90 DAYS

90 DAYS
TIO KE KAMPUNG SORAYA


__ADS_3

"aku mencintai istri Derry  Bu, Yah!!"


"Apa?? istri Derry??


Serentak keduanya terkejut mendengar ucapan dan pengakuan Tio tersebut. Mereka hampir tidak percaya dengan anaknya itu, namun memang Tio  tidak pernah berbohong kepada mereka berdua.


"Iya Bu, Yah! aku mencintai istri sepupuku," jawabnya sekali lagi.


"Siapa istri Derry nak??" tanya ibu penasaran.


"Soraya  bu," jawabnya lemah.


"Soraya?? yang ingin di jodohkan dengan Om Frans kepadamu itu kan??" terbelalak mata ayahnya ketika mendengar nama Soraya keluar dari mulut Tio tersebut.


"Iya Yah, ucapan Om Frans semalam benar, Tio mencintai Soraya sejak lama," jawabnya kembali.


"Nak... sudah jangan sedih! kita pecahkan masalah ini bersama-sama," sahut ayahnya kembali.


"Iya yah! tapi, Tio  tidak tahu itu benar atau tidak!" jawab Tio  kembali.


"Maksudmu??" tanya ibunya bingung.


"Derry tidak pernah menunjukkan buku pernikahan mereka," jawab Tio.


"Lalu, dari mana Tio  tahu Derry sudah menikahi Soraya nak??" tanya ibunya kembali.


"Waktu di kota Surabaya, Tio dan Soraya ditugaskan bersama, namun paginya tiba-tiba Derry muncul di kota Surabaya. Setelah meeting selesai, Derry  dengan keras mengatakan Soraya adalah istrinya," lemah Tio  mengatakan kejadian itu, sebenarnya dia tidak ingin mengingatnya kembali.


"Benarkah begitu nak??" tanya ayah Tio.


"Lalu bagaimana tanggapan Soraya nak??" tanya ibunya juga.


"Iya Yah, Bu! Soraya hanya mengangguk dan mereka berdua pergi meninggalkan Tio sendiri di meja cafe tersebut."


"Tio, sabar ya nak," ucap ibunya sambil memeluk Tio.


Hati wanita mudah tersentuh, ibunya menitiskan air mata di bahu anak semata wayangnya itu. Tio tampak diam dan masih saja bisa mengembangkan senyuman ke arah wajah ayahnya yang tampak tertunduk lemah itu.

__ADS_1


Orang tua tidak pernah ingin anaknya merasakan sakit atau pun susah hati. Namun, apa lah daya kedua orang tua Tio, Derry  keponakan mereka dan Soraya yang tidak mereka kenal itu, ternyata istri keponakan mereka sendiri yang dicintai anak semata wayang mereka itu


"Kalau memang Soraya itu istrinya Dava, harusnya kedua orang tua Derry tahu nak!!" ucap ayahnya kembali.


"Itu lah yang Tio bingungkan Yah! Om Frans  semalam bilang, Soraya pulang kampung, Derry pula sakit parah seperti itu."


"Tadi mama Derry  bilang kepada ibu Yah, besok Derry  sebenarnya akan menikah dengan Fanni!!" sahut ibunya kembali.


"Besok??" serentak Tio dan ayahnya.


"Iya! seharusnya besok, namun melihat kondisi Derry  seperti itu, rasanya tidak mungkin saja bisa melangsungkan pernikahan."


"Bu, kalau itu terjadi, lantas bagaimana dengan Soraya??" tampak wajah Tio sangat khawatir kepada Soraya saat ini.


"Nak, itu urusan Derry, kita tidak berhak mengaturnya, dan jika memang Soraya itu adalah istri Derry, pastilah dia sudah tahu Derry akan menikah. Mungkin saja, Soraya pulang kampung karena dia sudah tau," ucap ayahnya.


"Yah! tapi Tio mencintai Soraya , Tio tidak ingin melepaskan orang yang Tio cinta, kalau dia tidak bahagia," jawab Tio sambil menekan pelipis matanya.


"Tio, kalau begitu kau harus temui Soraya! dan bertanyalah langsung apa yang sedang terjadi diantara Soraya dan Derry," ucap ibunya pula memberikan saran.


"Bukan ibu menyuruhmu mencampuri urusan mereka, namun ini demi kesembuhan Derry," sahut kembali ibunya.


"Ayah tau sendiri kan, Derry menjadi seperti itu karena dia tidak bisa memutuskan apapun dan dia terlalu berpikir keras, hingga saraf otaknya tidak bekerja, itu kata dokter Rey bukan??" ucap ibunya kembali.


