
Setelah pulang dari kantor polisi itu, mereka semua berpencar, Rendra dan Tio juga berbeda arah saat ini.
Rendra dia langsung berpamitan untuk pulang ke rumahnya, sedangkan Tio dia pun Kembali ke kantornya. Saat ini juga, Derry Kembali kerumah sakit untuk menemui Papanya disana dan Soraya.
Dengan begitu laju Rendra mengendarai mobilnya tersebut, dia pun sampai di rumahnya dengan waktu setengah jam lebih saat ini. Begitu sampai, Rendra langsung turun dan dia masuk kedalam rumahnya itu dengan cepat.
Suasana rumah tampak sunyi, tidak ada suara apapun disana, dia mencoba naik ke kamarnya namun Tsania masih tidak terlihat saat ini, dia mencoba memanggil Tsania kembali.
Mencarinya ke segala ruangan, hingga saat ini dia keruangan televisi, dan nafasnya mulai lega saat melihat Tsania terbaring di sana.
"Huh..kamu bikin khawatir saja," ucap Rendra dalam hatinya.
Dia pun mengangkat tubuh Tsania saat ini, dia ingin memindahkan Tsania ke kamar, karena sekarang jam terlihat sudah pukul tiga sore.
Tampaknya Tsania merasa kelelahan hari ini, entah apa yang dia lakukan sampai dia tertidur di ruangan televisi itu. Baru setengah perjalanan menuju kamar mereka, Tsania terbangun, dia sangat terkejut karena tubuhnya merasa terlayang.
"Auh..dimana aku?" tanyanya yang hampir jatuh tersebut dia pun dengan cepat merangkul leher Rendra.
"Haha, siapa suruh tidur di ruangan televisi," ucap Rendra yang terkekeh dengan santai.
"Ish..kamu pulang kok gak bilang-bilang!" umpat Tsania kesal.
"Aku tadi sudah keliling rumah ini, sudah teriak-teriak juga tapi kamu gak nyaut sama sekali, bikin khawatir aja!" ucap Rendra dan mulai membuka pintu kamar mereka.
Satu sisi lagi Derry telah sampai di rumah sakit itu, dia langsung menemui Soraya di ruangan dimana Papanya dirawat saat ini.
"Derry!" ucap mereka dengan serentak.
"Papa, gimana sekarang kondisi papa? Apa udah mendingan?" Tanya Derry saat ini.
"Derry, papa sudah gak apa-apa. Gimana tentang tadi, apa tanah itu bisa kamu dapatkan kembali?" tanya Tuan Frans saat ini.
__ADS_1
"Dua hari lagi akan diadakan sidang pa, mereka berdua akan memberikan kesaksian atas perbuatan mereka itu, mudah-mudahan kita mendapatkan harta mama kembali," ucap Derry penuh semangat.
"Syukurlah kalau begitu, mereka berdua pantas mendapatkan hukuman seperti itu, dan bagaimana saat ini kondisi papa Fanni?" tanya Papa Derry sekarang.
"Oh iya, Derry kesana dulu ya Pa, Derry akan urus biaya pria malang itu," ucapnya.
"Derry, biarkan aku ikut bersamamu," ucap Soraya yang ingin mendampingi suaminya itu.
"Iya Derry, dari tadi istri kamu sudah khawatir dan tidak sabar mau bertemu kamu, sudah kalian pergi liat papa Fanni dulu, biar papa kamu kami yang jagain dulu," ucap orangtua Tio saat ini.
Derry dan Soraya hanya tersenyum saja saat ini. Apa yang dikatakan ibu Tio barusan memanglah benar, entah mengapa saat-saat ini Soraya selalu ingin dekat bersama suaminya tersebut.
Mereka berdua keluar dari ruangan Tuan Frans itu dengan cepat menuju lantai atas dimana papa Fanni sedang dirawat saat ini.
Yang Derry tahu adalah papa Fanni tidak memiliki harta sepeserpun sekarang, hidupnya sebatang kara, apalagi Fanni saat ini sudah masuk penjara, pria malang itu juga pernah dekat dengan Derry, itulah mengapa Derry merasa ingin membantunya.
Urusan Derry dengan Fanni, itu tidak ada sangkut pautnya dengan papanya itu. Untuk hal apapun papanya tidak layak disalahkan dan menjadi korban kebencian Derry saat ini.
Begitu mereka sampai, tampak dalam ruangan itu sudah tidak ada seorang dokter lagi saat ini, dan bahkan tidak ada pasien di dalamnya.
