90 DAYS

90 DAYS
PENASARAN


__ADS_3

hampir dua puluh lima menit perjalanan pulang Tsania. Dia pun membuka pintu rumahnya dengan lemah. Memandang Tio dengan wajah yang begitu dekat tadi, membuat jantungnya sedikit berdebar.


Ya, wanita ini memang sejak lama mengagumi dan menyukai Tio. Namun,Tio tidak pernah sekalipun melihatnya. Hanya Soraya  yang selalu Tio lihat dan  dekati.


Berbanding terbalik dengan Soraya, wanita itu tampak biasa saja. Bahkan Soraya selalu mendukung Tsania agar terus dekat dengan Tio. Masa enam tahun berlalu begitu sebentar.


Mereka sering keluar bersama saat mendapatkan klien dari luar kota. Dan sekarang, Tsania yang selalu iri dengan Soraya  tersebut, dia pun berpikir sejenak terlihat iba di dihati Tsania sekarang.


Saat ini juga, Tsania melangkah masuk ke kamarnya. Di sana sudah ada Rendra  yang sejak tadi mengemasi barang dan pakaian Tsania yang harus mereka bawa sore ini.


"Tsania, kamu sudah sampai?"


Begitu pintu terbuka, Rendra terkejut Tsania berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang dingin dan bimbang.


Tsania harus menerima kenyataan ini, dia menikah dengan pria yang tidak dicintainya sama sekali. Dan tidak pernah berpikir kalau itu adalah Tuan Rendra.


Hanya bisa menelan perasaannya dalam-dalam. Mengingat ucapan Derry  yang memberhentikan Soraya  secara tidak jelas itu, membuat Tsania penasaran.


Sedangkan baru saja, sebelum dia masuk ke ruangan itu, Tio telah masuk terlebih dahulu. Melihat wajah Tio yang sedikit bingung dan murung, Tsania berpikir yang bukan-bukan saat ini.


Apa Tio dan Soraya  sama seperti dirinya?


Dia berpikir Tio dan Soraya  menyembunyikan suatu pernikahan, bahkan sedari tadi Rendra  bertanya dan menyapa Tsania, wanita ini hanya termenung dan tatapannya kosong.


"Tsa!" Tubuh Tsania diguncang Rendra, dia pun terkejut dan sadar.


"Rendra, ada apa?" tanya Tsania melotot matanya.


"Kamu yang ada apa? kenapa diam dan murung?" tanya Rendra kembali.


"Aku hanya memikirkan sesuatu," ucap Tsania.


"Memikirkan apa? Apa Derry  tidak ingin menyetujui resainmu?" tanya Rendra  kembali.

__ADS_1


"Bukan itu, dia awalnya memang tidak setuju, namun sekarang Derry  begitu bijaksana dan berwibawa, dia bahkan menyetujui walau itu berat. Derry juga memberiku cek ini," ucap Tsania sambil menyerahkan cek seratus juta itu.


"Wah, jumlah yang pantas," ucap Rendra  kembali dan tersenyum.


"Bukankah itu terlalu berlebihan?" tanya Tsania.


"Tidak Tsa, orang sepertimu pantas mendapatkan pesangon sebanyak itu, wajar saja kamu itu pekerja yang ulet dan baik," ucap Rendra  yang sekarang harus sering-sering memuji istrinya.


Tsania masih tersenyum dengan lemah, masih belum menunjukkan sesuatu yang ceria di wajah itu. Dan saat ini juga Rendra  yang masih sabar menghadapi wanita itu terus sambil memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper.


"Apalagi yang membuatmu diam begini?"


"Apa dirimu menyesal menikah denganku?" tanya Rendra  kembali.


"Tidak Ren, ini adalah keputusan terbaikku," jawab Tsania langsung menggeleng.


"Lalu mengapa kamu diam? Aku merasa bersalah padamu Tsa," ucap Rendra.


"Jangan begitu, kau telah menyelamatkan hidupku saat ini, dan aku lah yang wajib disalahkan," ucap Tsania kembali meneteskan air matanya.


Naluri lelaki Rendra  begitu, lembut dan hangat, dia mendekatkan tubuhnya ke kepala Tsania. Dan merangkul Tsania ke dalam pelukannya saat ini.


