90 DAYS

90 DAYS
LOLOS


__ADS_3

"Sayang, adik-adik sekarang dimana?" tanya Derry  kembali setelah baju yang di pakaikan oleh istrinya itu terkancing rapi.


Soraya  bingung ingin menjawab apa sekarang, dia tidak ingin membohongi suaminya tersebut. Dan rasanya dia juga tidak mungkin menyebutkan kalau adik-adiknya ditumpangkan di rumah Tio lagi, pasti nanti Derry  akan banyak bertanya, pikir Soraya.


"Sayang, kenapa diam? apa ada sesuatu yang disembunyikan dariku?" tanya Derry  kembali.


"Tidak sayangku, adik-adik sekarang di apartemen, tenang saja, ada Yumita  bersama mereka yang bisa mengatur segalanya," jelas Soraya  membuat Derry  sedikit tenang.


"Oh.. benarkah begitu, syukurlah. Tapi, kemana papa mama pagi ini ya? aku sudah tidak sabar ingin pulang," ucap Derry  kembali.


"Mungkin saja mereka sedang sibuk menyiapkan persiapan untuk kepulanganmu, tenang lah ini masih pagi, lagi pula kan ada aku," sahut Soraya  kembali.


"Iya sayang, kamu itu lebih dari segalanya," kata-kata mengandung gula sekilo.


"Idih.. suamiku sekarang pintar menggombal," sahut Soraya  kembali.


Dan satu sisi saat ini, Mama Derry  yang baru saja bergabung  masuk di ruangan tersebut, mendekati suaminya.


"Pa, jangan ganggu Fanni  dan Klienya!" nada itu terdengar sinis dan cukup kuat.


"Ma, papa dan Tio tidak mengganggu Fanni, papa dan Tio  hanya berkunjung, perusahaan kita kan bertetangga," ucap Tuan Frans  saat ini memang sedang bermain perannya.


Tio hanya tersenyum lebar sekarang, tampaknya papa Derry  itu memiliki kekuatan untuk membasmi permainan jahat yang dilakukan Fanni  dan Tuan Osman tersebut di belakang mereka.


Mata mama Derry  menyiasat tajam, dia tampak tidak mengenali karakter suaminya yang seolah seperti pria yang lebih aktif lagi, yang biasanya dingin kini tampak perubahan sikap yang berbeda.


Tuan Frans  memberikan kode kepada Tio saat ini, dia pun tampak membuka ponselnya, dan mengirim beberapa gambar Fanni  itu ke nomor ponsel istrinya tersebut.


Mengkerut dahi wanita paruh baya itu, dia pun mengambil ponselnya yang berulang kali berdering karena notifikasi masuk ke dalam ponsel itu.


Tio sengaja mengirimi foto itu dengan nomor ponsel yang baru, wajah mama Derry  masih bingung gambar apa yang dikirim oleh nomor tidak bernama itu.


Gambar masih dalam proses download, tampaknya begitu serius dia menunggu proses itu selesai, sedikit penasara, wajahnya pun berubah menjadi lain.


"A.. apa! tidak mungkin!"


"Ma, kenapa Ma?" tanya Fanni  yang seolah pura-pura khawatir.


"Fanni, jelaskan kepada mama, ini pasti rekayasa bukan??" gambar itu pun di tunjukkan kepada Fanni saat ini.


Fanni tak kalah terkejutnya sekarang, entah siapa yang mengambil foto dirinya bersama Tuan Osman itu sedang mabuk bersama malam itu.

__ADS_1


"Hm.. iya Ma, itu pasti rekayasa,"jawab Fanni  dengan cepat.


"Aku tahu, pasti ini kerja licik kalian berdua yang merusak kepercayaanku kepada Fanni!" sekarang tangan mamanya menunjuk wajah Tuan Frans.


"Oh, mama masih menganggap ini rekayasa?" tanya Tuan Frans  tidak sabar ingin mengungkap semuanya.


"Saya tidak ingin masuk campur urusan kalian semua, dan biarkan saya keluar!" ucap Tuan Frans  tiba-tiba berdiri dan ingin keluar.


"Lihat Ma, pria itu sekarang ingin melarikan diri! ma, kalau mama tidak ingin menyesal, hentikan langkah pria itu sekarang," ucap Tuan Frans  lagi.


"Tidak! tidak ada yang perlu disesalkan, Tuan Frans  maafkan dengan kejadian ini, anda boleh keluar," ucap Nyonya besar  dengan tampak begitu sopan.


Dia pun mengangguk, dan alisnya naik satu saat ini, TIO membiarkannya namun tampak Tuan Frans  ingin dengan cepat ini terungkap.


"Ma, bahkan Fanni  pasti telah memberikan tanahmu kepada pria itu!" ucap Tuan Frans  membuat semuanya terkejut.


