90 DAYS

90 DAYS
RENCANA JAHAT MAMA DERRY DAN FANNI


__ADS_3

Kemacetan membuat Fanni  harus mengumpat jalanan saat ini. Wanita angkuh satu ini tampak berulang kali menghidupkan klakson mobilnya.


Jam menunjukkan pukul enam tepat sekarang, Tio pula telah sampai di parkiran saat ini. Dia yang tadi di perjalanan mendapatkan telpon mendadak tampak kembali menuju apartemen Soraya  sekarang ini.


Ya! sewaktu di perjalanan Tuan Doris menelpon Tio, dia ingin Soraya  saat ini dibawa menjenguk Derry. Karena Derry  yang setelah operasi itu selalu menyebut nama Soraya  tersebut.


Tio sangat tergesa-gesa sekarang. Dia pun yang sudah sampai itu, kembali begitu lajunya mengendarai mobilnya tersebut.


"Ah sial! umpatnya juga karena kemacetan begitu tampak panjang di sore kota Jakarta  ini.


Saat ini, mama Derry  memang sama sekali tidak, menjenguk Derry. Dia keras kepala dan membiarkan suaminya mengurus Derry  sekarang.


Bukan apa, rasa geram dan sakit hatinya karena Tuan Frans  membentaknya baru malam itu, selama pernikahan mereka tiga puluh tahun tidak, pernah terdengar suara keras seperti itu.


Hati wanita mudah merajuk, hati wanita senang di pujuk. Tidak tua ataupun muda, yang namanya wanita itu harus disanjung dan selalu dibenarkan.


Namun tindakan dari Nyonya besar  itu tampak memang sangat susah untuk dibenarkan oleh Tuan Frans  tersebut.


"Derry, Derry! sabar ya nak! nada sedih itu terdengar sambil tangannya mengelus lembut dahi Derry.


Tuan Frans  memang penuh kelembutan, walau dia seorang pria yang tampak jenius dan dingin namun dia bukan lelaki egois.


Derry  menuruni sifat ibunya yang egois dan keras kepala. Namun sikap dingin nya Derry  itu dia dapatkan dari sang ayah.


"Raya.." ucap Derry  nada panjang.


Tangannya tampak menggambarkan seolah dia sedang menggandeng Soraya. Mungkin saja dalam koma yang lumayan lama ini Derry  sedang merindukan Soraya.


Akhirnya jalanan pun lenggang saat ini. Mobil itu dengan cepat melaju dan sampai sudah di parkiran apartemen itu kembali. Dengan cepat dan kaki jenjang itu melangkah masuk ke dalam lift saat ini.


Ya! janji Tio adalah menyatukan Soraya  dan Derry. Membuat Soraya  bahagia adalah bagian dari kebahagiaannya juga. Tidak dipungkiri lagi sekarang, wajah Tio yang, semangat membawakan Syafika dan dia tidak sabar melihat Omnya itu tersenyum lebar nantinya, kalau tahu Soraya  sedang hamil.


Satu sisi sekarang ini Fanni  pula telah memasuki kawasan rumah mewah itu, kemudian Fanni  pun masuk dan menghempaskan tasnya di sofa tersebut.


"Bi! teriaknya.


"Iya non," ucap pembantu itu kelagapan.


Seolah Nyonya besar saja Fanni  disini, baru juga dia dua hari disini, rasanya para pembantu itu merasa muak dengan tingkahnya yang suka berlakon sedih itu.

__ADS_1


"Buatkan jus mangga segar," perintahnya tanpa nada sopan.


Bibi itu mengangguk, dan kemudian segera ke dapur saat ini. Kemudian lagi tiba-tiba mama Derry  yang baru saja turun itu menghampiri Fanni  yang tampak berwajah marah tersebut.


"Fanni, kamu kenapa??" tanya mamam Derry.


"Ma! ada sesuatu yang Fanni  mau bicarakan penting," ucapnya dengan nada yang tampak sedih begitu.


"Kenapa lagi sayang? apa tadi di kantor baik-baik saja?" tanya mama Derry  lagi.


"Tidak Ma, Soraya  sengaja membawa Tio dan Rendra  untuk memukuli klien yang sedang berkunjung ke ruangan Fanni  tadi siang," ucapnya yang berbohong dan tampak menyudutkan Soraya.


"Soraya? wanita itu masih disini?" tanya mama Derry  terkejut dan tampak marah.


