90 DAYS

90 DAYS
KEHILANGAN SORAYA


__ADS_3

Perjalanan yang penuh kelap kelip malam itu menyesakkan dada Mama Derry  saat ini. Mobil yang kendarai supir itu terasa hening dan senyap saja.


Wajah Mama Derry  dibuangnya ke arah jendela, dengan terisak yang memang tampak dia tahan saat ini.


Soraya  pula yang masih menikmati malamnya menatap bulan dan bernostalgia tersebut, masih asyik mengingat semua hal indah bersama Derry  disini.


Rindu! ya pasti rindu. Istri mana yang biasanya setiap malam dipeluk oleh suaminya dan kini tangan kekar itu tidak lagi menyentuhnya sama sekali.


Biasanya malam-malam begini, kalau mereka tidak minum kopi di bawah sinar rembulan, mereka menghabiskan di ruangan televisi.


Soraya  menemani Derry  bermain game, sedangkan dirinya berbaring di paha sang suami itu sambil membuka buku Novel kesukaannya.


Mengingat tentang novel saat ini. Buku favoritnya telah pun tertinggal di rumah Derry  tersebut. Dia yang belum habis membaca cerita novel "Suami malaikatku" itu pun sekarang terhanyut mengingat beberapa hari lalu saat Derry  memperkenalkan dirinya di depan keluarganya tersebut bahkan di hadapan Fanni  yang pernah menjadi cinta mati Derry  itu.


Ya! sebab Fanni  lah mereka menjadi suami istri, sebab Fanni  juga perjanjian 90 hari itu dilakukan Derry. Dan sekarang keadaan berbalik dratis, cinta Derry  untuk Soraya  tidak ada sebab Fanni, itu adalah cinta ikhlas yang Derry  telah berikan.


Di hadapan Fanni, Derry  mampu meluahkan segalanya, membela Soraya  dengan darah penghabisan, memaki Fanni  dengan terus menerus, bahkan apa ini yang Soraya  mahu??


Sebenarnya tidak juga, cukuplah dengan ketenangan bersama Derry  itu sudah lebih cukup bagi Soraya  saat ini. Sekarang Soraya  harus menelan pahit kehidupannya kembali.


Ibu mertuanya tidak menyukainya sama sekali, dan memilih wanita lain untuk tetap menjadi istri dari suaminya tersebut. Memang mereka belum terdaftar sebagai sepasang suami istri di hadapan negara, namun di hadapan Tuhan pernikahan itu sah adanya.


Lama Soraya  melamun, beberapa waktu lalu Derry  telah menjadi seperti tokoh di novel favoritnya itu. Derry  seperti malaikat baginya, yang membela istri yang sedang terzolimi tersebut.


Selalunya Derry  bilang, dia tidak menyukai novel yang sering dibaca istrinya itu, karena memang Derry  bukanlah tipe suami dengan sikap yang seperti malaikat tersebut.


Derry  yang kasar, arogan, dingin dan sesuka hati saja berbuat semaunya. Berubah total ketika keadaan membuatnya rindu dengan Soraya, ketika keadaan membuatnya sakit linglung karena tidak bisa melepaskan Soraya.


Ya! cinta itu suci, cinta itu buta, cinta itu adalah sesuatu yang tidak bernama dan bertanda. Cinta! bicara tentang ini banyak definisi dari setiap kepala yang sedang ingin memulainya.


Semua makhluk memiliki cinta, namun yang paling harus ditaati dan terus di cintai adalah yang pencipta yang maha abadi.


Lama melamun, terhanyut dengan dingin dan gelapnya malam, beberapa kali pintu terketuk pun dia tidak mendengarnya. Lantas Nurdin mencoba membuka pintu itu, ternyata memang tidak di kunci.


Adiknya yang menjunjung nilai kesopanan yang tertinggi itu, selalu segan untuk memasuki kamar tanpa di ketuk terlebih dahulu. Namun dia tadi memang sudah berulang kali melakukan ketukan, Soraya  pula yang hanyut dengan nostalgianya tampak telinganya menjadi tuli seketika.


Entah di alam mana tadi dia berada. Nurdin khawatir diketuk berulang kali kakaknya tak menyahut, dia hanya ingin menyuruh Soraya  untuk makan malam, karena Yumita  telah pun memasak di dapur dan makanan telah pun terhidang.

__ADS_1


"Kak... kakak dimana??" suara Nurdin sedikit kuat dan tampak begitu khawatir.


"Kak! kak Raya!!" teriak Nurdin lagi.


