
"Kenapa kau ikut keluar juga denganku?" tanya Fanni dengan wajah bingung saat ini.
"Tak mengapa nona, lagipula villa saya ada di dekat sini juga," jelasnya.
Fanni mengangguk kagum, dia berpikir sejenak tampaknya dunia tidak begitu kejam saat ini. Masih ada orang yang tidak peduli dengan aib yang tersebar saat ini.
Tersenyum puas Fanni sekarang, dia merasa dia telah terbebas dari segala masalah apapun saat ini. Padahal dia tidak tahu bahwa lelaki yang bersama dengan dirinya ini adalah sebuah jaring untuk menangkapnya.
Fanni pun dibawa oleh pria suruhan Rendra itu ke vila milik Rendra yang ada di kota tersebut. Kemudian mereka masih berbincang dengan santai, pikiran Fanni menyelinap ingin menggoda pria ini.
Karena hari semakin siang, Rendra dan Tsania pun sudah sampai di depan rumah Derry . Tsania sedikit berdebar dan canggung saat ini, namun Rendra menggenggam tangannya dengan erat.
Setelah itu Rendra menuntun Tsania untuk masuk, tak lama kemudian mobil TIO juga telah sampai di pelataran rumah mewah itu.
Di rumah ini Soraya sempat di usir oleh mertuanya sendiri, bahkan segala ancaman selalu dilayangkan mertuanya itu. Namun seorang Soraya tidak pernah menaruh dendam apa lagi kemarahan yang besar.
Akhirnya Rendra dan Tsania berhasil masuk di tengah ramai kerumunan dan staf lainnya yang memandang Tsania dengan tatapan bingung.
Banyak orang yang berbisik, mereka juga mengenali Tuan Rendra sebagai investor di perusahaan Derry itu. Derry yang sedari tadi masih meratap dia menoleh ketika tangan seseorang menyentuh pundaknya.
"Derry, yang tabah ya," ucap Rendra memberikan pelukan.
Tsania yang berada disisi Rendra itu membuat Derry mengernyitkan dahinya saat ini, dia bingung katanya Tsania akan pindah ke luar kota, namun sekarang wanita itu disini dan di sebelah Rendra.
"Pak, saya ikut berduka cita, semoga bapak tabah dan sabar," ucap Tsania juga.
Begitu Soraya dan TIO masuk, Soraya yang berhenti menangis itu langsung menuju dimana jenazah masih di baringkan disana.
"Mama...." ucapnya.
Kembali Derry menangis, dan betapa terkejutnya Tsania saat ini, kehadiran Soraya tiba-tiba itu membuat dia bingung dan penasaran.
Mengapa Soraya menyebut Nyonya besar sebagai Mama?
Tsania melirik ke sebelah suaminya, disana tampak ada TIO. Dia pun berpikir tidak sinkron saat ini. Dan pikirannya mengatakan Soraya dan TIO memang sudah bersatu sekarang.
"Sayang, ikhlaskan mama," ucap Derry yang membuat semua staf dan Tsania terkejut.
"Sayang?"
__ADS_1
Semua orang berharap ada sesuatu penjelasan yang terjadi disini. Derry juga bingung dengan Tsania yang katanya sudah menikah, namun Tsania lebih bingung dengan Soraya yang datang bersama TIO namun Derry yang memanggilnya sayang!
Drama apa ini?
Ucap Tsania dalam hatinya, dan dia juga penuh tanda tanya besar sekarang. Apa ada pernikahan diantara mereka? Tapi kapan?
"Soraya, sudah jangan menangis," ucap Tsania yang mencoba mendekat.
Adik-adiknya sedari tadi yang lebih awal sampai, saat ini sedang membacakan yasin untuk mama Derry itu. Mereka yang begitu kuat dan tabah, karena memang kedua orang tua mereka telah lebih dulu berpulang kepangkuan yang maha kuasa.
Tsania menatap Rendra curiga, wajah suaminya itu tidak, menunjukkan keterkejutannya sama sekali saat ini. Namun Rendra mencoba berpura-pura tidak tahu apapun, dan dia langsung bertanya kepada TIO .
"TIO, kenapa kau baru saja sampai?" tanya Rendra yang seolah berpura-pura tidak tahu.
"Ya, aku ditugaskan Derry untuk menjemput Soraya," jawab TIO.
Semuanya menangis, melihat Derry menangis Tsania juga sedih. Seorang yang egois dan berkepala batu itu ternyata bisa mengeluarkan air mata juga. Perpisahan paling menyakitkan adalah kematian, karena memang tidak bisa bertemu kembali nantinya.
Tuan Frans angkat bicara saat ini, karena memang sudah ramai yang berkumpul disini, dan bilal mayit sudah pun sampai, mereka melaksanakan fardhu kifayahnya terlebih dahulu.
Setelah dimandikan, dikafani, dan sekarang akan di sholatkan. Soraya pula masih lemah dengan mata yang merah. Nyonya Veli ibu TIO itu memeluk Soraya dengan erat.
