
"Raya.. tenanglah dulu, tidak ada yang terjadi apa-apa dengan Derry, namun tante saat ini telah pun meninggal dunia," jelas Tio sekarang.
Mendengar ucapan Tio itu, jantung Soraya berdebar kuat, kakinya lemas mendengar ibu mertuanya telah pun tiada, walaupun wanita itu tidak baik dengannya, namun sebelum ini Nyonya besar telah pun bersikap sangat baik dengan Soraya.
Begitu Soraya terjatuh di bawah kaki Tio, lelaki langsung mengangkat tubuh Soraya berdiri saat ini, kemudian Tio tampak menyemangati Soraya kembali.
Dan sekarang juga Soraya kembali berdiri, kemudian dengan cepat menyuruh pembantu rumah baru itu untuk menutup pintu rumahnya, dan Soraya meninggalkan mereka berdua di rumahnya tersebut.
Dengan cepat Soraya dan Tio telah pun masuk kedalam lift, dan saat ini mereka juga sudah sampai di bawah lift juga. Mereka dengan cepat masuk kedalam mobil itu.
"RAYA, sudah jangan menangis terus," ucap Tio yang tampak menenangkan Soraya.
"Tidak Tio, aku sangat sedih sekarang ini, dan kau tahu, aku bahkan belum sempat meminta maaf kepada mama," jelas Soraya lagi sekarang.
"Raya, kamu tidak bersalah dengan tante, jadi kamu tenang saja, dan cukup doakan tante agar tenang disana," jelas Tio kembali.
"TIO, walau bagaimanapun Nyonya besar adalah mama Derry, dia pun mamaku juga Tio, dan anak patut selalu minta maaf kepada orang tua," jelas Soraya lagi membuat Tio terkagum.
Hal seperti inilah yang sulit dielakkan dari pesona seorang Soraya. Jiwanya yang tulis dan hatinya yang murni, selalu bisa bijaksana dan memaafkan, membuat Tio terpana.
Namun sekarang rasanya itu tidak layak ada dipikirannya, Soraya sudah jelas saat ini dia adalah istri dari sepupunya itu. Dan kemudian mengapa harus ada lagi perasaan itu didalam hatiku?
Tanya Tio kepada dirinya sendiri saat ini. Dan sekarang juga, mereka hanya dalam kebisuan. Soraya pula baru mengingat sesuatu yang menurutnya membuat pikirannya gelisah.
"Tio, apa Derry sudah Benar-benar tahu perihal ini?" tanya Soraya lagi memecahkan kebisuan yang seketika itu.
"Sudah Soraya, Derry sudah mengetahuinya sejak dia berada di kantor tadi," jelas Tio kembali.
"Apa dia marah besar?" tanya Soraya yang ingin tahu.
"Awalnya begitu, namun Om Frans langsung memberitahukannya mengenai Fanni!" ucap Tio kembali.
"Ya Tuhan.. Papa memberitahukan semuanya kepada Derry?" tanya Soraya dengan wajah tampak terkejut.
"Ya Raya, buat apa lagi ditutupi, jika Derry nanti terlalu lama mengetahuinya, Bisa-bisa dia akan membenci kita semua, dan pasti bisa terjadi salah sangka dan kesalahpahaman diantara keluarga kita semua," jelas Tio kembali.
"Iya Tio kamu benar, untung saja Derry tidak terlalu marah," ucap Soraya sedikit lega saat ini.
"Iya Raya, kemarahannya saat ini berada dengan Fanni, dia akan membunuh Fanni dan Tuan Osman," ucap Tio menjelaskan.
__ADS_1
"Astaga, Derry tidak boleh melakukan itu, aku akan mencegahnya," ucap Soraya.
"Itu lah Raya, tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui saat ini," jelas Tio kembali.
"Apa itu?" tanya Soraya.
"Sekarang Tuan Osman bersamaku," ucap Tio.
"Ha? Mengapa dia bisa bersamamu?" tanya Soraya yang tampak terkejut itu.
"Ya, ini kebetulan saja, aku menemukan Osman di tengah jalan raya, ada seorang wanita yang mencampakkannya begitu saja keluar dari mobil," jelas Tio kepada Soraya.
"Siapa wanita itu? Apa dia Fanni?" tanya Soraya lagi dengan wajah penasaran nya.
"Bukan Soraya, bukan Fanni dia tampak berwajah ketimuran," jelas Tio.
"Apa dia keluarga tuan Osman?" tanya Soraya yang masih penasaran itu.
