
"Apa?? Fanni melakukan percobaan bunuh diri??" ucap Derry tak kalah terkejutnya.
"Astagfirullah..." ucap Soraya sambil menutup mulutnya tersebut.
"Ayo Derry, cepat kita lihat keadaan Fanni saat ini, Mama takut dia kenapa-napa," ucap Nyonya besar.
"Iya Ma, Pa. Sebentar Derry tukar pakaian dulu ya, kalian tunggu di bawah saja, Derry akan segera turun," ucap Derry memang panik.
Mereka pun mengangguk setuju, dan kemudian mereka turun. Wajah khawatir Derry sangat terlihat saat itu. Membuat Mamanya masih percaya kalau Derry masih menyimpan cinta untuk Fanni tersebut.
Tidak mungkin kalau tidak cinta tidak sepanik itu, ucap Nyonya besar dalam hatinya saat ini. Dia pun mulai merencanakan sesuatu untuk nanti.
Dia masih ingin menyatukan Derry dan Fanni juga. Mereka itu keluarga kaya raya dan terpandang, jika memang bisa nanti Derry menerima Fanni kembali biarlah Fanni menjadi istri kedua Derry pun tidak apa-apa, pikirnya lagi.
"Sayang... kenapa kamu masih belum tukar pakaian??" tanya Derry kepada istrinya.
"Kamu saja Derry yang pergi, nanti Fanni tidak menyukaiku," ucap Soraya sedikit ragu.
"Sayang, kamu istriku!! temani aku kemanapun sekarang!!" ucap Derry kembali memerintah istrinya.
Dengan berat hati Soraya pun melangkah dan bertukar pakaian. Hanya memakai pakaian santai saja, jeans dan kaos biasa dia pakai untuk menemani suaminya malam ini.
Soraya merasa bersalah besar saat ini, karena mendengar keadaan Fanni yang sudah berani melakukan bunuh diri. Soraya pun berpikir itu karena suaminya yang memilih dirinya sendiri.
"Apa yang harus kuperbuat??" tanya nya dalam hati.
Dengan berat hati pakaian itu pun telah terpasang di tubuh Soraya itu. Derry pun menggenggam tangan istrinya dan menuntun Soraya menuruni anak tangga.
Sedangkan Tuan Frans dan Mama Derry tersebut sudah berada di dalam mobil untuk menunggu Derry turun. Akhirnya Derry dan Soraya turun juga, mereka pun ingin memasuki mobil yang telah dimasuki kedua orang tua Derry tersebut.
Ketika Soraya ingin melangkah masuk ke belakang, duduk bersama Mama Derry itu sedangkan Derry pula duduk di depan di sebelah Papanya tersebut.
"Kamu kenapa naik??" tanya Mama Derry dengan nada sinis.
Soraya pun terdiam dan undur diri, dia turun kembali. Tuan Frans dan Derry yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang.
__ADS_1
Tuan Frans tidak berani angkat bicara, namun Derry sebagai seorang suami dia pun langsung berkata tegas yang mengarah untuk Mamanya tersebut, bahkan Derry kembali turun dari mobil itu menghampiri istrinya.
Tangan Soraya dia genggam erat, dan tatapan Derry tampak tajam ke arah Mamanya tersebut. Dengan cepat Derry angkat bicara tangannya tersebut menggenggam erar terus menerus.
" Ma, Soraya istri Derry, kalau Soraya tidak ikut Derry juga tidak!!" bentak Derry dengan keras.
Soraya menahan rasa tangisnya, entah dia menangis karena tersinggung atau menangis karena rasa haru sang suami membelanya di, depan ibu mertua yang tampak membenci Soraya itu.
"Derry..." terhenti ucapan Mamanya disitu ada rasa sesak di hatinya, dan tiba-tiba Tuan Frans mencoba memperbaiki keadaanya.
"Ma.. sudah lah, apa yang dikatakan Derry memang benar, biarkan Soraya ikut bersama kita," ucap Tuan Frans.
Mama Derry pun terdiam mendengar ucapan suaminya tersebut. Dan kini Mama Derry tampak bergeser sedikit, menandakan setuju tersebut.
Mau tidak mau dia harus setuju, dan kini dia juga diam seribu bahasa. Soraya pun dituntut oleh Derry untuk masuk ke dalam.
"Sayang... masuklah," ucap Derry dengan lembut dan menuntunnya.
Soraya mengangguk lemah, dan mengikuti apa yang dikatakan suaminya tersebut. Mama Derry menoleh ke kanan dan menghadap ke jendela tanpa menatap Soraya yang berada di sebelah kirinya tersebut.
