90 DAYS

90 DAYS
OSMAN TERCIDUK


__ADS_3

"Apa? tidak mungkin!" ucap Tuan Frans  dengan mata terbelalak saat ini.


"Tapi inilah kenyataannya Om, dan Om mau tahu lagi? ucap Tio yang selalu membuat Tuan Frans  penasaran.


"Apalagi itu Tio?" tanya Tuan Frans  lagi.


"Kemarin aku dan Rendra  memukuli pria itu," ucap Tio kembali membuat ekspresi yang menahan geram.


"Apa? kenapa bisa begitu?" tanya Tuan Frans  kembali.


"Ya, waktu itu aku dan Soraya  ingin menyuruh Fanni  menghadiri meeting bersama dengan pihak investor, dan kami dihadang oleh empat orang bertubuh besar di depan pintu ruangan Fanni  yang terkunci itu, bahkan kami sempat berkelahi dengan empat orang itu."


"Dan aku tidak tahu tiba-tiba Rendra  datang dari arah lift, dia juga berpikir ingin menemuiku sebelum bergabung di ruang meeting, bahkan dia yang melihatku saat itu sedang dihadang, langsung membantuku menghadapi mereka, keributan itu berlangsung lama."


"Dan saat itu Tuan Osman  membuka pintu itu, di susul oleh Fanni  juga di belakangnya, dan saat lelaki itu ingin berpamitan, Rendra  tiba-tiba menarik kerah baju pria itu, dan menghajarnya," jelas Tio kembali.


"Tio, Om merasa ada yang janggal saat ini, ayo kita ke kantor sekarang," ucap Tuan Frans  yang sedari tadi mendengarkan penjelasan Tio.


"Iya Om, ayo sekarang," jawab Tio cepat dan bangkit dari tempat duduk itu.


Sedangkan Nyonya besar  yang telah membuka pintu itu tidak sempat melihat Fanni  dan Tuan Osman  bersama saat inu, tempat duduk mereka pun tampak formal saat ini.


"Mama!" ucap Fanni  pura-pura terkejut.


"Fanni, siapa pria ini?" tanya Mama Derry  lagi.


"Klien kita Ma! kenalkan namanya Tuan Osman, dia yang memiliki pabrik tekstil yang menyewa tanah kita," jelas Fanni  kembali.


"Oh.. benarkah, oke sepertinya mama mengganggu kalian, lanjutkan saja! mama mau ke restoran dulu, nanti mama kesini lagi," ucap mama Derry  itu kembali meninggalkan mereka.


Fanni dan Tuan Osman  menghempaskan nafas lega saat ini. Benar saja, Tuan Osman  lupa untuk mengunci pintu tersebut, untungnya lagi mereka bisa cepat memperbaiki semuanya.


Dan tampak wajah percaya saja dengan Fanni  tersebut. Nyonya besar  merasa lega, dia berpikir Fanni  memang bisa diandalkan, bahkan para penyewa pun bisa dia atasi, pikir  mama Derry  saat ini.


Dan kemudian dia pun turun dengan lift lagi sekarang.  Nyonya besar  rasanya memang sudah lama tidak mendatangi kantornya ini, dia pun sekarang singgah di restoran yang terdekat dengan perusahaannya itu.


Sekarang Tuan Frans  dan dan Tio telah pun sampai di parkiran perusahaan tersebut. Nyonya besar  yang saat ini ingin melangkah di hentikan oleh Tuan Frans  dan Tio yang melihatnya.

__ADS_1


"Ma, mau kemana?" teriak Tuan Frans  dengan kuat.


"Papa, Tio! mama mau ke restoran sana dulu," ucapnya.


"Ma, ada yang harus papa beritahukan kepada Mama, ini penting dan menyangkut perusahaan kita," ucap Tuan Frans  kembali.


"Kita? perusahaan kita telah dibagi dua, jadi urus saja perusahaan Papa," ucapnya cuek dan kemudian mempercepat langkahnya.


"Tante tunggu! ini tentang Fanni!" teriak Tio kembali.


"Ada apa dengan Fanni? kalian ingin memfitnahnya?" tanya mama Derry  itu.


"Ma, dengarkan Tio dulu, jangan sampai nanti mama menyesal," ucap Tuan Frans.


"Mama hanya mempercayai Fanni, kalian berdua pasti sudah di pengaruhi oleh wanita perebut itu!" ucapnya dengan tegas dan dia pun mengabaikan mereka berdua kembali.


"Tio, biarkan tantemu seperti itu, sekarang kita harus naik ke atas dan menemui Fanni, kita harus usut dan tanya mengenai sewa lahan," ucap Tuan Frans  dengan cepat.


