90 DAYS

90 DAYS
DERRY DI USIR


__ADS_3

"Apa?? Fanni  melakukan percobaan bunuh diri??" ucap Derry  tak kalah terkejutnya.


"Astagfirullah..." ucap Soraya  sambil menutup mulutnya tersebut.


"Ayo Derry, cepat kita lihat keadaan Fanni  saat ini, Mama takut dia kenapa-napa," ucap Nyonya besar.


"Iya Ma, Pa. Sebentar Derry  tukar pakaian dulu ya, kalian tunggu di bawah saja, Derry  akan segera turun," ucap Derry  memang panik.


Mereka pun mengangguk setuju, dan kemudian mereka turun. Wajah khawatir Derry  sangat terlihat saat itu. Membuat Mamanya masih percaya kalau Derry  masih menyimpan cinta untuk Fanni  tersebut.


Tidak mungkin kalau tidak cinta tidak sepanik itu, ucap Nyonya besar  dalam hatinya saat ini. Dia pun mulai merencanakan sesuatu untuk nanti.


Dia masih ingin menyatukan Derry  dan Fanni  juga. Mereka itu keluarga kaya raya dan terpandang, jika memang bisa nanti Derry  menerima Fanni  kembali biarlah Fanni  menjadi istri kedua Derry  pun tidak apa-apa, pikirnya lagi.


"Sayang... kenapa kamu masih belum tukar pakaian??" tanya Derry  kepada istrinya.


"Kamu saja Derry  yang pergi, nanti Fanni  tidak menyukaiku," ucap Soraya  sedikit ragu.


"Sayang, kamu istriku!! temani aku kemanapun sekarang!!" ucap Derry  kembali memerintah istrinya.


Dengan berat hati Soraya  pun melangkah dan bertukar pakaian. Hanya memakai pakaian santai saja, jeans dan kaos biasa dia pakai untuk menemani suaminya malam ini.


Soraya  merasa bersalah besar saat ini, karena mendengar keadaan Fanni  yang sudah berani melakukan bunuh diri. Soraya  pun berpikir itu karena suaminya yang memilih dirinya sendiri.


"Apa yang harus kuperbuat??" tanya nya dalam hati.


Dengan berat hati pakaian itu pun telah terpasang di tubuh Soraya  itu. Derry  pun menggenggam tangan istrinya dan menuntun Soraya  menuruni anak tangga.


Sedangkan Tuan Frans  dan Mama Derry  tersebut sudah berada di dalam mobil untuk menunggu Derry  turun. Akhirnya Derry  dan Soraya  turun juga, mereka pun ingin memasuki mobil yang telah dimasuki kedua orang tua Derry  tersebut.


Ketika Soraya  ingin melangkah masuk ke belakang, duduk bersama Mama Derry  itu sedangkan Derry  pula duduk di depan di sebelah Papanya tersebut.


"Kamu kenapa naik??" tanya Mama Derry  dengan nada sinis.


Soraya  pun terdiam dan undur diri, dia turun kembali. Tuan Frans  dan Derry  yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang.

__ADS_1


Tuan Frans  tidak berani angkat bicara, namun Derry  sebagai seorang suami dia pun langsung berkata tegas yang mengarah untuk Mamanya tersebut, bahkan Derry  kembali turun dari mobil itu menghampiri istrinya.


Tangan Soraya  dia genggam erat, dan tatapan Derry  tampak tajam ke arah Mamanya tersebut. Dengan cepat Derry  angkat bicara tangannya tersebut menggenggam erar terus menerus.


" Ma, Soraya  istri Derry, kalau Soraya tidak ikut Derry  juga tidak!!" bentak Derry dengan keras.


Soraya  menahan rasa tangisnya, entah dia menangis karena tersinggung atau menangis karena rasa haru sang suami membelanya di, depan ibu mertua yang tampak membenci Soraya  itu.


"Derry..." terhenti ucapan Mamanya disitu ada rasa sesak di hatinya, dan tiba-tiba Tuan Frans  mencoba memperbaiki keadaanya.


"Ma.. sudah lah, apa yang dikatakan Derry  memang benar, biarkan Soraya  ikut bersama kita," ucap Tuan Frans.


Mama Derry  pun terdiam mendengar ucapan suaminya tersebut. Dan kini Mama Derry  tampak bergeser sedikit, menandakan setuju tersebut.


Mau tidak mau dia harus setuju, dan kini dia juga diam seribu bahasa. Soraya  pun dituntut oleh Derry  untuk masuk ke dalam.


"Sayang... masuklah," ucap Derry  dengan lembut dan menuntunnya.


