90 DAYS

90 DAYS
OSMAN DI HAJAR


__ADS_3

Tuan Rendra tampak bingung seketika sampai di parkiran mobil tersebut. Sejak kapan perusahaan ini meletakkan bodyguard di parkiran, pikir Tuan Rendra  kembali.


Tuan Rendra pun berencana untuk menemui Tio terlebih dahulu yang berada di ruangannya di lantai empat. Itu ruangan yang dulu, bukan sekarang yang masih belum di ketahui oleh Tuan Rendra tersebut.


Dengan cepat dia naik, dan setelah itu tampak staf-staf yang biasanya tidak di posisi lantai bawah, sekarang semua bertukar tidak pada tempatnya, pikir Tuan Rendra yang tampak bingung.


Ada apa ini??  tanya Tuan Rendra di hatinya saat ini.


Dia pun melangkah dengan cepat dan kemudian dia dengan segera menaiki lift saat ini. Sedangkan di satu sisi Tio dsn Soraya  sedang beradu argumen dengan keempat bodyguard bertubuh besar itu.


"Menyingkirlah kalian, kami ada hal penting!!" tegas Tio mengatakan itu lagi.


"Tidak bisa, Tuan kami sedang ada urusan penting di dalam," jawab seorang dari mereka.


Melihat jam tangan telah pun pukul dua saat ini, Tio yang sudah tidak sabar ingin rasanya melayangkan pukulan di wajah para bodyguard itu saat ini.


Keluar dari lift sosok tubuh tinggi menghampiri Tio dan Soraya  yang tampaknya perlu bantuan sekarang.


"Hei! ada apa ini??" tanya Tuan Rendra  yang tampak begitu terkejut, Tio dan keempat lelaki itu hampir saja beradu tangan saat itu.


Untunglah Tuan Rendra  cepat sampai dan mencoba bertanya apa yang terjadi sekarang di antara mereka saat ini.


"Tio, ada apa sebenarnya ini?" Tanya  Tuan Rendra.


"Nanti, di ruangan rapat akan ku perjelas Tuan Rendra," ucap Tio yang masih menahan amarahnya itu.


Soraya  hanya melirik sedikit wajah Tuan Rendra  tersebut. Rasanya dia ingin sekali menyelidiki hal mengapa Tsania yang tampak depresi itu.


Soraya  hanya menutup bibirnya saat ini. Suara keributan di ambang pintu itu terdengar sampai ke dalam, mereka berdua sedang bersih-bersih dan merapikan pakaian mereka.


"Ada apa diluar??" tanya Tuan Osman Kepada Fanni.


"Tidak tahu, tapi biarlah mungkin para staf yang ingin meminta tanda tangan ku," ucap Fanni  asal berucap saja.


Baru saja memang di menduduki posisi ini, berlagak seolah semuanya menyukai dia sekarang. Fanni  pun yang sudah membenahi pakaiannya itu, dan roknya yang senada tersebut telah dia kancing saat ini.


Rambut yang tadi urak-urakan sekarang disisirnya dengan cepat. Karena mendengar suara kericuhan tersebut semakin kuat saat ini.

__ADS_1


Tok.. tok.. tok..


Ketukan kuat dari tangan Tio yang sengaja menembus saat ini, walaupun para bodyguard itu sudah berulang kali menahan tubuh Tio tersebut, dan hampir tersungkur, untung saja ada Tuan Rendra yang menahannya.


"Cepatlah Fanni, aku akan membuka pintu itu," ucap Tuan Osman  penasaran apa yang terjadi di depan.


"Iya, iya sabar."


Dengan cepat dia menyisir rambutnya dan parfume itu di semprotkan di seluruh ruangan ini. Tampaknya Fanni  tidak ingin ada seorangpun yang mencium aroma kenikmatan di dalam ruangan tersebut.


Cekrek..


Melihat Fanni  sudah pun tampak siap dan rapi, Tuan Osman  tanpa aba-aba lagi membuka pintu tersebut. Dan tampak keempat yang menjadi tameng di depan pintu itu berlagak semakin kuat saat ini.


Terkejut Soraya  sekarang, melihat Tuan Ahmed berada dalam ruangan terkunci tersebut. Dan Tuan Rendra  yang tak asing dengan wajah berbulu itu, kini menatap lekat Tuan Osman  tersebut.


Tuan Osman pun tak kalah terkejutnya saat ini, melihat Rendra berdiri di ambang pintu itu, kemudian Fanni  pula berjalan dengan suara sepatu haknya yang tampak ingin melangkah di ambang pintu itu.


"Ada apa ini??" tanya Fanni  dengan angkuhnya sekarang.


