
"Fan! buka pintunya nak!!" teriak mama Fanni dari luar.
"Fanni!! buka pintunya!!" teriak kembali Papanya.
Dengan langkah malas, Fanni berjalan menuju pintu kamarnya tersebut. Jum'at pagi ini membuatnya kesal dan marah, karena pernikahan itu telah gagal hari ini.
Dia pun tampak murung dan menyimpan dendam kepada keluarga Derry tersebut. Apalagi dengan Papa Derry, yang menurutnya tidak menghargai dirinya sama sekali, karena menelpon dengan tiba-tiba dan membuat keputusan sebelah pihak, pikir Fanni.
"Apalagi sih Mah, Pa!!" bentaknya sedikit malas dan kasar.
"Sudah ayo sarapan! Semalam kan keputusan itu sudah kamu dengar sendiri, kalau Derry sembuh pernikahan itu bakal di lanjut kok!!" ucap Mamanya memberikan semangat.
"Hmm.. Ya!" sahut dengan nada malas.
Fanni pun kembali menutup pintunya tanpa rasa hormat dan sopan sedikit pun kepada kedua orang tuanya tersebut. Kini Fanni melangkah menuju kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya kembali.
Mendengar suara air yang sudah berisik dari dalam kamar mandi Fanni tersebut, kedua orang tuanya itu pun turun dan melangkah menuju meja makan.
Papa Fanni bisnisnya memang sudah mengalami bangkrut, itu lah mengapa dia juga sangat berharap keluarga Derry bisa menolongnya kembali. Seperti dulu-dulu, ketika bisnis mereka terjadi penurunan Tuan Frans segara melayangkan bantuannya.
Kekayaan yang tidak pernah habis dimiliki keluarga Derry tersebut, membuat mereka banyak didekati oleh orang-orang yang sengaja untuk berteman demi karena sebuah manfaat bagi diri orang-orang tersebut.
Sikap dermawan yang dimiliki Tuan Frans membuatnya mudah saja memberikan apa yang dia punya dan dia bisa membantunya.
Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, Fanni yang sudah siap mandi tersebut, terus saja melangkah ke bawah dan menuju meja makan yang sudah tersaji sarapan lezat yang selalu menjadi favoritnya.
Sandwich isi abon selalu yang membuat dia berselera di pagi hari. Dia yang selalu menjaga tubuhnya agar tetap ideal tersebut, karena pekerjaannya yang mendukung harus memiliki tubuh yang ideal dan menarik.
"Sayang.. makan yang banyak," ucap Mama Fanni sambil menuangkan jus jeruk segar pagi ini.
"Ma...Neila nanti mau keluar sama Tissa," ucap Neila ketus.
"Kemana sayang? istirahat aja dulu, dari kemarin kan kamu sibuk terus," sahut Mamanya kembali.
Dari kemarin, dia memang terlalu sibuk karena mempersiapkan pernikahannya dengan Derry tersebut. Dia sendiri yang berlalu lalang ke gedung untuk memeriksa semuanya, namun hari ini gagal pula pernikahan itu.
"Fan, dirumah saja dulu! kalau kau pergi dengan Tissa pasti tujuanmu shoping," ucap Papanya pula.
"Pa! Fanni bosan, dan pusing!!" bentaknya kuat dan membanting minuman yang baru saja dia teguk.
"Fanni!! kenapa tingkahmu semakin menjadi-jadi!!" teriak Papanya sambil berdiri.
Fanni pun tidak menghiraukan Papanya tersebut, kini dia keluar dan terus saja ke arah bagasi mobilnya tersebut. Kedua orang tuanya hanya geleng kepalanya saja, Mamanya tersebut selalu memanjakan dirinya.
__ADS_1
"Itu karena Mama, suka memanjakan anak itu!!" bentak papa Fanni kepada istrinya.
"Pa! kok mama yang di salahkan!! dia sudah terbiasa dari kecil bergelimang harta!!" sahut mama Fanni pula.
"Alah.. kalian wanita sama saja!!" bentaknya.
"Ah terserah Papa deh! mama mau tidur ngantuk!!" bentak istrinya tersebut.
Mama Fanni sengaja mengatakan itu, padahal dia hanya ingin menghindari kemarahan suaminya tersebut. Fanni pula sudah beranjak jauh keluar dari pagar itu.
Tertunduk lemas Papa Fanni tersebut di meja makan, dan pembantu muda menghampiri dirinya, lalu membawakan segelas teh hangat berisi daun mint dan lemon.
"Tuan minumlah ini," ucap Meri yang tiba-tiba datang dari arah dapur.
"Meri, terima kasih kamu paling tahu mahu saya," sahut Papa Fanni tersebut dengan senyum nakalnya.
"Tuan, apa kau merasa lelah??" tanya pembantu itu lagi dengan wajah genit.
"Sedikit sih," jawabnya sambil memegangi lehernya dan bahunya.
"Apa perlu saya panggil tukang pijit ke sini??"
