
Cekrek..
Suara pintu terbuka, dan kaki kaku itu melangkah juga sekarang. Kemudian masuk dan jatuh juga buliran bening di pipi Soraya.
Kemana mama? tanya Soraya dalam hatinya.
"Soraya! ucap Tuan Frans yang terkejut dan langsung menarik tangan menantunya itu.
"Papa, bagaimana Derry?" tanya Soraya yang terisak.
"Cepat Nak, lakukan sesuatu untuk Derry! lihatlah, tangannya bergerak dan bibirnya menyebut namamu terus menerus."
Soraya pun mendekat, sedangkan Tio dan ketiga adiknya saat ini berada tidak jauh dari tubuh Derry juga.
"Derry, ini aku," ucapnya lirih sambil menyambut tangan Derry tersebut.
Masih saja bibir itu tak berhenti, dan kali ini Soraya membelai lembut wajah suaminya itu. Berulang kali dia menyebut nama Derry dan menciumi tangan Derry tanpa rasa ragu lagi.
Pipi Derry dikecupnya berulang ulang, basah juga pipi itu dengan buliran bening dari Soraya tersebut, menitis air bening itu ke mulut Derry.
Mata Derry merasakan sesuatu, dia tampak berulang kali menelan liurnya saat ini.
"Sayang.. bangunlah, ini aku istrimu, pegang ini, kita akan punya anak sebentar lagi," ucap Soraya merayau dan tangan Derry dialihkannya ke perutnya itu.
Mendengar ucapan itu, Tuan Frans terkejut dan memandang ke wajah Tio saat ini. Menanyakan hal itu kepada Tio, dan hanya di balas anggukan saja.
Sudah lama pria paruh baya itu mendambakan seorang cucu, lagi pula anaknya hanya tinggal seorang saja.
Dengan kepala yang berat, Derry pun tampak perlahan membuka matanya saat ini. Merasakan air asin yang masuk tenggorokannya itu, dan sesuatu keajaiban datang padanya.
Memang benar, menahan rindu sangat sulit, bahkan kalau rindu tak terluah, maka akan sakit.
Soraya memejamkan matanya, sambil berdoa melekatkan bibinya terus menerus kepada Derry, rasa rindu itu benar-benar besar saat ini.
Mata Derry terbuka, Soraya masih belum tahu mata suaminya itu terbuka saat ini, Yumita yang dari tadi berada di posisi belakang hanya melihat ke arah Derry saja saat ini.
Melihat itu dia pun terkejut, dan refleks membuka mulutnya dengan kuat saat ini, sampai semua orang terkejut sekarang, sedangkan Tio dan Tuan Frans masih saling tatapan.
"Bang Derry membuka matanya!" teriak Yumita mengejutkan semuanya, mereka pun memandang Yumita lalu menuju wajah Derry.
Soraya yang masih terpejam, perlahan membuka matanya kembali dan menatap lekat wajah suaminya itu.
"Sayang," ucap Derry lirih.
__ADS_1
Syukurlah, ingatan Derry tidak ada masalah saat ini. Ingatan kepada Soraya itu benar-benar lekat di kepalanya.
"Nak, ini Papa!" ucap Tuan Frans yang langsung lari memeluk Derry tersebut.
"Pa, mama kemana?" tanya Derry lagi.
Tertutup rapat mulut Tuan Frans saat ini, Ya! ini berita kebahagiaan, istrinya pun layak mengetahui ini, pikir Tuan Frans lagi.
"Nak, mama sedang pulang sebentar, nanti papa akan hubungi," ucap Tuan Frans itu.
"Sayang, aku merindukanmu, rasanya berhari-hari kau tidak disini," ucap Derry kepada Soraya.
Perasaan itu memang benar adanya, bukan mau Soraya tidak berada disini, namun itu hanyalah sebuah keterpaksaan karena mama Derry tidak menyukai Soraya tersebut.
"Aku disini sayang, dan tidak akan pernah beranjak sampai kapan pun."
"Derry, kau harus tahu satu hal lagi, dan janji kau akan sembuh total setelah mengetahui satu kebahagiaan ini," ucap Tio kembali, sedangkan Tuan Frans sedikit jauh dari mereka dia ingin menghubungi istrinya tersebut.
"Apa itu?" tanya Derry penasaran.
"Istrimu telah hamil Derry," ucap Tio memberitahukan.
"Sayang! nada kuat dan pelukan kuat kepada sang istri saat ini.
