
Tiga jam perjalanan berlalu, Tio telah sampai di bandara kota Palembang saat ini. Ramai juga pengunjung di bandara ini. Baru pertama kali Tio menginjak kota tersebut.
Langsung menaiki taksi yang berjejer di depan bandara. Dan dia menunjukkan secarik kertas oleh sang supir tersebut. Dan kini Tio telah berada setengah perjalanan menuju alamat rumah Soraya.
Ya! jalanan yang menyajikan pemandangan asri dan banyak berkelok itu membuat Tio kagum seketika, kota yang penuh semangat tinggi orangnya, pikir Tio.
Hamparan sawah terbentang luas, kota Palembang terkenal dengan masakannya yang mendunia. Tio pun sangat menikmati, perjalanan yang sudah hampir menunjukkan pukul tiga sore tersebut.
Perjalan dari bandara ke rumah tersebut kata sang supir memakan waktu hingga satu jam lebih. Dan kini sudah memasuki setengah perjalanan.
Satu sisi pula Mama Fanni telah kembali ke rumah nya. Tampak sunyi seperti biasa. Papa Fanni tersebut tampak terbaring lemas di kasur empuknya.
"Huh!! kenapa dia tampak begitu nyenyak! seperti kelelahan saja!!" sunggut Mama Fanni dengan kesal melihat suaminya yang terbaring di kasur dengan nyenyak.
Mama Fanni pun kembali ke luar dari kamar itu, dia pun ingin di buatkan minuman segar, karena cuaca sedikit panas dan sedikit melelahkan karena baru pulang dari rumah Derry.
"Meri...!!" teriak Mama Fanni cukup keras namun masih tidak ada sahutan.
Pembantu muda itu juga terbaring lemas di kamarnya. Dahulu pembantu di rumah ini ada tiga orang bahkan lima orang. Karena Papa Fanni mengalami kebangkrutan yang drastis, dia pun memecat keempat pembantunya.
Hanya Meri saja yang dia pertahankan, karena pembantu muda berbadan sintal ini mampu melayani hasratnya secara diam-diam.
Perselingkuhan itu sudah lama terjadi di belakang Mama Fanni tersebut. Dan kini terus masih berlanjut tanpa diketahui sedikitpun oleh Mama Fanni.
"Meri!!" teriaknya berulang kali namun masih sama tidak ada sahutan.
"Kemana Meri ini!!" sungutnya kesal.
Dia pun mulai berjalan ke arah kamar belakang, dimana kamar Meri berada saat ini. Dengan wajah kesal dan dahaga membuat tensi Mama Fanni tersebut naik.
"Meri... Meri.. Meri!!" teriaknya sambil mendobrak pintu.
Pintu yang tidak terkunci itu langsung saja terbuka lebar, Meri terkejut dan tersentak ketika melihat Mama Fanni masuk Tiba-tiba.
Masih dengan terhuyung dan samar-samar Meri ingin bangkit, dan kain yang menutup wajahnya terjatuh, dia tampak tanpa busana.
"Kau kenapa malas-malasan??" tanya Mama Fanni penuh, siasat.
"Aku sedang tidak enak badan Nya," jawab Meri dengan cepat dan langsung menarik kainnya.
"Tidak enak badan kenapa kau tak berbusana begini?" tanya Mama Fanni kembali.
"Panas Nya!!" jawabnya.
"Panas?? hei! kamarmu ini pakai Ac, dari mana panasnya!!" bentak Mama Fanni kembali dan sambil menunjuk-nunjuk wajah Meri.
"Badan saya yang terasa panas Nya," jawabnya lagi.
"Jangan banyak alasan! buatkan saja jus jeruk sekarang!!" perintah Mama Fanni tersebut.
"Iya, baik Nya," jawabnya dengan takut-takut.
__ADS_1
Dan kini Mama Fanni keluar dengan cepat, entah mengapa dia sedikit terhidu dengan haruman parfume yang tidak asing di hidungnya tersebut.
Tapi dia malas untuk menyelidiki lebih lanjut, rasa hausnya membuatnya ingin duduk di ruang tamu dan sambil melihat televisi.
"Huh...lama sekali!!" umpatnya sekali lagi.
Dan kini dengan wajah malas dan menyimpan amarah kepada Mama Fanni tersebut, Meri membawakan segelas jus jeruk dengan tersenyum liciknya.
"Nya.. silahkan di minum," sambil tersenyum licik dan meletakkan minuman jus jeruk tersebut.
"Hmm..." hanya deheman yang dibalas oleh Mama Fanni tersebut.
Meri pun langsung ke arah dapur saat ini, sebelum sampai di dapur Meri mengintai sejenak ke arah Mama Fanni tersebut yang meneguk habis jus jeruk buatan Meri itu.
"Mampus!!" umpat Meri dengan senyum licik.
Tak lama kemudian, Mama Fanni terasa panas lehernya, dia mencoba memanggil Meri kembali dan hampir meneriaki Meri lagi untuk mengambilkan segelas air dingin lagi.
"Mer..." tersekat suara itu di tengah tenggorokan.
Busa dan buih banyak keluar dari mulut Mama Fanni tersebut. Matanya melotot dengan besar dan Meri membiarkannya di posisi itu dengan tersenyum puas saat ini.
"Rasakan itu wanita angkuh!!" ucap Meri penuh kemenangan.
Dan kini Mama Meri tersebut telah tersungkur di bawah sofa menghadap televisi. Meri tetap diam dan beranjak ke dapur membereskan dapur dia pula berpikir sejenak dan mengangkat gelas yang telah dia berikan minuman itu.