Soraya  mengangguk lemah, dan mengikuti apa yang dikatakan suaminya tersebut. Mama Derry  menoleh ke kanan dan menghadap ke jendela tanpa menatap Soraya  yang berada di sebelah kirinya tersebut.


Bukan maunya menjadi istri dalam kontrak 90 hari. Bukan inginnya menjadi korban keadaan dari garis takdir, ini adalah sebuah goresan hidup yang memang telah ditetapkan Tuhan kepadanya.


Soraya, kini masih bergelar istri siri karena pernikahan itu masih belum didaftarkan kepada negara.


Setelah Derry  sembuh total, dia akan berjanji akan mendaftarkan pernikahannya dan membuat resepsi besar-besaran untuk dirinya dan Soraya.


Kini mobil itu pun telah keluar dari pagar. Suasana di dalam mobil itu senyap dan tidak ada sepatah kata yang keluar. Dulu Mama Derry  begitu hangat kepadanya, kini menjadi kutub utara yang membeku.


Karena jalanan kota Jakarta sedikit lenggang membuat mobil itu segera sampai di depan parkiran rumah sakit yang kemarin baru saja di datangi oleh Tuan Frans  dan nyonya besar  tersebut.


Begitu sampai Derry  membukakan pintu untuk Mamanya dan Soraya. Mereka semua langsung menuju dimana Fanni  telah dirawat saat ini.


Dengan cepat Tuan Frans  menggenggam tangan istrinya, begitu juga Derry  menggenggam tangan Soraya.


Senyum mengembang diantara keduanya, Soraya  jalan perlahan di tuntun oleh Derry  sang suami kontrak yang sadis itu sekarang berubah menjadi romantis.

__ADS_1


Begitu sampai di depan ruangan itu, Papa Fanni  bingung sekaligus terkejut melihat Derry  membawa seorang wanita yang bahkan tidak dia kenali tersebut. Dengan mesranya menggenggam tangan wanita itu, pikir Papa Fanni  saat ini.


"Derry! kamu sudah sembuh??" tanya Papa Fanni  bingung.


"Iya Om, Derry  sudah sembuh sekarang, bagaimana dengan Fanni??" tanya Derry  pula.


"Derry.. siapa wanita ini??" tanya Papa Fanni  dengan cepat tanpa menjawab  pertanyaan Derry  terlebih dahulu.


"Istri Derry  Om, kenalkan namanya Soraya," ucap Derry  lagi.


"Istri? apa kau mempermainkan Fanni?? Derry.. Fanni  seperti ini pasti karena ulahmu!! dan wanita penggoda ini, telah merusak hubungan kalian bukan??" dengan nada keras dan amarah di wajah Papa Fanni  jelas terlihat saat itu.


"Om, berhenti mengatakan istriku seperti itu, dia bukan penggoda, aku lah yang menggodanya dan kami menikah!!" jelas Derry  dengan ketusnya.


"Pergi kau Derry, jangan munculkan wanita ini di depan Fanni!! anakku tidak membutuhkan lelaki bajingan sepertimu!!" dengan teriakan yang kuat saat itu.


Tuan Frans  dan istrinya terdiam mendengar kemarahan seorang ayah membela anak perempuannya. Mereka berdua menganggap itu hal wajar, dan mereka tampak bingung harus membela siapa saat ini.


Ingin membela anaknya namun memang tampak kesalahan itu berada di tangan Derry. Ingin membela Fanni, namun Derry  tidak akan pernah kembali lagi dengan Fanni, pembelaan hanya sia-sia.


Tuan Frans  angkat bicara menyela kemarahan Papa Fanni  tersebut. Ingin mendinginkan, suasana di antara mereka saat ini.


"Maaf kan anak kami Tuan Firhat, kami juga tidak tahu kalau mereka telah menikah bahkan sudah hampir 90 hari pernikahan itu berjalan," ucap Tuan Frans  menjelaskan.


"Tidak! aku tidak akan memaafkan bajingan sepertinya! apalagi kalau ada yang terjadi kepada Fanni, dia akan menerima akibatnya!!" ucap Papa Fanni  masih menyimpan dendam.


Tak lama kemudian, tiba-tiba dokter keluar dengan cepat dan tampak berkeringat yang banyak. Mereka melakukan jahitan di tangan Fanni  yang sempat dia gunting sendiri.


"Dok.. bagaimana anak saya??" tanta Papa Fanni  panik.


Mereka semua tidak sabar mendengar ucapan sang dokter memberikan kabar baik untuk mereka.


"Syukurlah, pasien terselamatkan ada lima belas jahitan, namun untung saja nadinya tersebut tidak terputus, gunting itu berada di samping urat nadi," jelas dokter.


"Alhamdulillah...." ucap Tuan Frans  lega mendengar penjelasan dokter tersebut.

__ADS_1


****


__ADS_2