"Fanni! terkejut tuan Rendra  yang memang mengenali Fanni  tersebut bahkan sejak kecil.


Mata Tio yang membara ingin saja memukul orang-orang yang menghadangnya dari tadi. Dan saat ini Tuan Osman mencoba mengambil situasi sekarang, dia pun mencoba mengecoh keadaan seolah tidak mengenali Rendra saat ini.


"Fanni, aku pulang dulu," ucapnya kepada Fanni.


Dan Fanni  hanya mengangguk licik saja sekarang. Belum jauh langkah itu menuju lift yang tidak jauh dari ambang pintu tersebut, kini Rendra yang sudah wajahnya memerah tersebut, dengan kaki jenjangnya itu lari menarik baju jas milik Tuan Osman.


Brak.. Bruk..


Suara pukulan keras saat ini terlayang di wajah Tuan Osman sekarang. Keempat bodyguard itu tampaknya kalah cepat dengan Tuan Rendra yang mereka tidak jangka untuk melakukan hal tersebut.


Meringis saat ini Tuan Osman menerima pukulan itu. Dan sekarang keempat bodyguard itu mencoba menarik baju Rendra  yang sedang berada di atas  tubuh Tuan Osman  tersebut.


"Pria brengsek! kau yang melakukan hal keji!" umpat Rendra begitu geram lagi.


Fanni  begitu panik saat ini melihat situasi sekarang, dia pun tidak tahu apa masalah antara Rendra dan Osman yang tiba-tiba saja Rendra menghajar Osman tersebut.

__ADS_1


"Hentikan!!" teriak Fanni  saat ini.


Soraya  tampak tegang sekarang, dia pun tidak berani menghentikan apapun sekarang ini, hanya menjadi penonton budiman saja rasanya itu lebih cukup sekarang ini.


Melihat baju Rendra  yang ditarik oleh keempat bodyguard itu, langsung Robin turun tangan dan mencoba mengajari dan membantu Rendra tersebut.


Entah apa masalahnya Tio juga tidak tahu, namun yang dia tahu saat ini adalah kemarahannya harus dia luahkan sekarang juga.


Tanpa basa-basi dan aba-aba saat ini mereka bergumul, dengan cepat Fanni  masuk dan tampaknya dia menelpon polisi untuk segera hadir di lantai empat ini untuk mereraikan mereka.


Puk... pak..


Hantaman terkena mulut Tio sekarang, menjerit Soraya  melihatnya dan kemudian saat ini tampak Fanni  menelpon sekuriti bawah juga untuk mereraikan keadan sekarang.


Tak lama kemudian sekuriti itu pun mulai naik ke atas dan mereraikan mereka semua Tuan Osman  yang memang tampak lesu dan lebam-lebam itu kini dipisahkan sejenak.


Tampak memang Fanni  khawatir dengan lelaki keturunan Dubai tersebut. Dan kini mereka telah pun berdiri masing-masing.


Setelah mereka masing-masing memegangi wajah yang memar dan lebam itu, polisi pun yang telah di telpon oleh Fanni  saat ini telah pun naik ke ruangan itu dengan cepat.


"Apa benar disini terjadi keributan??" tanya salah seorang polisi tersebut.


"Benar pak, ini mereka semua yang membuat keributan disini, menghajar teman saya," jelas Fanni  kembali yang tampak menyudutkan Robi dan Rendra.


"Tidak pak, tidak begitu," pungkas Soraya  melakukan pembelaan untuk Rendra dan Tio.


"Nanti saja jelaskan di kantor, pelapor dan pihak yang bersangkutan, ikut kami semua ke kantor, dan jelaskan disana," ucap  Polisi itu.


Tampak dendam di mata Rendra  saat ini, masih saja menatap Tuan Osman yang di tuntun oleh para anggotanya itu sambil memegangi wajahnya yang lebam itu.


Mereka semua turun ke bawah, dengan menaiki lift san mencoba dengan cepat memasukan mereka semua di dalam mobil polisi.


Terkejut para bodyguard yang menunggu di bawah itu, mereka melihat bos mereka telah berdarah di area wajah tersebut. Dan mereka hanya mengikuti dari belakang mobil polisi itu.


Semua telah diringkus, kecuali Fanni  dan Soraya. Mereka menaiki mobil masing-masing saat ini. Fanni  yang tampaknya ingin saja melakukan sesuatu kepada Soraya  itu, namun kali ini bukan waktu yang tepat untuk dia melakukan kejahatan itu.


Akan ada perencanaan yang matang nantinya dia buat untuk Soraya  hancur! ucapnya sambil melanjukan stir.

__ADS_1


****


__ADS_2