
Sampai di Dubai, jam pun telah menunjukkan pukul enam sore sekarang disana. Begitu sampai Tuan Osman mencari istrinya di rumah besar itu. Tampaknya dia ingin membujuk wanita itu kembali.
"Sayang.. dimana kau!" teriak Tuan Osman sambil membuka setiap sudut ruangannya.
Sedang istrinya itu saat ini berada di rumah ayahnya sendiri. Tuan Osman tidak menemukan istrinya di rumah ini. Dia pun mencoba menelpon istrinya itu.
Ketika itu sang istri sedang berbincang dengan ayahnya dan seorang pengacara dari ayahnya tersebut. Walau memang dirinya juga pengacara, namun hal ini harus ada yang menangani.
"Dia menelponku ayah," ucap istri Tuan Osman yang, melihat ponselnya berdering kuat.
"Jawab saja dengan lembut, suruh dia datang kesini," ucap pria paruh baya itu.
Istri Tuan Osman pun mengangguk dan langsung ditekannya tombol hijau itu, panggilan itu pun terhubung saat ini dengan cepat.
"Hallo sayang, kau dimana?" tanya Tuan Osman dengan nada terlalu manis.
"Oh suamiku, aku sedang di rumah ayah," jawabnya berasa ingin mual saat ini.
"Oh, baiklah aku akan segera kesana menjemputmu," ucap Tuan Osman yang semakin bersemangat.
Tuan Osman masih mempertahankan hubungannya karena memang dia menunggu kematian ayah istrinya itu. Harta mereka cukup banyak, sayang untuk dibiarkan begitu saja, itu lah ucapan Tuan OSMAN di hatinya.
Harta kekayaan dan bentuk dunia yang menggiurkan, itu saja yang dia tahu dan kejar saat ini. Baginya dengan harta semua bisa dia miliki.
Mobil itu dia lajukan dengan cepat, bersiul menikmati perjalanan menuju rumah mertuanya itu. Mereka bertiga tidak sabar menunggu kedatangan Tuan Osman saat ini.
Satu sisi di bandar kota Jakarta, sekarang jam telah pun menunjukkan pukul 9 malam. Soraya tampak makan berdua dengan suaminya itu di apartemen miliknya.
Mereka menikmati saat-saat berdua saat ini. Nostalgia yang hanya di angan kini kembali di kenyataan memulai sesuatu yang baru.
"Sayang, maafkan semua kesalahanku yang lalu," ucap Derry saat ini sambil memandangi wajah istrinya.
"Sudahlah sayang, yang berlalu biarlah berlalu," jawab Soraya.
"Besok aku akan masuk ke kantor, sudah lama sekali aku tidak bekerja. Dan besok aku akan membuat surat berhentimu dari perusahaan, aku tidak ingin istriku kelelahan," ucap Derry menjelaskan panjang lebar keinginan nya.
"Aku masih kuat bekerja, aku akan bosan nanti," ucap Soraya menyanggah ucapan suaminya itu.
"Tidak, tidak! jangan membantah," ucap Derry kembali sambil mencubit hidung istrinya itu.
"Auh.. sakit Derry!" umpat Soraya kesal.
"Itu hukuman untuk istri yang suka membantah," sahut Derry tertawa kecil.
__ADS_1
Di atas ranjang itu mereka saling peluk dan begitu mesranya saat ini. Soraya menatap Derry, begitu juga dengan Derry. Tampak tidak ada jarak yang menyekat mereka kembali.
"Sayang, apa tidak sebaiknya besok kamu jangan masuk kantor dulu, kan kondisimu masih belum sehat," ucap Soraya kembali ingin menggagalkan rencana Derry bekerja besok.
Bukan apa, Soraya tidak ingin melihat Derry merasa pusing karena keadaan perusahaan saat ini sedang huru hara tak menentu. Itu lah mengapa, biarkan Tio mengaturnya dulu baru lah Derry masuk seperti biasa.
Namun, bukan lah Derry namanya kalau tidak mengedepankan keras kepalanya, dia tetap menolak saran itu. Merasa dirinya sudah membaik dan dia ingin menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang bertanggung jawab.
"Dan besok, aku akan menemanimu cek kandungan," ucap Derry lagi.
Soraya tersenyum bahagia, dia pun mencubit pipi suaminya itu, suaminya telah bertukar sikap saat ini. Apa yang pernah dia baca di buku Suamiku malaikatku kini tampaknya terwujud.
"Hey.. kenapa senyum-senyum?" tanya Derry yang merasa lucu dengan ekspresi istrinya itu.
"Haha, tidak ada," jawab Soraya sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
"Okey.. aku tahu apa yang sayang pikirkan saat ini," ucap Derry yang coba ingin menebaknya.
"Wih, udah mau jadi paranormal ya?" sahut Soraya di sambung gelak tawa.
"Aku ini bukan paranormal, tapi suami malaikat idamanmu itu," jawab Derry membuat Soraya tertawa kuat, karena memang tebakan suaminya itu sangat benar dengan apa yang ada di benaknya sekarang.
