90 DAYS

90 DAYS
MERASA TERHINA


__ADS_3

Ketukan pintu itu membuat Soraya  panik begitu juga dengan Derry. Mereka sedang berada di ruangan yang sama dan terkunci. 


   Apa kata orang nanti?? tanya Soraya  yang sedang takut saat ini. 


   "Tenang saja, cepat kita pakai pakaian ini," ucap Derry  masih saja bisa tenang. 


      "Ini karenamu Derry!!" ucap Soraya  kesal. 


      "Hahaha, tapi kau begitu menikmatinya," jawab Derry  kembali.


      Pintu masih saja terketuk kuat, dan semakin kuat lagi saat ini. Soraya  yang sudah memakai pakaiannya tersebut, mencoba bercermin di kamar mandi yang ada dalam ruangan tersebut. 


   Kini, Derry  sudah tampak kembali rapi, Soraya  pula sudah membenahi rambut yang panjangnya sebahu tersebut. Soraya  duduk di depan meja kerja Derry, seolah mengerjai sesuatu. 


     Derry  pula, dia yang membukakan pintu untuk orang yang baru saja menjadi pengganggu dalam permainan panasnya tersebut. 


         "Fanni??" ucap Derry terkejut. 


         "Kenapa lama sekali membuka pintu!!" bentak Fanni. 


        "Kau ngapaian ke sini??" tanya Derry  lagi masih berdiri di ambang pintu. 


      "Ini kan perusahaan calon suamiku, memangnya tidak boleh?? sayang.. aku ingin masuk," ucap Fanni. 


      "Ya!  masuklah," ucap Derry  masih santai padahal dia sudah khawatir karena berhadapan dengan dua orang wanita yang memang sedang dia pikirkan itu. 


     "Ha.. Soraya??" ucap Fanni  terkejut melihat Soraya  ada di dalam ruangan yang di kunci barusan. 


     "Hai.. nona Fanni," ucap Soraya  ramah. 


      "Kau buat apa di sini??" siasat Fanni  kepada Soraya saat ini. 


     Fanni memang sudah bertemu dengan Soraya, saat itu memang Soraya  sedang di ajak dinner oleh Tio, tak disangka pula mereka kembali bertemu di ruangan Derry ini. 


       Jika ikutkan hati, ingin saja Soraya  mengatakan dia ingin bersama suaminya, namun ucapan itu masih disimpan begitu rapat. Soraya  sedikit bungkam ketika Fanni  bertanya seolah nada curiga tersebut, Derry  yang mendengar itu langsung mencelah keduanya. 


     "Fanni!! dia stafku!! kami sedang melakukan pekerjaan penting," ucap Derry  sedikit geram dengan pertanyaan Fanni  tersebut. 


    "Bekerja?? bekerja sambil mengunci pintu??" ucap Fanni  menyindir ke arah Soraya  yang masih tertunduk. 


    "Sudah lah Fanni, kau datang-datang malah mencari keributan, dia hanya staf!!" ucap Derry  lagi keras. 

__ADS_1


     Ucapan tersebut membuat hati Soraya kembali merasakan sayatan keras. Memang, ucapan itu untuk, menutupi apa yang baru saja berlaku kepada mereka berdua, namun rasanya di hina di depan orang yang dicintai Derry  ini lebih sakit dibanding di hina di depan pak Rendra  beberapa jam lalu, pikir Soraya.


    "Oh.. iya kan cuma staf," ucap Fanni  sedikit angkuh. 


    "Pak Derry, saya pamit dulu," ucap Soraya  lalu pergi. 


      Jika sudah memanggil Derry  dengan ucapan formal begitu, tentu lah Soraya  menyimpan sesuatu yang begitu kesal di hatinya tersebut. 


       Soraya  kini berlalu meninggalkan Derry  dan Fanni  saat itu juga. Soraya  yang merasa dirinya terhina di depan Fanni  tersebut, hampir menuju lift dia meneteskan air matanya. 


    Wanita mana yang tidak sedih, suami sendiri tidak mampu membela dirinya di depan wanita lain. Jika itu sudah takdir Soraya, ingin rasanya Soraya  putuskan hubungan ini dengan segera. 


     Hari ini hari terakhir masuk ke kantor, senin dia sudah akan berangkat ke luar kota bersama Tio, karena tugas ini langsung di perintahkan oleh papanya Derry , yaitu tuan Frans Sanjaya. 


