
Melihat ada Soraya disini, Tuan Frans pun malam ini pulang ke rumah juga. Nyonya besar yang terlebih dahulu sampai tersebut di rumah langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.
Dia memejamkan matanya dengan lekat, dan saat ini membuka mata itu menatap jauh plafon di atas sana.
Kamar mewah ini tampak begitu sunyi, dia meninggikan bantalnya seketika. Terkejut dia karena tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Ya! dia lupa mengunci pintu itu.
"Mama belum tidur?" tanya Tuan Frans kepada istrinya yang baru saja terkejut itu.
Bukan malah di jawab oleh Nyonya besar, dia membuang wajahnya ke samping saat ini. Lalu menutup badannya dengan selimut sampai penuh, dia tidak ingin berbicara apapun dengan suaminya itu.
Wanita kalau sudah merajuk akan susah di pujuk. Rasa sayang Tuan Frans tidak akan hilang, namun kesilapan istrinya ini harus bisa dia luruskan.
Malam itu Tio dan Rendra juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Kebiasaan sebelum Rendra tidur, dia pasti melihat bulan, dan kali ini hanya secangkir cappucino mocca di meja itu.
Twing..
Notifikasi masuk ke ponselnya selarut ini, kemudian rasa penasaran di benaknya menjalar dan mulai mengangkat ponsel yang terletak di atas meja tersebut.
Tampak sebuah gambar sedang dikirim, dan masih dalam proses download. Berhasil, tidak menunggu waktu lama, kemudian Tuan Rendra menutup mulutnya terkejut.
"Astaga! Fanni dengan pria brengsek ini?" tatapan tidak percaya dengan hanya melihat itu.
Namun bagaimana tidak percaya, Ravin sendiri melihat Tuan Osman keluar dari ruangan Fanni yang terkunci itu. Kalau memang mereka berdua sudah kenal lama, apa mungkin sebab ini Derry berubah? tanya besar di kepala Tuan Rendra sekarang.
Walau bagaimanapun dia harus segera memberitahukan informasi penting ini dengan Tio yang memang sekarang mereka sedang bekerja sama menyelidiki mengenai Tuan Osman.
Besok adalah hari dimana para penyewa tanah di haruskan membayar sewa mereka. Dan Tio yang sudah tampak terlelap itu mulai benar-benar memejamkan matanya.
Karena tidak sabar, Rendra malam ini juga menekan nomor Tio di layar ponselnya itu. Segera dia hubungi Tio dengan cepat, karena entah mengapa Rendra takutkan pria itu mengambil kesempatan kepada Fanni.
Berdering beberapa kali, baru saja Tio ingin terlayang di bawa alam mimpi, ponselnya yang tidak berhenti berdering itu, dia raba di setiap sampingnya, akhirnya dengan mata yang masih tertutup, ponsel itu dapat diraihnya.
"Hallo, siapa ini?" nada itu terdengar malas.
"Tio, ini aku Rendra! ada hal penting yang harus kau tahu," jelas Rendra dengan cepat.
"Ha Rendra ! terbuka mata Tio dengan cepat .
"Ya, ini aku!" jawabnya.
"Ada hal penting apa Rendra?" tanya Tio membenarkan posisi duduk nya saat ini.
"Kau lihat foto yang kukirim sekarang, aku takut perusahaan akan dalam bahaya saat ini," ucap Rendra langsung mengirimkan foto itu.
__ADS_1
Tio pun menunggu foto itu selesai masuk dengan benar. Dan sama hal dengan Rendra, Tio tak berhenti mengumpat pria itu dengan kata brengsek!
Saat ini Tio pula bisa mengerti apa yang diucapkan oleh Rendra sekarang, karena memang Fanni memiliki hak penuh atas tanah-tanah milik Nyonya besar yaitu tantenya tersebut.
Malam ini juga, Tio membuka laptopnya, dia melihat grafik yang telah dia buat. Dan tampak pemberitahuan masuk saat ini, dia melihat hanya baru beberapa orang saja yang menyetorkan sewa tanah mereka.
Memang, Tuan Osman tanah yang dia pakai milik tantenya itu, namun anehnya saat ini kenapa Fanni bisa berkhianat?
Apa sudah lama Fanni dengan pria ini? tanya besar di kepala Tio sekarang, sama seperti Rendra juga.
Karena waktu begitu telah larut, rasanya tidak enak untuk menelpon Tuan Frans malam ini. Kasihan juga dengan Om nya itu, pasti lelah karena menjaga Derry, dia pun menunggu besok pagi.
"Siapa yang memotret ini?" tanya Tio kembali kepada Rendra.
Panggilan itu masih berlanjut, karena memang mereka ingin menuntaskan hal ini. Setelah melihat foto yang dikirimkan oleh Rendra tersebut, dengan penasarannya Tio ingin mengetahui siapa yang mengambil gambar itu.
"Sudah kubilang denganmu, aku menyuruh beberapa orang untuk mengikuti pria itu," jelas Tuan Rendra kepada Tio.
