
"Aku tidak ingin berurusan denganmu Fanni! Hari ini juga berhenti menghubungi diriku lagi, aku tidak ingin berteman denganmu biang masalah!" ucap Tissa dengan nada kuat saat ini.
"Sial! hei wanita sial, berani-beraninya kau mengataiku biang masalah, kau akan mati Tissa! dengar ini!". Fanni berteriak dengan suara yang penuh kemarahan kepada Tissa saat ini.
Namun Tissa tidak ingin saat ini berteman dengan Fanni lagi setelah video yang sudah tersebar luas itu, Tissa juga malu sebagai sahabatnya. Bahkan memang akhir-akhir ini hubungan mereka juga sudah renggang.
Baru saja Fanni ingin mencari tempat persembunyian, karena dia ingin merencanakan sesuatu hal sekarang.
Namun Tissa tidak ingin melakukan hubungan baik lagi dengannya. Sekarang ini Fanni mengumpat Tissa dengan kesal, dia pun sekarang ini mencoba mencari tempat persembunyian sendiri tanpa siapa pun.
"Baiklah, aku bisa sendiri!" umpat Fanni kesal.
Dan sekarang ini dia mencoba berjalan sendiri, pakaiannya bertukar lebih tertutup sekarang. Dia sudah membeli jaket untuk menutupi tubuhnya saat ini.
Kemudian dia yang yang sedari tadi kesal dengan panggilan yang diputuskan Tissa itu, kemudian saat ini Fanni mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang sangat dia kenal itu.
"Derry!" ucapnya sangat terkejut.
Apa ini mungkin? Apa Derry tidak tahu kebenarannya? Ah, rasanya ini tidak mungkin, ini bisa saja jebakan," ucapnya.
Saat itu Fanni ingin membuka GPS-nya dia ingin mencari tempat yang tidak ramai di kota Surabaya ini, namun melihat pesan dari Derry itu membuat dia sedikit tidak percaya, namun terbesit rasa ragu-ragu disana.
"Derry frustasi, dia mengirimiku pesan, baiklah ini sebuah permainan baru, aku akan ikut permainanmu Derry!" ucapnya tersenyum licik saat ini.
Dia tidak langsung membalas pesan itu, dia mencoba mencari GPS dan tempat itu lumayan jauh dari keramaian, taksi yang membawanya tersebut mengantarkannya sampai di perkampungan yang ada di kota Surabaya tersebut.
Dan sekarang ini juga Fanni mencari rumah yang bisa dia sewa untuk tempat persembunyian dirinya saat ini. Karena hari juga sudah sangat larut malam, jam sekarang menunjukkan pukul sebelas malam lebih Fanni akhirnya mendapatkan sebuah rumah kecil yang dia sempat menanyakan kepada kepala desa disana.
Sementara ini tinggal dirumah kecil dan desa terpencil rasanya cukup bagus untuk dia menyembunyikan dirinya saat ini. Sudah tidak ada yang dia percayai saat ini lagi, selain dirinya sendiri sekarang.
Setelah itu dia mandi di kamar mandi yang sangat kecil itu, memandang kamar mandi yang kecil tersebut, Fanni merasa jijik untuk mandi, dia pun mengurungkan niatnya itu.
__ADS_1
Masuk kedalam kamar, yang terlihat lusuh, tidak seperti kamarnya yang besar dan selalu hidup dalam kemegahan. Dan sekarang ini juga, dia terserang flu ringan, karena membersihkan kamar tidur tersebut.
Setelah membersihkan kamar itu, Fanni pun berbaring sejenak saat ini, dia kembali melihat pesan yang dikirimkan Derry untuk ya beberapa jam lalu itu.
Sekarang ini dia berpikir panjang, ada hal licik yang terbesit dalam benaknya. Sedangkan Derry dan Soraya sudah pun berada di kamar mereka saat ini.
Adik-adiknya juga tinggal dirumah mewah Derry ini termasuk lah Yumita. Karena memang Yumita dan Tio ingin dinikahkan Minggu depan, jadi Soraya menyarankan Yumita agar tidak bertemu dengan Tio untuk beberapa hari ini dulu.
Kedua keluarga menyetujui itu, dan saat ini juga semuanya berada dirumah masing-masing. Derry tidak ingin memikirkan tentang Fanni saat ini, dia penuh keyakinan Fanni akan menyambut pesan itu dengan baik nantinya, pikir Derry.
