
Karena Fanni sudah dianggap berada di dalam kamar oleh Papanya tersebut. Lelaki yang sudah berstatus duda itu berencana minggu depan akan menikahi Meri.
Meri pun telah bersiap-siap untuk itu. Besok Meri akan pulang ke kampungnya dan berhenti bekerja dari rumah Fanni tersebut.
Malam ini Fanni tampak terpukul setelah mendengar Derry lebih memilih Soraya. Katanya 90 hari, namun Derry memilih wanita yang dinikahi kontrak 90 hari tersebut.
90 hari hanya janji awal, bisa bertukar kapan saja yang Derry inginkan. Aplagi tentang cinta, yang datangnya tiba-tiba dan penuh rahasia.
Semua keputusan berada ditangan Derry, Fanni tampak marah dan depresi saat ini. Malam itu setelah bertemu dengan Tuan Osman, dia pun langsung menemui Derry, sayangnya kenyataan pahit ini harus diterimanya.
"Tidak.. adil!!" teriaknya kuat di dalam kamar.
Namun siapa yang mahu mendengarkan teriakan itu, semuanya lelap dengan lelahnya. Dia sendiri menghadapi kenyataan pahit ini. Larut malam semakin menusuk ke tulang, dingin malam dan dingin ac beradu menjadi satu.
Dia menggigit bibirnya, mengambil ponselnya dan melihat pesan Tuan Osman beberapa jam yang telah berlalu. Nada pengancaman membuatnya gelap mata, dan hatinya mati untuk bertahan di bumi ini.
Dia melangkah mengambil gunting tajam yang berada dalam laci meja riasnya tersebut. Air Matanya sudah mengering, rambut acak-acakan itu tampak kusut terbiar.
"Tidak..adil!!" teriaknya kembali.
"Auh......." lebih kuat dan kencang kali ini, seolah menahan rasa yang teramat sakitnya.
Jeritan itu membangunkan semua orang yang tadinya terlelap terkejut hingga sampai pos sekuriti.
"Apa itu??" ucap mereka saling pandang dan bergidik merinding.
"Dari kamar non Fanni!!" ucap yang satunya lagi.
Papa Fanni pun bangikt dan terkejut, begitu juga Meri yang baru saja ingin melelapkan matanya, karena dia baru selesai mengemasi pakaiannya untuk pulang besok.
Mendengar jeritan itu Papa Fanni berlari menuju kamar Fanni saat ini, yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.
"Fan... buka Fan!!" teriak Papanya.
Sekuriti dan Meri yang bertemu di bawah anak tangga saling pandang saat itu. Dan mereka mencoba naik tanpa disuruh.
Dengan cepat mereka menghampiri Papa Fanni yang masih mengetuk pintu tersebut. Dan kemudian mereka berkumpul bersama, sekuriti itu pun menawarkan tenaganya.
"Tuan.. kita dobrak saja," ucapnya.
"Yasudah, lakukanlah!!" ucap Papa Fanni .
__ADS_1
Brak...
Tanpa aba-aba tubuh kedua sekuriti itu berhasil menembus pintu Fanni yang telah terkunci tersebut. Betapa terkejutnya mereka darah di tangan itu telah mengalir mengikuti garis ubin lantainya.
"Fanni....." teriak Papanya saat itu langsung mengangkat tubuh Fanni di pangkuannya.
Gunting yang tajam itu bahkan masih tertancap di nadi Fanni tersebut. Mata Fanni tertutup rapat, hanya mulutnya saja ternganga saat itu.
"Cepat telpon ambulan!!" perintah Papanya kepada mereka.
Meri pun langsung menelpon ambulan, dan lima belas menit berlalu ambulan pun sampai di rumah milik Fanni tersebut. Fanni yang sudah di papah turun ke bawah itu langsung dimasukkan ke dalam ambulan.
"Fanni... bangun Fan!" histeris Papa Fanni tersebut sambil menangis terisak.
Meri pun takut untuk memenangkannya, hanya berani melihat Papa Fanni meratapi anaknya yang melakukan percobaan bunuh diri tersebut.
Mereka berdua yang membawa Fanni ke rumah sakit, sedangkan kedua sekuriti itu menunggu rumah mereka.
"Ih.. serem amat yak Pur, kalau sampai non Fanni meninggal, rumah ini akan berhantu!!" ucapnya.
"Hus.. jangan begitu kamu Par!!" ucap sekuriti bernama Gapur tersebut.
Dua sekuriti di rumah Fanni ini saudara kembar, namanya Gapur dan Gapar. Cukup lama mereka bekerja, itu lah mengapa walau keadaan ekonomi Papa Fanni menurun mereka masih dipekerjakan.
