90 DAYS

90 DAYS
TIDAK BISA!


__ADS_3

"Fan! buka pintunya nak!!" teriak mama Fanni dari luar.


"Fanni!! buka pintunya!!" teriak kembali Papanya.


Dengan langkah malas, Fanni berjalan menuju pintu kamarnya tersebut. Jum'at pagi ini membuatnya kesal dan marah, karena pernikahan itu telah gagal hari ini.


Dia pun tampak murung dan menyimpan dendam kepada keluarga Derry  tersebut. Apalagi dengan Papa Derry, yang menurutnya tidak menghargai dirinya sama sekali, karena menelpon dengan tiba-tiba dan membuat keputusan sebelah pihak, pikir Fanni.


"Apalagi sih Mah, Pa!!" bentaknya sedikit malas dan kasar.


"Sudah ayo sarapan! Semalam kan keputusan itu sudah kamu dengar sendiri, kalau Derry  sembuh pernikahan itu bakal di lanjut kok!!" ucap Mamanya memberikan semangat.


"Hmm.. Ya!" sahut dengan nada malas.


Fanni  pun kembali menutup pintunya tanpa rasa hormat dan sopan sedikit pun kepada kedua orang tuanya tersebut. Kini Fanni  melangkah menuju kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya kembali.


Mendengar suara air yang sudah berisik dari dalam kamar mandi Fanni  tersebut, kedua orang tuanya itu pun turun dan melangkah menuju meja makan.


Papa Fanni  bisnisnya memang sudah mengalami bangkrut, itu lah mengapa dia juga sangat berharap keluarga Derry  bisa menolongnya kembali. Seperti dulu-dulu, ketika bisnis mereka terjadi penurunan Tuan Frans  segara melayangkan bantuannya.


Kekayaan yang tidak pernah habis dimiliki keluarga Derry  tersebut, membuat mereka banyak didekati oleh orang-orang yang sengaja untuk berteman demi karena sebuah manfaat bagi diri orang-orang tersebut.


Sikap dermawan yang dimiliki Tuan Frans  membuatnya mudah saja memberikan apa yang dia punya dan dia bisa membantunya.


Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, Fanni  yang sudah siap mandi tersebut, terus saja melangkah ke bawah dan menuju meja makan yang sudah tersaji sarapan lezat yang selalu menjadi favoritnya.


Sandwich isi abon selalu yang membuat dia berselera di pagi hari. Dia yang selalu menjaga tubuhnya agar tetap ideal tersebut, karena pekerjaannya yang mendukung harus memiliki tubuh yang ideal dan menarik.


"Sayang.. makan yang banyak," ucap Mama Fanni  sambil menuangkan jus jeruk segar pagi ini.


"Ma...Neila nanti mau keluar sama Tissa," ucap Neila ketus.


"Kemana sayang? istirahat aja dulu, dari kemarin kan kamu sibuk terus," sahut Mamanya kembali.


Dari kemarin, dia memang terlalu sibuk karena mempersiapkan pernikahannya dengan Derry  tersebut. Dia sendiri yang berlalu lalang ke gedung untuk memeriksa semuanya, namun hari ini gagal pula pernikahan itu.


"Fan, dirumah saja dulu! kalau kau pergi dengan Tissa pasti tujuanmu shoping," ucap Papanya pula.


"Pa! Fanni  bosan, dan pusing!!" bentaknya kuat dan membanting minuman yang baru saja dia teguk.


"Fanni!! kenapa tingkahmu semakin menjadi-jadi!!" teriak Papanya sambil berdiri.


Fanni  pun tidak menghiraukan Papanya tersebut, kini dia keluar dan terus saja ke arah bagasi mobilnya tersebut. Kedua orang tuanya hanya geleng kepalanya saja, Mamanya tersebut selalu memanjakan dirinya.

__ADS_1


"Itu karena Mama, suka memanjakan anak itu!!" bentak papa Fanni  kepada istrinya.


"Pa! kok mama yang di salahkan!! dia sudah terbiasa dari kecil bergelimang harta!!" sahut mama Fanni  pula.


"Alah.. kalian wanita sama saja!!" bentaknya.


"Ah terserah Papa deh! mama mau tidur ngantuk!!" bentak istrinya tersebut.


Mama Fanni  sengaja mengatakan itu, padahal dia hanya ingin menghindari kemarahan suaminya tersebut. Fanni  pula sudah beranjak jauh keluar dari pagar itu.


Tertunduk lemas Papa Fanni  tersebut di meja makan, dan pembantu muda menghampiri dirinya, lalu membawakan segelas teh hangat berisi daun mint dan lemon.


"Tuan minumlah ini," ucap Meri yang tiba-tiba datang dari arah dapur.


"Meri, terima kasih kamu paling tahu mahu saya," sahut Papa Fanni  tersebut dengan senyum nakalnya.


"Tuan, apa kau merasa lelah??" tanya pembantu itu lagi dengan wajah genit.


"Sedikit sih," jawabnya sambil memegangi lehernya dan bahunya.


"Apa perlu saya panggil tukang pijit ke sini??"