"Kan.. apa kubilang, sayang pasti lagi mengingat cerita novel itu, lihat! sekarang aku sudah menjadi suami malaikatmu," sambil memeluk istrinya dengan erat.
"Aduh.. ini namanya malaikat maut, jangat erat-erat aku tidak bernafas," sahut Soraya membuat Derry tergelak begitu kuat.
Apa bahagia itu harus mahal? tidak bukan! begini lah definisi sederhana bahagia. Siapa pun yang bisa membuatmu tersenyum ikhlas, berarti kau sedang merasakan kebahagiaan.
Tiga puluh menit telah berlalu, mobil Tuan Osman saat ini telah pun memasuki gerbang rumah mertuanya itu. Secangkir teh telah pun di letakkan di meja tersebut.
Tuan Osman memasuki ruangan keluarganya. Dia tersenyum hangat kepada ayah mertuanya itu, dan memeluknya erat, ayah mertuanya tampak masih biasa saja menyambut kedatangan Tuan Osman, tidak ada menunjukkan kecurigaanya sedikitpun.
"Apa kabar ayah?" tanya Tuan Osman basa-basi.
"Ya, seperti yang kau lihat, aku masih segar dan sehat," ucapnya.
"Syukurlah aku sangat bahagia," ucapnya.
"Sayang, minumlah teh itu," ucap istrinya.
"Terima kasih, kau selalu tahu apa yang ku mahu," ucapnya sambil meneguk teh hangat itu.
"Hallo Tuan Manaf, kau disini juga," sapa Tuan Osman kepada pengacara ayah mertuanya itu.
__ADS_1
Dia hanya membalas dengan senyuman saja saat ini. Mereka bertiga saling pandang sekarang, ayah istri Tuan Osman hanya memainkan alisnya untuk mengkode semua sebentar lagi akan dimulai.
Sedangkan Tuan Osman pikirannya sudah melanglang buana, pasti pria tua ini sedang menuliskan surat wasiatnya, dan hartanya yang melimpah itu pasti akan dijatuhkan kepada istrinya itu, karena memang hanya istrinya anak semata wayang.
Tampak wajahnya begitu berpura-pura, dia santai menunggu di antara mereka membuka suara. Dan tak lama kemudian, istrinya itu mengeluarkan map coklat dari susunan bawah dokumen yang ada di meja itu.
"Silahkan baca surat ini, dan tanda tangani," ucapnya sambil menyerahkan kepada Tuan Osman.
"Ini pasti surat pengalihan nama harta warisan," ucapnya bersemangat.
Tangannya mengambil surat itu dengan cepat, dan kemudian dia membukanya hampir dia ingin menandatanganinya langsung, namun dia membaca di stempel itu bagian urusan pengadilan agama.
Dia membaca ulang dari atas sampai bawah, wajahnya berubah tegang dan keringat menghampirinya, saat ini dia menatap istrinya yang sudah tersenyum puas.
"Apa maksudmu membuat surat cerai ini!" ucapnya menahan suaranya.
"Osman, kau hanya perlu tanda tangan saja!" ucap ayah istrinya itu.
"Ayah, kenapa ayah membelanya," ucap Tuan Osman yang masih seolah memainkan peran baiknya di mata ayah mertuanya itu.
"Dia anakku! dan kau hanya seorang bajingan! cepat tanda tangani itu, atau kau tidak akan hidup lagi sekarang!' ancam ayah mertuanya itu.
Dia tahu dan kenal betul siapa ayah mertuanya itu, mafia besar di tanah Dubai ini, sangat mudah memerintahkan siapapun untuk menghabisi seseorang. Osman pula dulu hanyalah sebuah karyawannya, namun kali ini tampak kemarahan itu muncul di wajahnya.
OSMAN menelan liurnya sekarang, ternyata pulang ke Dubai bukan mendapat keberuntungan dia malah kehilangan aset besar hidupnya.
"Tapi ayah, kau tahu tidak, aku sudah mendapatkan tanah di kota Jakarta itu, pabrik itu telah menjadi milikku ayah," ucapnya.
"Aku tidak peduli, cepat kau tanda tangani!" ucapnya.
Dan dia terancam akan bangkrut, jika nanti ayah istrinya itu menghentikan pasokan untuk bahan pembuatan tekstil dan karpetnya. Modal besar itu berasal dari mertuanya, kalau itu ditarik akan habis dia.
Sedangkan hanya tanah itu yang dia dapatkan, tanah lain yang baru saja ingin mereka olah kemarin, telah pun diketahui Tuan Frans, dan tidak sempat semua dikuasai.
Saat ini dengan terpaksa Osman menandatangani surat itu, kemudian dia tertunduk lemas sekarang.
"Dan kau ingat, kau jangan pernah pulang ke rumah istrimu lagi, itu bukan hakmu!
"Satu lagi, kau akan hancur sehancur
nya Osman! kau ingat bukan? rasa sakit tamparan di wajahku masih terasa sampai ke hatiku saat ini, kau dan wanita itu akan aku buat malu!" ucap istrinya lagi.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1
Kemana Fanni sekarang?
***