90 DAYS

90 DAYS
RENCANA YANG GAGAL


__ADS_3

Cekrek..


Suara pintu terbuka, dan kaki kaku itu melangkah juga sekarang. Kemudian masuk dan jatuh juga buliran bening di pipi Soraya.


Kemana mama? tanya Soraya  dalam hatinya.


"Soraya! ucap Tuan Frans  yang terkejut dan langsung menarik tangan menantunya itu.


"Papa, bagaimana Derry?" tanya Soraya  yang terisak.


"Cepat Nak, lakukan sesuatu untuk Derry! lihatlah, tangannya bergerak dan bibirnya menyebut namamu terus menerus."


Soraya  pun mendekat, sedangkan Tio dan ketiga adiknya saat ini berada tidak jauh dari tubuh Derry  juga.


"Derry, ini aku," ucapnya lirih sambil menyambut tangan Derry  tersebut.


Masih saja bibir itu tak berhenti, dan kali ini Soraya  membelai lembut wajah suaminya itu. Berulang kali dia menyebut nama Derry  dan menciumi tangan Derry  tanpa rasa ragu lagi.


Pipi Derry  dikecupnya berulang ulang, basah juga pipi itu dengan buliran bening dari Soraya  tersebut, menitis air bening itu ke mulut Derry.


Mata Derry  merasakan sesuatu, dia tampak berulang kali menelan liurnya saat ini.


"Sayang.. bangunlah, ini aku istrimu, pegang ini, kita akan punya anak sebentar lagi," ucap Soraya  merayau dan tangan Derry  dialihkannya ke perutnya itu.


Mendengar ucapan itu, Tuan Frans  terkejut dan memandang ke wajah Tio saat ini. Menanyakan hal itu kepada Tio, dan hanya di balas anggukan saja.


Sudah lama pria paruh baya itu mendambakan seorang cucu, lagi pula anaknya hanya tinggal seorang saja.


Dengan kepala yang berat, Derry  pun tampak perlahan membuka matanya saat ini. Merasakan air asin yang masuk tenggorokannya itu, dan sesuatu keajaiban datang padanya.


Memang benar, menahan rindu sangat sulit, bahkan kalau rindu tak terluah, maka akan sakit.


Soraya  memejamkan matanya, sambil berdoa melekatkan bibinya terus menerus kepada Derry, rasa rindu itu benar-benar besar saat ini.


Mata Derry  terbuka, Soraya  masih belum tahu mata suaminya itu terbuka saat ini, Yumita  yang dari tadi berada di posisi belakang hanya melihat ke arah Derry  saja saat ini.


Melihat itu dia pun terkejut, dan refleks  membuka mulutnya dengan kuat saat ini, sampai semua orang terkejut sekarang, sedangkan Tio dan Tuan Frans  masih saling tatapan.


"Bang Derry  membuka matanya!" teriak Yumita  mengejutkan semuanya, mereka pun memandang Yumita  lalu menuju wajah Derry.


Soraya  yang masih terpejam, perlahan membuka matanya kembali dan menatap lekat wajah suaminya itu.


"Sayang," ucap Derry  lirih.

__ADS_1


Syukurlah, ingatan Derry  tidak ada masalah saat ini. Ingatan kepada Soraya  itu benar-benar lekat di kepalanya.


"Nak, ini Papa!" ucap Tuan Frans  yang langsung lari memeluk Derry  tersebut.


"Pa, mama kemana?" tanya Derry  lagi.


Tertutup rapat mulut Tuan Frans  saat ini, Ya! ini berita kebahagiaan, istrinya pun layak mengetahui ini, pikir Tuan Frans  lagi.


"Nak, mama sedang pulang sebentar, nanti papa akan hubungi," ucap Tuan Frans  itu.


"Sayang, aku merindukanmu, rasanya berhari-hari kau tidak disini," ucap Derry  kepada Soraya.


Perasaan itu memang benar adanya, bukan mau Soraya  tidak berada disini, namun itu hanyalah sebuah keterpaksaan karena mama Derry  tidak menyukai Soraya  tersebut.


"Aku disini sayang, dan tidak akan pernah beranjak sampai kapan pun."


"Derry, kau harus tahu satu hal lagi, dan janji kau akan sembuh total setelah mengetahui satu kebahagiaan ini," ucap Tio kembali, sedangkan Tuan Frans  sedikit jauh dari mereka dia ingin menghubungi istrinya tersebut.


"Apa itu?" tanya Derry  penasaran.


"Istrimu telah hamil Derry," ucap Tio memberitahukan.


"Sayang! nada kuat dan pelukan kuat kepada sang istri saat ini.


