
Tiga hari telah berlalu, namun Derry masih tidak sadarkan diri lagi. Dia masih dalam fase koma dan tampak belum ada titik terang untuk kesehatannya sejauh ini.
Fanni pula telah sadar dan dia juga telah di bawa pulang ke rumah oleh Papanya tersebut. Keluarga Tuan Frans belum memberitahukan berita ini kepada keluarga Fanni saat ini.
Pagi itu Soraya mencoba kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan suaminya. Kemarin dia masih tidak diperbolehkan oleh Tuan Frans untuk datang, karena Tuan Doris takut akan terjadi keributan kembali antara Mama Derry dan dirinya, bukan Tuan Frans tak menyukai Soraya , hanya saja dia tidak ingin Soraya dilukai kembali oleh istrinya tersebut.
Keluarga Tio sudah pun tau tentang kecelakaan itu kemarin. Soraya telah menelpon Tio setelah sholat subuh kemarin. Dan semua orang yang berada di rumah itu pun sudah mengetahui kabar Derry yang koma saat ini.
Soraya pun berangkat dan membawakan bekal makanan yang telah di masaknya pagi-pagi. Dengan penuh semangat dan keyakinan dia ingin melihat suaminya tersebut.
Diantar oleh supir pribadi rumah itu, Soraya pun telah sampai di rumah sakit. Dan dia akan segera masuk ke ruangan Vip dimana suaminya dirawat tersebut.
Tok.. tok..
Mendengar ketukan itu, Nyonya besar bangkit dari sofa sedangkan Tuan Doris sedang mandi saat itu. Tio pula masih di kantor sepagi ini, karena Tio menggantikan posisi Derry kembali menjadi CEO.
Cekrek...
Pintu terbuka lebar, dan mata kemarahan itu memang muncul kembali, Soraya mencoba tetap baik dan mencoba mengembangkan senyumnya tersebut sambil mengulurkan makanan yang dia telah bawa untuk kedua mertuanya sarapan pagi ini.
"Assalamualaikum Ma," ucapnya lemah.
"Pergi kamu!! Prak...
Makanan itu terhambur seketika, Mama Derry mencampakkan nya dengan keras dan Soraya hanya mampu menggigit bibirnya menahan getaran tangisan yang hampir jatuh.
Tuan Frans pula terkejut, dia sudah selesai memakai pakaian, dan dia mencoba keluar mencari arah keributan tersebut.
"Ma! apa-apaan Mama ini, Soraya ini istri Derry Ma!!" bentak Tuan Frans saat ini.
"Detik ini masih memang Pa, sebentar lagi tidak akan!!" ucap Mama Derry tersebut.
Ya! hari terakhir perjanjian tersebut adalah hari ini. Dan entah mengapa jantung Soraya berdebar kuat. Akankah dia dan Derry akan terpisahkan??
Akankah 90 hari berakhir akan terwujud??
Ingin menahan sekuat mana pun tangisan itu akan jatuh juga di pipinya. Dia mencoba menghapusnya segera.
"Ma, jangan ikut campur hubungan mereka, kita sebagai orang tua harus mendukung anak kita Ma," ucap Tuan Frans lagi.
"Mama akan mendukung Derry hanya dengan Fanni, bukan perempuan penggoda yang suka memanfaat kan uang lelaki saja," jelasnya kembali.
__ADS_1
Soraya pun pergi meninggalkan tempat itu, dia berlari membawa kekecewaan yang didengar langsung dari mulut mertuanya itu. Tuduhan itu terlalu sakit dari apapun.
Dia bukanlah wanita seperti itu, bahkan mas kawin yang Derry berikan sebanyak tiga ***** koin pun masih ada tertinggal di apartemennya tidak digunakannya sama sekali.
Dia menerima pernikahan itu memang tidak dasar cinta, namun tidak juga hanya berdasarkan uang semata. Ada pengorbanan besar terselip di sana.
Ya! Soraya hanya lah korban keadaan yang harus menerima takdir menikah diatas kontrak demi membiayai kedua orang tuanya yang membutuhkan uang banyak untuk pengobatan saat itu.
Memang manusia tercipta dari air hina yang akan mulia bila telah menjadi yang bernama insan atau manusia. Diberi akal dan diberikan garis takdir masing-masing.
Namun pikir Soraya kembali, dia tidak sehina yang mama Derry bayangkan saat ini. Kembali lagi dia ke rumah itu, dan kemudian dia mengunci kamarnya ingin menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
Suasana di ruangan Derry hening kembali, Tuan Frans tidak banyak berbicara saat ini kepada istrinya. Dia tak menyangka sikap kejam sang istri terlihat saat ini.