Mereka berdua pun dengan cepat naik ke lantai dimana Fanni  menjadi CEO disana. perusahaan itu berantakan, semua para staf terbagi-bagi sekarang.


Para staf yang mengikuti Fanni  terkejut dengan kedatangan Tuan Frans  saat ini, pasalnya Fanni  mengatakan yang dikelola Tio  akan bangkrut, mereka semua pun mengikuti Fanni  dan meninggalkan Tio.


Tanpa mengetuk pintu saat ini, Tuan Frans  dan Tio menerobos masuk, untung saja mereka juga masih tidak mengunci pintu itu, terkejut Fanni  dan Tuan Osman  saat ini.


Tuan Osman  bangkit, dan dia mencoba ingin menghindari kedua pria ini, dia pun tampak membenarkan jasnya, kemudian dia bangkit berpamitan dengan Fanni.


Fanni  hanya membalas dengan anggukan saja, ketika Tuan Osman  melewati Tio, tangan Tio tampak memberikan isyarat kepadanya.


"Berhenti!" ucap Tio tegas membuat Fanni  terkejut.


"Tio, kau jangan ikut campur, itu klienku!" ucap Fanni  dengan cepat.


"Oh.. Klien!" ucap Tuan Frans  menyahutnya.


"Iya Pa, dia Klien Fanni, dan dia yang mempunyai pabrik tekstil yang menyewa tanah mama," ucap Fanni yang seolah menjelaskan kepada Tuan Frans.


"Baiklah, duduklah dulu disini wahai klien Fanni!" ucap Tuan Frans lagi.

__ADS_1


"Tuan Osman  pun membalikkan badannya, dia pun duduk bersama dengan Tuan Frans  dan Tio menghadap Fanni  saat ini.


"Kau yang bernama Tuan Osman?" tanya Tuan Frans  dengan santai nya.


Hanya di balas anggukan saja dengan Tuan Osman, Tio mundur seketika, dia membiarkan Tuan Osman dan Tuan Frans  berbicara di saksikan oleh Fanni  juga saat ini.


Sedangkan Tio berdiri di belakang Tuan Odman sekarang, dan Tio telah pun memberikan pesan kepada Tuan Rendra  juga, tampaknya mereka telah pun membuat rencana dengan sengaja menangkap Tuan Osman sekarang.


" Kalau begitu, berapa banyak hari ini uang sewa yang telah kau setor dengan Fanni? kupikir pabrik tekstilmu itu begitu besar bukan?" tanya Tuan Frans  menyiasat.


Wajah Tuan Osman  bingung untuk menjawabnya saat ini. Dia pun tampak ragu-ragu mengatakan itu, melihat itu Fanni  menjawabnya dengan cepat.


"Lima miliar!" ucap Fanni  dengan tegas.


"Wah, jumlah yang banyak, boleh aku lihat surat-surat tanah yang Tuan Osman  sewa?" tanya Tuan Frans  saat ini.


Tuan Osman  dan Fanni  saling melirik sekarang, mereka ingin mengambil semuanya dan membuat perusahaan di negara asal Tuan Osman, mereka berdua akan lari bersama membawa harta kekayaan milik mama Derry  itu.


Fanni  yang sekarang ini merasa dirinya tidak memiliki siapapun selain Tuan Osman, dia pun malam itu menyetujui ingin menikah secara diam-diam bersama Tuan Osman, dan memulai hidup baru membuat perusahaan di luar negri.


Saat ini keduanya saling diam, mama Derry  yang sedari tadi di restoran memikirkan ucapan suaminya dan Tio, terbesit rasa penasaran saat ini.


Kata mereka tentang Fanni, apa maksudnya? tanya besar di kepala mama Derry.


Dia pun saat ini mencoba kembali ke ruangan Fanni, dan kemudian dia ingin menemui Tio dan suaminya itu.


Sedangkan Tuan Rendra  saat ini telah pun datang membawa pihak kepolisian dan pengacara mengenai hal ini. Tuan Rendra  yang beberapa hari ini telah menyelidiki Tuan Osman  dan Fanni, itu lah mengapa dia mengetahui rencana jahat mereka tersebut.


"Kenapa kau diam Fanni?" tanya Tuan Frans  saat ini.


"Iya sabar Om, aku akan mencarinya terlebih dahulu," ucap Fanni  mencari alasan.


"Mencarinya? bukankah baru saja klien mu ini datang untuk membayar? mana ceknya? dan nama dokumennya semua?" tanya Tuan Frans  terus tampak menyudutkan.


"Ada apa ini?" tanya mama Derry  yang tiba-tiba masuk dengan wajah yang tampak tidak menyukai kehadiran suaminya dan Tio disini.


"Ma, kemarilah," ucap Tuan Frans  saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2