90 DAYS

90 DAYS
GEJALA PENYAKIT ALZHEIMER


__ADS_3

Derry Sanjaya  anak tunggal satu-satunya pewaris tanah kekayaan milik Frans Sanjaya. Namun dia tampak frustasi karena kehidupan percintaannya tidak semulus yang dibayangkannya.


Dia terlibat cinta dalam diam. Namun keegoisanlah yang telah menghancurkan segalanya. Jika dia memang lelaki yang bertanggung jawab maka dia bisa mengatasi hal ini dengan mudah.


Di kepalanya saat ini adalah orang tuanya, Soraya dan Fanni. Hatinya berat sebelah, segalanya takut hilang, namun dia masih belum bisa mengartikan betapa Soraya tak ternilai harganya untuk dirinya tersebut.


Ya! lagi dan lagi, egois adalah dalang dari puncak masalah saat ini. Dia masih memikirkan kebahagiaan dunia yang sudah biasa dia rasakan, dengan bergelimang harta kekayaan dari orang tua, dan dia bisa memiliki apa saja yang dia inginkan.


Derry Sanjaya, dia sudah menaiki pesawat menuju kota Jakarta Kota kelahiran sekaligus kota yang membuatnya harus menghadapi kenyataan baru besok.


Fanni9 pula saat ini, sudah hampir 95 persen mempersiapkan pernikahan mereka untuk besok. Pernikahan itu, dilaksanakan di gedung milik perusahaan Derry  tersebut.


Sebagian tanah milik keluarga Derry  itu, dibangun gedung untuk disewakan jika ada yang ingin melakukan resepsi pernikahan.


Masih saja akad, sudah tampak mewah dan megah. Namun, untuk resepsinya Fanni  dan keluarga Derry  sudah merencanakannya di luar kota Jakarta


Mereka ingin membuat resepsi di kota Bali, Di sana ada tanah milik keluarga Sanjaya juga, dan kedua orang tua Derry  ingin anak semata wayangnya itu, benar-benar merasakan menjadi raja sehari dan resepsi mereka sudah direncanakan bulan depan.


Tiga jam di dalam pesawat, akhirnya Derry Sanjaya sampai kembali di bandar kota Jakarta dia menatap jalanan yang macet dan hiruk pikuk kota metropolitan itu sangat tercium pekat.


Derry  turun dari taksi di depan apartemen milik Soraya tersebut. Hari pula sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kini Derry masuk, dan merebahkan tubuhnya disana.


Soraya  sudah bangun dan sadar, namun dia masih lemah dan belum bisa bangkit kembali. Soraya bertanya kepada tiga orang adiknya yang sedang berada di setiap sisinya tersebut.


"Tolong katakan dengan jujur, apa aku bermimpi??" tanya Soraya dengan mata yang sayu.


"Maksud kakak??" bukan mendapat jawaban, malah Yumita kembali bertanya.


"Aku bermimpi hampir membunuh lelaki pembunuh itu! apa ada orang yang datang kerumah kita??" tanya Soraya tampak dengan murung.


Mendengar ucapan sang kakak, membuat Yumita sedih, bahkan kedua adik lelakinya itu tampak menahan isak tangis, tampaknya kakak mereka mengalami penyakit Alzheimer.

__ADS_1


Penyakit Alzheimer adalah kondisi kelainan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara.


Serta perubahan perilaku pada pengidap akibat gangguan di dalam otak yang sifatnya progresif atau perlahan-lahan. Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom atau gejala dengan apoptosis atau kematian sel sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan.


Sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Fase awal, seseorang yang terkena penyakit ini biasanya akan terlihat mudah lupa, seperti lupa nama benda atau tempat, lupa tentang kejadian-kejadian yang belum lama dilalui, dan lupa mengenai isi percakapan yang belum lama dibicarakan bersama orang lain.


Ya! Soraya  tampak memiliki gejala tersebut. Dia memang baru saja bertemu dengan Derry, namun dia lupa semuanya, ingatannya itu hanya mimpi yang buruk.


"Hei.. kenapa kalian diam??" tanya Soraya  kembali mengejutkan ketiga adiknya tersebut.


"Kak.. iya kau sedang bermimpi," ucap adik keduanya yang menjawab.


Mata Yumita  menerpa wajah adik keduanya yang berbohong. Seumur hidup baru kali ini Yumita  mendengar ucapan bohong dari mulut adik keduanya tersebut. Sang kakak tahu, adik kedua lelaki baik dan jujur, dia tidak pernah sama sekali berkata bohong, walau apapun resikonya.


Namun kali ini, untuk apa adik keduanya itu berbohong?? apa untuk melindungi Derry? atau untuk apa??" tanya besar di kepala Yumita saat ini.


