
Sore ini Fanni telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit itu. Fanni pun menyetujuinya saat ini. Dia berpamitan dengan Mama Derry dan Tuan Frans yang tampak berada di sana.
Tuan Frans yang tidak bisa berbuat apa-apa itu hanya bisa tersenyum kepada Fanni dengan wajah yang begitu sangat datar tersebut.
Dan kini Fanni pulang dengan dijemput oleh Papanya tersebut. Menuju rumahnya itu Fanni tersenyum puas saat ini, ketika dia di beritahukan bahwa Mama Derry telah pun mengusir Soraya dari rumah besar tersebut.
Kemudian sekarang Fanni mencoba menghubungi Tuan Osman yang telah memberikan surat perjanjian atas hal tersebut. Jika memang Fanni tidak berhasil dalam membujuk Derry agar menjual tanah tersebut, maka Fanni akan di penjara dan di buat malu oleh Tuan Osman tersebut.
Ketakutan Fanni begitu kuat saat ini, hingga dia masih saja ingin menghubungi Tuan Osman tersebut, dan tampak layar ponsel Fanni tersebut panggilan telah pun terhubung.
"Halo Fanni sayang, bagaimana kabarmu??" tanya Tuan Osman lagi.
"Aku baik, kumohon padamu Osman, hapus semua itu, sebentar lagi aku akan memberikan tanah itu padamu," ucap Fanni lagi panjang lebar.
"Wah, wah, wah... kabar baik ternyata hari ini yang kudapatkan, kau benar-benar bisa diandalkan. Tapi... sebelum itu berhasil, jangan berharap foto itu akan kuhapus," jelasnya lagi.
"Hm.. baiklah, aku akan segera mempercepat itu," ucap Fanni lalu panggilan itu pun berakhir.
Tuan Osman tersenyum puas saat ini. Melihat kondisi Fanni yang masih koma, dimanfaatkan Fanni untuk membujuk Mama Derry tersebut agar Fanni bisa bekerja di perusahaan mereka tersebut.
Fanni ingin mengambil posisi Tio sebagai dewan direksi perusahaan itu, karena Tio sekarang adalah CEO di sana. Membujuk Mama Derry sangat lah mudah dilakukan Fanni , hari ini Fanni pun mempersiapkan segalanya.
Besok hari selasa, dia akan menunjukkan siapa dirinya di kantor tersebut. Dia pun sudah tau kalau Soraya tidak berada di sana lagi, jadi dengan mudah bagian keuangan pun bisa di masukinya, pikir Fanni lagi saat ini.
Tuan Osman pula sudah tidak memikirkan sekretaris tersebut, yang ingin menjadi tawanannya, dan agar perusahaan itu memberikan tanah itu, dengan mengancam Fanni rasanya ini sudah lebih cukup untuk dia bisa nanti berkuasa.
Fanni yang licik itu, sore ini mempersiapkan baju kerjanya untuk di pakai besok di kantor. Posisi Fanni ini masih dirahasiakannya sebelum dia memijak kantor tersebut. Dan kemudian itu Soraya telah berencana sepulang dari kantor dia akan menjenguk Tsania yang katanya sakit tersebut.
Tuan Frans hampir tidak bisa pergi kemana-mana selama Derry sakit dan terbaring lemah ini. Cukuplah dulu kehilangan putri semata wayang mereka, dan kali ini sangat takut kehilangan pewaris tunggal perusahaan itu.
__ADS_1
"Pa, mama sudah memberikan izin kepada Fanni agar dia bekerja besok di perusahaan kita," ucap Nyonya besar tiba-tiba membuka suaranya.
Ya! Tuan Frans yang baru sampai disana memang tidak tahu apa-apa mengenai ini, karena Fanni sudah dikabarkan pulang ke rumahnya, dan baru itu lah Tuan Frans datang kembali ke sini.
Terkejut wajah Tuan Frans tersebut, mendengar ucapan sang istri yang tampaknya tidak berbincang terlebih dahulu dengan nya sekarang, istrinya itu banyak berubah saat ini.
"Ma, kenapa mama sembarangan menyetujui itu??" tanya Tuan Frans lagi.
"Pa, ini Fanni, bukan orang lain! jadi.. biarlah Pa, dia menduduki posisinya Tio sebagai dewan direksi kita," jelas mama Derry yang tampak masih ngotot tersebut.
"Ma, tidak semudah itu menjadi dewan direksi Ma, dan Fanni tidak ada pengalaman sama sekali dalam hal itu, ini akan bahaya Ma," jelas Tuan Tio lagi.
