
Tuan Rendra tampak bingung seketika sampai di parkiran mobil tersebut. Sejak kapan perusahaan ini meletakkan bodyguard di parkiran, pikir Tuan Rendra kembali.
Tuan Rendra pun berencana untuk menemui Tio terlebih dahulu yang berada di ruangannya di lantai empat. Itu ruangan yang dulu, bukan sekarang yang masih belum di ketahui oleh Tuan Rendra tersebut.
Dengan cepat dia naik, dan setelah itu tampak staf-staf yang biasanya tidak di posisi lantai bawah, sekarang semua bertukar tidak pada tempatnya, pikir Tuan Rendra yang tampak bingung.
Ada apa ini?? tanya Tuan Rendra di hatinya saat ini.
Dia pun melangkah dengan cepat dan kemudian dia dengan segera menaiki lift saat ini. Sedangkan di satu sisi Tio dsn Soraya sedang beradu argumen dengan keempat bodyguard bertubuh besar itu.
"Menyingkirlah kalian, kami ada hal penting!!" tegas Tio mengatakan itu lagi.
"Tidak bisa, Tuan kami sedang ada urusan penting di dalam," jawab seorang dari mereka.
Melihat jam tangan telah pun pukul dua saat ini, Tio yang sudah tidak sabar ingin rasanya melayangkan pukulan di wajah para bodyguard itu saat ini.
Keluar dari lift sosok tubuh tinggi menghampiri Tio dan Soraya yang tampaknya perlu bantuan sekarang.
"Hei! ada apa ini??" tanya Tuan Rendra yang tampak begitu terkejut, Tio dan keempat lelaki itu hampir saja beradu tangan saat itu.
Untunglah Tuan Rendra cepat sampai dan mencoba bertanya apa yang terjadi sekarang di antara mereka saat ini.
"Tio, ada apa sebenarnya ini?" Tanya Tuan Rendra.
"Nanti, di ruangan rapat akan ku perjelas Tuan Rendra," ucap Tio yang masih menahan amarahnya itu.
Soraya hanya melirik sedikit wajah Tuan Rendra tersebut. Rasanya dia ingin sekali menyelidiki hal mengapa Tsania yang tampak depresi itu.
Soraya hanya menutup bibirnya saat ini. Suara keributan di ambang pintu itu terdengar sampai ke dalam, mereka berdua sedang bersih-bersih dan merapikan pakaian mereka.
"Ada apa diluar??" tanya Tuan Osman Kepada Fanni.
"Tidak tahu, tapi biarlah mungkin para staf yang ingin meminta tanda tangan ku," ucap Fanni asal berucap saja.
Baru saja memang di menduduki posisi ini, berlagak seolah semuanya menyukai dia sekarang. Fanni pun yang sudah membenahi pakaiannya itu, dan roknya yang senada tersebut telah dia kancing saat ini.
Rambut yang tadi urak-urakan sekarang disisirnya dengan cepat. Karena mendengar suara kericuhan tersebut semakin kuat saat ini.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
Ketukan kuat dari tangan Tio yang sengaja menembus saat ini, walaupun para bodyguard itu sudah berulang kali menahan tubuh Tio tersebut, dan hampir tersungkur, untung saja ada Tuan Rendra yang menahannya.
"Cepatlah Fanni, aku akan membuka pintu itu," ucap Tuan Osman penasaran apa yang terjadi di depan.
"Iya, iya sabar."
Dengan cepat dia menyisir rambutnya dan parfume itu di semprotkan di seluruh ruangan ini. Tampaknya Fanni tidak ingin ada seorangpun yang mencium aroma kenikmatan di dalam ruangan tersebut.
Cekrek..
Melihat Fanni sudah pun tampak siap dan rapi, Tuan Osman tanpa aba-aba lagi membuka pintu tersebut. Dan tampak keempat yang menjadi tameng di depan pintu itu berlagak semakin kuat saat ini.
Terkejut Soraya sekarang, melihat Tuan Ahmed berada dalam ruangan terkunci tersebut. Dan Tuan Rendra yang tak asing dengan wajah berbulu itu, kini menatap lekat Tuan Osman tersebut.
Tuan Osman pun tak kalah terkejutnya saat ini, melihat Rendra berdiri di ambang pintu itu, kemudian Fanni pula berjalan dengan suara sepatu haknya yang tampak ingin melangkah di ambang pintu itu.
"Ada apa ini??" tanya Fanni dengan angkuhnya sekarang.
