
hampir dua puluh lima menit perjalanan pulang Tsania. Dia pun membuka pintu rumahnya dengan lemah. Memandang Tio dengan wajah yang begitu dekat tadi, membuat jantungnya sedikit berdebar.
Ya, wanita ini memang sejak lama mengagumi dan menyukai Tio. Namun,Tio tidak pernah sekalipun melihatnya. Hanya Soraya yang selalu Tio lihat dan dekati.
Berbanding terbalik dengan Soraya, wanita itu tampak biasa saja. Bahkan Soraya selalu mendukung Tsania agar terus dekat dengan Tio. Masa enam tahun berlalu begitu sebentar.
Mereka sering keluar bersama saat mendapatkan klien dari luar kota. Dan sekarang, Tsania yang selalu iri dengan Soraya tersebut, dia pun berpikir sejenak terlihat iba di dihati Tsania sekarang.
Saat ini juga, Tsania melangkah masuk ke kamarnya. Di sana sudah ada Rendra yang sejak tadi mengemasi barang dan pakaian Tsania yang harus mereka bawa sore ini.
"Tsania, kamu sudah sampai?"
Begitu pintu terbuka, Rendra terkejut Tsania berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang dingin dan bimbang.
Tsania harus menerima kenyataan ini, dia menikah dengan pria yang tidak dicintainya sama sekali. Dan tidak pernah berpikir kalau itu adalah Tuan Rendra.
Hanya bisa menelan perasaannya dalam-dalam. Mengingat ucapan Derry yang memberhentikan Soraya secara tidak jelas itu, membuat Tsania penasaran.
Sedangkan baru saja, sebelum dia masuk ke ruangan itu, Tio telah masuk terlebih dahulu. Melihat wajah Tio yang sedikit bingung dan murung, Tsania berpikir yang bukan-bukan saat ini.
Apa Tio dan Soraya sama seperti dirinya?
Dia berpikir Tio dan Soraya menyembunyikan suatu pernikahan, bahkan sedari tadi Rendra bertanya dan menyapa Tsania, wanita ini hanya termenung dan tatapannya kosong.
"Tsa!" Tubuh Tsania diguncang Rendra, dia pun terkejut dan sadar.
"Rendra, ada apa?" tanya Tsania melotot matanya.
"Kamu yang ada apa? kenapa diam dan murung?" tanya Rendra kembali.
"Aku hanya memikirkan sesuatu," ucap Tsania.
"Memikirkan apa? Apa Derry tidak ingin menyetujui resainmu?" tanya Rendra kembali.
__ADS_1
"Bukan itu, dia awalnya memang tidak setuju, namun sekarang Derry begitu bijaksana dan berwibawa, dia bahkan menyetujui walau itu berat. Derry juga memberiku cek ini," ucap Tsania sambil menyerahkan cek seratus juta itu.
"Wah, jumlah yang pantas," ucap Rendra kembali dan tersenyum.
"Bukankah itu terlalu berlebihan?" tanya Tsania.
"Tidak Tsa, orang sepertimu pantas mendapatkan pesangon sebanyak itu, wajar saja kamu itu pekerja yang ulet dan baik," ucap Rendra yang sekarang harus sering-sering memuji istrinya.
Tsania masih tersenyum dengan lemah, masih belum menunjukkan sesuatu yang ceria di wajah itu. Dan saat ini juga Rendra yang masih sabar menghadapi wanita itu terus sambil memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper.
"Apalagi yang membuatmu diam begini?"
"Apa dirimu menyesal menikah denganku?" tanya Rendra kembali.
"Tidak Ren, ini adalah keputusan terbaikku," jawab Tsania langsung menggeleng.
"Lalu mengapa kamu diam? Aku merasa bersalah padamu Tsa," ucap Rendra.
"Jangan begitu, kau telah menyelamatkan hidupku saat ini, dan aku lah yang wajib disalahkan," ucap Tsania kembali meneteskan air matanya.
Naluri lelaki Rendra begitu, lembut dan hangat, dia mendekatkan tubuhnya ke kepala Tsania. Dan merangkul Tsania ke dalam pelukannya saat ini.
