
Akhirnya Soraya telah kembali ke apartemen yang telah diberikan Derry kepadanya tersebut. Dan untuk sementara waktu mungkin mereka masih bisa menempati apartemen ini dulu.
Yumita yang masih di titipkan di rumah Tio, rencananya akan Soraya jemput hari ini. Sudah lama Soraya tidak memasuki kamarnya tersebut. Kamar yang telah menjadi saksi bisu antara dia dan Derry.
"Wah, ini rumah kakak??" tanya nadim tampak kagum.
"Ini pemberian bang Derry kepada kakak, dan kalau bang Derry mengambilnya kita tidak akan bisa tinggal disini lagi," ucap Soraya lemah.
"Kak.. kita masih ada rumah sendiri, dan rasanya tidak mungkin bang Derry mengambilnya, Nurdin lihat bang Derry sangat mencintai kakak," ucap Nurdin lagi.
"Din...semoga begitu," ucap Soraya lemah dan hanya harapan yang bersisa.
"Kak.. kenapa kita meninggalkan rumah bang Derry??" tanya Nadim kembali masih bingung dengan keadaan saat ini.
"Iya, gak apa-apa," jawab Soraya juga singkat dan dia benar-benar tidak tahu ingin menjelaskan apa kepada adiknya tersebut.
"Yasudah, kalian masuk ke kamar saja. Besok kita akan berbelanja pakaian," ucap Soraya lagi.
Baru lagi Nadim ingin bertanya, Nurdin pula menghentikannya. Tampak Nurdin mengerti dengan raut wajah Soraya yang menyimpan masalah dan sebuah rahasia.
Nurdin memang dewasa dan penuh pemahaman. Dia pun mengajak adiknya masuk ke dalam. Kali ini mereka membuka tirai melihat keindahan bandar kota Jakarta dari atas.
"Wah, indah sekali!" ucap Nadim.
"Kalau kak Yumita disini, pasti dia akan senang sekali menatap bulan dengan dekat!!" kembali lagi Nadim berbicara.
Jam pun sudah menunjukkan pukul sebelas siang saat ini. Soraya masih terbaring lemah di kamarnya, dengan menangis agar kedua adiknya tidak melihat kalau dia sedang bersedih.
Siang nanti dia ingin menjemput Yumita di rumah Tio, mobilnya ada terparkir di bawah parkiran apartemen tersebut. Bila di dalam kamar ini dia teringat semuanya tentang perlakuan Derry saat mereka sedang dalam kondisi terlena.
Teringat saat begini, kalau dia suntuk pasti dia akan membaca novel favorite nya yang ternyata novel itu berada di tangan Derry. Belum sempat dia membaca novel itu lagi, dan sekarang dia harus kembali ke apartemen ini karena sikap ibu mertuanya yang tampak tidak menyukai kehadiran Soraya sama sekali.
Yumita kondisinya sudah lumayan pulih. Walau masih ada sedikit memar di kulitnya, namun itu tidak menjadi masalah karena luka dalamnya tampak tidak nyeri lagi.
Dia membantu ibu Tio memasak di dapur. Pekerjaan ini sudah biasa dia lakukan di kampung, walaupun umurnya masih muda.
Dua hari sudah berada di rumah Tio, namun kehangatan yang diberikan Mama Tio tampak seperti anak sendiri.
__ADS_1
Tio pula dua hari ini jarang terlihat, mungkin Tio pulang ke rumahnya sendiri. Yumita tampak tercari oleh sosok Tio tersebut. Dia pun menyimpan harapan kepada Tio, dan kalau diikutkan hatinya, dia ingin selamanya tinggal bersama orang tua Tio tersebut.
Mengingat ini sudah jadwal makan siang, Soraya tersadar akan kedua orang adiknya yang pasti lapar karena jam telah menunjukkan pukul dua belas siang.
Soraya pun mengeluarkan ponselnya, dan memesan beberapa makanan untuk mereka makan siang hari ini. Dia yang lemah karena tidak berselera apapun.
Mengingat ada tanggungan lagi di hidupnya, Soraya bangkit dan akan menghadapi segalanya dengan pasrah dan dengan kekuatannya.
Makanan pun telah sampai, mereka berdua makan dengan lahapnya. Soraya memesan ayam yang di goreng krispi tersebut, tampak Soraya hanya memakannya sedikit.
Yumita dan keluarga Tio telah berkumpul satu meja. Tio pula siang ini di telpon Ibunya untuk pulang makan siang di rumah saja, Tio pun tidak menolaknya.
