
Lidah Tio saat ini kelu dengan pertanyaan Derry yang bahkan tidak ada jawabannya itu. Sedangkan satu sisi dia panik bagaimana harus menjelaskan kepada Soraya nanti, pemaksaan orang tuanya benar-benar diluar kepalanya saat ini.
"Tio, mengapa kau tampak frustasi?" tanya Derry lagi.
"Derry, kau sudah disini bukan, dan ayolah duduk di kursimu sekarang," ucap Tio lagi-lagi mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tio bamgkit, dan Derry mengerutkan dahinya. Merasa Tio menghindari setiap pertanyaan darinya tersebut. Bahkan Tio sedikit memapah tubuh Derry agar langsung menduduki kursi itu.
"Oke Derry, selamat datang kembali dan selamat bekerja kembali pak CEO!" ucap Tio yang masih berdiri tersebut.
"Terima kasih, lalu mengapa kau berdiri?" tanya Derry lagi merasa ada yang aneh dengan Tio.
"Aku harus mengurus pekerjaan lain saat ini, ada klien yang ingin bertemu sebentar lagi," ucap Tio mengelak dari setiap pertanyaan Derry.
"Biarkan aku ikut bersamamu," ucap Derry pula keras kepala.
"Tidak, kau jangan kemana-mana, lagipula kau baru sembuh Derry, sebaiknya kau bersantai dulu," ucap Tio lagi-lagi menyanggah.
Derry yang tadi sudah setengah berdiri, karena dihentikan oleh Tio dia pun duduk kembali saat ini. Dia membiarkan Tio keluar, dan saat ini dia ingin mencari tahu sendiri, tentang kebingungan Tio sekarang.
"Yasudah, aku keluar dulu ya Derry," ucap Tio kembali dan segera melangkah cepat.
Begitu sampai diambang pintu, Tio bertemu dengan seorang wanita yang tampak tidak asing itu.
"Tsania! Kau disini?" Terkejut Tio melihat sang sekretaris tiba-tiba muncul.
"Pak Tio, saya ingin berbicara kepada anda," ucap Tsania dengan wajah datar.
"Yasudah ayo ke ruangan saya," ucap Tio lagi.
"Bukankah bapak saat ini pengganti pak Derry?" tanya Tsania bingung.
Baru saja ingin menjawab hal itu, Derry yang heran mengapa Tio masih di ambang pintunya, walau pintu sudah tertutup masih terlihat samar bayangan Tio disana.
Derry berjalan ke ambang pintu, dia yang tadi ingin menelpon Tsania mengurungkan niatnya, dan mencoba melihat apa yang terjadi di depan pintu ruangannya itu.
"Kalian, mengapa berdiri disini?" tanya Derry kembali.
"Pak Derry, apa bapak sudah pulih?" tanya Tsania dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Alhamdulillah Tsa, seperti yang kamu lihat, saya telah pulih," ucap Derry.
"Baiklah Pak Tidak, saya tidak jadi berbicara dengan Anda, karena sudah ada pak Derry, saya akan membicarakan hal ini kepada pak Derry saja," jelas Tsania kembali.
"Hm.. baiklah," Tio hanya mengangguk dan menjawab singkat, kemudian dia meninggalkan Derry dan Tsania disana.
"Ada Tsania? apa ada meeting hari ini?" tanya Derry lagi.
"Bukan Pak," ucap Tsania singkat.
"Kalau begitu silahkan masuk dulu ke ruangan saya, kita bicarakan di dalam," ucap Derry kembali.
Tsania mengangguk, ada rasa khawatir di hati Tio saat ini, jika Tsania berkata yang bukan-bukan kepada Derry nanti, pasti pertanyaan akan banyak muncul di benak Derry, dan Tio akan menjadi sasaran wawancara Derry tersebut.
Tio menghempas nafas lelahnya, saat ini dia sudah berada di kursinya sendiri sekarang. Tio memikirkan mengenai Yumita yang dianggapnya masih kecil. Belum lagi tentang tanah yang dialihkan Fanni kepada Tuan Osman, dan sekarang berganti nama pula lagi dengan begitu cepat.
Saat ini, Tio kembali menghubungi nomor pengacara mereka. Dan hasilnya memang sulit jika ingin diambil kembali, karena memang surat asli itu telah pun bersama mereka.
