90 DAYS

90 DAYS
KETAKUTAN TIO


__ADS_3

"Kenapa kau ikut keluar juga denganku?" tanya Fanni  dengan wajah bingung saat ini.


"Tak mengapa nona, lagipula villa saya ada di dekat sini juga," jelasnya.


Fanni  mengangguk kagum, dia berpikir sejenak tampaknya dunia tidak begitu kejam saat ini. Masih ada orang yang tidak peduli dengan aib yang tersebar saat ini.


Tersenyum puas Fanni  sekarang, dia merasa dia telah terbebas dari segala masalah apapun saat ini. Padahal dia tidak tahu bahwa lelaki yang bersama dengan dirinya ini adalah sebuah jaring untuk menangkapnya.


Fanni  pun dibawa oleh pria suruhan Rendra  itu ke vila milik Rendra  yang ada di kota tersebut. Kemudian mereka masih berbincang dengan santai, pikiran Fanni  menyelinap ingin menggoda pria ini.


Karena hari semakin siang, Rendra  dan Tsania pun sudah sampai di depan rumah Derry . Tsania sedikit berdebar dan canggung saat ini, namun Rendra  menggenggam tangannya dengan erat.


Setelah itu Rendra menuntun Tsania untuk masuk, tak lama kemudian mobil TIO  juga telah sampai di pelataran rumah mewah itu.


Di rumah ini Soraya sempat di usir oleh mertuanya sendiri, bahkan segala ancaman selalu dilayangkan mertuanya itu. Namun seorang Soraya  tidak pernah menaruh dendam apa lagi kemarahan yang besar.


Akhirnya Rendra  dan Tsania berhasil masuk di tengah ramai kerumunan dan staf lainnya yang memandang Tsania dengan tatapan bingung.


Banyak orang yang berbisik, mereka juga mengenali Tuan Rendra  sebagai investor di perusahaan Derry  itu. Derry yang sedari tadi masih meratap dia menoleh ketika tangan seseorang menyentuh pundaknya.


"Derry, yang tabah ya," ucap Rendra  memberikan pelukan.


Tsania yang berada disisi Rendra  itu membuat Derry  mengernyitkan dahinya saat ini, dia bingung katanya Tsania akan pindah ke luar kota, namun sekarang wanita itu disini dan di sebelah Rendra.


"Pak, saya ikut berduka cita, semoga bapak tabah dan sabar," ucap Tsania juga.


Begitu Soraya dan TIO masuk, Soraya  yang berhenti menangis itu langsung menuju dimana jenazah masih di baringkan disana.


"Mama...." ucapnya.


Kembali Derry  menangis, dan betapa terkejutnya Tsania saat ini, kehadiran Soraya tiba-tiba itu membuat dia bingung dan penasaran.


Mengapa Soraya menyebut Nyonya besar sebagai Mama?


Tsania melirik ke sebelah suaminya, disana tampak ada TIO. Dia pun berpikir tidak sinkron saat ini. Dan pikirannya mengatakan Soraya dan TIO memang sudah bersatu sekarang.


"Sayang, ikhlaskan mama," ucap Derry  yang membuat semua staf dan Tsania terkejut.


"Sayang?"

__ADS_1


Semua orang berharap ada sesuatu penjelasan yang terjadi disini. Derry juga bingung dengan Tsania yang katanya sudah menikah, namun Tsania lebih bingung dengan Soraya yang datang bersama TIO namun Derry yang memanggilnya sayang!


Drama apa ini?


Ucap Tsania dalam hatinya, dan dia juga penuh tanda tanya besar sekarang. Apa ada pernikahan diantara mereka? Tapi kapan?


"Soraya, sudah jangan menangis," ucap Tsania yang mencoba mendekat.


Adik-adiknya sedari tadi yang lebih awal sampai, saat ini sedang membacakan yasin untuk mama Derry itu. Mereka yang begitu kuat dan tabah, karena memang kedua orang tua mereka telah lebih dulu berpulang kepangkuan yang maha kuasa.


Tsania menatap Rendra curiga, wajah suaminya itu tidak, menunjukkan keterkejutannya sama sekali saat ini. Namun Rendra mencoba berpura-pura tidak tahu apapun, dan dia langsung bertanya kepada TIO .


"TIO, kenapa kau baru saja sampai?" tanya Rendra yang seolah berpura-pura tidak tahu.


"Ya, aku ditugaskan Derry untuk menjemput Soraya," jawab TIO.


Semuanya menangis, melihat Derry menangis Tsania juga sedih. Seorang yang egois dan berkepala batu itu ternyata bisa mengeluarkan air mata juga. Perpisahan paling menyakitkan adalah kematian, karena memang tidak bisa bertemu kembali nantinya.


Tuan Frans angkat bicara saat ini, karena memang sudah ramai yang berkumpul disini, dan bilal mayit sudah pun sampai, mereka melaksanakan fardhu kifayahnya terlebih dahulu.


Setelah dimandikan, dikafani, dan sekarang akan di sholatkan. Soraya pula masih lemah dengan mata yang merah. Nyonya Veli ibu TIO itu memeluk Soraya dengan erat.