     Mereka harus mengecek tanah di luar kota Jakarta tersebut, bahkan di sana Tio dan SORAYA  akan banyak melakukan pertemuan dengan para pemilik pabrik-pabrik tersebut. 


      Soraya  kini sudah kembali ke ruangannya sendiri. Dia pun meluahkan tangisnya disana, rasa perih itu kembali tergores di hatinya. 


      "Aku memang seorang kuli, tidak pantas bagiku menjadi istri seorang Ceo," ucap Soraya  dalam batinnya. 


       Perkataan itu terulang terus menerus di bibir Derry, namun tampak tidak ada rasa penyesalan di sana. Fanni yang datang kembali di kehidupan Derry  tersebut, membuat Soraya  tersisihkan saat ini. 


       "Derry, apa kau ada hubungan dengan staf itu??" tanya Fanni  saat ini. 


    "Tidak ada!!" ucap Derry  berbohong.


    Ya!  Derry  memang masih belum berani mengungkapkan apa yang terjadi antara dirinya dan SORAYA  saat ini, rasa dilemanya begitu dalam sekarang. Bahkan di depan Fanni  dia tidak berani berkata jujur, jika dia sudah memiliki seorang istri. 


     Apa Derry  takut?? 


     Apa Derry  takut Fanni  meninggalkannya?? 


     Apa masih ada cinta??


     Pertanyaan itu datang dalam dirinya paling dalam, seolah satu persatu di dalam dirinya tersebut menanyakan tentang keberadaan Fanni  di hatinya saat ini. 


    Orang bilang, mencintai dua wanita dengan satu hati yang sama itu sangat mudah, namun bagi Derry  itu rasanya tidak mungkin saja. Karena hidup dan cinta itu sama titahnya, sama-sama harus ada yang berkorban dan memilih mana yang ingin dipilih. 


      Apa aku memilih Fanni??


    Ya! aku memilih Fanni, ucap pikirannya saat ini. Dia masih saja menafikan perasaannya kepada Soraya. Dia mencoba membetulkan apa yang hilang terlebih dahulu dari dirinya. 

__ADS_1


    Lalu, mengapa bayangan Soraya  selalu muncul?? tanya Derry  kembali. 


    "Derry!!" sentak Fanni. 


     "Iya sayang," ucap Derry  lembut. 


     Jika seorang Derry  sudah mengucap begitu, hatinya masih terlihat menginginkan Fanni  saat ini, ini adalah cinta pertama dirinya mungkinkah ini jadi cinta terakhir juga?? 


        Saat yang sama juga, Tio datang memecahkan kesunyian di ruangan Derry  tersebut. Tanpa mengetuk pintu Tio masuk dan terkejut, melihat Fanni  sudah duduk di kursi Derry  itu. 


        "Fanny... hei kau disini," ucap Tio senang melihat teman masa kecilnya juga. 


      "Tio, kau apa kabar??" tanya Fanni  lagi basa-basi. 


      "Aku baik saja, aku ingin berbicara sebentar kepada Derry," ucap Tio. 


  "Ya Sudah silahkan," ucap Fanni  begitu akurnya. 


     "Ada apa Tio??" tanya Derry.


     "Derry, tolong tanda tangani ini dulu, besok aku dan SORAYA  akan berangkat keluar kota," ucap Tio lagi. 


    Derry  terkejut dengan ucapan Tio tersebut, file kali ini harus ia tandatangani agar bisa dibawa oleh mereka bertemu dengan klien. 


      Derry  seolah tidak rela, istrinya akan pergi bersama Tio sepupunya tersebut. Derry  tidak tahu, jika papanya telah memerintahkan Tio  dan SORAYA  yang harus keluar kota bertemu klaen mereka senin besok. 


       "Wah.. kalian ingin pergi kemana??" tanya Fanni  menyelah, seketika mendengar Tio di tugaskan keluar kota bersama Soraya.


     "Iya Fanni, kami ditugaskan Om Frans  untuk pergi ke kota Surabaya. Tanah disana sepertinya akan ada kenaikan untuk klien yang menyewa di sana, makanya kami ditugaskan untuk pergi berdua," ucap Tio  lagi. 


     "Baguslah kalau begitu, hati-hati jika kalian berangkat," ucap Fanni  ramah. 


      Ucapan Fanni  tersebut membuat Derry  begitu tertusuk, pasalnya yang dikatakan Fanni  itu adalah istrinya, dia tampak tidak rela jika Soraya  harus pergi bersama Tio. 


****


   


  


     

__ADS_1


__ADS_2