
Derry dan Soraya masih menunggu di luar, tak lama kemudian ada beberapa orang suster sedang membawa seorang pasien dengan wajah terburu-buru.
Soraya dan Derry melihat jelas siapa yang terbaring di pembaringan yang dibawa oleh para perawat itu.
"Itu Papa Fanni!" ucap Derry terkejut dan Soraya juga.
"Pak, berhenti," ucap Derry menghentikan pegawai bank itu.
"Maaf, saya harus mengurus bapak ini dulu," ucapnya dengan pergi meninggalkan Derry dan Soraya.
Ruangannya tidak begitu jauh dengan ruangan dimana papa Derry dirawat saat ini, bahkan hanya kelang dua ruangan dari sini.
Orang itu menunggu diluar dengan wajah khawatir sekarang. Derry dan Soraya berpikiran yang sama, mereka pun mencoba mendatangi lelaki yang tengah menunggu di ruangan tunggu itu.
"Maaf pak, bukankah itu Tuan Firhat?" tanya Derry saat ini.
"Iya benar sekali, apa anda mengenalnya?" tanya pegawai bank itu.
"Iya pak saya mengenalnya, dia kenapa?" tanya Derry lagi.
"Dia terkena serangan jantung dadakan," ucapnya.
"Lalu, kemana Fanni? Dan bapak ini siapa?" tanya Derry kembali dengan penasarannya.
"Nona Fanni saya tidak tahu dia kemana, dan saya adalah pegawai bank yang tadinya mengabarkan kepada Pak Firhat untuk mengosongkan rumahnya hari ini, karena rumah itu telah dijual oleh Nona Fanni kepada bank, dan itu lah mengapa beliau tiba-tiba terserang penyakit jantung dadakan saat itu," jelasnya.
"Astaghfirullah, kenapa wanita itu tega menjual rumahnya, dia kan tahu papanya ini seorang diri," ucap Derry lagi yang mengetahui sampai saat ini papa Fanni tersebut adalah duda.
"Tidak, kata sekuriti di rumah itu, Pak Firhat sudah menikah lagi, itulah mengapa Nona Fanni pergi dari rumahnya," jelasnya kembali.
"Apa? Menikah dengan siapa?" tanya Soraya dan Derry serentak.
"Saya juga tidak kenal dengan wanita itu, namun ketika saya datang kerumah mereka pagi tadi, saya memang melihat wanita tersebut awalnya mendampingi Pak Firhat, dan setelah wanita itu mendengar pak Firhat tidak memiliki apapun, dia pun lari begitu saja tanpa ingin menanggung semua ini," jelas pegawai bank tersebut membuat Soraya dan Derry sangat iba mendengarnya.
"Ada apa sebenarnya ini Derry?" tanya Soraya lagi.
"Aku juga tidak tahu sayang, aku sudah lama tidak bertemu dengan Papa Fanni tersebut," jelas nya.
"Apa kalian ini saudaranya?" tanya pegawai bank ini.
"Kami mengenalnya cukup baik pak," jawab Derry.
__ADS_1
"Oh, baiklah kalau begitu, apa bisa saya tinggal dia bersama kalian? Karena saya masih banyak tugas dan pekerjaan yang belum terselesaikan lagi," jelasnya.
"Baiklah pak, saya akan mengurus segalanya," ucap Derry dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, terima kasih banyak, untung saja saya bertemu dengan kalian," jelasnya lalu dia pun segera pergi dengan cepat.
"Sayang, kamu gak marahkan kalau aku bantu papanya Fanni?" tanya Derry kepada Soraya.
"Tidaklah Derr, kenapa juga aku harus marah dengan suamiku yang melakukan perbuatan baik ini, aku mendukungmu sayang," ucap Soraya sambil memeluk erat suaminya itu.
"Terima kasih istriku," Derry pun membalas pelukan itu dengan hangatnya, Soraya mengingat sesuatu saat ini mengenai rencana Derry malam tadi untuk menjebak Fanni.
"Sayang, apa Fanni ada membalas pesanmu?" tanya Soraya sekarang.
"Aku tidak tahu sayang, sebentar aku lihat dulu," ucap Derry lalu langsung mengeluarkan ponselnya dari sakunya itu.
Dia pun membuka pola layarnya dengan cepat. Disana memang ada terlihat notifikasi pesan dan tampak ada beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya itu.
Ketika dia menerima panggilan dari Tio, dia bahkan tidak melihat apapun di layarnya tersebut, karena kesedihan tadi membuat dia malas menatap lama layar ponsel.
"Sayang, Fanni menuliskan sebuah pesan," ucap Derry penuh semangat.
Derry pun langsung memberikan ponsel itu kepada istrinya, Soraya mulai membaca apa yang dituliskan oleh Fanni kepada suaminya tersebut.
Tiba-tiba Soraya menemukan ide jitu ketika membaca pesan dari Fanni itu.
