
Tuan Osman pulang ke rumah nya, Fanni pula kembali ke kantornya saat ini. Tio dan Rendra yang sedang menangani Soraya yang tiba-tiba mual itu langsung memberikannya minyak angin.
Masih tidak berhenti mualnya, namun yang dikeluarkan sudah tidak ada ada lagi sekarang. Dengan terpaksa Tio membawa Soraya ke dokter bersama Tuan Rendra yang ikut bersama mereka juga.
Dan kemudian saat ini mobil yang dikendarai Tio itu melaju dengan cepat menuju rumah sakit yang ada di bandar kota Jakarta itu. Kemudian tidak memakan waktu yang lama saat ini, hanya tiga puluh menit saja Tio telah sampai di parkiran tersebut.
Berulang kali mulut Soraya mengatakan dia tidak ingin ke dokter, namun kondisinya lah yang harus di paksa untuk ke dokter juga.
Sampai di sana, kedua pria tampan dan tinggi itu mencoba memapah Soraya di sisi kiri dan kanan saat ini.
Kemudian setelah masuk, mereka disambut hangat oleh dokter yang mengenal baik Tuan Rendra tersebut.
"Tuan Rendra, anda sudah kembali disini?" tanya dokter itu yang tampak akrab dengannya.
"Sudah lumayan lama juga, namun kemungkinan akan pergi ke luar negri lagi," jelas Tuan Rendra yang memapah sebelah kiri Soraya itu yang terlihat tampak lemas.
"Dok, tolong tangani teman kami," ucap Tuan Rendra kembali.
"Baik-baik, sebentar biarkan suster membantu nona ini," ucap dokter itu yang tampak menyuruh para susternya.
Dan setelah itu Soraya dimasukkan kedalam ruangan pemeriksaan saat ini. Kemudian lagi dokter tersebut juga menyusul untuk memeriksa kondisinya sekarang.
Tio dan Rendra hanya menunggu di luar saja. Mereka berdua sambil menunggu Soraya di dalam mereka pun berbincang merencanakan apa yang dibahas Tio di dalam mobil tadi.
Ada terbesit penasaran mengapa Rendra yang tiba-tiba saja emosi dan bisa menarik Tuan Osman yang sampai bahkan tersungkur tadi.
"Boleh aku bertanya kepadamu??" tanya Tio.
"Boleh, silahkan saja," jawab Rendra pula.
"Kau kenapa tadi memukul Tuan Osman? apa kalian saling mengenal??" tanya Tio yang sangat penasaran dari tadi.
"Tidak Tio, aku sama sekali tak mengenal brengsek itu!" ucapnya menahan geram sekarang.
"Lalu, mengapa kau memukulnya??" tanya itu kembali di ulang Tio saat ini karena begitu penasarannya.
"Dia pria brengsek, dan harus menerima itu," ucapnya itu saja terus.
"Tuan Rendra, maksudmu?" masih tidak mengerti dan masih begitu penasarannya.
"Kau tahu mengapa Tsa.." terhenti di situ ketika dokter keluar dan mencoba bertanya hal aneh di telinga Tuan Rendra tersebut.
"Apa anda suaminya??" tanya dokter kepada Tio saat ini.
__ADS_1
TIO juga sedikit bingung dengan pertanyaan itu, dia sedikit mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung sekarang.
"Dok, wanita itu belum menikah," ucap Tuan Rendra begitu jelasnya.
TIO hanya memijat pelipisnya saat ini, dia tidak menyalahkan apa yang dikatakan Rendra saat ini. Yang diketahui Rendra memang benar, Soraya belum menikah, karena memang pernikahan mereka tersembunyi saat ini.
"Belum menikah?? tapi saya periksa wanita itu sedang hamil satu bulan," ucap dokter tersebut dengan wajah yang tampak bingung.
"Hamil??" terkejut Tuan Rendra saat ini.
Dia memandang aneh ke arah Tio sekarang. Pandangan yang tidak biasa dan wajar saat ini. Terbesit sedikit tidak ingin membuat ekspresi menyelidiki saat ini.
RENDRA mengira Tio dengan Soraya adalah sepasang kekasih, namun kenapa Soraya tiba-tiba dinyatakan hamil, siapa pria yang menghamilinya kalau bukan Tio, pikir Rendra kembali.
"Dok, suami wanita itu sedang koma!" ucap Tio dengan cepat dan terpaksa mengungkapkan hal itu karena pandangan Rendra yang tampak berbeda saat ini.
"Benarkah? kondisi bayinya normal, hanya saja mungkin nona itu dalam keadaan mengidam, dan diharapkan harus banyak beristirahat saja," jelas dokter itu kembali.
"Baik dok, terima kasih," jawab Tio yang masih terfokus dengan wajah dokter itu dan membiarkan wajah bingung Tuan Rendra yang masih menatapnya.