"Maafin kesalahan ibu mertuamu ya nak," ucap mama TIO.
Sedang Tsania hanya bisa mengelus belakang Soraya dengan lembutnya saat ini. Dia bahkan sekarang tak bisa berkata apapun lagi setelah melihat hal mengejutkan tadi.
Dia pikir hanya dirinya saja yang memiliki kejutan untuk semua orang, namun Soraya dan Derry lebih menghebohkan lagi.
Para staf menatap aneh ke arah Soraya. Mulut manusia dan hati pasti berkata lain. Setelah mayat selesai disholatkan, maka mereka semua akan mengantarkan jenazah ke pemakamannya.
Banyak yang ikut bersama mereka saat ini, banyak juga yang masih membicarakan Tsania dan Soraya.
Rendra dan TIO berjalan seiringan, mereka hanya bisa membuat Derry tenang dan dan menguatkan Derry.
Derry bersyukur mendapatkan teman seperti mereka. Sedangkan Tio sepupu yang dianggap Derry seperti sahabat dan bahkan abangnya.
Walau Derry dan Tio berumur sama, namun sikap Tio yang bijaksana melebihi Derry itu. Dan sekarang ini juga, mereka mengikuti ambulance yang mengantarkan mama Derry ke peristirahatan terakhir kalinya.
Setelah jenazah itu dimasukkan, banyak tetesan air mata kembali membasahi pipi semua orang. Waktu begitu cepat berlalu, Derry baru saja ingin memberikan mamanya seorang cucu, dan Soraya juga berharap mama Derry menerimanya dengan baik setelah dia memiliki anak.
__ADS_1
Namun takdir berkehendak lain, belum lagi dia menggendong cucunya, namun yang kuasa saat ini mengambil nyawanya.
Ya! Nyawa hanyalah sebuah pinjaman yang diberikan Tuhan kepada kita benda mati ini. Tidak ada nyawa, maka kita tidak akan bergerak, tidak ada nyawa, maka kota tidak akan mengenal dunia.
Setelah pemakaman itu selesai, mereka semua pulang kembali. Ada yang langsung Seperti Tsania dan Rendra, mereka kembali ke rumah Derry mungkin saja mereka harus menjelaskan apa yang masih mereka rahasiakan saat ini.
Sampai dirumah Derry, keadaan begitu hening, hanya ada suara isak tangis yang tertahan di balik wajah semua orang.
"Silahkan duduk semuanya," ucap Tuan Frans.
Lalu para pembantu rumah itu yang memang tampak bersedih juga, mereka sudah pun menyiapkan makanan dan minuman saat ini untuk para tamu.
Tsania dan Rendra bergabung di ruangan tamu itu. Mereka duduk dengan begitu mesranya. Derry menatap aneh dengan mereka berdua, namun karena penasaran Derry pun membuka suaranya.
"Tsania, kau bilang ingin keluar kota, dan mana suamimu?" tanya Derry bingung.
"Pak Derry, sebenarnya saya ingin ke luar negeri hari ini, dan ini suami saya," jelas Tsania yang membuat Soraya terkejut dan bahkan Derry juga sama.
"Rendra! Kenapa kau tidak mengatakan Tsania dan dirimu telah menikah!" umpat Derry kesal.
"Haha, Derry, apa kau juga lupa? Kau dan Soraya juga tidak memberi tahu kami bukan?" sahut Rendra membuat semua orang tersenyum.
"Ya benar, aku dan Soraya sudah menikah sejak beberapa bulan lalu, dan bulan ini Soraya sedang mengandung," ucap Derry membuat semua orang senang.
Di rumah ini saat ini, ada berita duka dan sekaligus berita suka. Senang dan sedih adalah antonim dari Tuhan, memang sedih menyelimuti mereka, namun siapa yang bisa melawan kesedihan itu?
Tsania ikut senang mendengarnya, entah mengapa hati Tsania merasa ada kelegaan disana, mendengar Soraya dengan Derry bukan dengan Tio.
"Selamat Raya," ucap Tsania dan memeluk Soraya sekarang.
"Pak Derry, kau begitu hebat," ucap Tsania lagi memuji Derry.
"Ya tentu, aku harap Rendra dan kau juga menyusul," ucap Derry lagi.
"Aammiinn, doakan saja," jawab mereka serentak.
Suasana disana bertukar dengan aura positif yang datang dari kebahagiaan para anak muda ini. Tio yang gusar sekarang, hanya bisa menelan ludahnya karena dia tidak memiliki pasangan siapa pun.
"Tante juga ada kabar baik untuk kalian semua," ucap Nyonya Veli dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Tio terkejut bukan main, dia ingin menyanggah ibunya itu. Namun dia tidak berdaya sekarang, dia malu jika menikahi Yumita yang masih di bawah umur itu, rasanya tidak pantas untuk dibicarakan di depan Tsania dan Rendra, pikir Tio saat ini.
****