
"Apa? tidak mungkin!" ucap Tuan Frans dengan mata terbelalak saat ini.
"Tapi inilah kenyataannya Om, dan Om mau tahu lagi? ucap Tio yang selalu membuat Tuan Frans penasaran.
"Apalagi itu Tio?" tanya Tuan Frans lagi.
"Kemarin aku dan Rendra memukuli pria itu," ucap Tio kembali membuat ekspresi yang menahan geram.
"Apa? kenapa bisa begitu?" tanya Tuan Frans kembali.
"Ya, waktu itu aku dan Soraya ingin menyuruh Fanni menghadiri meeting bersama dengan pihak investor, dan kami dihadang oleh empat orang bertubuh besar di depan pintu ruangan Fanni yang terkunci itu, bahkan kami sempat berkelahi dengan empat orang itu."
"Dan aku tidak tahu tiba-tiba Rendra datang dari arah lift, dia juga berpikir ingin menemuiku sebelum bergabung di ruang meeting, bahkan dia yang melihatku saat itu sedang dihadang, langsung membantuku menghadapi mereka, keributan itu berlangsung lama."
"Dan saat itu Tuan Osman membuka pintu itu, di susul oleh Fanni juga di belakangnya, dan saat lelaki itu ingin berpamitan, Rendra tiba-tiba menarik kerah baju pria itu, dan menghajarnya," jelas Tio kembali.
"Tio, Om merasa ada yang janggal saat ini, ayo kita ke kantor sekarang," ucap Tuan Frans yang sedari tadi mendengarkan penjelasan Tio.
"Iya Om, ayo sekarang," jawab Tio cepat dan bangkit dari tempat duduk itu.
Sedangkan Nyonya besar yang telah membuka pintu itu tidak sempat melihat Fanni dan Tuan Osman bersama saat inu, tempat duduk mereka pun tampak formal saat ini.
"Mama!" ucap Fanni pura-pura terkejut.
"Fanni, siapa pria ini?" tanya Mama Derry lagi.
"Klien kita Ma! kenalkan namanya Tuan Osman, dia yang memiliki pabrik tekstil yang menyewa tanah kita," jelas Fanni kembali.
"Oh.. benarkah, oke sepertinya mama mengganggu kalian, lanjutkan saja! mama mau ke restoran dulu, nanti mama kesini lagi," ucap mama Derry itu kembali meninggalkan mereka.
Fanni dan Tuan Osman menghempaskan nafas lega saat ini. Benar saja, Tuan Osman lupa untuk mengunci pintu tersebut, untungnya lagi mereka bisa cepat memperbaiki semuanya.
Dan tampak wajah percaya saja dengan Fanni tersebut. Nyonya besar merasa lega, dia berpikir Fanni memang bisa diandalkan, bahkan para penyewa pun bisa dia atasi, pikir mama Derry saat ini.
Dan kemudian dia pun turun dengan lift lagi sekarang. Nyonya besar rasanya memang sudah lama tidak mendatangi kantornya ini, dia pun sekarang singgah di restoran yang terdekat dengan perusahaannya itu.
Sekarang Tuan Frans dan dan Tio telah pun sampai di parkiran perusahaan tersebut. Nyonya besar yang saat ini ingin melangkah di hentikan oleh Tuan Frans dan Tio yang melihatnya.
__ADS_1
"Ma, mau kemana?" teriak Tuan Frans dengan kuat.
"Papa, Tio! mama mau ke restoran sana dulu," ucapnya.
"Ma, ada yang harus papa beritahukan kepada Mama, ini penting dan menyangkut perusahaan kita," ucap Tuan Frans kembali.
"Kita? perusahaan kita telah dibagi dua, jadi urus saja perusahaan Papa," ucapnya cuek dan kemudian mempercepat langkahnya.
"Tante tunggu! ini tentang Fanni!" teriak Tio kembali.
"Ada apa dengan Fanni? kalian ingin memfitnahnya?" tanya mama Derry itu.
"Ma, dengarkan Tio dulu, jangan sampai nanti mama menyesal," ucap Tuan Frans.
"Mama hanya mempercayai Fanni, kalian berdua pasti sudah di pengaruhi oleh wanita perebut itu!" ucapnya dengan tegas dan dia pun mengabaikan mereka berdua kembali.
"Tio, biarkan tantemu seperti itu, sekarang kita harus naik ke atas dan menemui Fanni, kita harus usut dan tanya mengenai sewa lahan," ucap Tuan Frans dengan cepat.
Mereka berdua pun dengan cepat naik ke lantai dimana Fanni menjadi CEO disana. perusahaan itu berantakan, semua para staf terbagi-bagi sekarang.