Berulang kali panggilan Tuan Frans  itu dirijek oleh istrinya sendiri. Dan langkah kaki kedua wanita yang berbeda usia itu pun sampai tepat di apartemen Soraya.


Bel kuat itu terus saja dipencet, namun hasilnya tidak ada seorang pun yang keluar dari dalam tersebut.


Kemudian Tuan Frans  kembali berkumpul dengan mereka, setelah panggilan itu tidak dijawab, dia pun mengirimi pesan kepada istrinya itu.


Malam ini, Soraya  akan menginap disini. Kemudian, Tio berpamitan untuk mengantarkan ketiga adik Soraya  itu.


"Soraya, aku akan membawa adik-adikmu ke rumah orang tuaku dulu," ucap Tio kembali.


Ponsel Tio berdering kuat saat ini, dia langsung merogoh saku celananya saat ini. Dan tampak di layar itu tulisan nama Rendra  disana.


"Sebentar, aku akan menjawab panggilan ini dulu," ucap Tio kepada semua orang.


Yumita  hanya menelan liurnya saja, tersirat rasa cemburu tidak jelas di hatinya saat ini. Entah untuk apa dia cemburu, bahkan Rendra pun tidak pernah menyatakan cinta kepada dirinya.


"Hallo Tio, kau dimana??" tanya Rendra  yang sudah sampai terlebih dahulu di restoran yang sudah di bookingnya itu.


"Oh iya, Rendra  kau bisa menungguku setengah jam lagi? aku di rumah sakit mengantarkan Soraya  karena Derry  telah sadar saat ini," ucap Tio menjelaskan kepada Tio.

__ADS_1


"Benarkah? Derry  sudah sadar? baik, aku akan menunggu dirimu," ucapnya.


"Iya Ravin, Derry  sudah sadar, yakinlah masalah kita akan teratasi nanti," ucap Tio.


"Baiklah Tio, aku menunggumu disini," ucapnya lagi lalu mengakhiri panggilan itu.


Tio masuk kembali keruangan tersebut, kemudian Tio tersenyum kepada semuanya, dia pun ingin cepat bertemu dengan Rendra  saat ini, banyak rasa penasarannya tentang Tuan Osman  dan Rendra  saat ini.


"Baiklah semua, aku ada kerjaan lain dan akan bertemu seseorang malam ini. Derry, kau cepat pulih kembali, selamat! sebentar lagi kau akan menjadi ayah," ucap Tio menghampiri sepupunya itu dan memeluk Derry.


"Hati-hati Tio, kau juga bahagialah selalu," ucap Derry  lagi.


"Iya, kau harus jaga Soraya  baik-baik dan bayimu juga," ucapnya.


Kemudian Tio pun memeluk Tuan Frans  juga dan berpamitan, begitu juga dengan ketiga adik-adik Soraya  itu, kecuali Yumita  yang ditahan tangan oleh Tuan Frans, karena wanita mungil ini tidak pernah terlihat di mata Tuan Frans.


"Wanita mungil ini siapa?" tanya Tuan Frans  tersenyum.


"Dia adikku Pa, adik keduaku. Namanya Yumita, bulan depan akan masuk kuliah," ucap Soraya  yang menjawabnya.


"Wah, papa pikir dia masih sekolah," ucap Tuan Frans  tersenyum.


"Iya Om, dia sangat mungil," celah Tio pula.


"Iya benar itu Tio," ucap Tuan FRANS  tersenyum kembali.


"Om, aku tidak punya waktu yang banyak lagi disini, izinkan kami pulang sekarang," sahut Tio kembali.


"Baiklah, lain kali kalian harus sering kesini," ucap Tuan Frans  kembali.


Kemudian mereka pun keluar, wajah merah di pipi Fanni  itu pertanda malu-malu sekarang. Mereka melangkah cepat ke parkiran, dan membiarkan kakak pertama mereka dengan suaminya tersebut.


Sedangkan Fanni  dan mama Derry  yang sedari tadi berdiri dan memencet bel apartemen itu, memaki sepuas-puasnya karena tidak ada seorangpun yang keluar.


"Fanni, sepertinya wanita itu tidak ada di dalam," ucap Mama Derry.


"Mungkin lah ma, ya sudah lain kali kita kesini lagi," ucap Fanni.


"Baiklah nak, dan pastikan wanita itu ada didalam."


"Kita pulang saja dulu ma," ucap Fanni  kembali.


Mereka pun masuk ke dalam lift kembali, dan di dalam lift mama Derry  itu membuka ponselnya terperanjat dia melihat pesan yang ada di layar itu.

__ADS_1


"Fan, kita ke rumah sakit sekarang!" nada perintah itu terdengar.


**


__ADS_2