
Kemacetan membuat Fanni harus mengumpat jalanan saat ini. Wanita angkuh satu ini tampak berulang kali menghidupkan klakson mobilnya.
Jam menunjukkan pukul enam tepat sekarang, Tio pula telah sampai di parkiran saat ini. Dia yang tadi di perjalanan mendapatkan telpon mendadak tampak kembali menuju apartemen Soraya sekarang ini.
Ya! sewaktu di perjalanan Tuan Doris menelpon Tio, dia ingin Soraya saat ini dibawa menjenguk Derry. Karena Derry yang setelah operasi itu selalu menyebut nama Soraya tersebut.
Tio sangat tergesa-gesa sekarang. Dia pun yang sudah sampai itu, kembali begitu lajunya mengendarai mobilnya tersebut.
"Ah sial! umpatnya juga karena kemacetan begitu tampak panjang di sore kota Jakarta ini.
Saat ini, mama Derry memang sama sekali tidak, menjenguk Derry. Dia keras kepala dan membiarkan suaminya mengurus Derry sekarang.
Bukan apa, rasa geram dan sakit hatinya karena Tuan Frans membentaknya baru malam itu, selama pernikahan mereka tiga puluh tahun tidak, pernah terdengar suara keras seperti itu.
Hati wanita mudah merajuk, hati wanita senang di pujuk. Tidak tua ataupun muda, yang namanya wanita itu harus disanjung dan selalu dibenarkan.
Namun tindakan dari Nyonya besar itu tampak memang sangat susah untuk dibenarkan oleh Tuan Frans tersebut.
"Derry, Derry! sabar ya nak! nada sedih itu terdengar sambil tangannya mengelus lembut dahi Derry.
Tuan Frans memang penuh kelembutan, walau dia seorang pria yang tampak jenius dan dingin namun dia bukan lelaki egois.
Derry menuruni sifat ibunya yang egois dan keras kepala. Namun sikap dingin nya Derry itu dia dapatkan dari sang ayah.
"Raya.." ucap Derry nada panjang.
Tangannya tampak menggambarkan seolah dia sedang menggandeng Soraya. Mungkin saja dalam koma yang lumayan lama ini Derry sedang merindukan Soraya.
Akhirnya jalanan pun lenggang saat ini. Mobil itu dengan cepat melaju dan sampai sudah di parkiran apartemen itu kembali. Dengan cepat dan kaki jenjang itu melangkah masuk ke dalam lift saat ini.
Ya! janji Tio adalah menyatukan Soraya dan Derry. Membuat Soraya bahagia adalah bagian dari kebahagiaannya juga. Tidak dipungkiri lagi sekarang, wajah Tio yang, semangat membawakan Syafika dan dia tidak sabar melihat Omnya itu tersenyum lebar nantinya, kalau tahu Soraya sedang hamil.
Satu sisi sekarang ini Fanni pula telah memasuki kawasan rumah mewah itu, kemudian Fanni pun masuk dan menghempaskan tasnya di sofa tersebut.
"Bi! teriaknya.
"Iya non," ucap pembantu itu kelagapan.
Seolah Nyonya besar saja Fanni disini, baru juga dia dua hari disini, rasanya para pembantu itu merasa muak dengan tingkahnya yang suka berlakon sedih itu.
__ADS_1
"Buatkan jus mangga segar," perintahnya tanpa nada sopan.
Bibi itu mengangguk, dan kemudian segera ke dapur saat ini. Kemudian lagi tiba-tiba mama Derry yang baru saja turun itu menghampiri Fanni yang tampak berwajah marah tersebut.
"Fanni, kamu kenapa??" tanya mamam Derry.
"Ma! ada sesuatu yang Fanni mau bicarakan penting," ucapnya dengan nada yang tampak sedih begitu.
"Kenapa lagi sayang? apa tadi di kantor baik-baik saja?" tanya mama Derry lagi.
"Tidak Ma, Soraya sengaja membawa Tio dan Rendra untuk memukuli klien yang sedang berkunjung ke ruangan Fanni tadi siang," ucapnya yang berbohong dan tampak menyudutkan Soraya.
"Soraya? wanita itu masih disini?" tanya mama Derry terkejut dan tampak marah.
"Iya ma, dia masih bekerja di perusahaan, mama tahu tidak, sewaktu Fanni masuk ke ruangan Tio, ruangan itu terkunci rapat kemudian Fanni ketuk kuat-kuat, dan akhirnya Tio membukanya, disitulah ada wanita itu!" ucapnya yang mencoba mempengaruhi mama Derry lewat mulutnya yang berdusta itu.
