
Saat ini juga, Soraya dan orangtua Tio masih berada di lantai bawah. Mereka tetap menemani Tuan Frans yang masih terbaring lemah itu.
Satu sisi lagi, Tio dan Rendra pergi ketempat dimana Tuan Osman saat ini berada, dan Tuan Osman yang tadi ingin lompat dari jendela tersebut sudah ketahuan dengan para penjaga disana.
Untung saja mereka sudah siap siaga untuk menyiapkan hal yang akan dilakukan Tuan Osman itu, dia yang terkejut karena ketahuan ingin melompat akhirnya jatuh juga, namun jatuhnya dibawah jaring yang sudah disiapkan oleh para penjaga tersebut.
Tio dan Rendra masih dalam perjalanan saat ini, mereka ingin cepat hal ini tuntas dan pengacara bisa langsung mengajukan tuntutan kepada mereka berdua, hal ini juga bisa membantu agar tanah tersebut kembali lagi kepada Derry sebagai ahli warisnya.
"Hei, ikat tangannya dan bawa dia kembali ke lantai atas!" Nada perintah itu terdengar dari kepala penjaga disana.
Beberapa orang mengikat kembali tangan Tuan Osman dengan cepat, dia yang saat ini sudah tampak pulih dari wajahnya yang kemarin lebam-lebam sekarang kondisinya tampak membaik.
Dan dengan cepat juga mereka kembali menyeret Tuan Osman untuk masuk kedalam. Satu sisi lagi, Derry masih berada dalam dekapan Fanni.
"Derr, bagaimana kondisi papa?" tanya Fanni dengan suara manja sambil tubuhnya bergelayut berdekatan dengan Derry.
"Fanni, jangan begini, ini rumah sakit, papamu akan sehat dan pulih Fanni, tenang saja," ucap Derry lagi mencoba berulang kali melepaskan pautan Fanni tersebut.
"Derr, kamu selalu bersama denganku kan?" tanya Fanni kembali.
"Iya, kamu tenang saja,"jawabnya.
Saat ini Derry bukan menunggu kedatangan dokter yang memeriksa papa Fanni tersebut, namun saat ini Derry menantikan kedatangan Rendra dan Tio yang membawa Tuan Osman kerumah sakit saat ini.
Mereka kembali mengunci Tuan Osman disana, dan saat ini juga Rendra dan Tio telah pun sampai di tempat itu juga.
Para penjaga membukakan pintu untuk mereka berdua. Tio dan Rendra meminta para penjaga itu membawakan Tuan Osman ke hadapan mereka.
"Tuan Tio, tadi pria itu mencoba kabur, dan baru saja kami amankan kembali," ucap kepala penjaga itu.
"Kabur? Bagaimana dia bisa berpikir untuk kabur? Apa kalian tidak menguncinya dengan benar?" tanya Tio saat ini.
"Sudah Tuan, tapi dia berani-beraninya lompat dari jendela, untung saja cctv yang sudah diberi pengaman jika ada yang berbahaya akan berbunyi, itulah mengapa kami segera siaga dan melacak dari mana datang bahaya itu, ternyata dari pria itu yang tubuhnya setengah ingin melompat."
"Lalu, keadaannya saat ini bagaimana?" tanya Rendra pula.
Mereka takut, kalau sampai Tuan Osman mengalami hal buruk atau tidak sadarkan diri, maka dia akan susah dimintai kesaksian.
Itulah mengapa mendengar kabar seperti ini mereka sangat khawatir dan saat ini juga penjaga tersebut kembali menjelaskan dengan mereka.
"Tenang saja Tuan, kami sebelum dia menjatuhkan tubuhnya itu, kami telah meletakkan jaring-jaring dibawah, dan dia tidak terjadi apapun saat ini."
__ADS_1
"Baiklah, cepat bawa dia kesini," ucap Tio memerintahkan penjaga itu.
Kepala penjaga tersebut saat ini juga, langsung menelpon anak buahnya berada diatas yang menjaga pintu kamar itu.
"Bawakan pria itu turun sekarang!"
"Baik bos."
Kedua penjaga pintu itu langsung membukakan pintu tersebut dan saat ini tubuh Tuan Osman yang sudah diikat tali itu, dia tampak lagi dan lagi ingin mencoba melakukan pelepasan dirinya.
"Hei, jangan melawan, ayo cepat jalan!" Kedua penjaga itu membawa turun Tuan Osman saat ini.
"Mau kemana kita?" tanya Osman dengan panik.
"Jangan banyak bertanya, kau sebentar lagi akan selamat," ucap mereka saat ini tertawa kecil.
Dari ucapan yang sengaja itu, membuat Tuan Osman semakin merasa resah dan gelisah saat ini.