Soraya kembali tenang, saat adik keduanya menjawab pertanyaannya. Dia mengatakan itu benar mimpi, namun yang sebenarnya itu adalah nyata baru saja dialami.


Ketika Soraya sadar, hampir tujuh jam dia pingsan tak sadarkan diri. Dan ketika sadar, Yumita dan kedua adik lelakinya ini, bergantian untuk menyuapi Soraya makan.


Wanita berkulit putih bersih ini kondisinya sangat mengkhawatirkan. Penyakit ini bukan main-main, jika tidak dirawat ke dokter, pastilah akan menimbulkan bahaya yang berkelanjutan.


Setelah selesai makan, ketiga adiknya ini melaksanakan sholat Isya, dan Soraya kembali tertidur. Setelah Sholat Yumita menanyakan alasan Nurdin berbohong di hadapan SORAYA barusan.


Adik terakhirnya hanya diam mendengarkan mereka berdua. Tampaknya adik terakhir mereka ini menyimpan sesuatu yang ingin diluahkan, namun masih belum ada kemampuan untuk bicara.


"Dik! mengapa kamu mulai berbohong??" tanya Yumita.


"Kak! ini demi kebaikan kakak kita," jelas adik keduanya itu.


"Dik! kamu sendiri yang berkata, berbohong itu tidak ada baiknya!!" lalu kenapa kamu membohongi kakak kita??" kamu ingin dia selalu dalam kondisi tidak baik??" tuding Yumita  kepada adiknya.

__ADS_1


"Kak! bukan begitu, aku mengenali gejala penyakit kak soraya!" jelas adiknya lagi.


Ya! Yumita adalah pelajar yang cerdas dan selalu menjadi unggul di sekolahnya dalam semua pelajaran, termasuk pelajaran ilmu Sains.


"Maksudmu kak Soraya terkena penyakit apa??" mulai khawatir merawat wajah Yumita mendengar penjelasan adiknya.


"Kak Soraya bisa dibilang terkena penyakit Alzheimer," jawab adiknya.


"Apa itu penyakit yang serius Dik?? dan bagaimana bisa kamu tahu??"


"Iya kak, itu bahkan bisa menyebabkan kematian! aku tahu karena kak Soraya memiliki salah satu gejalanya," jawab adiknya lagi.


"Apa saja gejalanya Dik?? kita harus selamatkan kak Soraya, jangan sampai kita kehilangan untuk ketiga kalinya lagi!!" ucap Yumita saat ini.


"Terganggunya daya ingatan, sulit fokus, ada juga sulit melakukan kegiatan yang biasa dilakukan. Bahkan ada tujuh gejala lainnya kak!!" jelas adik keduanya.


"Benarkah Dik?? berarti kak Soraya memang sudah terkena penyakit Alzheimer itu??" tanya Yumita sambil menangis.


"Jangan menangis kak, kita harus segera membawa kak Soraya berobat," ucap adik keduanya dengan tegas.


"Iya dek, benar itu besok kita harus pergi ke dokter. Tabungan kakak ada kok!  kakak putuskan tidak jadi masuk kuliah tahun ini!!" ucap Yumita sambil menghapus air matanya.


"Kak.. jangan! itu impian kakak!!" tiba-tiba adik ketiganya menyerlah, dia terasa sebak di dadanya mendengar ucapan Yumita yang tidak jadi mendaftar kuliah tahun ini.


Dua bulan lagi akan membuka pendaftaran kuliah. Soraya sempat berjanji akan menguliahkan Nirina di kota Jakarta Yumita juga memiliki tabungan sendiri, dia mengumpulkan uang dari setiap orang yang meminta tolong kepadanya.


Gadis 18 tahun ini sangat cerdas, banyak teman-temannya meminta dia untuk melukis sketsa wajah, dan dia menerima bayaran yang cukup untuk di tabungnya.


Dia yang pendiam dan pemalu ini, tidak pernah mengeluarkan bakatnya di depan keluarganya, namun itu lah Yumita, semangatnya kuat, dan sekarang dia ingin membantu kakaknya dalam biaya pengobatan, baginya kehilangan sudah sangat sakit dia rasakan.


Yumita sebagai wanita kedua tertua dirumah itu, seakan tertantang dengan kondisi ekonomi mereka saat ini. Bahkan mereka tidak ingin menanyakan tentang harta  benda yang dimiliki Soraya saat ini.

__ADS_1


Mereka tidak ingin Soraya terbebani, dan untuk saat ini biarlah Soraya istirahat dan mereka bisa sedikit demi sedikit membantu Soraya pulih seperti dahulu.


****


__ADS_2