Tio sendiri masih belum memastikan, aset itu telah diberikan atau tidak, dia menatap khawatir kepada wajah Tuan Frans  yang menuduh Fanni  sembarangan. Namun, hal ini terpaksa Tuan Frans  lakukan, agar istrinya itu membuat suatu tindakan penyelidikan.


"Tidak mungkin! mama akan membuktikannya di depan Papa, kalau Fanni  itu yang terbaik!" ucap mamanya itu.


Wajah Fanni  sedikit pucat sekarang, dia panik saat ini. Bahkan Tuan Osman dengan lenggangnya dia berjalan keluar dan sudah melewati ambang pintu itu, bahkan apapun darinya tidak terlihat lagi.


"Fanni sayang, tunjukan pembayaran sewa hari ini, dan tunjukan dokumen identitas Tuan Osman kepada mereka ini!" ucap Mama Derry  itu dengan cepat.


Dari gelagat Fanni  itu Tuan Frans  merasa yakin, kalau dokumen itu telah pun tidak ada lagi di tangan Fanni  saat ini, dia yakin tanah itu sudah bertukar alih sekarang.


"Fanni, cepat sayang!" ucap mama Derry  tersebut.


"Ma, sebenarnya dokumen itu," terhenti disitu suara Fanni  saat Rendra  masuk dengan tepukan tangannya.


"Hebat, hebat hebat!" suara Rendra  menggema sekarang.


Tubuh mama Derry  saat ini telah pun membelakangi Fanni, dia menghadap ke arah dimana Rendra  saat ini berada.


"Rendra, kau Ngapain disini?" tanya mama Derry  yang bingung dan penuh tanya.


"Tante, lihat ini!" ucap Rendra  memberikan amplop coklat kepada mama Derry  itu.


Mama Derry  pun membukanya dengan cepat, dia penasaran dengan isinya tersebut. Tio  dan Tuan Frans  bahkan tidak tahu apa yang dibawa Rendra  lagi sekarang.


Saling pandang memandang Tuan Frans  dan Tio, mereka juga penasaran, Tuan Frans  mendekati istrinya saat ini.

__ADS_1


"Ha? ini kan tanah milik Mama, kenapa tanah ini dilakukan pengerukan tanpa diberitahukan ke perusahaan??" tanya Tuan Frans  terkejut.


Berdebar dada Mama Derry  saat ini, dia menerima hal ini dari Ravin, masih tampak tidak ingin percaya, dia pun ingin segera kesana.


"Rendra, apa ini benar?" tanya mama Derry.


"Tante, kalau tidak benar ayo kita kesana," jawab Rendra dengan cepat.


"Baik, kita akan melihat langsung," ucap Mama Derry  itu.


"Tapi apa tante tidak ingin menahan tersangkanya dulu?" tanya Rendra kembali.


"Maksudmu siapa tersangkanya?" tanya mama Derry  yang masih saja buta saat ini.


"Siapa lagi kalau bukan orang kepercayaan tante itu," matanya terus menatap Fanni  yang tertunduk tersebut.


"Fanni belum dinyatakan bersalah, jadi jangan cap dia sebagai tersangka!" nada itu terdengar tidak suka mengarah Rendra.


"Baiklah, apa tante ingin membawanya bersama kita melihat bukti langsung?" tanya Rendra  kembali.


"Ya, tentu. Fanni, ayo ikut mama, dan buktikan kamu tidak bersalah," ucap mama Derry  itu lagi.


"Ma, Fanni  sedang tidak enak badan, mama saja yang melihat disana ya," jawab Fanni  dengan suara yang sengaja dibuat parau.


"Wah, tidak enak badan saat ini, hebat!" ucap Rendra kembali.


"Rendra! jangan banyak membuat omong kosong, cepat tunjukkan buktinya!" ucap mama Derry  lagi.


"Baik ayo tante," ucap Rendra  berjalan keluar dan Tuan Frans  serta Tio juga ikut.


"Fan, kamu pulanglah dan istirahat dirumah saja, biar mama yang mengurus ini," ucap mama Derry  tersebut meloloskan Fanni  begitu saja.


"Baik ma terima kasih," nafas Fanni  terhempas lega sekarang.


Mereka semua pun keluar, Tuan Frans  menatap Fanni  dengan tatapan tajam saat ini. Begitu mereka bergerak keluar, Fanni  pun dengan cepat menghubungi Tuan Osman saat ini.


Pria itu tampak santai saja sekarang, surat menyuratnya telah pun beres dan tanah itu memang sah bertukar pemiliknya saat ini.


Mereka menuju pabrik milik Tuan Ahmed tersebut, yang terlihat jelas pabrik itu sedang ada pengerukan tanah, karena tampaknya Tuan Osman ingin memperluas lagi pabriknya.


Kemanakah Fanni akan pergi?

__ADS_1


****


__ADS_2