Tuan Osman yang ditahan saat ini, tampaknya tidak diberi makan sama sekali oleh mereka, dan saat ini juga Tuan Osman semakin melemah.
Sedangkan Fanni sudah berada di luar kota, namun anak buah Tio telah mengikutinya kemanapun dia berada saat ini.
Ada sejumlah uang juga dia ambil dari perusahaan milik keluarga Derry tersebut. Fanni mencurinya dari kas perusahaan, dan saat ini Tsania pula membuat Derry terkejut bukan main.
"Kenapa kamu mau resign?" tanya Derry tidak percaya.
"Saya harus pindah kota pak," ucap Tsania lemah.
"Tsania, kamu sekretaris yang bisa diandalkan," ucap Derry lagi.
"Pak, ada Soraya disini dan bapak bisa mengangkatnya sebagai sekretaris," ucap Tsania pula.
Derry mengernyitkan dahinya kembali, apa masih banyak orang yang tidak tahu, dia sudah menikah dengan Soraya?
Ya! Tentu saja banyak orang yang masih tidak tahu, karena memang Derry masih belum membuat acara dan pengumuman di perusahaannya, bahwa dia dan Soraya telah pun lama menikah.
"Hm.. tidak, saya tidak memperbolehkannya bekerja lagi," ucap Derry jelas.
"Maksud bapak? Soraya bapak pecat?" mata Tsania melotot tidak percaya.
__ADS_1
"Bukan begitu Tsania, Soraya saat ini sedang tidak bisa bekerja," jelas Derry sedikit ingin mencari alasannya.
Tsania masih bingung dengan ucapan Derry tersebut, namun Dia juga penasaran. Apa dia harus mencari tahu dan menghubungi Soraya kembali?
Ah, rasanya perbuatannya waktu itu sangat buruk kepada Soraya jika dia ingat kembali. Dan saat ini hatinya dan pikirannya bertanya besar tentang ucapan Derry.
"Pak, baiklah kalau begitu, saya harap bapak menyetujui keinginan saya," ucap Tsania lagi.
"Saya tidak tahu jelas masalah kamu Tsania, dan saya sarankan kamu pikir dulu sebelum melakukan hal ini, saya tahu kamu tinggal seorang diri, dan saya juga tahu kamu menyukai pekerjaanmu ini bukan!" jelas Derry kembali seolah tidak bisa melepaskan Tsania.
"Iya itu memang benar pak, tapi saya tidak bisa menjelaskan masalah saya dengan detail saat ini, namun yang jelasnya saya pindah ini dengan suami saya pak," jelas Tsania lagi.
"Suami? kamu sudah menikah? sejak kapan?"
Derry terus saja melayangkan pertanyaan kepada Tsania, dan betapa terkejutnya Derry mendengar ucapan wanita yang berada di depannya ini.
"Baru kemarin pak," jawab Tsania.
"Wah, selamat kalau begitu. Berarti kamu kemarin tidak masuk ke kantor?"' tanya Derry lagi.
"Sudah lama saya tidak masuk ke kantor pak, bahkan ada seminggu lebih," jelas Tsania.
"Mengapa? apa masalahnya? Tio, bahkan tidak memberitahukan kepadaku," jelas Derry yang penasaran.
"Saya sakit pak, dan ini baru sembuh," jawab Tsania.
"Syukurlah kalau begitu, sekali lagi selamat Tsania, saya mohon maaf tidak dapat menghadiri pernikahanmu," ucap Derry yang begitu menghargai bawahannya itu.
Entah mengapa Tsania merasakan perubahan dari sikap Derry ini. Dia menjadi lelaki matang dan tampak begitu ramah berbincang.
Karena hari ini Tsania harus mengemasi barangnya, dan pindah ke luar kota nanti sore, dia pun segera berpamitan kepada Derry selaku CEO disini.
"Kalau begitu, saya pamit dulu pak, terima kasih telah menjadi bos yang baik selama ini," ucap Tsania.
"Tunggu sebentar!"
Derry menahan Tsania kembali, membuat wanita muda itu mengerutkan dahinya. Dan langkah yang ingin diteruskan menjadi terhenti, tampaknya Derry ingin mengatakan sesuatu hal yang penting lagi kepadanya.
****
__ADS_1