Ucapan ibunya itu sangat benar, dan terlihat ayah juga setuju. Tio mencerna baik-baik ucapan sang ibu itu. Seketika Tio memeluk kedua orang tuanya, ternyata bercerita dengan kedua orang tuanya adalah solusi yang tepat, pikir Tio.


"Apa kamu setuju nak??" serentak ayah dan ibu bertanya.


"Iya Bu, Ya! Tio setuju!!" jawabnya tegas dan masih memeluk kedua orang tuanya tersebut.


"Apa Tio tahu alamat SORAYA??" siasat ayahnya mencari tahu seberapa dekat Tio dan Soraya.


"Tio hanya tahu apartemen nya saja, kampung halamannya mana Tio tahu Yah," jawab Tio dengan polosnya dan jujur.


"Lalu, bagaimana kamu menjumpainya!!" berpikir keras mereka bertiga.


"Bu! tenang saja, data Soraya ada di kantor. Besok Tio ke kantor dulu, meminta data-data diri Soraya," jawab Tio.

__ADS_1


"Iya, benar juga kamu nak," jawab mereka serentak.


Soraya hampir terkena penyakit Alzheimer, namun kata dokter ini masih awal saja, belum cukup parah dan masih bisa diobati dengan perlahan.


Obatnya adalah ketenangan dan kehangatan, maka dari itu ketiga adiknya tersebut mengikuti saran dokter yang baru saja mereka datangi pagi tadi.


Mereka disarankan harus bisa membuat Soraya tenang dan nyaman. Dan beban pikiran Soraya yang berat dan membuatnya marah harus bisa melupakannya.


Mereka tidak tahu pasti mengenai hal itu, namun yang mereka tahu adalah, semenjak dia tahu kematian kedua orang tuanya di akibatkan map merah berisi nota perjanjian kontrak menikah selama 90 hari dengan pewaris tunggal perusahaan tanah tersebut sampai di tangan kedua orang tuanya tersebut, di saat itu lah perubahan sikap Soraya  berubah total.


Emosinya semakin menjadi-jadi jika mengingat kematian tersebut karena di sebabkan map itu penyebabnya. Masih saja di kepala Soraya,  Derry pembunuh yang kejam!!


Ketiga adiknya juga tahu mengenai itu, dan mereka sebisa mungkin tidak mengungkit hal apapun mengenai keseharian Soraya di tempat kerjanya.


Mereka hanya berbincang santai saja, menemani kakaknya makan, membawa Soraya  berkeliling kampung, bahkan mereka berempat berencana untuk liburan akhir minggu ini.


Besok hari jum'at dan untuk minggu yang hampir tiba itu, mereka berencana membawa Soraya  ke pemandian alam segar yang tidak jauh dari kampung halaman mereka tersebut.


Sudah lama rasanya mereka tidak berlibur, beberapa hari ini memang selalu kesedihan yang menyelimuti mereka semua, demi kesehatan kakak sulung mereka, mereka semua rela berkorban apapun itu.


Malam dengan larutnya, Tio sudah menyiapkan satu koper yang akan dibawa besok untuk berangkat ke kampung halaman Soraya tersebut, walau dia masih belum tahu dimana kampung halaman itu berada.


Dan kini telah sampai kembali, semangat Tio dan rasa kepercayaan dirinya sendiri. Dia berharap hal baik akan menghampiri dirinya dan dia bisa menyatukan Derry dan Soraya, pikir Tio.


Malam ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Fanni dan keluarganya masih belum beranjak dari rumah Derry tersebut.


Tuan Frans  yang tadi siang menelpon Fanni  dengan berkata besok pernikahan itu dibatalkan saja, Fanni  langsung membawa keluarganya bertandang ke rumah Derry hingga sampai jam sepuluh malam, mereka masih berdebat mengenai pernikahan besok.


Karena keluarga Fanni  tampak dilecehkan, mereka marah kepada keluarga Derry  yang dengan mudahnya membatalkan pernikahan tersebut.


Fanni  yang takut akan ancaman beberapa bulan lalu dari orang suruhan istri Tuan Osman, membuatnya menggebu-gebu ingin segera menikah, dan karena Derry  memang pewaris tunggal itu lah mengapa dia terus saja memaksa Derry  dengan berbagai cara.


Kejahatan yang Fanni  buat masih belum terungkap lagi, bahkan tentang map yang berisi nota perjanjian antara Derry  dan Soraya  yang sengaja dia kirim ke kampung halaman Soraya  tersebut, masih belum diusut tuntas.


Keadaan Derry  seperti ini juga sedikit banyaknya karena Fanni, yang selalu memberikan tekanan kepada Derry, dan ditambah lagi dengan sikap Soraya yang menuduhnya pembunuh.


Bagaimana keputusan besok??

__ADS_1


****


__ADS_2