Dia memberikan efek pelukan yang bisa menghilangkan stres bagi siapapun yang merasakannya. Karena pelukan bisa meredam emosional yang tinggi. Saat ini juga Rendra merasakan debaran di jantungnya, berharap Tsania mendengarkan itu.
"Bicaralah, kalau kau memang ingin bicara kepadaku, dan aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu," ucap Rendra berbisik di telinga Tsania.
Tsania yang berada dalam dekapannya, saat ini begitu nyaman. Entah mengapa gejolak penasarannya, membuat dia yakin harus memberitahukan Rendra mengenai hal ini.
Tsania melepaskan pelukan itu, dia Menatap Rendra dengan senyum yang lemah dan tetap terlihat cantik.
"Rendra, kau mengenal Soraya bukan?" tanya Tsania.
"Hem iya, kenapa Soraya?" tanya Rendra sedikit menyelidik.
__ADS_1
"Tadi ketika aku memberikan surat resign kepada pak Derry, dia bilang Soraya telah diberhentikan dengan terpaksa," ucap Tsania menjelaskan.
Rendra yang tahu mengenai kehamilan Soraya tersebut, dia hanya mengangguk saja, dan saat ini bukan waktunya Rendra harus membongkar rahasia itu. Karena memang Derry sendiri belum mengumumkannya kepada khalayak ramai, Rendra tidak ingin masuk campur mengenai ini.
"Soraya dipecat maksudnya?" Rendra sengaja pura-pura tidak tahu agar menutup kecurigaan Tsania.
"Aku juga tidak tahu pasti, namun aku merasa ada yang janggal, kasihan Soraya. Adik-adiknya banyak, dia tulang punggung keluarga, apa aku boleh menemuinya sebelum kita pergi?" tanya Tsania meminta izin kepada suaminya.
Mendengar permintaan Tsania itu, Rendra terdiam kaku. Dia takut kalau Soraya mengatakan sudah menikah dengan Derry, dan jika Tsania juga mengatakan hal yang sama, lalu Soraya berterus terang kepada Tsania, bahwa Rendra juga tahu fakta kehamilannya itu, maka Bisa-bisa Rendra disangka pria menyimpan rahasia dan sulit terbuka oleh istri.
Baru saja dia ingin mengambil hati Tsania terus menerus, dia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka. Apakah rahasia ini aku buka saja?
Rendra bertanya pada dirinya sendiri sekarang, namun dia juga bingung hatinya berkata, jangan karena ini bukan urusannya.
Rendra menghela nafas panjang, bingung ingin menjawab apa, namun dia berharap keputusannya yang akan dilontarkannya sebentar lagi akan membawanya menuju keselamatan.
"Tsania, kamu mau menghubungi Soraya bagaimana? apa tahu rumahnya?"
"Soraya sudah lama tidak terlihat, aku rasa dia pulang kampung. Tapi, coha dulu aja hubungi nomor ponselnya," ucap Rendra lagi yang sedikit membuat alasan.
Tsania mengangguk dengan cepat, dia memang tidak tahu alamat dan keberadaan Soraya dengan pasti. Namun, dengan menelponnya mungkin saja bisa dia dapatkan.
Dan saat ini juga, panggilan itu tampak tidak terhubung. Karena memang ponsel Soraya sedang kehabisan batre.
"Kenapa?"
Rendra menyiasat ke arah wajah Tsania yang tampak saat ini sedang murung, dan menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Nomor ponselnya tidak bisa dihubungi," ucap Tsania.
Rendra bernafas lega, mungkin saja ini memang sudah kehendak Tuhan untuk mereka mengurus perihal masing-masing. Entah mengapa Tsania terlalu penasaran perihal Soraya itu, padahal tampak wanita yang menjadi istri Rendra ini adalah seorang yang tampak begitu cuek saja dengan siapapun.
Satu sisi, sekarang Derry dan Tio telah pun sampai berada di parkiran rumah sakit. Karena mereka berdua sama-sama handal mengendarai mobil sport itu, akhirnya dengan langkah yang tergesa-gesa mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
Soraya pula merasa bingung dan canggung saat ini, bahkan dia tidak tahu harus menyuruh kedua pembantu ini mengerjakan pekerjaan apa di apartemennya tersebut.
****