Karena hari ini masih tampak tidak terlalu sibuk, jadi Tio bisa keluar jauh dari kantornya. Melihat Tio datang Yumita kalang kabut, dan tampak bingung.
"Yumi.. kamu mau kemana??" tanya Mama Tio yang melihat Yumita ingin pergi dari meja makan tersebut.
"Mau.. ke kamar mandi tante," ucapnya tergagap.
"Oh.. yasudah, nanti kembali lagi kesini, kita makan bersama," ucap ibu Tio tersebut dengan begitu ramah dan lembut.
"Ini Yumita loh yang memasaknya," ucap Ibunya. memberitahukan kepada Tio.
"Yumita?? si adik kecil itu?? wah, kemana dia Bu??" tanya Tio kembali.
"Ada tadi, tapi dia ke kamar mandi," ucap Ibunya pula.
Ayah Tio hanya tersenyum mendengar anaknya tersebut menyebut Yumita dengan sebutan adik kecil. Ya! memang usia mereka jauh berbeda, bahkan tinggi badan Yumita juga kecil.
Tak lama kemudian Yumita mencoba muncul dengan berjalan sedikit perlahan karena malu-malu dan sedikit ragu.
"Nah.. itu Yumita," ucap ibunya kembali.
Tio menoleh ke belakang dengan senyuman yang mengembang dan menyuruh Yumita duduk di sebelahnya pula.
"Hei.. adik kecil, sini duduk di sebelahku," ucap Tio dengan santainya.
"Tio... Yumita itu sudah mau masuk kuliah, kenapa kamu memanggilnya seperti itu??" tanya Ayahnya kembali.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Yah, panggilan itu cocok untuk Yumita yang mungil dan kecil," dengan santainya Tio menjelaskan kenapa dia memanggil Yumita seperti itu.
Dan kemudian Yumita pun duduk di sebelah Tio, dengan jantung yang berdebar dan tangan sedikit gemetar ingin membuka mengambil nasi, padahal perut telah pun lapar.
"Sini biar abang yang ambilin, kamu mau yang mana adik kecil??" tanya Tio dengan santainya menuangkan nasi di piring Yumita.
"Yumi.. kenapa kamu diam??" tanya Ibu Tio pula.
"Ha.. tidak tante," ucapnya sedikit gugup.
"Abang ambilin kamu semuanya ya," ucap Tio sambil menuangkan satu persatu lauk itu ke piring Yumita.
"Cukup Bang! saya tidak makan sebanyak ini," ucap Yumita kembali dengan cepat.
"Haha, kamu harus makan banyak agar tidak menjadi kecil begini lagi, dan sebentar lagi kan kamu masuk kuliah harus bisa membesar dengan cepat," ucap Tio sambil menjahili Yumita.
Mengingat kembali pertama kali Tio bertemu dengan Yumita, pertemuan yang lucu karena Tio terkena pukulan Yumita yang cukup terasa itu, walau tubuhnya kecil.
Asyik mereka makan bersama dan saling berbincang satu sama lain. Kehangatan itu terus terjalin, bahkan Yumita disarankan oleh Ibu Tio untuk tinggal di rumahnya selama-selamanya.
Ayah Tio adalah seorang anak panti asuhan, dan juga yatim piatu. Begitu juga Yumita saat ini, jadi tidak ada salahnya kalau Yumita mereka rawat dan mereka kuliahkan, sambilan untuk menjadi penenman Ibu Tio yaitu Nyonya Velli.
Tio juga sangat menyetujuinya, dan jika memang Yumita berkenan, Tio akan selalu menjadi abang yang baik buat Yumita. Tio akan mengantarnya kuliah dan bahkan menjemput Yumita pulang, itulah yang dikatakan Tio di meja makan tersebut.
Ibu nya juga sangat menyetujui hal itu, apalagi Ayah Tio sangat senang mendapatkan anak perempuan yang cantik dan mungil seperti Yumita tersebut.
Tapi, bukan mau Yumita dianggap seperti adik oleh Tio. Kalau boleh Yumita ingin dianggap menjadi kekasih Tio, termenung Nirina melamunkan hal tersebut.
"Hei.. adik kecil, kenapa makan sambil termenung??" terkejut Yumita saat tangan Tio menepuk pelan bahunya.
"Apa Yumita keberatan??" tanya ibu Tio kembali.
"Bukan begitu tante, takutnya kak Soraya tidak menyetujui hal ini," ucap Yumita lagi.
"Tenang saja, nanti tante akan berbicara kepada kakakmu," ucap ibu Tio itu kembali.
****
__ADS_1