"Pa, mama mau pulang dulu mengambil pakaian, nanti mama balik lagi kesini," ucapnya sambil mengangkat tas.
"Yasudah hati-hati," ucap Tuan Frans sedikit cuek.
Tanpa memperdulikan suaminya tersebut, Mama Derry pun keluar dari ruangan itu, dan supir pribadi mereka telah pun menunggu di bawah.
Mama Derry tampak ingin segera sampai di rumah saat ini Entah apa lagi yang akan dia bicarakan dengan Soraya nantinya. Dia tampak ingin membuat rencana jahat kepada Soraya.
Tok.. tok..
Buka!!" teriaknya kembali.
Soraya mengusap air matanya dengan cepat. Dia pun perlahan berjalan menuju ambang pintu saat ini.
Cekrek...
Pintu terbuka dengan lebar, terlihat ibu mertuanya berdiri dengan tegak dan tangan dilipat di dadanya.
"Ayo masuk sekarang!!" perintah Mama Derry tersebut.
Soraya pun akur dan mengikuti langkah Mama Derry masuk ke kamar Derry tersebut. Dan pintu pun di kunci kembali.
Mama Derry mencari sebuah kertas di lemari buku Derry. Dan kemudian dia tampak menuliskan sesuatu di kertas kosong itu. Soraya hanya terdiam kaku saat ini.
Apa yang akan diperbuat oleh Mama Derry??" tanya Soraya dalam hatinya sekarang.
"Cepat tanda tangani ini!!" sambil menyerahkan surat yang baru saja dia tuliskan tersebut.
__ADS_1
Soraya mencoba membacanya dengan benar, dan ternyata apa yang dipikirkannya benar saat ini. Menikah diatas kontrak dan sekarang pula bercerai karena perjanjian, namun bukan mau Derry sekarang Mama Derry pula yang menginginkan perceraian tersebut.
"Tidak ma, Tidak!!" ucap Soraya menolaknya.
"Apa kau tidak mencintai Derry??" tanya Mamanya kembali.
"Aku sangat mencintai Derry Ma," jawab Soraya.
"Kalau begitu biarkan Derry bahagia dengan Fanni, tinggalkan rumah ini, aku akan membayarmu dengan jumlah yang kutulis disini!! tanda tangan cepat!!" ucap Mama Derry tersebut.
"Ma, jika mama ingin mengusirku, maka aku akan pergi, namun untuk menandatangani surat ini tidak akan pernah ku lakukan Ma," ucap Soraya.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Mama, aku bukan Mamamu!!" bentaknya lagi.
"Apa uang ini kurang banyak?? kau mau berapa?? katakan saja, aku akan memberimu!!" umpatnya lagi kepada Soraya.
"Aku menikah dengan Derry bukan karena uang Ma, jadi jangan menghinaku seperti ini," ucap Soraya lagi.
Mama Derry tampak marah dan kesal mendengar ucapan Soraya tersebut. Soraya seolah melawan dirinya saat ini, dan kemudian Mama Derry kembali berteriak kepada Soraya.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin menandatangani surat ini, pergi sejauh mungkin!! ingat satu hal, jangan pernah muncul lagi di hadapan Derry!!" bentaknya kembali.
"Kau pembawa sial!!" ucap Mama Derry lagi.
Tubuh Soraya bergetar mendengar hinaan tersebut. Dia pun mengangguk cepat, dan membuka pintu kamar tersebut kemudian mencari kedua adiknya yang sedang menginap di rumah itu juga.
Mama Derry terduduk di ranjang Derry tersebut. Soraya hanya menahan nafasnya agar tetap teratur dan tidak di ketahui oleh kedua adiknya, kalau kakak mereka sedang menahan tangis saat ini.
Nurdin dan Nadim sedang membaca buku di kamar yang telah diberikan kepada mereka tersebut. Soraya dengan langkah yang sedikit lemah masuk dan menemui kedua adiknya itu.
"Kak.. Raya, kenapa kak??" tanya Nurdin sedikit menaruh curiga kepada kakaknya tersebut.
"Dek.. ayo kita pergi hari sekarang," ucap Soraya lemah.
"Kemana kak??" tanya mereka serentak.
"Jangan banyak bertanya, ikuti saja kakak sekarang!!" perintah Soraya kepada mereka berdua.
Akankah Soraya menjauh dari Derry??
Jangan lupa vote dan dukungan kalian ya gais dan berikan komentar yang positive terima kasih
__ADS_1