90 DAYS

90 DAYS
JANGAN TINGGALKAN AKU!


__ADS_3

Sebuah tanya besar sekarang berada di kepala Soraya. Dia ingin rasanya meluahkan apa yang ada dipikiran saya saat ini, namun sayangnya dia tidak memiliki hak veto yang kuat untuk itu.


    "Raya, jangan pernah tinggalkanku," ucap Derry  sambil memegangi tangan soraya.


    "Maksudmu?? Fanni  sudah datang Derry!! apa kau gila??" ucap Soraya  seolah ingin lebih tahu tentang ucapan itu.


    "Diam lah, kita lihat saja 30 hari kedepan!!" pungkas Derry .


       Entah apa yang merasuki Derry  malam ini, dia berkata dengan tiba-tiba. Derry  yang mengingat kembali perkataannya  itu, tampak bingung dan menyesali perkataan tanpa dipikirkan tersebut.


      Yang diinginkan sudah pun di depan mata, namun Derry  bisa berkata kepada SORAYA  agar tidak meninggalkan dirinya, padahal sebentar lagi, Derry  lah yang akan meninggalkan SORAYA.


    


        Derry  terlihat mengendarai mobilnya ke arah apartemen milik Soraya , apartemen itu sudah dihadiahkan Derry  untuk istrinya tersebut. 10 bitcoin beserta apartemen dan mobil juga diserahkan untuk Raya.


     Walau hanya istri dalam nota perjanjian, namun Derry  memberikan harta yang cukup melimpah untuk istri kontraknya tersebut.


     Namun, bagi Soraya  saat ini adalah dia seolah tidak butuh semua itu, dia hanya butuh Derry  berada disampingnya selalu. Sekarang juga seperti halnya Derry  berkata yang tidak pernah soraya  jangka selama ini.


     Jangan tinggalkan aku??


     Siapa yang Derry  maksud ini, pikir Soraya. Dia tiba-tiba menjadi pria romantis seketika ini. Setelah mereka duduk beberapa saat di tepi pantai, Derry  tiba-tiba menggendong Soraya  dan memasukkannya ke dalam mobil dengan paksa.


       "Suara apa itu??" tanya Derry  melirik ke arah SORAYA.


       "Tidak ada," ucap Soraya  membuang wajahnya.


      "Raya, kamu lapar ya??" tanya Derry.


       "Tidak!!" ucap Soraya keras.


        Derry  mengingat sesuatu, bahkan untuk minum saja Soraya  belum ada mencicipi minuman yang dipesannya saat beberapa jam berlalu.


      Sedangkan Soraya  sudah banyak mengeluarkan air matanya di tepi pantai tadi. Derry  yang mengingat itu menjadi iba kepada SORAYA  saat ini.


     Dia pun tidak jadi mengarahkan mobilnya langsung ke apartemen, melainkan mereka singgah sebentar ke restoran dekat apartemen tersebut.


      


         "Kok berhenti??" tanya Soraya .


   

__ADS_1


         "Kita makan dahulu ya," ucap Derry.


         "Aku tidak lapar," ucap Soraya .


         "Nah...itu suara apa??" tanya Derry  lagi, seketika perut Soraya  berbunyi kembali.


        "Sial!!" umpat Soraya  dalam hati.


         Soraya  yang masih diam dan mengutuk dirinya sendiri itu, langsung kaku karena tiba-tiba pintu tempat dia sandarkan tangan telah terbuka, dan wajah tampan Derry  sudah berada tepat di wajahnya saat ini.


      "Apa mau aku gendong??" bisik Derry  tepat di telinga kiri soraya.


      "Tidak!!" bentak Soraya.


       "Kalau begitu cepat turun," ucap Derry  masih lembut.


      Mahu tak mahu, Soraya  turun dari mobil Derry  tersebut. Dia pun dengan lemah melangkah menuju restoran tersebut. Kali ini tingkah Derry  semakin aneh, dua bulan pernikahan baru kali ini dia terlihat menggandeng tangan Soraya  di khalayak ramai.


       Soraya  terkejut, dia melihat ke bawah dan ke atas wajah Derry  bergantian. 


     Apa aku sedang tidak bermimpi??" tanya Soraya  dalam hati.


     Derry  terlihat santai dan tanpa masalah masih menggenggam tangan soraya  saat ini. Soraya  merasakan tekanan di dadanya sekarang ingin meledak, seketika melihat Derry  memperlakukannya saat ini.


    Meronta jiwa soraya  saat ini, ingin menolak dan menghindar, perjanjian itu belum berakhir. Mereka masih ada waktu lagi untuk bersama, masih terus diikuti dengan langkah yang lemah.


