
Jam telah pun menunjukkan pukul delapan. Soraya dan yang lainnya sudah pun mengemasi barang. Tio pula mencari rental mobil lewat ponselnya.
Mobil yang ingin dia rental telah sampai di depan rumah Soraya saat ini. Mereka ingin pergi menuju lokasi pemandian air terjun dan menginap di sana.
Terapi alam ini sangat baik untuk pikiran Soraya agar fresh dan emosinya bisa stabil. Semakin banyak Soraya tertawa, semakin juga urat-urat yang menghubungkan ke memori otaknya tersebut bekerja lebih aktif dan merespon dengan stabil.
Mereka pun beranjak dengan cepat. Tio yang mengendarai mobil itu, dan Soraya duduk di sebelahnya. Ini adalah impian Tio yang sudah lama di dalam hatinya.
Namun, dia sadar. Soraya bukan haknya, Soraya telah pun bersuami dan suaminya adalah sepupunya sendiri. Misinya datang kesini pun untuk menyatukan Soraya dan Derry.
Namun karena kondisi Soraya yang tidak memungkinkan jika mendengar nama Derry, maka Tio mencari cara agar untuk bisa lebih membuat Soraya tenang dan menerima kenyataan yang ada saat ini.
Tampak kesedihan mereka hilang seketika, kehadiran Tio membawa tawa di keluarga tanpa orang tua tersebut. Mereka tampak riang gembira, hanya Yumita saja yang tersenyum sedikit kecut.
Sakit rasanya menahan perasaan terhadap orang yang mempunyai perasaan dengan kakaknya sendiri. Dia tahu, pandangan Tio terhadap Soraya berbeda, mungkinkah itu cinta??
Ya! itu cinta yang tersembunyi, seperti dirinya saat ini. Dia pun menyembunyikan cintanya kepada Tio, entah untuk berapa lama dia pun tak tahu.
Nafas di sedut panjang, dan membuangnya dengan keras. Mata memandang ke arah jendela yang menyediakan panorama hijau nan indah
terbentang.
Tio yang sudah tahu tentang penyakit Soraya tersebut, membuat Tio berhati-hati jika berbicara. Biarlah Soraya membuka topik apa yang dia inginkan saat ini.
Dan Tio, menjawab apa saja yang Soraya tanyakan kepadanya. Entah mengapa Soraya mengoceh mengenai kunjungan mereka enam bulan lalu.
Ingatan Soraya berada sebelum Derry muncul ke perusahaan. Apa benar memorinya benar-benar tidak ingin mengingat Derry sama sekali??" pikir Tio keras.
"Tio..bagaimana dengan Tsania??" tanya Soraya tampak senang.
Mendengar nama Tsania membuat Yumita memasang telinganya dengan benar-benar tajam. Tampak Yumita ingin mengetahui perihal Tio lebih jauh.
Sejak kedatangan Tio kemarin, Yumita masih malu untuk berbicara yang banyak kepada Tio, hanya senyum saja kadang yang dia tunjukkan kepada Tio.
"Tsania?? kenapa dia??" tanya Tio bingung.
"Alah.. sekretaris Tuan Frans itu kan mengincarmu sejak lama, dia juga sempat bertanya tentang kedekatan kita waktu itu," ucap Soraya dengan asyiknya mengobrol.
"Oh.. tapi aku tidak menyukainya, biarlah dia," jawab Tio dengan santai.
"Jangan begitu, kau ini mapan dan tampan, jadi cepat menikah lebih baik," ucapnya lagi.
"Haha... menikah?? mmm menikah dengan siapa??" ucap Tio tertawa kecil dan menggaruk-garuk kepalanya.
"Wah.. bang Tio masih jomblo??" tanya adik keduanya pula menyela.
"Haha.. begitu lah Dik, ada temanmu tidak yang jomblo juga??" dibalas Tio dengan candaan.
__ADS_1
"Memangnya bang Tio mau menikah dengan anak kecil??" tanya adik keduanya kembali.
"Ya.. kalau cocok dan sudah jodoh kenapa tidak!! jawab Tio sambil terkekeh, tampak kata-kata itu adalah gurauan saja hanya membuat Soraya terkekeh.
"Tio, Tio! Udah ada yang mapan dan berkarir, maunya anak-anak," ucap Soraya lagi.
"Habisnya kamu tidak mahu denganku Soraya.." ucapnya terceplos menjadi suasana hening dan Soraya terdiam.
"Maaf, Soraya.. bukan maksudku begitu," sahut Tio kembali dengan cepat.
"Tidak apa-apa, aku ini masih banyak tanggung jawab lagi, lihat saja sekarang adik-adikku ini adalah tanggung jawabku," ucap Soraya melemah.
"Sudah-sudah, itu hanya bercanda, tolong jangan dipikirkan," ucap Tio.
"Hey, lihat!! itu disana..." suara Tio sedikit keras dan menunjuk ke arah jalan, tampak kera-kera berkumpul dana sedang makan.
"Abang, baru pertama kali melihat itu??" tanya adik pula.
"Iya Dik, sangat unik," ucap Tio.
"Haha, sering-sering kamu ke kampungku Tio," ucap Soraya pula.
Wajah Yumita tersenyum simpul, mendengar Tio masih tidak ada pasangan. Dan mendengar jawaban Soraya membuat Yumita merasakan akan ada peluang untuk dirinya, namun kapan dia pun tidak tahu.
