90 DAYS

90 DAYS
MASUK PERANGKAP


__ADS_3

Fanni  berdecak marah ketika seorang kasir tas branded itu mengatakan kartu hitam miliknya tidak bisa dipakai. Fanni  pun mencoba menyuruh mereka melakukan sekali lagi, namun tetap masih tidak bisa.


Lama mereka beragumen disana, tiba-tiba ada sosok lelaki berbadan kekar menyodorkan kartu yang sama warnanya. Fanni  dan Tissa melirik ke arah orang tersebut, dan mulutnya ternganga beserta matanya yang besar itu semakin membulat.


"Cepat pakai ini!!" perintah lelaki itu pada kasir tersebut.


"Jangan! jangan terima!!" bentak Fanni  kembali.


"Fan! kau ingin membuat harga dirimu jatuh disini!!" bisik  Tissa sambil menekan suaranya.


"Tissa... tapi dia!!" nada suara Fanni  ditekan.


"Sudah terima saja!!" jawab Fanni pula.


Mereka masih saling diam, dan Fanni  membuang tatapannya ke arah kiri, dia malas melihat wajah dengan bulu dan alis mata lebat itu.


Ya! Dia adalah Tuan Osman. Tuan Osman tidak sengaja masuk ke dalam mall branded ini, dia ingin menukar warna arlojinya di dalam mall yang berisi barang branded semua.


Dan dengan melangkah sigap, tak sengaja di tertoleh ke arah toko tas di sebelah kirinya, dan dia melihat dua orang wanita sedang berdebat dengan kasir disana.


Karena dia mengenali wanita itu adalah Fanni, dia pun dengan cepat masuk ke dalam toko tas branded tersebut. Bukan tanggung-tanggung harga 3 tas itu mencecah sampai setengah milyar rupiah.


Karena dia kaya raya, uang segitu tampak kecil dan begitu mudah dikeluarkan dari kartu hitamnya tersebut. Tissa sahabat baik Fanni yang melihat itu, tampak kagum dengan lelaki yang berasal dari timur tengah  itu.


Setelah transaksi itu selesai, Fanni dan Tissa keluar dengan angkuhnya, bahkan Fanni tidak mengucapkan terima kasih dengan Tuan Osman sama sekali.


"Siapa dia Fanni??" tanya Tissa sambil mengimbangi langkah Fanni itu.


"Aku tidak mengenalnya!!" bentak Fanni pada Tissa.


"Kau berbohong!! tidak mungkin lelaki ber alis tebal itu mau membayar harga fantastis tadi!!" bentak Tissa memaksa Fanni karena rasa penasarannya yang tinggi.


Tuan Osman pun tampak berjalan menuju toko arloji langganannya. Dia pun tampak menelpon dua bodyguard nya yang sedang menunggunya di parkiran mobil tersebut.


Tuan Osman tampak menyuruh kedua bodyguard nya itu untuk melakukan sesuatu saat ini. Dan dia pun tersenyum puas, sambil melangkah santai.


Fanni  pula masih berjalan menuju keluar, dan langkahnya masih dikejar oleh Tisaa tersebut, Fanni  sengaja menghindari Tuan Osman tersebut, karena masih ada rasa trauma di teror oleh istri sah Tuan Osman.


"Mmm, kau ingin menghindariku, oh tidak bisa!!" ucap Tuan Osman dalam hatinya.


"Oke selesai!!" ucap pekerja dalam arloji bermerk dunia itu.


Tuan Osman pun keluar, dengan berjalan masih santainya. Dia tidak sabar melihat ekspresi wanita yang baru saja menolak kebaikannya tadi.

__ADS_1


Sambil berjalan Tuan Osman menelpon kedua bodyguard nya yang dia suruh menunggu di luar, dan mereka sudah mengatakan pekerjaannya sudah selesai.


Fanni  dan Tissa tampak sudah pun masuk ke dalam mobilnya. Mereka berdua segera keluar dari parkiran mall branded tersebut. Dan kedua bodyguard tersebut tampak membiarkan mobil itu berlalu.


Tuan Osman pula sudah keluar dari mall itu, mobil sport berwarna merah itu di bukakan pintunya oleh bodyguard tersebut, dan kini mobil itu melaju keluar dari parkiran juga.


Sedangkan Fanni  yang menyetir mobilnya itu, merasakan ada hal aneh ketika dia mengendarai mobilnya tersebut, seketika kedua gadis itu berteriak takut.


"Auh... kenapa nih mobilmu Fanni!!" teriak Tissa tampak terkejut dan takut.


"Eh.. kenapa begini jalannya!" teriak Fanni lagi.


"Berhentikan dulu Fanni!!" bentak Tissa yang sangat khawatir itu.


"Iya, Iya! ini kan aku berentiin!!" jawab Fanni dengan keras.


