90 DAYS

90 DAYS
DILEMA BESAR


__ADS_3

Di balik pekatnya malam, Tio kini termenung di teras kamarnya tersebut. Melihat bulan adalah favoritnya, Tio melihat layar ponselnya dan dia membuka galeri foto.


Tampak semua dengan baju formal berdiri  dengan penuh semangat dan senyum. Enam tahun lalu, itu waktu sudah berakhir dan kini kenyataan pahit yang sedang diterima dengan lapang dada.


Foto Soraya  terpapar jelas di sana, wanita itu tidak banyak berubah, walaupun enam tahun lalu sudah beranjak pergi. Dahulu, masih mereka berdua yang ditugaskan untuk mengurus segalanya.


Hingga berubah drastis di tahun ini, tepatnya lima bulan yang lalu, perusahaan sudah ada CEO baru, yaitu sepupunya sendiri, bukan itu jadi masalah, namun masalahnya tentang cinta yang sama.


"Apa aku pecundang??" tanya Tio pada dirinya sendiri.


"Bulan... bicaralah padaku, apa aku ini pecundang??" jerit Tio dari atas teras kamarnya itu.


Menjerit baginya bisa membuat sesaknya berkurang, itu lah mengapa dia tidak segan untuk menjerit kuat. Bahkan Bulan menjadi pelampiasan suaranya dan tanya besar dalam dirinya.


Cinta! bicara tentang cinta, siapa pun yang benar-benar masuk kedalam perangkap cinta, maka dia akan benar-benar harus bisa menerima kekecewaan.


Karena kecewa adalah resiko utama dari cinta. Kini Tio telah pun merasakannya, bahkan dia yang kuat menjadi lemah selemah-lemahnya.


Wajahnya tampan, tingginya juga semampai, hartanya juga cukup, hidupnya terbilang mapan, untuk mendapatkan gadis lebih cantik dari Soraya  bisa dia lakukan, namun hati tidak pernah berdusta untuk jatuh kepada siapa.


Tio Sanjaya, dia ingin kembali ke kota Jakarta, memulai hidup seperti biasa, namun mungkin sikapnya kepada Soraya  tidak akan seperti biasanya. Apa bisa aku melihat senyum itu??


Senyum itu milik Derry, bukan aku!! Tio selalu tampak merendahkan dirinya  sendiri, dia tampak menjadi pecundang, jika terus menerus seperti ini.


Derry  yang sudah kembali ke rumah malam itu, kini disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Fanni pula sudah kembali ke rumahnya sendiri.


Awalnya Derry  memang pulang ke apartemen milik Soraya  yang dia berikan tersebut. Namun, karena dirinya semakin tampak tidak waras di sana, dia pun mencoba pulang ke kediaman milik orang tuanya tersebut.


Di apartemen itu, bayangan Soraya  muncul di kepalanya dan di pandangannya. Di setiap sudut rumah itu ada Soraya, namun di sentuh tidak bisa.


Derry termenung lama di ranjang yang selalu menjadi saksi permainan panas yang sering mereka lakukan, kini tampak debu kecil sudah hinggap di atas sprei pink kesukaan Soraya  itu.


Sampai di rumah mewah itu, dia memang melangkah malas, melihat kedua orang tuanya berada di ruangan tamu terpaksa dia berhenti sejenak duduk dan bercengkrama bersama kedua orang tuanya.


Mama Derry  menunjukkan segala persiapan yang dilakukannya hari ini bersama Fanni. Tampak raut wajah separuh baya itu tersenyum bahagia dengan tulusnya.


Apa aku akan mampu merusak senyum itu?? tanya Derry  dalam hati terkecilnya.


Tidak! aku tidak mampu," ucap Derry  sendiri.


"Nak... kenapa kamu diam??" tanya mama Derry.


"Ma.. apa mama benar-benar menyukai Fanni??" terucap juga dari mulut Derry seperti itu.


"Ha? kenapa kamu menanyakan seperti itu??" bingung mama Derry  saat ini mendengar pertanyaan anaknya tersebut.

__ADS_1


"Jangan bilang kau ingin membatalkan pernikahan ini lagi, Papa tidak akan menyetujuinya!!" tambah Tuan Frans l pula menyela.


"Pa! bukan itu maksud Derry!!" bentak Derry  sedikit kesal.


"Derry! jangan membentak Papamu seperti itu!!" balas mamanya.


Ya! Derry tidak pernah berkata kasar atau pun membentak kedua orang tuanya tersebut. Walau dia mempunyai sifat arogan yang tinggi, namun dengan kedua orang tuanya ini, dia hormat dan takut.


Namun, tampaknya dia sangat frustasi, memikirkan hal yang sebentar lagi akan merubah segala hidupnya. Hidupnya akan di penuhi aturan oleh Fanni.


Ya! dari dulu, Fanni memang jenis wanita suka mengatur ini dan itu. Karena cinta Derry sangat suka mengikuti kemauan Fanni dahulu, namun sekarang dia merasa muak dan malas.


Apa aku sudah tidak mencintainya lagi?? tanya Derry dalam hatinya.


"Benar! kau tidak cintakan dia lagi Derry l! jawab nuraninya kali ini.


"Nak! kenapa termenung??" Mamanya mengejutkan Derry  dari lamunannya tersebut.


Seolah dia dipenuhi suara-suara gaib, namun dia tampak menikmati suara tersebut. Seolah suara itu memberikan jawaban apa yang dia inginkan.