Para staf yang mengikuti Fanni terkejut dengan kedatangan Tuan Frans saat ini, pasalnya Fanni mengatakan yang dikelola Tio akan bangkrut, mereka semua pun mengikuti Fanni dan meninggalkan Tio.
Tanpa mengetuk pintu saat ini, Tuan Frans dan Tio menerobos masuk, untung saja mereka juga masih tidak mengunci pintu itu, terkejut Fanni dan Tuan Osman saat ini.
Tuan Osman bangkit, dan dia mencoba ingin menghindari kedua pria ini, dia pun tampak membenarkan jasnya, kemudian dia bangkit berpamitan dengan Fanni.
Fanni hanya membalas dengan anggukan saja, ketika Tuan Osman melewati Tio, tangan Tio tampak memberikan isyarat kepadanya.
"Berhenti!" ucap Tio tegas membuat Fanni terkejut.
"Tio, kau jangan ikut campur, itu klienku!" ucap Fanni dengan cepat.
"Oh.. Klien!" ucap Tuan Frans menyahutnya.
"Iya Pa, dia Klien Fanni, dan dia yang mempunyai pabrik tekstil yang menyewa tanah mama," ucap Fanni yang seolah menjelaskan kepada Tuan Frans.
"Baiklah, duduklah dulu disini wahai klien Fanni!" ucap Tuan Frans lagi.
__ADS_1
"Tuan Osman pun membalikkan badannya, dia pun duduk bersama dengan Tuan Frans dan Tio menghadap Fanni saat ini.
"Kau yang bernama Tuan Osman?" tanya Tuan Frans dengan santai nya.
Hanya di balas anggukan saja dengan Tuan Osman, Tio mundur seketika, dia membiarkan Tuan Osman dan Tuan Frans berbicara di saksikan oleh Fanni juga saat ini.
Sedangkan Tio berdiri di belakang Tuan Odman sekarang, dan Tio telah pun memberikan pesan kepada Tuan Rendra juga, tampaknya mereka telah pun membuat rencana dengan sengaja menangkap Tuan Osman sekarang.
" Kalau begitu, berapa banyak hari ini uang sewa yang telah kau setor dengan Fanni? kupikir pabrik tekstilmu itu begitu besar bukan?" tanya Tuan Frans menyiasat.
Wajah Tuan Osman bingung untuk menjawabnya saat ini. Dia pun tampak ragu-ragu mengatakan itu, melihat itu Fanni menjawabnya dengan cepat.
"Lima miliar!" ucap Fanni dengan tegas.
"Wah, jumlah yang banyak, boleh aku lihat surat-surat tanah yang Tuan Osman sewa?" tanya Tuan Frans saat ini.
Tuan Osman dan Fanni saling melirik sekarang, mereka ingin mengambil semuanya dan membuat perusahaan di negara asal Tuan Osman, mereka berdua akan lari bersama membawa harta kekayaan milik mama Derry itu.
Fanni yang sekarang ini merasa dirinya tidak memiliki siapapun selain Tuan Osman, dia pun malam itu menyetujui ingin menikah secara diam-diam bersama Tuan Osman, dan memulai hidup baru membuat perusahaan di luar negri.
Saat ini keduanya saling diam, mama Derry yang sedari tadi di restoran memikirkan ucapan suaminya dan Tio, terbesit rasa penasaran saat ini.
Kata mereka tentang Fanni, apa maksudnya? tanya besar di kepala mama Derry.
Dia pun saat ini mencoba kembali ke ruangan Fanni, dan kemudian dia ingin menemui Tio dan suaminya itu.
Sedangkan Tuan Rendra saat ini telah pun datang membawa pihak kepolisian dan pengacara mengenai hal ini. Tuan Rendra yang beberapa hari ini telah menyelidiki Tuan Osman dan Fanni, itu lah mengapa dia mengetahui rencana jahat mereka tersebut.
"Kenapa kau diam Fanni?" tanya Tuan Frans saat ini.
"Iya sabar Om, aku akan mencarinya terlebih dahulu," ucap Fanni mencari alasan.
"Mencarinya? bukankah baru saja klien mu ini datang untuk membayar? mana ceknya? dan nama dokumennya semua?" tanya Tuan Frans terus tampak menyudutkan.
"Ada apa ini?" tanya mama Derry yang tiba-tiba masuk dengan wajah yang tampak tidak menyukai kehadiran suaminya dan Tio disini.
"Ma, kemarilah," ucap Tuan Frans saat ini.
__ADS_1
***