Tampak mata terbuka, tangan memegang leher Meri membiarkannya, gelas itu dibawa ke dapur kembali dan di pecahkan oleh Meri lalu di buang ke tong sampah.
Meri tampak keluar dari jalan dapur menuju ke luar untuk membuang sampah dan kemudian membuang semua barang bukti atas pembunuhan berencana yang dilakukan Meri karena kesal.
Beberapa jam berlalu, Tio pula telah sampai tepat di depan rumah Soraya saat ini. Kedatangannya itu tidak disambut oleh siapa pun, karena memang dia tidak memberitahu siapapun di rumah ini.
Pintu mulai di ketuk, tampak koper kecil dan beberapa bingkisan telah dikeluarkan dari taksi tersebut. Adik kedua Soraya yang baru selesai mengangkat pakaian dari arah belakang rumah tersebut, terkejut dengan sebuah taksi yang berhenti tepat di depan rumah mereka.
Adik kedua tidak ingin kehadiran Derry saat ini, karena akan mengganggu kesembuhan Soraya, karena wasangkanya terhadap Derry, adik kedua pun dengan cepat berlari dan memanggil nama Derry.
"Bang Derry!!" teriak adik kedua menghentikan Tio yang mengetuk pintu.
Tio memang sama tinggi badannya dengan Derry, hanya saja gaya rambut yang lebih formal dan dewasa ditunjukkan oleh Tio tersebut.
Ketika Tio berbalik arah, adik kedua terkejut karena bukan wajah Derry yang dia lihat, melainkan orang yang asing baginya dan sama sekali tidak ia kenali.
"Maaf, abang ini siapa??" tanya adik kedua Soraya bingung.
Cekrek...
Pintu terbuka lebar, dan Yumita berada di ambang pintu tersebut. Dengan melihat tubuh Tio dari belakang, Tio berpikiran yang sama terhadap Tio adalah Tio.
Lalu, Yumita yang bertubuh kecil ramping itu memukuli belakang Tio seketika, dan Tio tampak terperanjat dan mengelak.
"Rasakan ini, dasar pria kurang ajar!! pembunuh!!" teriak Yumita kembali.
__ADS_1
"Kak! cukup kak! ini bukan bang Derry!!" teriak adik kedua dan meleraikan pukulan itu.
Yumita tersungkur ke atas badan Tio yang tinggi tegap itu. Tubuh Tio juga terjatuh ke teras rumah tersebut, seketika tatapan mereka beradu dan mata bening itu menatap malu di sana.
Adiknya membantu Yumita berdiri, dan adiknya juga membantu Tio bangkit setelah menahan tubuh mungil Yumita tersebut.
"Maaf, kedatangan saya membuat kalian terkejut," ucap Tio sambil membungkukkan tubuhnya.
Yumita tampak malu, dan dia masih saja menunduk tidak ingin bicara. Entah mengapa debaran kencang di jantungnya seolah bedug maghrib telah tiba.
"Maaf abang ini siapa? dan ada apa datang ke sini??" tanya adiknya kembali.
"Kenalkan saya Tio!" ucap Robin sambil mengulurkan tangannya ke arah adiknya tersebut.
"Saya adik keduanya, dan ini kakak kedua Saya, kak Yumita," sambil memperkenalkan Yumita yang masih tertunduk tersebut.
"Baik, kedatangan saya kesini ingin bertemu dengan Soraya! apa benar ini rumah Soraya??" tanya Tio kembali.
"Ya! benar. ini rumah kak Soraya, dan kami berdua adalah adiknya," jelas adik kedua kembali.
"Oh iya bang, silahkan masuk," sambut adik keduanya dengan ramah dan sopannya.
Tio tersenyum hangat ke arah mereka berdua, Yumita memang tidak jauh berbeda wajahnya dengan Soraya, hanya saja Soraya lebih tinggi dibandingkan Yumita yang mungil.
Yumita pun ke arah dapur, menyiapkan minuman dengan cepat. Karena malu dia telah memukul Tio hingga terjatuh. Yumita tampak canggung dan sulit berkata-kata.
Soraya pula sudah keluar dari kamarnya, dia terbangun dan ingin menuju dapur untuk mengambil air wudhu. Karena beberapa hari ini, dia sudah tampak mulai mendekatkan dirinya lagi kepada Tuhan.
Soraya yang mendengar suara gelas dengan sendok beradu, dia pun keluar dan kemudian mendapati Yumita di sana.
"Untuk siapa Yumi??" tanya Soraya heran.
"Untuk tamu kita kak, teman kakak!!" jawab Yumita dengan cepat.
"Siapa??" tanya Soraya lemah dan penuh siasat.
"Katanya namanya Tio kak!!" jawab Yumita.
"Ha?? Tio ke sini?? benarkah dia??" tampak tidak percaya dengan ucapan sang adik itu, diingatan Soraya dia sudah lama tidak bertemu dengan Tio.
"Kakak mengenalnya??" tanya Yumita penuh siasat dan takut-takut.
"Dia teman baik kakak dek!!" ucapnya terus saja dia meninggalkan dapur tersebut.
"Tio!!" teriak Soraya dengan nada ceria dan penuh kehangatan.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu??" tanya Soraya kembali, tampaknya dia memang sedikit lupa dengan ingatannya.
Tio hanya tersenyum hangat dan tampak berkaca-kaca saat ini. Karena dia sudah sedikit mendengarkan cerita tentang sakitnya Soraya saat ini.
"Duduklah dulu," ucap Tio sambil menarik tangan kanan Soraya.
__ADS_1
.