"Entahlah Derry, lebih baik kita tanyakan kepada dokter saja, ayo kita keruangan dokter sekarang," ucap Soraya dengan cepat menarik tangan suami itu.
Mereka berdua jalan dengan cepatnya menuju ruangan dokter tersebut dan saat ini juga Derry dan Soraya tampak kebingungan, mereka berpikir bahwasanya Papa nilai tersebut telah ada seseorang yang memindahkan dirinya.
Saat ini juga mereka berdua telah sampai di depan ambang pintu ruangan dokter yang sempat menangani papan nilai tersebut. dengan cepat Soraya dan Derry masuk ke dalamnya dan mereka langsung bertanya kepada dokter itu di mana Papa Fanni berada saat ini.
"Pak Derry, anda dari mana saja?" tanya Dokter itu yang sedari tadi ternyata menunggu Derry juga.
"Dok, maafkan saya, tadi saya sedang ada urusan mendadak, jadi dimana pasien yang tadi dok?" tanya Derry dengan khawatirnya.
"Pak Firhat maksud anda bukan?" Tanya Dokter itu ingin memastikan dan Derry mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Maaf pak Derry, pasien atas nama Pak Firhat saat ini telah pun meninggal dunia, kami tidak bisa menyelamatkan dirinya, dia terkena serangan jantung yang cukup parah hingga sulit untuk tertolong," jelas dokter itu kepada Derry.
Mendengar hal itu Derry dan Soraya saat ini merasa jantung mereka berdebar sangat kuat, baru saja mereka berdua berencana ingin menolong kehidupan Papa Fanni tersebut namun ternyata dia telah pun meninggal dunia karena tidak bisa diselamatkan lagi oleh dokter itu.
Saat ini juga Derry dan Soraya tampak diam saling berpandangan dan tampak tidak percaya dengan kenyataan yang mereka hadapi saat ini, pasalnya nya juga mereka takut Fanni akan menuduh yang tidak-tidak nantinya.
"Dok, bagaimana ini dok, anak bapak itu sedang dalam penjara, apakah kami bersalah kalau membantu mengurus pemakamannya?" tanya Derry saat ini dengan cepat.
"Oh itu tidak masalah pak Derry, jika kemudian hari anak korban menuntut mungkin saja bisa menuduh pak Derry melakukan pembunuhan atau tuduhan semacam itu, pihak rumah sakit akan membantu pak Derry untuk memberikan daftar riwayat penyakit pasien ini kalau dia memang real terkena serangan jantung," jelas Dokter tersebut.
"Baiklah kalau begitu Dok, saya dan keluarga saya akan membawa pulang jenazah itu, dan kami akan mengurus segala pemakannya," ucap Derry saat ini.
"Baiklah pak Derry, saya turut berduka, semoga kalian semua diberikan ketabahan," ucap Dokter itu lagi.
Derry dan Soraya pun setelah berbicara dan mengetahui kebenaran ini mereka langsung keluar dari ruangan dokter itu dan menuju ke ruangan di mana Papa Derry dirawat saat ini.
Derry maupun Soraya mereka berdua tampak tidak sabar untuk memberitahukan kepada Tuan Frans mengenai kematian Papa Fanni yang mereka tidak sangka sangka kan itu.
Setelah ini mereka yang sampai dengan cepat di dalam ruangan Tuan Frans itu dengan wajah yang tampak sedih membuat ketiga orang tua itu merasa bingung dan bertanya-tanya.
Tuan Frans mulai membuka suaranya dan bertanya kepada Derry apa yang telah terjadi kepada papa Fanni tersebut.
"Derry,bagaimana keadaan papa Fanni saat ini? "Tanya Tuan Frans kepada anaknya tersebut.
Derry tampak sulit menjawab hal itu dia pun sedikit tergagap karena wajahnya pucat dan dia tampak sedikit kasihan dengan nasib malang yang dialami oleh Papa Fanni tersebut.
Di ujung umurnya saat ini papa Fanni malah meninggal dengan sendirinya tanpa didampingi oleh orang-orang yang dia sayangi.
"Pa, kami baru saja keruangan dokter tadi, dokter bilang papa Fanni saat ini sudah tiada," ucap Derry dengan raut wajah yang sedih.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun," Bersamaan ketiga orang tua itu.
__ADS_1
Mereka semua terkejut, dan kasihan juga kepada Tuan Farhat, namun inilah nasibnya dan takdir itu harus tetap diterima.
***