Dia memberikan efek pelukan yang bisa menghilangkan stres bagi siapapun yang merasakannya. Karena pelukan bisa meredam emosional yang tinggi. Saat ini juga Rendra  merasakan debaran di jantungnya, berharap Tsania mendengarkan itu.


"Bicaralah, kalau kau memang ingin bicara kepadaku, dan aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu," ucap Rendra  berbisik di telinga Tsania.


Tsania yang berada dalam dekapannya, saat ini begitu nyaman. Entah mengapa gejolak penasarannya, membuat dia yakin harus memberitahukan Rendra  mengenai hal ini.


Tsania melepaskan pelukan itu, dia Menatap Rendra  dengan senyum yang lemah dan tetap terlihat cantik.


"Rendra, kau mengenal Soraya  bukan?" tanya Tsania.


"Hem iya, kenapa Soraya?" tanya Rendra  sedikit menyelidik.

__ADS_1


"Tadi ketika aku memberikan surat resign kepada pak Derry, dia bilang Soraya  telah diberhentikan dengan terpaksa," ucap Tsania menjelaskan.


Rendra  yang tahu mengenai kehamilan Soraya  tersebut, dia hanya mengangguk saja, dan saat ini bukan waktunya Rendra  harus membongkar rahasia itu. Karena memang Derry  sendiri belum mengumumkannya kepada khalayak ramai, Rendra  tidak ingin masuk campur mengenai ini.


"Soraya  dipecat maksudnya?" Rendra  sengaja pura-pura tidak tahu agar menutup kecurigaan Tsania.


"Aku juga tidak tahu pasti, namun aku merasa ada yang janggal, kasihan Soraya. Adik-adiknya banyak, dia tulang punggung keluarga, apa aku boleh menemuinya sebelum kita pergi?" tanya Tsania meminta izin kepada suaminya.


Mendengar permintaan Tsania itu, Rendra  terdiam kaku. Dia takut kalau Soraya  mengatakan sudah menikah dengan Derry, dan jika Tsania juga mengatakan hal yang sama, lalu Soraya  berterus terang kepada Tsania, bahwa Rendra  juga tahu fakta kehamilannya itu, maka Bisa-bisa Rendra  disangka pria menyimpan rahasia dan sulit terbuka oleh istri.


Baru saja dia ingin mengambil hati Tsania terus menerus, dia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka. Apakah rahasia ini aku buka saja?


Rendra  bertanya pada dirinya sendiri sekarang, namun dia juga bingung hatinya berkata, jangan karena ini bukan urusannya.


Rendra  menghela nafas panjang, bingung ingin menjawab apa, namun dia berharap keputusannya yang akan dilontarkannya  sebentar lagi akan membawanya menuju keselamatan.


"Tsania, kamu mau menghubungi Soraya  bagaimana? apa tahu rumahnya?"


"Soraya sudah lama tidak terlihat, aku rasa dia pulang kampung. Tapi, coha dulu aja hubungi nomor ponselnya," ucap Rendra  lagi yang sedikit membuat alasan.


Tsania mengangguk dengan cepat, dia memang tidak tahu alamat dan keberadaan Soraya  dengan pasti. Namun, dengan menelponnya mungkin saja bisa dia dapatkan.


Dan saat ini juga, panggilan itu tampak tidak terhubung. Karena memang ponsel Soraya  sedang kehabisan batre.


"Kenapa?"


Rendra  menyiasat ke arah wajah Tsania yang tampak saat ini sedang murung, dan menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Nomor ponselnya tidak bisa dihubungi," ucap Tsania.


Rendra  bernafas lega, mungkin saja ini memang sudah kehendak Tuhan untuk mereka mengurus perihal masing-masing.  Entah mengapa Tsania terlalu penasaran perihal Soraya itu, padahal tampak wanita yang menjadi istri Rendra  ini adalah seorang yang tampak begitu cuek saja dengan siapapun.


Satu sisi, sekarang Derry  dan Tio telah pun sampai berada di parkiran rumah sakit. Karena mereka berdua sama-sama handal mengendarai mobil sport itu, akhirnya dengan langkah yang tergesa-gesa mereka masuk ke dalam.

__ADS_1


Soraya  pula merasa bingung dan canggung saat ini, bahkan dia tidak tahu harus menyuruh kedua pembantu ini mengerjakan pekerjaan apa di apartemennya tersebut.


****


__ADS_2