90 DAYS

90 DAYS
TANDA TANGANI INI!


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, namun Derry  masih tidak sadarkan diri lagi. Dia masih dalam fase koma dan tampak belum ada titik terang untuk kesehatannya sejauh ini.


Fanni  pula telah sadar dan dia juga telah di bawa pulang ke rumah oleh Papanya tersebut. Keluarga Tuan Frans  belum memberitahukan berita ini kepada keluarga Fanni  saat ini.


Pagi itu Soraya  mencoba kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan suaminya. Kemarin dia masih tidak diperbolehkan oleh Tuan Frans  untuk datang, karena Tuan Doris takut akan terjadi keributan kembali antara Mama Derry  dan dirinya, bukan Tuan Frans  tak menyukai Soraya , hanya saja dia tidak ingin Soraya  dilukai kembali oleh istrinya tersebut.


Keluarga Tio sudah pun tau tentang kecelakaan itu kemarin. Soraya  telah menelpon Tio setelah sholat subuh kemarin. Dan semua orang yang berada di rumah itu pun sudah mengetahui kabar Derry  yang koma saat ini.


Soraya  pun berangkat dan membawakan bekal makanan yang telah di masaknya pagi-pagi. Dengan penuh semangat dan keyakinan dia ingin melihat suaminya tersebut.


Diantar oleh supir pribadi rumah itu, Soraya  pun telah sampai di rumah sakit. Dan dia akan segera masuk ke ruangan Vip dimana suaminya dirawat tersebut.


Tok.. tok..


Mendengar ketukan itu, Nyonya besar  bangkit dari sofa sedangkan Tuan Doris sedang mandi saat itu. Tio pula masih di kantor sepagi ini, karena Tio  menggantikan posisi Derry  kembali menjadi CEO.


Cekrek...


Pintu terbuka lebar, dan mata kemarahan itu memang muncul kembali, Soraya  mencoba tetap baik dan mencoba mengembangkan senyumnya tersebut sambil mengulurkan makanan yang dia telah bawa untuk kedua mertuanya sarapan pagi ini.


"Assalamualaikum Ma," ucapnya lemah.


"Pergi kamu!! Prak...


Makanan itu terhambur seketika, Mama Derry  mencampakkan nya dengan keras dan Soraya  hanya mampu menggigit bibirnya menahan getaran tangisan yang hampir jatuh.


Tuan Frans  pula terkejut, dia sudah selesai memakai pakaian, dan dia mencoba keluar mencari arah keributan tersebut.


"Ma! apa-apaan Mama ini, Soraya  ini istri Derry  Ma!!" bentak Tuan Frans  saat ini.


"Detik ini masih memang Pa, sebentar lagi tidak akan!!" ucap Mama Derry  tersebut.


Ya! hari terakhir perjanjian tersebut adalah hari ini. Dan entah mengapa jantung Soraya  berdebar kuat. Akankah dia dan Derry  akan terpisahkan??


Akankah 90 hari berakhir akan terwujud??


Ingin menahan sekuat mana pun tangisan itu akan jatuh juga di pipinya. Dia mencoba menghapusnya segera.


"Ma, jangan ikut campur hubungan mereka, kita sebagai orang tua harus mendukung anak kita Ma," ucap Tuan Frans  lagi.


"Mama akan mendukung Derry  hanya dengan Fanni, bukan perempuan penggoda yang suka memanfaat kan uang lelaki saja," jelasnya kembali.

__ADS_1


Soraya  pun pergi meninggalkan tempat itu, dia berlari membawa kekecewaan yang didengar langsung dari mulut mertuanya itu. Tuduhan itu terlalu sakit dari apapun.


Dia bukanlah wanita seperti itu, bahkan mas kawin yang Derry  berikan sebanyak tiga ***** koin pun masih ada tertinggal di apartemennya tidak digunakannya sama sekali.


Dia menerima pernikahan itu memang tidak dasar cinta, namun tidak juga hanya berdasarkan uang semata. Ada pengorbanan besar terselip di sana.


Ya! Soraya  hanya lah korban keadaan yang harus menerima takdir menikah diatas kontrak demi membiayai kedua orang tuanya yang membutuhkan uang banyak untuk pengobatan saat itu.


Memang manusia tercipta dari air hina yang akan mulia bila telah menjadi yang bernama insan atau manusia. Diberi akal dan diberikan garis takdir masing-masing.


Namun pikir Soraya  kembali, dia tidak sehina yang mama Derry  bayangkan saat ini. Kembali lagi dia ke rumah itu, dan kemudian dia mengunci kamarnya ingin menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.


Suasana di ruangan Derry  hening kembali, Tuan Frans  tidak banyak berbicara saat ini kepada istrinya. Dia tak menyangka sikap kejam sang istri terlihat saat ini.