    Kali ini Derry  membukakan kursi untuk istrinya. Dua bulan berlalu tidak pernah seperti ini. Apa ini karena Tio??


 


     Apa Derry  cemburu kepada Tio??


     Ah! tidak mungkin!!" ucap Soraya  dalam hatinya lagi.


    Tio tidak selevel dengan Derry, dia hanya lah di bawah Derry. Dan untuk apa Derry  cemburu hanya kepada seorang Tio, pikir Soraya. Soraya  bertanya sendiri dan menjawab sendiri.


       Perlakuan Derry  begitu aneh di lihatnya. Sekarang Derry  pula memesankan Soraya  makanan sup daging dan nasi putih, serta minuman lemon hangat.


        Derry  hanya memesan semangkuk sup dan sepiring nasi, beserta segelas lemon tea hangat. Mungkin saja Derry  tidak ingin makan, pikir Soraya.


     Jika diturutkan dengan perut, dia memang sangat lapar. Bahkan Derry  sendiri pun mendengar suara nyaring dari perut Soraya. Derry  bahkan lebih perhatian dengan Soraya  saat ini.


       Ketika pesanan sampai, Derry  menyambut pelayan itu dengan cepat. Dia yang biasanya tidak pernah memperdulikan seorang pelayan membawakan makanan, sekarang dia bertingkah aneh, menyambut makanan tersebut langsung dari nampan pelayan tersebut.

__ADS_1


  


        "Raya..ayo kita makan," ucap Derry  lembut.


       "Kita??" tanya RAYA  bingung.


       "Ya! kita berdua," ucapnya lagi.


        "Kau ingin makan sepiring denganku??" tanya RAYA  bingung.


         "Ya! memangnya tidak boleh??" tanya Derry  balik.


         Terbelalak mata SORAYA  kali ini. Seorang Derry Sanjaya, tiba-tiba ingin makan sepiring berdua bersamanya saat ini bahkan di depan khalayak ramai. Apa Derry  sedang gila?? tanya Soraya  dalam hatinya.


         "Hei...jangan termenung!! ini makan," ucap Derry  sambil menyodorkan suapan pertama untuk Soraya.


       Tanpa satu kata yang keluar dari mulut soraya, dia membuka mulutnya kecil, bahkan bukan hanya mulut yang terbuka, matanya juga terbelalak heran tak percaya. 


     Soraya  juga menahan isak tangis haru, atas perbuatan Derry  untuk kali ini membuatnya berkaca-kaca lagi.


     Untuk apa Derry  melakukan semua ini, jika hanya untuk menggores dan meninggalkan bekas kenangan saja, pikir Soraya. Perempuan mana yang tidak ingin dilayani dengan seorang suami yang lembut dan perhatian.


        SORAYA kini tampak lahap makan dengan jari-jemari suaminya tersebut. Dua bulan menikah baru kali ini, dia merasakan suapan dari suaminya itu. Tidak tahan lagi, Soraya  memalingkan wajahnya yang menitiskan air mata saat itu.


     Entah itu air mata haru, atau air mata takut menerima kenyataan jika sebentar lagi Derry  akan menikah dengan Fanni  dan Derry  akan meninggalkan SORAYA.


      "Raya....kenapa??" tanya Derry.


       Raya hanya menaikkan tangan kanannya, dia membuat isyarat sudah cukup. Derry  bingung dengan tingkah Soraya  tersebut. Dia tidak seperti biasanya menghadapi Derry.


      Soraya  yang dulu bukan lah SORAYA  yang sekarang, dahulu saat berhadapan dengan Derry, dia hanya cuek dan dingin. Bahkan Raya ketika beberapa minggu menjadi istri Derry  masih saja bersikap hal yang sama seperti itu juga.


    Dua bulan berlalu, kehangatan dan getaran seperti muncul di hati Soraya, bahkan di hati Derry. Namun Derry  yang selalu menafikan itu menolak semua rasa yang ada.


     Derry  masih meyakinkan, jika hatinya hanyalah milik Fanni  bukan SORAYA. Namun hari ini entah mengapa dia meluahkan rasa rindu yang tertahan sejak tiga hari berlalu tidak berjumpa dengan Soraya.


     Tingkah laku Derry  menjadi aneh, dia lebih lembut dan romantis saja kepada istrinya. Namun SORAYA  tidak ingin percaya sepenuhnya, Soraya  bagaimanapun harus bisa menerima kenyataan yang ada nantinya.


   *****


       


  

__ADS_1


        


__ADS_2