"Oh.. iya benar, sory aku lupa," jawab Tio.
"Ya Sudah, jadi apa rencanamu selanjutnya??" tanya Rendra kembali.
"Aku akan memberitahukan kepada Om Frans, dia berhak tahu ini, agar tante bisa berpikir dua kali memberikan hal besar ini kepada Fanni," jelas Tio kembali.
"Oke bagus itu, besok kita bertemu kembali," ucap Rendra.
Panggilan itu pun berakhir sekarang, apartemen Soraya kosong saat ini. Sedangkan ketiga adiknya tampak begitu lelap di rumah orang tua Tio tersebut.
"Sayang.." sayang!" Derry tampak mengigau saat ini.
Soraya yang mendengar teriakan Derry itu dia pun terkejut saat ini. Lalu dia dengan cepat meraih tangan suaminya tersebut, dan dia membelai lembut rambut suaminya itu.
"Kenapa sayang? aku disini," jawab Soraya mendekatkan perutnya.
Derry membuka matanya kembali, seketika Soraya begitu dekat dengannya. Dia menatap ke wajah istrinya itu, dan saat ini Soraya tanpa segan mengecup bibir suaminya tersebut.
"Jangan kemana-mana," ucap Derry dengan menarik tubuh istrinya itu.
Soraya mengangguk lembut, dan masih saja tangan itu membelai rambut dan suami. Mereka tanpa segan melakukan adegan mesra itu, tampaknya tidak ada siapa pun di ruangan tersebut, kecuali mereka berdua.
"Derry, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Soraya saat ini.
"Apa sayang? aku akan memenuhi keinginanmu," jawab Derry lembut.
__ADS_1
"Kalau besok kita pulang, apa boleh kita pulang ke rumah kita saja?" sedikit takut dan ragu Soraya mengatakan ini.
"Ha? kamu ingin tinggal di apartemen kita? kenapa sayang?" bukan malah dijawab, namun Derry malah bertanya balik.
"Bukan maksudku untuk tidak ingin tinggal di rumah itu, namun aku merasa lebih nyaman kalau kita membina rumah tangga dengan mandiri," jelas Soraya lagi.
"Oh.. baiklah, tapi kamu harus mau kalau aku mencarikan dua orang pembantu rumah untuk di apartemen kita," ucap Derry kembali.
"Untuk apa banyak-banyak?" tanya Soraya tampak tidak setuju.
"Kamu itu hamil, aku gak mau kamu capek dan anak kita nanti kurang perhatian," ucap Derry lembut.
"Derry jangan berlebihan, aku masih bisa kok mengerjakan itu semua sendiri," jawab Soraya yang tampak menolaknya.
" Yasudah kalau tidak mahu, kita akan tetap pulang ke rumah Papa mama," jawab Derry sedikit dingin.
"Oke, oke baiklah aku mau menerima tawaranmu suami tukang paksa!" ucap Suami memuncungkan bibirnya.
"Hei, jangan katakan itu! aku tidak ingin anakku mendengar ibunya mengatakan hal buruk tentang ayahnya," jelas Derry sambil mencubit bibir Soraya.
Soraya hanya menggeleng saja saat ini, kandungan masih satu bulan tidak mungkin saya bisa mendengar, pikirnya tersenyum geli.
"Apa kamu tidak ngantuk kembali?" tanya Soraya kepada suaminya.
"Tidak, rasanya aku ingin mengoceh banyak dengan anak dan istriku," ucap Derry kembali.
"Derry, kandunganku masih satu bulan, masih belum ada reaksi apapun," ucap Soraya yang terlihat geli melihat Derry terus saja menciumi perut istrinya itu.
"Biarkan saja, anakku nanti akan tahu, Papanya lebih sayang daripada mamanya," jawab Derry.
"Hahaha dasar papa yang aneh," celetuk Soraya.
Rasa rindu itu terobati malam ini, awalnya memang saling merindu karena terpisah dengan kebencian mama Derry terhadap Soraya. Semua hal buruk yang dialami Soraya, dia tetap menutup mulutnya saat ini.
Dia bahkan tidak menceritakan apa yang telah dilakukan mama Derry kepadanya tersebut. Dia hanya membicarakan mengenai hubungan rumah tangga nya saja.
Istri yang baik bisa menyimpan segalanya, bagi Soraya mama Derry adalah orang tuanya juga, jadi dia tidak ingin memperburuk keadaan dengan menjadi pengadu kepada suaminya itu.
Kesabaran Soraya terus saja dia rawat, karena memang sekarang ini Soraya lebih dekat dengan Tuhan, sabar Syukur dan ikhtiar ini lah yang sedang dalam proses kehidupannya.
Akankah Soraya berhasil terus untuk sabar?
Apakah sabar itu ada batasnya?
__ADS_1
Saksikan terus ya gais 90 Days, hari ini saya usahakan update yang banyak. Terima kasih sudah selalu membaca cerita receh ini, mohon untuk support kalian, saya tidak berharap hadiah, hanya berharap komentar kalian yang baik dan positif.
***