"Aku juga tidak tahu Raya, tapi hal ini jangan beritahukan kepada Derry, ini belum saatnya pria itu mendapatkan hukuman dari keluarga kita, karena aku masih membutuhkannya," jelas Tio kembali.
"Maksudmu Tio, kenapa kau membutuhkannya?" tanya Soraya yang tampak bingung.
Soraya mengangguk menandakan dia baru saja mengerti apa yang dikatakan Tio kepadanya saat ini. Kemudian Tio fokus di jalanan kembali.
Sedangkan Fanni yang asyik memejamkan wajahnya di bantal hotel itu, dia tampak juga mematikan ponselnya dengan sengaja sekarang, namun karena mulut pelayan hotel yang baru saja memberikan makanan kepada Fanni, menjadikan Fanni digosipkan oleh orang satu hotel ini.
Hingga sekarang ini mereka bercerita sampai ke telinga manager hotel tersebut. Kemudian karena memikirkan ucapan para karyawannya, sang manajer itu pun mengambil kebijakan sekarang.
Tampak beberapa orang yang ikut dengan manajer itu menuju kamar dimana Fanni menginap sekarang. Dan saat ini Fanni juga tampak ingin terlelap dengan lena.
sedang kan di rumahnya kini Meri asyik membuat provokator kepada papanya sendiri. Dengan berita viral Fanni saat ini, membuat papanya geram dan mencoba menghubungi Fanni.
Jangankan sambutan namun deringan pun tidak ada terdengar dari panggilan itu. Hanya ada suara operator saja sekarang, kemudian Fanni yang hampir tertidur pintunya pula diketuk dengan kuat saat ini.
"Permisi!" teriak orang-orang diluar pintu kamar Fanni.
"Huh.. siapa lagi ini!" umpat Fanni kesal dengan orang yang mengganggunya.
Awalnya dia tidak ingin membukakan pintu itu, namun mau bagaimana pintu itu terus saja diketuk dari luar dengan keras, dengan terpaksa dan langkahnya begitu berat saat ini, Fanni pun sudah sampai diambang pinty untuk membuka pintu itu.
__ADS_1
Cekrek...
Suara pintu dengan jelas terbuka, Fanni menatap orang-orang yang berdiri diambang pintunya itu dengan tatapan yang begitu sinis sekarang.
"Kalian mau apa?" tanya Fanni dengan wajah sinisnya.
"Maaf, apa Anda yang bernama Fanni?" tanya manajer itu.
"Ya, benar itu nama saya," jawabnya acuh tak acuh.
"Maaf nona Fanni, kami dengan terpaksa harus menyuruh ibu chek out sekarang juga," ucap manager itu masih dengan nada sopan.
"Heh enak saja kamu menyuruh saya chek out sekarang, saya disini bayar ya, bukan gratis!' umpat Fanni dengan sinis dan kesal.
"Kami akan mengembalikan uang Anda sekarang juga," ucap manager itu kembali.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini!" umpatnya kesal.
"Kami tidak ingin anda disini sekarang, karena kami takut hotel kami akan didatangi polisi dan nama hotel kami tercemar karena Anda sedang viral saat ini," jelas manager itu.
Fanni mendengus kesal sekarang, dia menatap sinis wajh manager bermulut pedas itu, dengan cepat Fanni membuka suaranya kembali.
"Ini bukan urusan Anda!" ucap Fanni kuat.
Namun orang suruhan Rendra juga berada di hotel ini, tepatnya berada di depan kamar Fanni tersebut. Mendengar keributan yang terjadi di luar, lalu pria suruhan Rendra itu pub keluar dengan cepat dan dia melihat kejadian itu.
Sangat menarik menurutnya, dia yang dari tadi Sedang melihat ponsel itu, dan sempat membaca berita viral hari ini, membuatnya yakin suara keributan itu dari Fanni.
Melihat Fanni yang tampak diserang itu, pria suruhan Rendra tersebut memanfaatkan cara mudah menangkap Fanni saat ini.
Dia akan membuat umpannya Sekarang. Karena memang Fanni tidak punya pilihan lain selain nanti berteman dengan dirinya, itulah yang dipikirkan oleh anak buah Rendra ini.
"Jangan ribut-ribut, memangnya ada apa ini?" tanya pria itu.
"Kami harus mengusir wanita mesum ini dari sini, kami takut hotel kami akan tercemar dan polisi melacak kesini," jelas manager itu kepada orang suruhan tersebut.
"Tidak seharusnya anda berbicara itu kepada wanita, bagaimanapun kesalahannya kalian jangan main kasar!" ucapnya dengan cepat.
****
__ADS_1