"Pa, mama mau pulang dulu mengambil pakaian, nanti mama balik lagi kesini," ucapnya sambil mengangkat tas.


"Yasudah hati-hati," ucap Tuan Frans  sedikit cuek.


Tanpa memperdulikan suaminya tersebut, Mama Derry  pun keluar dari ruangan itu, dan supir pribadi mereka telah pun menunggu di bawah.


Mama Derry  tampak ingin segera sampai di rumah saat ini Entah apa lagi yang akan dia bicarakan dengan Soraya  nantinya. Dia tampak ingin membuat rencana jahat kepada Soraya.


Tok.. tok..


Buka!!" teriaknya kembali.


Soraya  mengusap air matanya dengan cepat. Dia pun perlahan berjalan menuju ambang pintu saat ini.


Cekrek...


Pintu terbuka dengan lebar, terlihat ibu mertuanya berdiri dengan tegak dan tangan dilipat di dadanya.


"Ayo masuk sekarang!!" perintah Mama Derry  tersebut.


Soraya  pun akur dan mengikuti langkah Mama Derry  masuk ke kamar Derry  tersebut. Dan pintu pun di kunci kembali.


Mama Derry  mencari sebuah kertas di lemari buku Derry. Dan kemudian dia tampak menuliskan sesuatu di kertas kosong itu. Soraya  hanya terdiam kaku saat ini.


Apa yang akan diperbuat oleh Mama Derry??" tanya Soraya  dalam hatinya sekarang.


"Cepat tanda tangani ini!!" sambil menyerahkan surat yang baru saja dia tuliskan tersebut.

__ADS_1


Soraya  mencoba membacanya dengan benar, dan ternyata apa yang dipikirkannya benar saat ini. Menikah diatas kontrak dan sekarang pula bercerai karena perjanjian, namun bukan mau Derry sekarang Mama Derry  pula yang menginginkan perceraian tersebut.


"Tidak ma, Tidak!!" ucap Soraya  menolaknya.


"Apa kau tidak mencintai Derry??" tanya Mamanya kembali.


"Aku sangat mencintai Derry  Ma," jawab Soraya.


"Kalau begitu biarkan Derry  bahagia dengan Fanni, tinggalkan rumah ini, aku akan membayarmu dengan jumlah yang kutulis disini!! tanda tangan cepat!!" ucap Mama Derry  tersebut.


"Ma, jika mama ingin mengusirku, maka aku akan pergi, namun untuk menandatangani surat ini tidak akan pernah ku lakukan Ma," ucap Soraya.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan Mama, aku bukan Mamamu!!" bentaknya lagi.


"Apa uang ini kurang banyak?? kau mau berapa?? katakan saja, aku akan memberimu!!" umpatnya lagi kepada Soraya.


"Aku menikah dengan Derry  bukan karena uang Ma, jadi jangan menghinaku seperti ini," ucap Soraya  lagi.


Mama Derry  tampak marah dan kesal mendengar ucapan Soraya  tersebut. Soraya  seolah melawan dirinya saat ini, dan kemudian Mama Derry  kembali berteriak kepada Soraya.


"Baiklah, kalau kau tidak ingin menandatangani surat ini, pergi sejauh mungkin!! ingat satu hal, jangan pernah muncul lagi di hadapan Derry!!" bentaknya kembali.


"Kau pembawa sial!!" ucap Mama Derry  lagi.


Tubuh Soraya  bergetar mendengar hinaan tersebut. Dia pun mengangguk cepat, dan membuka pintu kamar tersebut kemudian mencari kedua adiknya yang sedang menginap di rumah itu juga.


Mama Derry  terduduk di ranjang Derry  tersebut. Soraya  hanya menahan nafasnya agar tetap teratur dan tidak di ketahui oleh kedua adiknya, kalau kakak mereka sedang menahan tangis saat ini.


Nurdin dan Nadim sedang membaca buku di kamar yang telah diberikan kepada mereka tersebut. Soraya  dengan langkah yang sedikit lemah masuk dan menemui kedua adiknya itu.


"Kak.. Raya, kenapa kak??" tanya Nurdin sedikit menaruh curiga kepada kakaknya tersebut.


"Dek.. ayo kita pergi hari sekarang," ucap Soraya  lemah.


"Kemana kak??" tanya mereka serentak.


"Jangan banyak bertanya, ikuti saja kakak sekarang!!" perintah Soraya  kepada mereka berdua.


Akankah Soraya  menjauh dari Derry??


Jangan lupa vote dan dukungan kalian ya gais dan berikan komentar yang positive terima kasih

__ADS_1


__ADS_2