"Pa, Tio ada Pa! dia bisa membantu Fanni dan itu akan sangat mudah, tenang saja," ucap Mama Derry lagi.
"Tidak Ma, tidak bisa!!" wajah Tuan Frans kali ini menahan amarah terhadap istrinya.
Posisi menjadi dewan direksi itu sangat penting, dan adapun pengertian mengenai dewan direksi adalah sekelompok individu yang dipilih oleh pemegang saham perusahaan untuk mewakili kepentingan perusahaan dan memastikan bahwa manajemen perusahaan bertindak atas nama mereka.
Mereka biasanya bertemu secara berkala untuk menetapkan kebijakan bagi manajemen dan juga kepentingan perusahaan.
Dan hal ini sangat penting bagi perusahaan tersebut. Jika pengawasan perusahaan berada di tangan Fanni, bisa dipastikan Fanni akan lepaskan pengawasan itu dan akan mudah bagi Tuan Osman mengambil tanah tersebut.
Hari pun sudah mulai menunjukkan eksistensinya yang tampak begitu indahnya. Bertukar hingga ingin jingga saat ini. Entahlah sangat cepat sekali jarum jam mengembalikan masa-masa yang baru saja dijejaki manusia.
Tio yang katanya ingin berencana mengantarkan ibunya tersebut tidak jadi saat ini. Dia pun tampak menuju ruangan dimana Soraya berada sekarang.
Tuan Frans yang tadinya bertengkar dan adu argumen dengan istrinya tersebut pun sekarang hanya diam saja, rasanya tidak berguna sama sekali jika berbicara namun tidak didengarkan oleh sang istri.
Ketika mereka berdebat, tampak Nyonya besar mengungkit hak kepemilikan sahamnya tersebut. Ya! memang perusahaan itu ada sebagian saham yang dimiliki Nyonya besar tersebut, itu lah mengapa Tuan Frans sulit angkat bicara lagi.
__ADS_1
Biarlah pikirnya, jika memang Tuhan menghendaki hal itu akan terjadi, jika tidak pasti akan baik-baik saja, pikir Tuan Frans lagi.
Tio pula masih belum memberitahukan mengenai kehadiran Soraya hari ini kepada Tuan Frans, karena memang Soraya muncul secara tiba-tiba dan tak pernah disangka Tio Soraya akan datang kembali ke kantor secepat ini.
Wajah Soraya dia pandangi sangat begitu pucat. Di ambang pintu itu, Tio memperhatikan Soraya yang tampak masih sibuk membereskan meja kerjanya itu.
Sama sekali Soraya tidak menyadari ada Tio disana. Kemudian Tio melipat kedua tangannya dan mencoba masuk kedalam.
"Duh.. duh, yang baru masuk kantor, sibuk banget Non??" tanya Tio sambil mengejutkan Soraya tersebut.
"Ha.. Tio, sejak kapan kau masuk??" tanya Soraya tampak memang terkejut.
"Sejak dari tadi lah, tapi Raya.. memang selalu tidak pernah melihat kehadiranku di dekatmu," jawab Tio kembali ada sesuatu makna didalam kata-kata Tio tersebut.
"Haha.. maaf lah Tio, aku membereskan ini sudah lama ini tidak terjamah, rasanya banyak laporan yang masih menggantung," jelas Soraya lagi.
"Sudah sambung besok saja, ini sudah sangat sore, katanya mau menjenguk Tsania!" ucap Tio kembali.
"Eh.. iya! baiklah tunggu sebentar aku bereskan dulu sedikit ini lagi, apa kau jadi ikut??" tanya Soraya lagi.
"Iya jadi, ibu pergi dengan ayah, itulah mengapa aku pergi denganmu saja, hahaha."
Tio memang sudah merelakan namun hatinya masih tidak sepenuhnya rela dengan seorang Soraya yang selalu membuat dirinya terasa nyaman dan terpukau.
Soraya pun telah bersiap dan selesai beres-beres tersebut. Dibantu juga dengan Tio yang setia selalu bersamanya itu.
Mereka berdua tampak keluar dari ruangan tersebut menuju parkiran, dan kini para staf yang lainnya sudah pada tidak terlihat, semua masing-masing meninggalkan perusahaan tersebut untuk pulang ke rumah mereka.
Jingga yang indah, mulai meracuni mata agar terus terpesona melihatnya. Kawasan kantor yang terbilang tinggi ini jadi bisa dengan jelas melihat sang mentari perlahan pergi namun masih tampak malu-malu saja.
__ADS_1