
Malam semakin larutnya, Tio pun telah pulang dan kembali ke rumahnya sendiri. Untung saja dia mendapatkan waktu yang tepat untuk menggagalkan rencana kepergian Soraya tersebut untuk meninggalkan kota Jakarta.
Soraya masih bersyukur saat ini karena masih ada orang-orang yang peduli kepada dirinya dan adik-adiknya tersebut. Dia sangat mencintai Derry, rasanya tidak adil dia pergi begitu saja meninggalkan Derry tersebut.
Ucapan Tio sangat dibenarkannya saat ini. Dia yang masih belum bisa tertidur dengan lelap karena memikirkan Derry yang terbaring lemah disana.
Tio masih tidak mengatakan kalau Fanni berada di ruangan dimana Derry dirawat saat ini. Jika Tio mengatakan hal itu, takutnya Soraya putus harapan untuk bertahan dengan Derry.
Tuan Frans juga sulit menghentikan tindakan istrinya tersebut. Selain menyerahkan segalanya kepada Tio, dia dengan secara diam-diam membantu Soraya lewat dari tangan Tio tersebut.
Kondisi Fanni pula sudah pulih, dan besok katanya Fanni sudah bisa dibawa pulang. Namun Fanni sengaja ingin berlama-lama satu ruangan Dengan Derry tersebut.
Nyonya besar juga masih tampak senang, karena Fanni masih mau menerima Derry walaupun Derry telah menolaknya mentah-mentah saat itu.
Karena Fanni memiliki tujuan yang berbeda. Dan itulah mengapa dia rela berbuat seperti ini, seolah berkorban untuk menerima Derry, walau Derry dalam keadaan koma saat ini.
Masih menjadi suatu rahasia besar, Fanni berbuat seperti itu. Dan satu sisi, sekretaris cantik yang bernama Tsania itu baru tersadar saat ini.
Jam telah pun larut malam sekarang. Hampir menunjukkan pukul dua pagi, Tsania terbangun dengan mata samar-samar dan kepala yang masih terasa pusing dan dia ingin bangun namun terhuyung.
Tangannya menopang ke sesuatu benda yang keras. Tsania tampak tidak percaya saat ini. Dia pun menoleh ke arah kirinya, dan mengangkat tangannya dengan cepat.
"Aaaa..." teriak Tsania tampak histeris.
Tubuhnya dia jauhkan dengam cepat, namun bajunya tampak berhambur di lantai saat ini. Tsania menangis dan menggaruk-garuk kepalanya.
Tuan Rendra pula terkejut dengan teriakan Tsania itu. Kemudian Tuan Rendra mencoba menghidupkan lampu yang ada di sebelah kanannya tersebut.
Kondisi ruangan menjadi terang seketika. Tampak jelas kini tubuh mulus Tsania tanpa sehelai benangpun. Tuan Rendra pun begitu juga.
Tsania menangis dan sambil memunguti baju tidurnya tersebut. Ketika diculik dia memang memakai baju tidur karena memang dia ingin tidur saat itu.
Namun karena ada ketukan orang tidak dikenal membuatnya menjadi penasaran dan setelah sampai disitu dia tidak ingat apapun.
Tsania telah memakai bajunya dengan lengkap dan duduk di lantai tersebut dengan kedua kaki tekuknya, dan wajahnya dibenamkan kedalam tekukan lutut itu.
"Tsania.. a.. aku minta maaf," ucap Tuan Rendra sangat merasa bersalah kepada Tsaia tersebut.
"Kenapa kau menculikku kesini??" tanya Tsania mencoba membuka matanya kembali.
__ADS_1
Air mata yang terus mengalir membuatnya sulit membuka mata dengan lebar saat ini. Dia berpikir Tuan Rendra telah menculiknya saat ini.
"Tsania..bukan aku yang menculikmu," jelas Tua Rendra kembali.
"Bohong! kalau bukan kau, siapa lagi Ha??" ucap Tsania dengan keras dan tampak marah kepada Tuan Rendra tersebut.
"Tsania.. aku benar-benar bukan menculikmu, aku hanya menolongmu!!" jelas Tuan Rendra lagi.
"Menolongmu?? Apa ini yang kau maksud dengan menolongku!
Prak..
Satu tamparan mendarat di pipi Tuan Rendra tersebut. Lumayan juga rasanya sedikit terasa, pikir Tuan Rendra.