Dokter dan beberapa perawat itu mencoba bekerja sebaik mungkin, walau jam sudah pun sangat larut sekali. Mondar-mandir Papa Fanni menunggu hasilnya, namun untuk memberitahukan kepada Tuan Frans dia cukup malu dan segan.
"Bagaimana ini, aku beritahukan atau tidak!!" umpatnya dalam hati dan bingung.
"Ah.. aku telepon saja mereka," ucapnya lagi.
Ponsel Tuan Frans berdering kuat, baru saja ingin lelap lagi karena sudah terlelap dan Papa Fanni sempat datang kerumah tidurnya kembali terganggu.
Karena ponsel itu berdering terus menerus, Mama Derry juga ikut terbangun, dan meraih ponsel suaminya itu yang berada di sebelah meja yang tidak jauh dari tempat Mama Derry berbaring.
Dia pun meraba mengambil ponsel tersebut, masih dengan mata sedikit samar membaca nama yang ada di layar ponsel itu, Tuan Firhat yaitu Papa Fanni tersebut menghubungi suaminya selarut ini.
"Pa....angkat dulu ini, Papa Fanni menelpon," ucap Mama Derry tersebut.
Dengan rasa yang berat menahan ngantuknya itu, Tuan Frans pun segera mengangkat teleponnya dan dengan suara yang parau, karena baru saja bangun tidur.
"Hallo.. Tuan Firhat.. ada apa??" tanyanya.
__ADS_1
"Tuan Frans, Fanni mencoba bunuh diri!!" ucap Papa Fanni tersebut.
"Apa?? bagaimana kondisinya sekarang?? terhentak Tuan Frans, matanya pun terbuka lebar dia tak percaya Fanni akan melakukan hal tersebut.
"Di rumah sakit yang kemarin Tuan, saya langsung membawanya kesini!!" ucap Papa Fanni tersebut.
"Baik, malam ini juga kami akan kesana!!" ucapnya dan panggilan itu terputus.
"Pa.. ada apa?? kenapa Papa panik??" tanya Nyonya besar.
"Fanni Ma, Fanni bunuh diri!!" ucap Tuan Frans.
"Apa.... Fanni bunuh diri?? Ya Tuhan..." sambil menangis Nyonya besar tersebut.
"Pa.. ayo kita segera kesana, dan kita harus membawa Derry juga Pa, kasihan Fanni, semoga dia selamat," ucap Nyonya besar.
"Iya Ma, ayo kita kejutkan Derry juga," ucap Papanya tersebut.
Mereka pun bertukar pakaian dan telah mencuci mereka. Tampak panik mereka berdua, mereka berpikir Fanni melakukan hal itu karena Derry menolaknya beberapa jam lalu.
Dan di dalam hati Mama Derry menyimpan kemarahan untuk Soraya yang merebut Derry dari Fanni tersebut. Soraya dianggap hanya ingin menguasai harta kekayaan Derry saja.
Kini mereka telah siap berpakaian, dan mereka berdua menuju kamar Derry yang berada di atas. Setapak demi setapak mereka menaiki anak tangga dengan cepat.
Akhirnya sampai juga mereka di ambang pintu dan langsung mengetuk pintu kamar Derry tersebut. Derry yang tampak lelap karena begitu lelahnya dia baru melakukan aktifitas meluahkan rindunya kepada istri tercintanya.
Rasanya tidur malam ini begitu nikmat berada dalam pelukan istrinya itu. Hingga ketukan berkali-kali tidak masuk di telinganya. Namun Tuan Frans dan istrinya tidak putus asa, dia terus saja mengetuk pintu, akhirnya Soraya terkejut dan melepaskan pelukan Derry yang tidak berbusana itu dengan cepat.
"Derry.. bangun!!" ucap Soraya sambil mengguncang tubuh suaminya.
"Hem.. kenapa sayang..." ucapnya dengan pelan.
"Bangun dulu, itu kayak suara Mama dan Papa," ucap Soraya lagi.
Derry pun mulai sedikit membuka matanya dan dia mendengarkan ketukan pintu yang kuat itu. Lalu dia pun segera memakai boxer dan bajunya yang sudah berserakan di lantai.
Begitu juga dengan Soraya dia pun memakai piyamanya dengan benar. Karena tampaknya ada hal penting yang akan disampaikan oleh mertuanya tersebut, hingga mereka mengetuk pintu selarut ini, pikir Soraya lagi.
Derry pun mulai berjalan ke ambamg lintu, dan Soraya turun dari ranjangnya mengikuti Derry dari belakang.
Cekrek...
__ADS_1
Pintu pun terbuka, Derry tercengang melihat Mamanya telah berderai air mata.
"Ada apa Ma??" tanya Derry.