Berulang kali panggilan Tuan Frans itu dirijek oleh istrinya sendiri. Dan langkah kaki kedua wanita yang berbeda usia itu pun sampai tepat di apartemen Soraya.
Bel kuat itu terus saja dipencet, namun hasilnya tidak ada seorang pun yang keluar dari dalam tersebut.
Kemudian Tuan Frans kembali berkumpul dengan mereka, setelah panggilan itu tidak dijawab, dia pun mengirimi pesan kepada istrinya itu.
Malam ini, Soraya akan menginap disini. Kemudian, Tio berpamitan untuk mengantarkan ketiga adik Soraya itu.
"Soraya, aku akan membawa adik-adikmu ke rumah orang tuaku dulu," ucap Tio kembali.
Ponsel Tio berdering kuat saat ini, dia langsung merogoh saku celananya saat ini. Dan tampak di layar itu tulisan nama Rendra disana.
"Sebentar, aku akan menjawab panggilan ini dulu," ucap Tio kepada semua orang.
Yumita hanya menelan liurnya saja, tersirat rasa cemburu tidak jelas di hatinya saat ini. Entah untuk apa dia cemburu, bahkan Rendra pun tidak pernah menyatakan cinta kepada dirinya.
"Hallo Tio, kau dimana??" tanya Rendra yang sudah sampai terlebih dahulu di restoran yang sudah di bookingnya itu.
"Oh iya, Rendra kau bisa menungguku setengah jam lagi? aku di rumah sakit mengantarkan Soraya karena Derry telah sadar saat ini," ucap Tio menjelaskan kepada Tio.
__ADS_1
"Benarkah? Derry sudah sadar? baik, aku akan menunggu dirimu," ucapnya.
"Iya Ravin, Derry sudah sadar, yakinlah masalah kita akan teratasi nanti," ucap Tio.
"Baiklah Tio, aku menunggumu disini," ucapnya lagi lalu mengakhiri panggilan itu.
Tio masuk kembali keruangan tersebut, kemudian Tio tersenyum kepada semuanya, dia pun ingin cepat bertemu dengan Rendra saat ini, banyak rasa penasarannya tentang Tuan Osman dan Rendra saat ini.
"Baiklah semua, aku ada kerjaan lain dan akan bertemu seseorang malam ini. Derry, kau cepat pulih kembali, selamat! sebentar lagi kau akan menjadi ayah," ucap Tio menghampiri sepupunya itu dan memeluk Derry.
"Hati-hati Tio, kau juga bahagialah selalu," ucap Derry lagi.
"Iya, kau harus jaga Soraya baik-baik dan bayimu juga," ucapnya.
Kemudian Tio pun memeluk Tuan Frans juga dan berpamitan, begitu juga dengan ketiga adik-adik Soraya itu, kecuali Yumita yang ditahan tangan oleh Tuan Frans, karena wanita mungil ini tidak pernah terlihat di mata Tuan Frans.
"Wanita mungil ini siapa?" tanya Tuan Frans tersenyum.
"Dia adikku Pa, adik keduaku. Namanya Yumita, bulan depan akan masuk kuliah," ucap Soraya yang menjawabnya.
"Wah, papa pikir dia masih sekolah," ucap Tuan Frans tersenyum.
"Iya Om, dia sangat mungil," celah Tio pula.
"Iya benar itu Tio," ucap Tuan FRANS tersenyum kembali.
"Om, aku tidak punya waktu yang banyak lagi disini, izinkan kami pulang sekarang," sahut Tio kembali.
"Baiklah, lain kali kalian harus sering kesini," ucap Tuan Frans kembali.
Kemudian mereka pun keluar, wajah merah di pipi Fanni itu pertanda malu-malu sekarang. Mereka melangkah cepat ke parkiran, dan membiarkan kakak pertama mereka dengan suaminya tersebut.
Sedangkan Fanni dan mama Derry yang sedari tadi berdiri dan memencet bel apartemen itu, memaki sepuas-puasnya karena tidak ada seorangpun yang keluar.
"Fanni, sepertinya wanita itu tidak ada di dalam," ucap Mama Derry.
"Mungkin lah ma, ya sudah lain kali kita kesini lagi," ucap Fanni.
"Baiklah nak, dan pastikan wanita itu ada didalam."
"Kita pulang saja dulu ma," ucap Fanni kembali.
Mereka pun masuk ke dalam lift kembali, dan di dalam lift mama Derry itu membuka ponselnya terperanjat dia melihat pesan yang ada di layar itu.
__ADS_1
"Fan, kita ke rumah sakit sekarang!" nada perintah itu terdengar.
**