Bukan maunya menjadi istri dalam kontrak 90 hari. Bukan inginnya menjadi korban keadaan dari garis takdir, ini adalah sebuah goresan hidup yang memang telah ditetapkan Tuhan kepadanya.
Soraya, kini masih bergelar istri siri karena pernikahan itu masih belum didaftarkan kepada negara.
Setelah Derry sembuh total, dia akan berjanji akan mendaftarkan pernikahannya dan membuat resepsi besar-besaran untuk dirinya dan Soraya.
Kini mobil itu pun telah keluar dari pagar. Suasana di dalam mobil itu senyap dan tidak ada sepatah kata yang keluar. Dulu Mama Derry begitu hangat kepadanya, kini menjadi kutub utara yang membeku.
Karena jalanan kota Jakarta sedikit lenggang membuat mobil itu segera sampai di depan parkiran rumah sakit yang kemarin baru saja di datangi oleh Tuan Frans dan nyonya besar tersebut.
Begitu sampai Derry membukakan pintu untuk Mamanya dan Soraya. Mereka semua langsung menuju dimana Fanni telah dirawat saat ini.
Dengan cepat Tuan Frans menggenggam tangan istrinya, begitu juga Derry menggenggam tangan Soraya.
Senyum mengembang diantara keduanya, Soraya jalan perlahan di tuntun oleh Derry sang suami kontrak yang sadis itu sekarang berubah menjadi romantis.
__ADS_1
Begitu sampai di depan ruangan itu, Papa Fanni bingung sekaligus terkejut melihat Derry membawa seorang wanita yang bahkan tidak dia kenali tersebut. Dengan mesranya menggenggam tangan wanita itu, pikir Papa Fanni saat ini.
"Derry! kamu sudah sembuh??" tanya Papa Fanni bingung.
"Iya Om, Derry sudah sembuh sekarang, bagaimana dengan Fanni??" tanya Derry pula.
"Derry.. siapa wanita ini??" tanya Papa Fanni dengan cepat tanpa menjawab pertanyaan Derry terlebih dahulu.
"Istri Derry Om, kenalkan namanya Soraya," ucap Derry lagi.
"Istri? apa kau mempermainkan Fanni?? Derry.. Fanni seperti ini pasti karena ulahmu!! dan wanita penggoda ini, telah merusak hubungan kalian bukan??" dengan nada keras dan amarah di wajah Papa Fanni jelas terlihat saat itu.
"Om, berhenti mengatakan istriku seperti itu, dia bukan penggoda, aku lah yang menggodanya dan kami menikah!!" jelas Derry dengan ketusnya.
"Pergi kau Derry, jangan munculkan wanita ini di depan Fanni!! anakku tidak membutuhkan lelaki bajingan sepertimu!!" dengan teriakan yang kuat saat itu.
Tuan Frans dan istrinya terdiam mendengar kemarahan seorang ayah membela anak perempuannya. Mereka berdua menganggap itu hal wajar, dan mereka tampak bingung harus membela siapa saat ini.
Ingin membela anaknya namun memang tampak kesalahan itu berada di tangan Derry. Ingin membela Fanni, namun Derry tidak akan pernah kembali lagi dengan Fanni, pembelaan hanya sia-sia.
Tuan Frans angkat bicara menyela kemarahan Papa Fanni tersebut. Ingin mendinginkan, suasana di antara mereka saat ini.
"Maaf kan anak kami Tuan Firhat, kami juga tidak tahu kalau mereka telah menikah bahkan sudah hampir 90 hari pernikahan itu berjalan," ucap Tuan Frans menjelaskan.
"Tidak! aku tidak akan memaafkan bajingan sepertinya! apalagi kalau ada yang terjadi kepada Fanni, dia akan menerima akibatnya!!" ucap Papa Fanni masih menyimpan dendam.
Tak lama kemudian, tiba-tiba dokter keluar dengan cepat dan tampak berkeringat yang banyak. Mereka melakukan jahitan di tangan Fanni yang sempat dia gunting sendiri.
"Dok.. bagaimana anak saya??" tanta Papa Fanni panik.
Mereka semua tidak sabar mendengar ucapan sang dokter memberikan kabar baik untuk mereka.
"Syukurlah, pasien terselamatkan ada lima belas jahitan, namun untung saja nadinya tersebut tidak terputus, gunting itu berada di samping urat nadi," jelas dokter.
"Alhamdulillah...." ucap Tuan Frans lega mendengar penjelasan dokter tersebut.
__ADS_1
****