Akhirnya mobil itu dipinggirkan, dan mereka berdua segera keluar dari mobil tersebut, alhasil benar kedua ban belakangnya tampak kempis.


"Ah.. sial!!" sambil menendang salah satu ban tersebut.


"Gimana sih Fan, apa kau benar-benar miskin sekarang?? ban mobilmu saja tidak terawat!!" sindir Tissa pula.


"Hei! jaga mulutmu!!" sambil menunjuk ke arah wajah Tissa.


"Iya maaf Fan," ucapnya.


Tak lama kemudian ketika itu mobil Tuan Osman yang sudah melihat dari kejauhan mobil Fanni berhenti di pinggir jalan tersebut, Tuan Osman pun memerintahkan supirnya untuk mendekati mobil itu.


Kedua bodyguard tersebut masih mengikuti Tuan Osman dengan mobil lain. Dan Tuan Osman sekarang sudah berada tepat di sebelah mobil yang terparkir di pinggir jalan tersebut.


"Buka kacanya!!" perintah Tuan Osman.


Kaca itu pun terbuka, Tuan Osman yang masih memakai kacamata hitamnya itu kini melihat Fanni berdiri di luar mobilnya tersebut.


"Hei nona-nona! apa kalian memang hobi berjemur??" sengaja Tuan Osman mengatakan itu dan membuat Fanni semakin kesal.


"Untuk apa kau mengikutiku!!" bentak Fanni sambil kedua tangan berada di sisi pinggangnya.


" Aku tidak mengikutimu nona Fanni! mungkin kita berjodoh!" ucap Tuan Osman dengan santainya.


Lalu Tuan Osman memberikan kode kepada supirnya tersebut, agar segera turun dan membereskan mobil Fanni  tersebut, sedangkan sekarang Tuan Osman yang duduk di kursi depan setir itu.


"Hai Nona-nona! naiklah!!" perintah Tuan Osman.

__ADS_1


"Aku tidak sudi!!" ucap Fanni lagi.


"Kalau begitu, nona baju hijau itu saja jika berkenan ayo naiklah!!" ucap Tuan Osman kepada Tissa.


"Wah, serius nih Tuan?? tanya Tissa seolah tidak yakin.


"Iya nona, naiklah! tinggalkan saja wanita sombong itu!!" umpat Tuan Osman dan menyindir Fanni.


Tissa tampak tidak setia kawan, dia pun dengan cepat masuk ke dalam mobil sport merah milik tuan Osman tersebut, sang supir yang disuruh turun itu tidak jadi diperintahkannya untuk memperbaiki mobil Fanni.


" Pak Dirman!! jangan perbaiki mobilnya, naik saja ke mobil bodyguard!" perintah Tuan Osman.


"Baik Tuan," jawab pak Dirman dan dia dengan cepat melangkah ke mobil belakang tersebut.


"Fan! ayo masuk!!" ajak Tissa kembali.


"Biarkan saja, dia senang menjadi ikan asin!!" ucap Tuan Osman.


Tuan Osman tampak serius ingin meninggalkan Fanni disana, dan dia mulai menekan gas mobilnya sedangkan mobil bodyguard nya tersebut di suruhnya jalan terlebih dahulu.


"Tunggu!!" tiba-tiba Fanni tampak berubah pikiran.


Hampir saja Tuan Osman melaju, namun dengan cepat Fanni memberhentikannya, dia pun dengan cepat masuk ke dalam mobil merah itu juga.


Tersenyum puas Tuan Osman saat ini,  tampak wajah penuh kemenangan, dia bukan mengarah ke arah rumah Osman, malahan dia menuju jalan yang tampak jauh dari kota.


"Tuan, kita mau kemana??" tanya Tissa bingung dan panik.


"Aku akan memanjakan kalian!!" ucap Tuan Osman.


"Sudah kubilang Tissa! dia ini lelaki tidak benar!!" umpat Fanni kesal.


"Mau kemana kita Tuan??" tanya Tissa lagi masih takut.


"Aku akan membawa kalian ke pantai!!" jawabnya santai.


"Wah, kalau itu aku setuju!!" tampaknya Tissa yang suka berfoya-foya sangat begitu senang oleh ajakan Tuan Osman.


"Dasar wanita gila!!" umpat Fanni  kesal.


Kali ini Fanni duduk di belakang, Tissa pula duduk di sebelah Tuan Osman tersebut. Tuan Osman sengaja menjebak Fanni dalam perangkap permainannya kali ini.


Dia ingin mengetahui kelanjutan hubungan Fanni  dan Derry, sedangkan sebenarnya dia ingin mengincar saham yang dimiliki keluarga Derry  di perusahaan Tekstil.

__ADS_1


****


__ADS_2