"Fanni! terkejut tuan Rendra yang memang mengenali Fanni tersebut bahkan sejak kecil.
Mata Tio yang membara ingin saja memukul orang-orang yang menghadangnya dari tadi. Dan saat ini Tuan Osman mencoba mengambil situasi sekarang, dia pun mencoba mengecoh keadaan seolah tidak mengenali Rendra saat ini.
"Fanni, aku pulang dulu," ucapnya kepada Fanni.
Dan Fanni hanya mengangguk licik saja sekarang. Belum jauh langkah itu menuju lift yang tidak jauh dari ambang pintu tersebut, kini Rendra yang sudah wajahnya memerah tersebut, dengan kaki jenjangnya itu lari menarik baju jas milik Tuan Osman.
Brak.. Bruk..
Suara pukulan keras saat ini terlayang di wajah Tuan Osman sekarang. Keempat bodyguard itu tampaknya kalah cepat dengan Tuan Rendra yang mereka tidak jangka untuk melakukan hal tersebut.
Meringis saat ini Tuan Osman menerima pukulan itu. Dan sekarang keempat bodyguard itu mencoba menarik baju Rendra yang sedang berada di atas tubuh Tuan Osman tersebut.
"Pria brengsek! kau yang melakukan hal keji!" umpat Rendra begitu geram lagi.
Fanni begitu panik saat ini melihat situasi sekarang, dia pun tidak tahu apa masalah antara Rendra dan Osman yang tiba-tiba saja Rendra menghajar Osman tersebut.
__ADS_1
"Hentikan!!" teriak Fanni saat ini.
Soraya tampak tegang sekarang, dia pun tidak berani menghentikan apapun sekarang ini, hanya menjadi penonton budiman saja rasanya itu lebih cukup sekarang ini.
Melihat baju Rendra yang ditarik oleh keempat bodyguard itu, langsung Robin turun tangan dan mencoba mengajari dan membantu Rendra tersebut.
Entah apa masalahnya Tio juga tidak tahu, namun yang dia tahu saat ini adalah kemarahannya harus dia luahkan sekarang juga.
Tanpa basa-basi dan aba-aba saat ini mereka bergumul, dengan cepat Fanni masuk dan tampaknya dia menelpon polisi untuk segera hadir di lantai empat ini untuk mereraikan mereka.
Puk... pak..
Hantaman terkena mulut Tio sekarang, menjerit Soraya melihatnya dan kemudian saat ini tampak Fanni menelpon sekuriti bawah juga untuk mereraikan keadan sekarang.
Tak lama kemudian sekuriti itu pun mulai naik ke atas dan mereraikan mereka semua Tuan Osman yang memang tampak lesu dan lebam-lebam itu kini dipisahkan sejenak.
Tampak memang Fanni khawatir dengan lelaki keturunan Dubai tersebut. Dan kini mereka telah pun berdiri masing-masing.
Setelah mereka masing-masing memegangi wajah yang memar dan lebam itu, polisi pun yang telah di telpon oleh Fanni saat ini telah pun naik ke ruangan itu dengan cepat.
"Apa benar disini terjadi keributan??" tanya salah seorang polisi tersebut.
"Benar pak, ini mereka semua yang membuat keributan disini, menghajar teman saya," jelas Fanni kembali yang tampak menyudutkan Robi dan Rendra.
"Tidak pak, tidak begitu," pungkas Soraya melakukan pembelaan untuk Rendra dan Tio.
"Nanti saja jelaskan di kantor, pelapor dan pihak yang bersangkutan, ikut kami semua ke kantor, dan jelaskan disana," ucap Polisi itu.
Tampak dendam di mata Rendra saat ini, masih saja menatap Tuan Osman yang di tuntun oleh para anggotanya itu sambil memegangi wajahnya yang lebam itu.
Mereka semua turun ke bawah, dengan menaiki lift san mencoba dengan cepat memasukan mereka semua di dalam mobil polisi.
Terkejut para bodyguard yang menunggu di bawah itu, mereka melihat bos mereka telah berdarah di area wajah tersebut. Dan mereka hanya mengikuti dari belakang mobil polisi itu.
Semua telah diringkus, kecuali Fanni dan Soraya. Mereka menaiki mobil masing-masing saat ini. Fanni yang tampaknya ingin saja melakukan sesuatu kepada Soraya itu, namun kali ini bukan waktu yang tepat untuk dia melakukan kejahatan itu.
Akan ada perencanaan yang matang nantinya dia buat untuk Soraya hancur! ucapnya sambil melanjukan stir.
__ADS_1
****