"Soalnya, saya ada kenalan tukang pijat terkenal area sini Tuan, dia memang ahli memijat!!" ucap pembantu genit itu yang bernama Meri.
"Tuan..." berhenti disitu suara pembantu genit itu, ketika mendengar suara kaki melangkah dari atas turun ke bawah.
"Nanti saya akan menemuimu," ucap Papa Fanni menyuruh pembantu itu pergi.
"Permisi Tuan," ucapnya dengan cepat dan melangkah ke dapur.
Mama Fanni kembali turun ke bawah, dia tampak bertukar pakaian menjadi lebih modis lagi, dan dia melewati suaminya tersebut, tanpa ada rasa hormat dia keluar dengan begitu saja.
"Mau kemana kamu Ma!!" suara itu sedikit kuat hingga menghentikan langkah yang sudah sampai di ambang pintu itu.
"Mau jenguk Derry!!" jawabnya singkat dan langsung keluar.
Papa Fanni membiarkan istrinya keluar, ketika mendengar alasan dari mulut sang istri tersebut. Dan kini dia memasuki garasinya dengan cepat, karena jam sudah pun berputar ke arah jam setengah sepuluh.
Daripada bosan dan memikirkan pertengkaran di rumah tersebut, lebih baik Mama Fanni itu menjenguk Derry yang sedang sakit, sesekali untuk membuat kedekatan mereka yang hampir renggang semalam, ingin disatukan kembali, pikir Mama Fanni membuat rencana.
Derry hari ini masih diperiksa kesehatannya, dia bahkan tidak berselera untuk makan, Mamanya Derry dengan sabar menyuapi Derry layaknya anak balita.
Wajah murung tatapan kosong, dia seolah tidak memiliki apa yang harus di pikirkan sekarang ini, dokter Rey mengatakan memorinya terjeda dan dia tidak bisa mengekspos ingatannya.
__ADS_1
Derry harus dirawat dengan benar, dan diberikan terapi kebahagiaan, ucap dokter Rey pagi ini.
"Apa Derry tidak bahagia??" tanya mamanya bingung.
"Mungkin saja Nyonya, itu lah yang saya lihat dari wajah murungnya," jawab dokter Rey.
"Bagaimana dok, terapi kebahagiaan itu??" tanya mama Derry lagi.
"Derry harus bisa di buat tertawa, karena itu bisa membuat kepalanya bahkan otaknya berjalan lagi, dan tubuhnya tidak kram atau kaku."
"Karena tertawa menurunkan kadar hormon stres," dengan jelas dan dipaparkan secara lengkap oleh dokter Rey tersebut.
"Apa yang membuat Derry tidak bahagia??" tanya mama Derry dalam hatinya.
"Derry bisa memiliki apapun, apa itu kurang untuk dia bahagia??" tanyanya lagi dalam hati dan diam seketika.
"Nyonya, berikan minuman herbal ini, dan usahakan Derry harus meminumnya tiga kali sehari," ucap dokter Rey sambil memberikan botol sirup yang terbuat dari ratusan jenis buah-buahan.
"Baik dokter Rey! terima kasih banyak," sahutnya dengan pelan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Jangan lupa telpon saya, jika memang ada perubahan atau kelakuan Derry yang terlihat janggal," ucap dokter Rey kembali.
"Baik dokter Rey, mari saya antar ke depan," ucap mama Derry.
Mereka berdua pun menuruni anak tangga, dan menuju ambang pintu keluar rumah mewah tersebut. Sedangkan Tuan Frans masih membereskan pembayaran kerugian atas pernikahan Derry yang dibatalkan hari ini.
Dokter Rey tersebut menuju luar halaman, dan dia dengan ramah dan santun keluar dari rumah mewah tersebut.
Mama Fanni pula sudah hampir setengah perjalanan menuju rumah Derry. Dia memang ingin menjenguk Derry, dan sia tampak membawakan buah-buahan segar untuk Derry.
Sedangkan Fanni sudah pun berada dalam mall yang berisikan barang branded semua. Dia selalu mengunjungi tempat ini di kala hatinya sedang galau atau pun senang.
Fanni memang suka menghambur kan uang, bahkan kali ini kartu hitam yang diberikan Derry kepadanya tampak digunakan untuk membayar belanjaannya saat ini dengan Tissa.
"Maaf Nona, ini tidak bisa!!" ucap kasir itu.
"Tidak bisa?? tidak mungkin!!" ucap Fanni membantah.
Mama Derry ingin kembali ke kamar, namun kata terdengar suara mobil masuk kembali ke dalam halaman rumah nya, dan dia membalikkan badan dan kembali menuju pintu, dia pikir suaminya yang datang, dan dia melihat keluar.
"Mama Fanni!!" ucapnya dalam hati.
Wanita dengan rambut pendek di bawah telinga tersebut dengan memakai kaca mata coklat itu, segera turun dan menghampiri Mama Derry yang sedang berdiri di ambang pintu itu.
__ADS_1
"Hai.. besanku," ucap nya langsung memeluk Mama Derry tersebut.