"Soalnya, saya ada kenalan tukang pijat terkenal area sini Tuan, dia memang ahli memijat!!" ucap pembantu genit itu yang bernama Meri.


"Tuan..." berhenti disitu suara pembantu genit itu, ketika mendengar suara kaki melangkah dari atas turun ke bawah.


"Nanti saya akan menemuimu," ucap Papa Fanni  menyuruh pembantu itu pergi.


"Permisi Tuan," ucapnya dengan cepat dan melangkah ke dapur.


Mama Fanni  kembali turun ke bawah, dia tampak bertukar pakaian menjadi lebih modis lagi, dan dia melewati suaminya tersebut, tanpa ada rasa hormat dia keluar dengan begitu saja.


"Mau kemana kamu Ma!!" suara itu sedikit kuat hingga menghentikan langkah yang sudah sampai di ambang pintu itu.


"Mau jenguk Derry!!" jawabnya singkat dan langsung keluar.


Papa Fanni  membiarkan istrinya keluar, ketika mendengar alasan dari mulut sang istri tersebut. Dan kini dia memasuki garasinya dengan cepat, karena jam sudah pun berputar ke arah jam setengah sepuluh.


Daripada bosan dan memikirkan pertengkaran di rumah tersebut, lebih baik Mama Fanni  itu menjenguk Derry  yang sedang sakit, sesekali untuk membuat kedekatan mereka yang hampir renggang semalam, ingin disatukan kembali, pikir Mama Fanni  membuat rencana.


Derry  hari ini masih diperiksa kesehatannya, dia bahkan tidak berselera untuk makan, Mamanya Derry dengan sabar menyuapi Derry  layaknya anak balita.


Wajah murung tatapan kosong, dia seolah tidak memiliki apa yang harus di pikirkan sekarang ini, dokter Rey mengatakan memorinya terjeda dan dia tidak bisa mengekspos ingatannya.

__ADS_1


Derry  harus dirawat dengan benar, dan diberikan terapi kebahagiaan, ucap dokter Rey pagi ini.


"Apa Derry  tidak bahagia??" tanya mamanya bingung.


"Mungkin saja Nyonya, itu lah yang saya lihat dari wajah murungnya," jawab dokter Rey.


"Bagaimana dok, terapi kebahagiaan itu??" tanya mama Derry  lagi.


"Derry harus bisa di buat tertawa, karena itu bisa membuat kepalanya bahkan otaknya berjalan lagi, dan tubuhnya tidak kram atau kaku."


"Karena tertawa menurunkan kadar hormon stres," dengan jelas dan dipaparkan secara lengkap oleh dokter Rey tersebut.


"Apa yang membuat Derry  tidak bahagia??" tanya mama Derry  dalam hatinya.


"Derry bisa memiliki apapun, apa itu kurang untuk dia bahagia??" tanyanya lagi dalam hati dan diam seketika.


"Nyonya, berikan minuman herbal ini, dan usahakan Derry  harus meminumnya tiga kali sehari," ucap dokter Rey sambil memberikan botol sirup yang terbuat dari ratusan jenis buah-buahan.


"Baik dokter Rey! terima kasih banyak," sahutnya dengan pelan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Jangan lupa telpon saya, jika memang ada perubahan atau kelakuan Derry  yang terlihat janggal," ucap dokter Rey kembali.


"Baik dokter Rey, mari saya antar ke depan," ucap mama Derry.


Mereka berdua pun menuruni anak tangga, dan menuju ambang pintu keluar rumah mewah tersebut. Sedangkan Tuan Frans  masih membereskan pembayaran kerugian atas pernikahan Derry  yang dibatalkan hari ini.


Dokter Rey tersebut menuju luar halaman, dan dia dengan ramah dan santun keluar dari rumah mewah tersebut.


Mama Fanni pula sudah hampir setengah perjalanan menuju rumah Derry. Dia memang ingin menjenguk Derry, dan sia tampak membawakan buah-buahan segar untuk Derry.


Sedangkan Fanni  sudah pun berada dalam mall yang berisikan barang branded semua. Dia selalu mengunjungi tempat ini di kala hatinya sedang galau atau pun senang.


Fanni  memang suka menghambur kan uang, bahkan kali ini kartu hitam yang diberikan Derry  kepadanya tampak digunakan untuk membayar belanjaannya saat ini dengan Tissa.


"Maaf Nona, ini tidak bisa!!" ucap kasir itu.


"Tidak bisa?? tidak mungkin!!" ucap Fanni  membantah.


Mama Derry  ingin kembali ke kamar, namun kata terdengar suara mobil masuk kembali ke dalam halaman rumah nya, dan dia membalikkan badan dan kembali menuju pintu, dia pikir suaminya yang datang, dan dia melihat keluar.


"Mama Fanni!!" ucapnya dalam hati.


Wanita dengan rambut pendek di bawah telinga tersebut dengan memakai kaca mata coklat itu, segera turun dan menghampiri Mama Derry  yang sedang berdiri di ambang pintu itu.

__ADS_1


"Hai..  besanku," ucap nya langsung memeluk Mama Derry  tersebut.


__ADS_2