Teriakan kuat itu membuat Soraya  terkejut sekali, karena memang dia sudah melamun sangat jauh saat ini. Bahkan Soraya  juga masih membenarkan wajahnya yang tampak berkaca-kaca itu.


Nurdin yang melihat ke kamar mandinya tidak ada siapapun, Soraya  pun mulai membuka pintu kacanya tersebut dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ya! balkon itu tersekat dengan pintu kaca dan tirai, itu lah mengapa Nurdin tidak mengetahuinya, dan baru kali ini Nurdin memasuki kamar kakaknya tersebut.


"Kak.. kak Raya!!" teriaknya lagi.


"Din!" ucap Raya memegang bahu Nurdin yang masih mencari Soraya  tersebut.


"Allahu akbar!!" teriak Nurdin karena terkejutnya.


"Kakak! kemana aja kak??" tanya Nurdin yang sedikit lega melihat kakaknya ada sekarang.


"Kakak tadi di sana, di balik tirai itu," ucap Soraya  kembali.


"Ada apa dek??" tanya Soraya  lagi.


"Kak, ayo kita makan malam," ajak Nurdin dengan lembutnya.


"Wah, Yumita  masak??" tanya Soraya  yang tampak tidak percaya.


"Iya kak, kak Ina sudah selesai masak," jawab Nurdin lagi.


"Yasudah ayo kita ke ruang makan," jawab Soraya  dan mereka pun menuju ruang makan saat ini.


Nurdin yang selalu sopan dan santu dan berlaku lembut itu selalu bisa meluluhkan siapapun yang melihatnya dan mendengar suaranya yang lembut itu.


Kini Soraya  pun telah berkumpul dengan adik-adiknya untuk makan malam ini. Yumita dan Nadim sudah menunggu lumayan lama tadi.


"Kok lama sekali Din??" tanya Yumita  kepa Nurdin.


"Iya Kak, tadi aku mencari-cari kak Raya dulu, eh ternyata di balik tirai," ucap Nurdin.

__ADS_1


Mereka hanya tertawa kecil dan saat ini begitu lahap mereka semua memakan masakan Yumita  tersebut. Soraya  menyuruh mereka memesan makanan lewat online saja, namun ternyata adik-adiknya ini malah memasak, kebiasaan di kampung memang selalu Yumita  terapkan.


Bersyukur Soraya  mendapatkan ketiga adiknya yang rukun dan selalu hangat seperti ini. Rasanya adik-adiknya ini adalah semangat baginya untuk terus melakukan apapun untuk mereka.


Sambil makan mereka juga berbincang hangat, Nadim pula yang sudah tampak bosan terus menerus berada di rumah kini dia pun membuka suaranya untuk bertanya kepada kakak tertuanya itu.


"Kak Raya.. kapan adek bisa masuk sekolah kak??" tanya nadim membuka suaranya.


"Oh.. iya, minggu depan kalian berdua sudah bisa masuk dek, besok kakak akan uruskan semuanya," jelas Soraya  kepada mereka.


"Wah, serius kak??" tampak senang keduanya.


"Iya dek, kalian satu sekolah nanti, biar enak kakak nganterinnya," ucap Soraya  lagi.


"Terima kasih banyak kak," serentak mereka bersamaan.


"Oh iya Yumi, kamu masuk bagian apa??" tanya Soraya  kembali.


"Terserah kakak saja, Yumita  akan mengikuti dan mematuhi kakak," jawab adik perempuannya ini.


"Yasudah kalau begitu kamu masuk di jurusan manajemen mau??" tanya Soraya  lagi kepada Yumita.


"Iya, iya kak mau banget," jawab Yumita  yang tampak suka dan senang.


"Itu memang cita-cita Yumita  kak, terima kasih banyak ya kak!!" ucap Yumita  memegang hangat tangan kakaknya yang berada di sebelahnya itu.


"Ya, iya! sudah cepat habisi makanan kalian, dan ini juga sudah larut, kalian setelah makan masuk kekamar saja ya," ucap Soraya.


"Tidak kak, biar kami bereskan ini dulu kakak saja yang istirahat, besokkan kakak bekerja," ucap Nurdin lagi.


"Yaudah kalau begitu kita sama-sama membereskannya," ucap Soraya.


Mereka hanya tersenyum hangat dan tampak semuanya senang saat ini. Soraya  yang masih menyimpan kebingungan tentang Tsania dia pun besok berencana akan mengunjungi Tsania kembali.


Akankah Tsania menerima Soraya??


Ikuti terus dan jangan lupa gais kasih komentar kalian.

__ADS_1


__ADS_2