Suasana hampir siang saat ini, satu sisi lagi Soraya sangat mengkhawatirkan keadaan Derry diatas sana, namun ibu Tio berulang kali memberinya semangat dan dorongan yang tinggi.
"Soraya, kamu jangan khawatir, ibu yakin Derry akan bisa menangkap wanita licik itu, yakinlah," ucapnya sambil memeluk Soraya.
Keadaan hamil seperti ini membuat emosi Soraya sedikit kurang stabil. Rasa khawatir yang begitu amat besar, karena memang itu bawaan bayi.
"Tio, maafkan aku, aku tidak ingin masuk penjara," ucapnya minta belas kasihan dan memohon.
Sedangkan Rendra menatapnya dengan tatapan yang sangat menjijikan saat ini. Rasanya Rendra ingin menghabisi Tuan Osman disini dan sekarang ini juga.
"Oh..sekarang kau pandai untuk memohon, apa kau tidak ingat dengan segala perbuatan dosamu!" umpat Rendra dengan sangat kesalnya.
"Ren, tahan! Bukan waktunya untuk menghabisi pria ini!" ucap Tio yang tampak menahan tubuh Rendra.
"Cepat, bawa dia masuk kedalam, dan pastikan tangan dan kakinya terikat kuat saat ini!" Rendra dengan geramnya memerintahkan para penjaga itu.
"Baik Tuan," jawab Mereka.
Tuan Osman pun langsung dimasukkan ke dalam mobil itu, Tio dan Rendra dengan cepat juga masuk kedalam dan melajukan mobil tersebut ke arah rumah sakit saat ini.
Satu sisi lagi sekarang, Derry yang sangat khawatir saat ini mencoba untuk menghindari FanniĀ dan berkata dia ingin ke kamar mandi sebentar.
Karena Derry merasa sangat lama mendapatkan kabar dari Rendra dan Tio tersebut, dia pun ingin menghubungi mereka di kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, aku kekamar mandi dulu ya," ucap Derry.
"Ya Sudah Derr, jangan lama-lama," jawabanya.
"Iya tunggulah disini sebentar saja," ucap Derry lalu berjalan dengan cepat.
Dari tadi Fanni sudah cukup menunggu lama, namun dokter yang memeriksa papanya tersebut masih tak kunjung keluar juga.
Dan saat ini pula, Derry yang sudah masuk kedalam kamar mandi itu, dengan cepat dia menghubungi nomor Tio disana.
Namun, Fanni yang merasa sangat haus, dia pun berencana untuk membeli minuman kebawah sebentar, menunggu Derry rasanya dia tidak sabar, dia biarkan Derry di kamar mandi, dan dia turun kebawah untuk pergi ke restoran yang ada di bawah rumah sakit tersebut.
Sedangkan satu sisi lagi, Rendra dan Tio yang sudah berada di tengah perjalanan itu mendapat panggilan mendadak dari Derry saat ini.
"Ren, tolong kau jawab," ucap Tio meminta Rendra menjawab panggilan itu.
Sedari tadi Derry sengaja mematikan ponselnya, agar tidak ada siapapun yang menghubungi dirinya dan bisa membuat Fanni curiga.
"Derr, ada apa?" tanya Rendra saat ini.
"Kalian sudah dimana?" tanya Derry lagi.
"Kami sudah di tengah perjalanan Derr, bersabarlah, dan awasi terus wanita itu!" ucap Rendra saat ini.
"Tenanglah Ren, dia tidak ada menaruh kecurigaan apapun denganku, bersabarlah," sahut Derry kembali.
"Oke, bye hati-hati kalian di jalan," ucap Derry lagi.
Panggilan pun ditutup oleh Derry dengan cepat, dia tidak ingin saat ini Fanni mencurigainya karena sedikit lama berada dalam kamar mandi sekarang ini, kemudian melihat wajahnya di kaca, dan membuat dirinya yakin akan selesai masalahnya sekarang juga.
Setelah saat ini juga, Derry yang hampir sampai di depan ruangan dimana Papa Fanni itu dirawat, wajahnya terlihat terkejut dan mulai merasa panik saat ini.
"Dimana dia? Dimana Fanni?" ucap Derry sangat panik.
Derry panik karena melihat Fanni tidak ada di tempat duduknya saat ini, dia mencoba membuka ponselnya dan menghubungi Fanni disana.
Panggilan itu dengan cepat terhubung saat ini, namun masih belum ada sahutan dari Fanni.
Akankah Fanni terlepas?
Terima kasih untuk pembaca setiaku sejauh ini kalian luar biasa membaca tulisan recehku ini, semoga kalian selalu suka dan komentar yang baik-baik serta jangan lupa memberikan dukungan untuk saya terus semangat.
__ADS_1
***