"Derr, kamu bisa memerangkap Fanni dengan mengatakan kalau papanya saat ini sakit, jadi kalian tidak perlu bertemu diluar, buatlah dia yang datang kesini," ucap Soraya kembali memberikan ide.
"Iya, kamu benar juga sayang, ya sudah aku mencoba menghubunginya saja ya," ucap Derry dan Soraya langsung membalas dengan anggukannya.
Fanni pula pagi ini tengah melahap sarapan rotinya yang sempat dia beli tadi malam sebelum dia menuju wilayah terpencil ini, dia pun mendengar suara ponselnya yang berdering kuat itu langsung jawabnya dengan cepat saat ini.
"Derry! Dia menghubungiku sepagi ini, hm..lihat saja kamu Derry!" ucapnya dalam hati.
Panggilan itu dijawab oleh Fanni, dia sengaja membuat suaranya begitu manja di telinga Derry, namun laki itu sudah tawar hati dengan Fanni tersebut, bahkan suara itu terdengar cukup menjijikkan di telinga Derry saat ini.
"Derry..apa kau ingin menemuiku sekarang?" tanya Fanni lagi.
"Fann, awalnya aku ingin menemuimu tadi, aku bahkan sudah kerumahmu pagi ini," ucap Derry.
"Derry, kan sudah kubilang akan aku beritahu tempatnya, aku sudah tidak ada dirumah," ucap Fanni.
__ADS_1
"Iya Fann, aku berencana bertemu dengan papamu pagi ini, aku juga sempat berbincang dengan papamu, namun saat ini papamu terkena serangan jantung, dia berada dirumah sakit sekarang," ucap Derry mencoba mengimbangi suara Fanni itu.
"Apa? Papa dirumah sakit? Kenapa itu bisa terjadi Derr?" tanya Fanni sedikit panik.
Bagaimanapun itu adalah papa kandungnya, lelaki yang pernah mengajarkannya cara berjalan dan memberikan kasih sayangnya. Walau hubungan mereka sudah renggang saat ini, hubungan darah tidak akan pernah bisa terputus begitu saja, pasti akan ada sebuah rasa yang membuat setiap anak akan luluh dengan orangtuanya.
"Derr, katakan ada apa?" tanya Fanni lagi.
"Fanni, pagi tadi aku kesana, tak lama itu datang seorang yang mengaku pegawai bank, mereka bilang rumahmu itu sudah dijual kepada bank, dan saat itu juga, papamu terkena sakit jantung dadakan," jelas Derry yang membuat suaranya sedikit sedih.
"Derr..apa itu benar?" tanya Fanni yang sudah panik dan mulai berkaca-kaca.
"Iya itu benar, kau datanglah kesini, aku sendirian dirumah sakit ini, pagi tadi aku sangat bingung dan gusar, karena memang aku butuh teman untuk cerita, itulah mengapa aku kerumahmu dan mencari papamu, kau tahu benar bukan, aku dan papamu cukup sering berbicara," jelas Derry lagi.
"Iya sayang, aku tahu itu. Sekarang katakan kamu dirumah sakit mana sayang, aku akan kesana sekarang juga," ucap Fanni merasa tidak ada kecurigaan saat ini.
"Aku di rumah sakit umum kota Jakarta Fann, kemarilah," ucapnya.
"Baiklah, aku akan kesana dalam waktu satu jam lebih, karena aku harus memesan tiket terlebih dahulu," jelasnya.
"Memangnya kau lagi dimana? Aku menunggumu disini," ucap Derry lagi.
"Sekarang aku sedang di kota Surabaya, tunggulah di sana, dan kabarkan kepadaku Derr, oh iya satu lagi, apa kau melihat Meri disana?" tanya Fanni lagi.
"Tidak, aku tidak melihat Meri sama sekali disini, memangnya kenapa dengan Meri?" tanya Derry lagi.
"Meri telah menghancurkan hubunganku dengan papa!" umpatnya dengan penuh dendam.
"Apa? Meri? Bagaimana bisa pembantu kamu menghancurkan hubunganmu dengan Om Firhat," ucap Derry Kembali.
"Nanti saja aku beritahukan setelah aku sampai disana, aku mempercayaimu Derry untuk menjaga Papaku," jelasnya lagi.
"Iya kamu tenang saja, apa kamu ada uang? Kalau tidak ada aku akan memesankan tiket mu juga Fann," ucap Derry.
"Yasudah kamu pesankan saja tiketku sayang, terima kasih banyak.
Panggilan itu pun segera ditutup, Fanni yang ingin memerangkap Derry, malah dia yang terbawa arus deras dari drama Derry ini. Bahkan dia tak berpikir jernih, kalau Derry saat ini sedang memberikan umpan kepadanya.
"Sayang, rencanamu berhasil, aku akan segera menghubungi Tio," ucap Derry saat ini.
****
__ADS_1