Satu sisi, Tuan Frans yang baru saja kehilangan istri tercintanya itu, dia bahkan tidak bisa tidur malam ini, dia tampak menangis sendiri sekarang.
Dan saat ini juga Tuan Frans masih memandangi foto istrinya itu. Derry memeluk Soraya dengan penuh kehangatan malam ini. Mereka mengenangkan wajah mama Derry sekarang.
Semua telah merasa kehilangan saat ini. Tsania dan Rendra juga malam ini tampak membicarakan mengenai Nyonya Besar yang mereka tak sangka-sangka akan secepat ini pergi meninggalkan mereka semua.
Malam yang larut, malam penuh kedukaan. Satu sisi Tio yang sedikit lega, karena masalah dan rahasia itu telah dia luahkan kepada Derry. Namun, ada satu hal lagi yang masih mengganggu pikirannya saat ini, yaitu tentang minggu depan.
Dia tampak berkaca-kaca, kenapa takdir malah sekejam ini kepada dirinya, bahkan sekarang ini dia tak menyangka kalau Yumita lah akan menjadi pendampingnya nanti.
"Gadis kecil itu kenapa bisa-bisanya dia menerima perjodohan ini!" umpat Tio dengan kesal.
Satu sisi Yumita saat ini yang berada di dalam kamar tamu itu, dia tampak bingung namun bahagia juga.
Bahagianya adalah sebentar lagi Tio akan hidup satu rumah dengannya, bahkan mereka akan tidur bersama.
Malam yang panjang, semua orang hari ini penuh dengan kedukaan dan cerita menyedihkan. Besok pagi ingin rasanya mereka semua memiliki harapan untuk mendapatkan sebuah hari yang bisa untuk bersuka cita.
Azan berkumandang dengan kuat di subuh yang begitu syahdu itu. Embun menjatuhkan dirinya di atas dedaunan segar. Tampak semua oksigen masih murni dengan kesuciannya.
Saat ini semuanya telah bangun untuk melaksanakan kewajiban bagi agama mereka. Bagi umat muslim sholat subuh adalah awal kebahagiaan di setiap mereka membuka mata untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Karena dua rakaat sebelum subuh adalah memiliki manfaat yang luar biasa, ibarat kata dunia berada di genggaman orang-orang yang melaksanakan dua rakaat sebelum sholat subuh.
Fajar menyapa setiap insan, hari ini Derry menunggu pesan dari Fanni tersebut. Fanni sedikit lama bangun, seperti biasanya Derry ingin berangkat ke kantor.
Hari ini Tio akan bertemu dengan Tuan Aladin, karena sebelum ini tanah yang sempat disewa oleh Tuan Aladin berubah pengurusan, dan sekarang ini Tuan Aladin ingin membicarakan hal serius kepada Tio.
Dia akan terbang menuju kota Jakarta siang ini. Karena hari masih pagi, Tio pun mulai bergegas untuk bersiap-siap pergi ke kantor juga. Dia juga tidak sabar menunggu rencana Derry tersebut akan berhasil.
Soraya memakaikan Derry dasi, tak lupa juga pria itu memegangi perut istrinya yang masih rata tersebut.
Kebahagiaan mereka hadir saat ini, saat-saat kesedihan hampir sirna diwajah mereka pagi ini. Dan saat ini juga Derry telah pun menuju ruang makan untuk sarapan.
Soraya juga menemaninya turun, namun Tuan Frans masih tak terlihat disana. Derry menanyakan kepada para pembantu dirumah itu, namun mereka berkata Tuan Frans memang masih belum terlihat pagi ini.
Derry ingin memanggil ayahnya untuk sarapan bersamanya, namun Soraya saat ini pula dia memberhentikan Derry untuk beranjak memanggil Tuan Frans.
"Sayang, biarkan aku saja yang memanggilnya," ucap Soraya dengan senyum hangat.
"Yasudah hati-hati," ucap Derry dengan lembut.
Soraya kembali menuju ke atas, dimana kamar ayah mertuanya itu juga berada. Dan sekarang ini dia mulai mengetuk pintunya itu.
Tok..tok!
Masih belum ada sahutan dari dalam, Soraya mencoba untuk mengutuknya berulang kali sekarang.
"Papa..Papa!" Sedikit kuat suara Soraya dengan ketukannya juga yang cukup kuat.
Soraya mulai panik karena memang masih tidak ada sahutan apapun saat ini dari dalam, dia mencoba membuka pintu itu, namun pintunya terkunci dengan rapat.
"Papa..."
__ADS_1
****