"Iya ma, dia masih bekerja di perusahaan, mama tahu tidak, sewaktu Fanni  masuk ke ruangan Tio, ruangan itu terkunci rapat kemudian Fanni  ketuk kuat-kuat, dan akhirnya Tio  membukanya, disitulah ada wanita itu!" ucapnya yang mencoba mempengaruhi mama Derry  lewat mulutnya yang berdusta itu.


"Kurang ajar! berlagak setia, padahal munafik!" ucap mamanya lagi.


"Oke, tenang saja kamu Fanni, besok mama akan ke perusahaan dan menyuruh wanita itu agar pergi jauh dari kehidupan keluarga kita ini!" ucapnya kembali.


"Tidak usah ma, Fanni  tahu apartemennya berada dimana," ucapnya Fanni  saat ini.


"Dimana??" tanya mama Derry  penasaran.


"Oke baiklah, kamu mandi gih udah sore banget ini," ucap mama Derry  yang tampak perhatian itu.


"Oke ma," dengan cepat Fanni  melangkah naik menuju kamarnya yang disediakan disana.


Tersenyum puas saat ini Fanni  yang tampak berhasil menghasut mama Derry  tersebut, kemudian dia pun dengan cepat masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat.


"Hem... lihat saja kau wanita ******!" umpatnya sambil melilitkan baju mandinya itu.


Dia pun mandi sambil membawa ponselnya, hari ini begitu melelahkan baginya. Dia pun tampak membuat air rendaman bunga mawar yang memang tersedia di sana tampak begitu lengkap.


Menekan nama di layar itu, yaitu nama Tuan Osman  disana segera panggilan itu pun masuk dan terjawab sekarang.


"Hallo Fanni, ada apa??" tanya Tuan Osman  yang tampak sedang di kompres oleh kedua pelayannya itu.


Dia yang sudah tahu istrinya telah kembali ke negara asal itu tidak menggubrisnya sama sekali. Baginya saat ini tidak membutuhkan wanita itu lagi.

__ADS_1


Karena di negara ini pun dia sudah cukup maju dan berkembang, bahkan sekarang tanah itu menjadi miliknya, tidak ada lagi namanya sewa-menyewa.


Hal ini lah membuat Tuan Osman  terus mengincar Fanni  agar mudah mendapatkan kekayaan lagi, dan menarik semua tanah yang telah di tanggung jawabi Fanni  tersebut akan menjadi miliknya nanti.


"Osman, apa kau baik-baik saja?" tanya Fanni  saat ini.


"Ya lumayanlah, untuk saat ini lukaku telah mengering. Apa ada informasi lanjutan??" tanya Tuan Osman lagi.


"Ada, tenang saja, wanita itu malam ini akan ku musnahkan," ucapnya kepada Tuan Osman.


"Benarkah?? kau memang bisa diandalkan!


"Tentu saja," jawabnya puas.


"Kau juga tenang saja, orang suruhanku telah membuat perangkap untuk Tio dan Rendra," ucapnya lagi memberi tahu kepada Fanni.


"Wah, kabar baik lagi yang datang. Baiklah, semoga berhasil!"


Panggilan itu pun berakhir saat ini, dengan cepat Fanni  menuntaskan mandinya tersebut.


Kemudian Tio yang telah sampai di parkiran itu apartemen itu langsung dengan cepat kaki jenjang miliknya itu melangkah masuk ke dalam lift saat ini.


Sampai diambang pintu, bel itu dibunyikannya dengan cepat, tampaknya Nurdin yang melangkah membukakan pintu tersebut.


Mereka yang sedang menata meja makan itu tampak begitu riang ketika Tio sampai dengan dahi yang masih berpeluh itu.


"Bang Tio, ayo masuk!" tangan Tio ditarik dengan cepat ketika Nadim juga menghampiri ke ambang pintu.


Mereka bersalaman dengan Tio tersebut. Mereka yang tak tahu Tio  telah pun datang tadi, sekarang mereka ingin membuatkan Tio minuman kembali.


"Eh tidak udah dik," ucap Tio yang membiasakan diri memanggil mereka dengan sebutan adik.


"Sudah bang, jangan khawatir, biarkan Nadim membuat minumannya, Nurdin akan temani abang disini," ucap Nurdin kembali.


"Kita akan pergi sekarang!" Ucap Tio dengan wajah yang cukup menegangkan.


Mereka bingung dengan ucapan Tio ini, namun Nadim yang tampak ingin melangkah itu langsung terhenti seketika, dan mereka pun kembali bertanya tentang pergi yang dimaksud Tio kepada mereka berdua itu.


Akankah Soraya  mau ikut dengan Tio?

__ADS_1


Apakah rencana Fanni  akan berhasil?


****


__ADS_2