama Derry itu dengan cepat.
Dari gelagat Fanni itu Tuan Frans merasa yakin, kalau dokumen itu telah pun tidak ada lagi di tangan Fanni saat ini, dia yakin tanah itu sudah bertukar alih sekarang.
"Fanni, cepat sayang!" ucap mama Derry tersebut.
"Ma, sebenarnya dokumen itu," terhenti disitu suara Fanni saat Rendra masuk dengan tepukan tangannya.
"Hebat, hebat hebat!" suara Rendra menggema sekarang.
Tubuh mama Derry saat ini telah pun membelakangi Fanni, dia menghadap ke arah dimana Rendra saat ini berada.
"Rendra, kau Ngapain disini?" tanya mama Derry yang bingung dan penuh tanya.
"Tante, lihat ini!" ucap Rendra memberikan amplop coklat kepada mama Derry itu.
Mama Derry pun membukanya dengan cepat, dia penasaran dengan isinya tersebut. Tio dan Tuan Frans bahkan tidak tahu apa yang dibawa Rendra lagi sekarang.
Saling pandang memandang Tuan Frans dan Tio, mereka juga penasaran, Tuan Frans mendekati istrinya saat ini.
__ADS_1
"Ha? ini kan tanah milik Mama, kenapa tanah ini dilakukan pengerukan tanpa diberitahukan ke perusahaan??" tanya Tuan Frans terkejut.
Berdebar dada Mama Derry saat ini, dia menerima hal ini dari Ravin, masih tampak tidak ingin percaya, dia pun ingin segera kesana.
"Rendra, apa ini benar?" tanya mama Derry.
"Tante, kalau tidak benar ayo kita kesana," jawab Rendra dengan cepat.
"Baik, kita akan melihat langsung," ucap Mama Derry itu.
"Tapi apa tante tidak ingin menahan tersangkanya dulu?" tanya Rendra kembali.
"Maksudmu siapa tersangkanya?" tanya mama Derry yang masih saja buta saat ini.
"Siapa lagi kalau bukan orang kepercayaan tante itu," matanya terus menatap Fanni yang tertunduk tersebut.
"Fanni belum dinyatakan bersalah, jadi jangan cap dia sebagai tersangka!" nada itu terdengar tidak suka mengarah Rendra.
"Baiklah, apa tante ingin membawanya bersama kita melihat bukti langsung?" tanya Rendra kembali.
"Ya, tentu. Fanni, ayo ikut mama, dan buktikan kamu tidak bersalah," ucap mama Derry itu lagi.
"Ma, Fanni sedang tidak enak badan, mama saja yang melihat disana ya," jawab Fanni dengan suara yang sengaja dibuat parau.
"Wah, tidak enak badan saat ini, hebat!" ucap Rendra kembali.
"Rendra! jangan banyak membuat omong kosong, cepat tunjukkan buktinya!" ucap mama Derry lagi.
"Baik ayo tante," ucap Rendra berjalan keluar dan Tuan Frans serta Tio juga ikut.
"Fan, kamu pulanglah dan istirahat dirumah saja, biar mama yang mengurus ini," ucap mama Derry tersebut meloloskan Fanni begitu saja.
"Baik ma terima kasih," nafas Fanni terhempas lega sekarang.
Mereka semua pun keluar, Tuan Frans menatap Fanni dengan tatapan tajam saat ini. Begitu mereka bergerak keluar, Fanni pun dengan cepat menghubungi Tuan Osman saat ini.
Pria itu tampak santai saja sekarang, surat menyuratnya telah pun beres dan tanah itu memang sah bertukar pemiliknya saat ini.
Mereka menuju pabrik milik Tuan Ahmed tersebut, yang terlihat jelas pabrik itu sedang ada pengerukan tanah, karena tampaknya Tuan Osman ingin memperluas lagi pabriknya.
Kemanakah Fanni akan pergi?
__ADS_1
****