Namun kepalanya sangat memiliki keegoisan tingkat tinggi, hingga dia menafikan cintanya sekarang hanya untuk Soraya  seorang.


"Derry!! kau kenapa??" badan Derry  ikut diguncang oleh papanya.


"Ma.. badan Dava panas!!" Tuan Doris memegang dahi Dava layaknya anak kecil, namun memang benar suhunya lebih panas dari orang normal.


"Pa.. kenapa Derry?? Pa! cepat telpon dokter!!" perintah mama Derry  kepada suaminya.


"Iya Ma, papa hubungi dokter Reyhan dulu," jawab papanya langsung mengeluarkan ponselnya.


Wajah Derry  pucat, pandangannya kosong, dia sama sekali berhenti bicara. Entah apa yang membuatnya seperti itu, sebelumnya dia tidak pernah mengalami hal seperti ini.


Harusnya, setiap orang yang ingin menikah pastilah bahagia dan tidak sabar menunggu kedatangan hari tersebut, namun Derry  tampak stres, frustasi bahkan depresi.


Hingga dia menjadi kaku dan diam. Badannya panas, dia pun direbahkan di atas paha Mamanya tersebut, sambil mengusap-usap rambut Derry  dengan lembutnya, mama Derry  pun menitiskan air mata karena begitu khawatirnya.


"Ma.. sudah jangan menangis! tenang ya ma!!" ucap Papanya menenangkan istrinya.


"Pa! kenapa Derry  jadi diam begini??" Kenapa dia Pa??" terisak kuat kali ini, ada rasa khawatir yang besar di dada mama Derry.


Seorang ibu mana mungkin tahan melihat anaknya tampak sengsara. Seorang ibu rela berkorban apa pun untuk anaknya, apalagi Derry  adalah anak satu-satunya di keluarga ini.


"Apa mungkin Derry  tidak ingin menikah ma??" tanya Tuan Frans  kepada istrinya.


"Tidak mungkin Pa! mereka berdua sudah lama saling mencintai!!" bentak istrinya tersebut membantah.

__ADS_1


"Tapi.." terhenti di situ ucapan Tuan Frans, seketika melihat dokter Reyhan sudah pun sampai di hadapan mereka.


Mama Derry  yang melihat kehadiran dokter Reyhan di ruangan tamu itu, langsung menyuruh sang dokter untuk memeriksa Derry  sekarang juga.


"Sabar..Ma! dokter Rey pasti bisa kok mengobati Derry," ucap tuan Frans  menenangkan istrinya.


Dokter Reyhan adalah dokter pribadi mereka. Dokter ini sudah keturunan ketiga dari keluarga Airlangga, yaitu dokter pribadi tuan Sanjaya. Dan Dokter Reyhan adalah cucu dari dokter Airlangga.


Derry  yang masih diam tersebut, matanya terbuka namun hanya mulutnya saja yang tertutup rapat, dia bahkan tidak bisa berkedip saat ini.


"Dok.. Derry  kenapa??" tanya kembali mama Derry.


"Dia terkena penyakit Linglung!!" ucap Dokter yang memeriksa mata Derry.


"Linglung?? ucap orang tua Derry  bersamaan.


"Iya benar, dia tampak menatap kosong dan sedang berhalusinasi," ucap dokter Reyhan.


"Kenapa Derry  bisa begini dok??" terisak kuat kali ini mama Derry.


"Linglung adalah ketidakmampuan untuk berpikir sejernih atau secepat biasanya.  mungkin saja Derry  akan merasa disorientasi dan kesulitan memperhatikan, mengingat, dan mengambil keputusan, itu lah mengapa Derry  bisa mengalami penyakit ini."


"Entah juga akhir-akhir ini Derry  banyak masalah, namun dia tidak bisa menceritakan masalahnya tersebut, itulah mengapa dia bisa seperti ini."


"Derry kan masih muda dok! gak mungkin dia Linglung!!" teriak mama Derry  hingga membuat para pembantunya berlarian ke arah ruang tamu.


"Ma.. tenang ma!!" Tuan Frans memeluk istrinya.


Tuan Frans menyuruh para pembantunya untuk memindahkan Derry  ke kamarnya saat ini. Dan mereka semua naik menuju kamar Derry.


Para pembantu tak berani bertanya atau pun mengatakan hal sensitif sedikit pun. Melihat kondisi mama Derry  tampak lemah, dia pun di tuntun oleh Tuan Frans  tersebut.


Kini mereka telah sampai di kamar Derry  tersebut. Mama Derry  tidak yakin, anaknya mengalami penyakit linglung, karena Derry  masih lah terbilang muda, dan yang diketahui mamanya penyakit linglung hanya akan terkena pada orang yang sudah lanjut usia.


Dokter Reyhan pun menjelaskan tentang penyakit linglung tersebut kepada kedua orang tua Derry.


Linglung adalah kondisi yang dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada orang tua dan terjadi selama menjalani perawatan di rumah sakit.


Kondisi ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Dan saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu Derry  pulih kembali, ucap dokter Rey menjelaskan dan memberikan keyakinan kepada kedua orang tua Derry.


"Lakukan yang terbaik ya Rey!!" ucap Tuan Frans  percaya sepenuhnya kepada dokter Reyhan.


"Pastinya Tuan," jawab Dokter Reyhan.


Mereka masih berbincang, tiba-tiba mendengar ucapan dokter Reyhan seperti itu membuat kondisi mama Derry melemah.

__ADS_1


"Ma.. bangun Ma!! ucap Tuan Frans  sambil mengusap pipi istrinya.


****


__ADS_2