"Tsania, kalau begitu biarkan aku bertanggung jawab atas perbuatanku ini, namun aku tidak menculikmu!" jelas Tuan Rendra kembali.
"Tidak, tidak perlu! aku tidak ingin menikah dengan lelaki brengsek sepertimu!" ucapnya lagi.
"Tsania.. tapi aku tidak.." terhenti disitu ucapan Tuan Rendra tersebut, satu tamparan sebelahnya lagi mendarat di pipinya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat ini. Tsania membuka kunci kamar itu dan mencoba keluar dari kamar tersebut.
"Sekuriti.. sekuriti!! jaga depan pagar, jangan biarkan wanita itu keluar!!" perintah Tuan Rendra dengan cepat mengarahkan sekuritinya.
"Baik pak, laksanakan!" jawab sekuriti tersebut.
Tsania tampak sudah keluar dari tempat tersebut. Dan sampai di depan pagarnya sekuriti tersebut menahan Tsania dengan cepat.
"Buka pintunya!!" teriak Tsania saat ini.
"Tidak mbak, ini sudah sangat larut," ucap sekuriti tersebut.
"Minggir!!" bentak Tsania sambil tangannya mencoba mendorong tubuh sekuriti berbadan tegap itu.
"Tsania... tunggu!!" teriak Tuan Rendra mencoba mengejar Tsania.
"Cepat perintahkan sekuritimu untuk membuka pintu!!" teriak Tsania seperti orang di rasuk setan saja.
"Tsania, ini sudah larut, akan bahaya jika kau sendirian keluar," jelas Tuan Rendra kembali.
__ADS_1
"Aku tidak peduli!!" teriaknya terus menerus.
Tuan Rendra pun menyuruh sekuritinya tersebut membukakan pintu, namun Tuan Rendra dengan cepat mengeluarkan mobilnya juga.
Tsania tampak lari begitu saja keluar badan jalan. Dia tidak tahu daerah mana dia sekarang berada, pikirnya.
Berjalan kesana kemari mencari jalan pulang, dengan mata berderai air begitu banyak saat ini. Tsania tampak marah dan dendam kepada Tuan Rendra saat ini.
"Tsania.. ayo naiklah," ucap Tuan Rendra tampak mengikuti Tsania dan membujuknya berulang kali.
Guk.. Guk.. Guk...
Tiba-tiba terdengar suara anjing galak yang sedang menghadap ke arah Tsania saat ini. Tsania tampak raut wajahnya begitu takut dan dia pun seketika mengeluarkan suaranya tersebut.
"Aaaaa" teriaknya begitu kencang.
"Hus.. pergi sana!!" teriak Tuan Rendra kembali dan tubuh Tsania dia peluk begitu eratnya.
Masih menangis saat ini di tubuh kekar milik Tuan Rendra tersebut. Tsania yang baru tersadar dari takutnya itu langsung menolak tubuh tun Rendra dengan cepat.
"Lepaskan aku!!" teriaknya lagi.
"Tsania, masuklah ke dalam, aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Tuan Rendra lembut.
Karena kejadian yang baru saja di alaminya itu, Tsania pun akhirnya akur saat ini. Dia berjalan dengan lemahnya, Tuan Rendra membukakan pintu untuknya tersebut.
Suasana begitu hening dan tanpa ada sedikit suara yang keluar dari rongga-rongga mulut mereka berdua.
"Tsania...aku minta maaf," ucap Tuan Rendra lembut.
Hanya dibalas dengan kebisuan saat ini. Tsania tidak percaya dengan ucapan Tuan Rendra tersebut. Dia sudah menuduh Tuan Rendra yang sengaja menculiknya itu.
Perjalanan cukup jauh yang ditempuh Tuan Rendra tersebut. Mereka hanya diam seribu kata, dan kini perjalanan dan rasa sejuk menusuk tulang mereka.
Lelah menangis, Tsania tampak tertidur kembali di dalam mobil tersebut. Tuan Rendra pernah sekali dulu mengantarkan Tsania pulang, saat itu mereka meeting di luar bersama dengan Tio.
Dan kini alamat Tsania tamoak di luar kepala bagi Tuan Rendra tersebut. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya antara dia dan Tsania, dan antara dia dengan perusahaan Derry tersebut.
Akankah Tsania membawa ini ke pengadilan??
__ADS_1
****