"Baiklah, Tuan Rendra, saya permisi dulu, hari ini pasien bisa pulang," ucap dokter tersebut.
" Baik dok terima kasih," jawabnya.
Belum menghampiri Soraya kedalam, Rendra yang sekarang gantian pula dia yang penasaran dengan ucapan Tio saat ini, sama-sama penuh teka-teki sekali pikir Tio.
"Derry!" jawabnya terpaksa.
"Derry? kau tidak bercanda??" dia kenapa?" tanya Rendra kembali.
"Panjang ceritanya, apa malam ini kau sibuk??" tanya Tio kembali.
"Tidak, apa kita akan berbincang dan sharing kerahasiaan??" tanya Rendra yang sedikit terkekeh ada nada geli dari ucapannya itu.
Ya! sharing kerahasiaan, itu lah yang membuatnya terkekeh. Rahasia yang tak sengaja singgah di kehidupannya saat ini. Rahasia yang membuatnya dilema, bersalah, dan menyesal.
Tio pula tersenyum kecil dan mengangguk saat ini. Dia pun dan Rendra melangkah membuka pintu ruangan itu.
Nafas panjang terhempas dari Tio sekarang. Mendengar Soraya hamil dia tidak tahu harus mengucap apa sekarang. Mau mengucapkan selamat, namun dia bingung dan takut Soraya menuduhnya pria yang suka membeberkan aib orang.
Rasanya ini bukan aib, mereka juga telah menikah, wajar saja kalau wanita ini hamil, ucap pikir Tio lagi yang sekarang sudah pun berada di sebelah Soraya saat ini.
"Soraya selamat ya," ucap Tuan Rendra pula yang mendahului Tio.
__ADS_1
Soraya yang telah diberitahukan oleh dokter di dalam tadi, dia bersyukur dan dia bahagia. Benih Derry ada di rahimnya saat ini.
Namun dia terkejut, bagaimana Tuan Rendra tahu dan mengapa ekspresi itu biasa saja? entahlah pikir Soraya saat ini, dia hanya tersenyum kecil sekarang.
"Terima kasih Tuan Rendra," jawab Soraya membuat wajah Tio sedikit merasa bersalah.
"Apa hari ini aku bisa pulang??" tanya Soraya lagi.
"Iya bisa, ayolah kami bantu," ucap kedua pria itu dengan kompaknya.
Mereka pun kembali membantu Soraya yang masih lemah itu sekarang. Masih dengan kepala yang terhuyung, dan sedikit lemas.
Mereka berdualah yang menuntun Soraya hingga masuk ke dalam mobil tersebut. Kali ini Tio kembali mengantarkan Tuan Rendra terlebih dahulu ke kantor, karena memang mobilnya terparkir disana.
Sedangkan setelah sampai di parkiran itu, Tio langsung mengantarkan Soraya untuk ke apartemennya saat ini.
Soraya pindah posisi sekarang, dia duduk disebelah Tio saat ini. Dia duduk dan menatap Tio sedikit menyelidik sekarang.
"Raya.. aku minta maaf," ucap Tio tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Soraya yang sebenarnya tahu apa yang ingin terluah dari mulut Tio saat ini.
"Aku telah memberitahukan kepada Tuan Ravin kamu sudah menjadi istri Derry, maafkan aku, aku terpaksa," ucapnya.
"Tio, jangan meminta maaf terus, itu wajar dan pasti dokter mengira kau suamiku bukan??" tanya Soraya kembali.
Hanya dibalas anggukan saja dengan Tio, ternyata tidak begitu sulit untuk menjelaskan, pikir Tio kembali.
Dan mobil itu dilakukan ke arah apartemen nya saat ini. Yang membuat Soraya penasaran adalah, apakah Tio sudah tahu mengenai pemukulan tanpa alasan yang dilakukan Tuan Rendra kepada Tuan Osman tersebut.
"TIO, apa aku bisa bertanya kepadamu??'' tanya Soraya kembali.
"Iya Raya, silahkan," ucapnya.
"Apa kau sudah tahu mengapa Tuan Rendra memukul Tuan Osman?" tanyanya kembali.
"Entah lah Raya, jujur saja aku sama sepertimu penasarannya, namun Tuan Rendra hanya mengatakan pria brengsek itu wajar mendapatkan hal itu! Ya, hanya itu saja yang terluah dari mulutnya," ucap Tio.
Soraya hanya menghempas nafas kurang puasnya dari jawaban Tio tersebut. Dia pun kini menatap ke arah jalanan saja sekarang.
Tio sengaja tidak memberitahukan kepada Soraya, kalau malam ini mereka berdua akan bertemu di tempat yang Tuan Rendra rencanakan.
Dua pria single akan mulai saling sharing rahasia. Bagaimana kelanjutannya?
__ADS_1
Terima kasih pembaca setiaku.
****