"Maafin kesalahan ibu mertuamu ya nak," ucap mama TIO.


Sedang Tsania hanya bisa mengelus belakang Soraya  dengan lembutnya saat ini. Dia bahkan sekarang tak bisa berkata apapun lagi setelah melihat hal mengejutkan tadi.


Dia pikir hanya dirinya saja yang memiliki kejutan untuk  semua orang, namun Soraya dan Derry lebih menghebohkan lagi.


Para staf menatap aneh ke arah Soraya. Mulut manusia dan hati pasti berkata lain. Setelah mayat selesai disholatkan, maka mereka semua akan mengantarkan jenazah ke pemakamannya.


Banyak yang ikut bersama mereka saat ini, banyak juga yang masih membicarakan Tsania dan Soraya.


Rendra dan TIO berjalan seiringan, mereka hanya bisa membuat Derry tenang dan dan menguatkan Derry.


Derry bersyukur mendapatkan teman seperti mereka. Sedangkan Tio sepupu yang dianggap Derry seperti sahabat dan bahkan abangnya.


Walau Derry dan Tio berumur sama, namun sikap Tio yang bijaksana melebihi Derry itu. Dan sekarang ini juga, mereka mengikuti ambulance yang mengantarkan mama Derry ke peristirahatan terakhir kalinya.


Setelah jenazah itu dimasukkan, banyak tetesan air mata kembali membasahi pipi semua orang. Waktu begitu cepat berlalu, Derry baru saja ingin memberikan mamanya seorang cucu, dan Soraya juga berharap mama Derry menerimanya dengan baik setelah dia memiliki anak.

__ADS_1


Namun takdir berkehendak lain, belum lagi dia menggendong cucunya, namun yang kuasa saat ini mengambil nyawanya.


Ya! Nyawa hanyalah sebuah pinjaman yang diberikan Tuhan kepada kita benda mati ini. Tidak ada nyawa, maka kita tidak akan bergerak, tidak ada nyawa, maka kota tidak akan mengenal dunia.


Setelah pemakaman itu selesai, mereka semua pulang kembali. Ada yang langsung Seperti Tsania dan Rendra, mereka kembali ke rumah Derry  mungkin saja mereka harus menjelaskan apa yang masih mereka rahasiakan saat ini.


Sampai dirumah Derry, keadaan begitu hening, hanya ada suara isak tangis yang tertahan di balik wajah semua orang.


"Silahkan duduk semuanya," ucap Tuan Frans.


Lalu para pembantu rumah itu yang memang tampak bersedih juga, mereka sudah pun menyiapkan makanan dan minuman saat ini untuk para tamu.


Tsania dan Rendra  bergabung di ruangan tamu itu. Mereka duduk dengan begitu mesranya. Derry  menatap aneh dengan mereka berdua, namun karena penasaran Derry  pun membuka suaranya.


"Tsania, kau bilang ingin keluar kota, dan mana suamimu?" tanya Derry  bingung.


"Pak Derry, sebenarnya saya ingin ke luar negeri hari ini, dan ini suami saya," jelas Tsania yang membuat Soraya  terkejut dan bahkan Derry  juga sama.


"Rendra! Kenapa kau tidak mengatakan Tsania dan dirimu telah menikah!" umpat Derry  kesal.


"Haha, Derry, apa kau juga lupa? Kau dan Soraya  juga tidak memberi tahu kami bukan?" sahut Rendra  membuat semua orang tersenyum.


"Ya benar, aku dan Soraya  sudah menikah sejak beberapa bulan lalu, dan bulan ini Soraya  sedang mengandung," ucap Derry  membuat semua orang senang.


Di rumah ini saat ini, ada berita duka dan sekaligus berita suka. Senang dan sedih adalah antonim dari Tuhan, memang sedih menyelimuti mereka, namun siapa yang bisa melawan kesedihan itu?


Tsania ikut senang mendengarnya, entah mengapa hati Tsania merasa ada kelegaan disana, mendengar Soraya  dengan Derry  bukan dengan Tio.


"Selamat Raya," ucap Tsania dan memeluk Soraya sekarang.


"Pak Derry, kau begitu hebat," ucap Tsania lagi memuji Derry.


"Ya tentu, aku harap Rendra dan kau juga menyusul," ucap Derry  lagi.


"Aammiinn, doakan saja," jawab mereka serentak.


Suasana disana bertukar dengan aura positif yang datang dari kebahagiaan para anak muda ini. Tio yang gusar sekarang, hanya bisa menelan ludahnya karena dia tidak memiliki pasangan siapa pun.


"Tante juga ada kabar baik untuk kalian semua," ucap Nyonya Veli dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Tio terkejut bukan main, dia ingin menyanggah ibunya itu. Namun dia tidak berdaya sekarang, dia malu jika menikahi Yumita  yang masih di bawah umur itu, rasanya tidak pantas untuk dibicarakan di depan Tsania dan Rendra, pikir Tio saat ini.


****


__ADS_2