Umurnya yang masih delapan belas tahun itu, masih terbilang sangat muda. Untuk usianya rasanya tidak pantas memikirkan seorang lelaki untuk berkencan.
Gadis mungil berkulit putih itu yang wajahnya tidak jauh berbeda dari Soraya tersebut tampak melamun jauh.
Dia melamunkan menjadi istri kecil Tio. Lamunannya terbayarkan, ketika adik keduanya menepuk pundaknya, dia terkejut dan membuat mereka tertawa.
Yumita melatah dengan menyebut "Ayam" berulang-ulang. Membuat Tio juga tertawa dan liriknya lewat kaca depan.
"Hayo... Yumi, kamu melamun apa??" tanya Soraya dan menoleh ke belakang.
"Tidak ada kak," bantah Yumita langsung.
"Haha... terus kenapa terkejut?" dengan usil adik ketiga menyelah.
"Hus.. anak kecil, sudah diamlah," ucap adik kedua menyuruh adik ketiga diam.
Melihat kehangatan itu terjalin, Tio pula membuka suaranya lagi, dan kali ini pertanyaanya menuju ke arah Yumita.
"Yumi.. kamu sudah selesai sekolah bukan??" tanya Tio berbasa-basi, namun membuat jantungnya berdebar kencang.
"Iya, sudah," hanya jawaban singkat itu yang keluar.
Tio berkata dalam hati, mengapa mulutnya seolah di kunci, dan dia tampak sulit mengeluarkan suaranya. Gemuruh di jantungnya tersebut membuat suaranya tersekat.
__ADS_1
"Oh.. terus, mau sambung kemana??" tanya Tio kembali.
"Belum tahu, ikut perintah kak Soraya saja," jawabnya lagi.
"Eits! kok perintah kakak! Apa yang ingin kamu capai harus kamu kejar Yumi, dan itu pilihanmu," ucap Soraya dengan lembut.
"Benar itu! apa kamu mau kuliah sambil bekerja??" tanya Tio kembali membuat Yumita sekarang memandang ke depan.
"Bekerja?? tapi dimana??" tanya Yumita lagi seolah dia mendapat peluang.
"Kamu mau?? jika memang kamu ingin kuliah sambil bekerja, abang Tio akan mengajarimu dan kamu bekerja bersama bang Tio," ucap Tio kembali.
"Wah... bagus itu kak, kesempatan tidak datang dua kali," ucap adik keduanya pula.
"Iya Fan, benar itu. Kakak juga setuju, nanti kita bisa berangkat bersama pergi kerja," ucap Soraya pula.
"Oh iya Soraya.. ada pesan Tuan Frans untukmu," kembali Tio ke arah Soraya.
"Pesan apa?? kenapa Tuan Frans tidak menelponku?? tanya Soraya lagi.
"Iya, Tuan Frans sangat sibuk, pesannya adalah dia menyuruh mu untuk berehat dan bercuti lama di kampung, karena selama ini kamu tidak pernah bercuti bukan??" ucap Tio kembali dengan penuh kehati-hatian.
Tampaknya percakapan mereka ini bisa Tio arahkan agar Soraya bisa beristirahat yang cukup dan memulihkan keadaannya. Padahal Tuan Frans belum tahu kondisi sebenar Soraya saat ini.
Dan yang menelpon Tio di awal pagi adalah Mamanya, yaitu Nyonya Velli. Nyonya Velli mengabarkan kalau Mama Fanni telah meninggal dunia.
Namun, karena kondisi saat ini tidak menungkinan Tio untuk bercerita mengenai Fanni. Tio takut ingatan kelam Soraya muncul dan emosionalnya akan naik, dan membuat Soraya pingsan kembali.
Itu lah mengapa, Tio masih merahasiakan apa yang dia tahu saat ini. Dan kondisi Soraya telah ia ceritakan kepada Mamanya tersebut.
Bahkan Mamanya berpikir, Derry dan Soraya adalah jodoh yang terpisahkan karena kesalahpahaman.
Penyakit mereka hampir terbilang sama. Tampaknya mereka memang memiliki beban berat yang tidak bisa terucap dengan luahan amarah lagi.
Memori itu lenyap seketika, dan kadang Soraya lupa kapan dia duduk bahkan berdiri kembali, dan kadang dia lupa dengan warna yang sedang dia lihat.
Gejala Alzheimer itu memang sedikit membahayakan kalau tidak segera ditangani dengan penuh kehangatan dan motivasi yang tinggi.
Tampak mobil yang Tio kendarai tersebut sudah memasuki parkiran villa yang tidak jauh dari lokasi air terjun tersebut.
Tempat ini menyajikan arung jeram juga. Dan mereka berencana nanti setelah makan siang selesai, mereka akan melakukan aktivitas rafting tersebut.
Tio ingin membuat mereka semua senang, terutama Soraya yang mengalami keadaan stres terpendam itu, hingga dokter memvonis nya terkena Alzheimer tahap awal.
Villa yang telah mereka booking tersebut, dengan cepat mereka masuki untuk beristirahat sejenak. Perjalan tiga jam itu melelahkan sekali bagi mereka.
Namun rasa lelahnya terbayar dengan pemandangan yang indah di sekitar villa tersebut. Dan kini pelayan membawakan mereka makan siang di ruangan Villa itu.
__ADS_1
****