"Kurang ajar! berlagak setia, padahal munafik!" ucap mamanya lagi.
"Oke, tenang saja kamu Fanni, besok mama akan ke perusahaan dan menyuruh wanita itu agar pergi jauh dari kehidupan keluarga kita ini!" ucapnya kembali.
"Tidak usah ma, Fanni tahu apartemennya berada dimana," ucapnya Fanni saat ini.
"Dimana??" tanya mama Derry penasaran.
"Oke baiklah, kamu mandi gih udah sore banget ini," ucap mama Derry yang tampak perhatian itu.
"Oke ma," dengan cepat Fanni melangkah naik menuju kamarnya yang disediakan disana.
Tersenyum puas saat ini Fanni yang tampak berhasil menghasut mama Derry tersebut, kemudian dia pun dengan cepat masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat.
"Hem... lihat saja kau wanita ******!" umpatnya sambil melilitkan baju mandinya itu.
Dia pun mandi sambil membawa ponselnya, hari ini begitu melelahkan baginya. Dia pun tampak membuat air rendaman bunga mawar yang memang tersedia di sana tampak begitu lengkap.
Menekan nama di layar itu, yaitu nama Tuan Osman disana segera panggilan itu pun masuk dan terjawab sekarang.
"Hallo Fanni, ada apa??" tanya Tuan Osman yang tampak sedang di kompres oleh kedua pelayannya itu.
Dia yang sudah tahu istrinya telah kembali ke negara asal itu tidak menggubrisnya sama sekali. Baginya saat ini tidak membutuhkan wanita itu lagi.
__ADS_1
Karena di negara ini pun dia sudah cukup maju dan berkembang, bahkan sekarang tanah itu menjadi miliknya, tidak ada lagi namanya sewa-menyewa.
Hal ini lah membuat Tuan Osman terus mengincar Fanni agar mudah mendapatkan kekayaan lagi, dan menarik semua tanah yang telah di tanggung jawabi Fanni tersebut akan menjadi miliknya nanti.
"Osman, apa kau baik-baik saja?" tanya Fanni saat ini.
"Ya lumayanlah, untuk saat ini lukaku telah mengering. Apa ada informasi lanjutan??" tanya Tuan Osman lagi.
"Ada, tenang saja, wanita itu malam ini akan ku musnahkan," ucapnya kepada Tuan Osman.
"Benarkah?? kau memang bisa diandalkan!
"Tentu saja," jawabnya puas.
"Kau juga tenang saja, orang suruhanku telah membuat perangkap untuk Tio dan Rendra," ucapnya lagi memberi tahu kepada Fanni.
"Wah, kabar baik lagi yang datang. Baiklah, semoga berhasil!"
Panggilan itu pun berakhir saat ini, dengan cepat Fanni menuntaskan mandinya tersebut.
Kemudian Tio yang telah sampai di parkiran itu apartemen itu langsung dengan cepat kaki jenjang miliknya itu melangkah masuk ke dalam lift saat ini.
Sampai diambang pintu, bel itu dibunyikannya dengan cepat, tampaknya Nurdin yang melangkah membukakan pintu tersebut.
Mereka yang sedang menata meja makan itu tampak begitu riang ketika Tio sampai dengan dahi yang masih berpeluh itu.
"Bang Tio, ayo masuk!" tangan Tio ditarik dengan cepat ketika Nadim juga menghampiri ke ambang pintu.
Mereka bersalaman dengan Tio tersebut. Mereka yang tak tahu Tio telah pun datang tadi, sekarang mereka ingin membuatkan Tio minuman kembali.
"Eh tidak udah dik," ucap Tio yang membiasakan diri memanggil mereka dengan sebutan adik.
"Sudah bang, jangan khawatir, biarkan Nadim membuat minumannya, Nurdin akan temani abang disini," ucap Nurdin kembali.
"Kita akan pergi sekarang!" Ucap Tio dengan wajah yang cukup menegangkan.
Mereka bingung dengan ucapan Tio ini, namun Nadim yang tampak ingin melangkah itu langsung terhenti seketika, dan mereka pun kembali bertanya tentang pergi yang dimaksud Tio kepada mereka berdua itu.
Akankah Soraya mau ikut dengan Tio?
__ADS_1
Apakah rencana Fanni akan berhasil?
****