
Tampak hanya empat meja di lantai lima itu yang terisi saat ini. Mereka yang lainnya tampak turun di lantai bawah memenuhi ruangan satu sampai tiga itu.
Lantai terakhir yang telah dipecah itu sekarang menjadi tempat Fanni saat ini. Menjadi CEO dadakan membuatnya merasa tinggi sekarang.
Dengan ini lah dia bisa dengan mudah memberikan apa yang Tuan Osman inginkan nantinya. Dia memutarkan kursinya yang beroda itu, melirik ke seluruh ruangan ini dengan bangganya.
Tio yang mengetahui para staf biasanya sekarang turun ke bawah mengikuti Fanni tersebut, hanya dibiarkannya saja sekarang.
Sekretaris tidak ada saat ini, dan Tio mencoba berbincang dengan Soraya mengenai pengganti Tsania saat ini. Keadaan darurat, mereka membutuhkan seseorang yang bisa bekerja dengan loyalitas tinggi.
Dan sekarang Soraya membantu Tio membuatkan dokumen penting atas pembagian kantor mereka saat ini. Sementara itu, pengacara keluarga Tuan Frans telah pun datang, dan pengacara keluarga di pihak Nyonya besar juga datang ke ruangan Tio.
Antara mereka memang baik-baik saja, mereka juga turut sedih karena perusahaan tanah yang terkenal lama ini, tiba-tiba bisa terpecahkan sekarang.
Mengingat hal ini terpecahkan, Tio berencana mengundang para pihak investor juga nantinya untuk mereka mengadakan rapat sama.
Dan saat ini tampak empat orang itu berbincang serius. TIO sebagai pengganti Tuan Frans dan Derry ini tampak menandatangani beberapa surat yang telah diberikan para pengacara itu.
Tuan Frans dan istrinya telah pun mengetahui hal ini, namun mereka sama-sama tidak ingin hadir di sini. Tio telah mendapatkan surat bagian yang harus dikelolanya, harta milik Tuan Frans.
Sedangkan tanah dan saham milik Nyonya besar Fanni lah yang dipercayakan mengurusnya. Pengacara tantenya itu pun turun, membawa dokumen para penyewa tanah milik Nyonya besar.
Salah satunya adalah pabrik Tuan Osman tersebut masuk dalam bagian Nyonya besar itu.
Dan saat ini tinggal lah Tio, Soraya dan pengacara Tuan Frans yang benar-benar masih berbincang.
Fanni merasa puas saat ini, hanya menunggu pengacara itu datang dan menghampirinya tersebut.
Tok.. tok..
Masuk! ucap Fanni dengan nada angkuhnya.
"Permisi Bu Fanni," ucap pengacara itu.
__ADS_1
"Iya, silahkan duduk Pak," ucap Fanni lagi dia membenarkan posisi duduknya.
Dia pun akur lalu duduk berhadapan dengan Fanni tersebut. Dokumen-dokumen itu pun ada sebagian yang harus Fanni tanda tangani sebagai pihak yang diberi mandat dan amanah untuk menjalankan saham dan harta milik Nyonya besar tersebut.
Surat-surat itu dengan cepat Fanni tanda tangani, dengan begitu sah Fanni yang mengatur segala keperluan disini, Fanni berhak atas tanah-tanah yang disewakan untuk pelanggan.
Semua pengurusan tergantung tanda tangan Fanni saat ini. Dia pun mencoba membaca daftar customer yang memakai tanah milik mama Derry itu.
Tersenyum puas dia, ketika melihat nama Tuan Osman di sana, dan urusan dengan pengacara itu sudah pun selesai sekarang, Fanni mempersilahkannya keluar.
Pengacara itu keluar dengan wajah mirisnya, dia sudah bisa menebak ini akan hancur. Bukan seperti Tio yang jujur, dan loyal dalam bekerja, bahkan Tio juga memang bisa diandalkan, pikirnya.
Tak habis pikir dia dengan Nyonya besar yang dikenalnya baik dan bijaksana itu, namun dia hanyalah seorang pengacara yang dibayar oleh Nyonya besar, jadi bisa apa dirinya tersebut, selain mengikuti arahan Nyonya besar tersebut.
Fanni mengambil ponselnya saat ini. Dia mencari nama Tuan Osman di sana, dengan mudah nama itu dia temukan saat ini.
Beberapa kali panggilannya ditolak terus menerus. Fanni mengumpat kesal dengan Tuan Osman tersebut. Kemudian Fanni mencoba mengirim pesan kepada Tuan Osman itu, agar urusan antara dirinya dan Tuan OSMAN segera tun tuntas, pikirnya.
Osman, datanglah sekarang ke perusahaan, aku menunggumu di sini. Dan kita akan menyelesaikan semuanya, tanah itu akan segera menjadi milikmu, surat kuasa di tanganku saat ini, cepat hari ini juga!
Itu lah yang dituliskan Fanni tersebut, dia tersenyum puas dan bangga saat ini. Tanda tangan Nyonya besar tersebut, atas pernyataan bahwa dirinya tersebut telah pun mempercayai segala urusan tanah ini kepada Fanni.
Dengan tanda tangan ini, dia bisa saja melakukan penjualan tanah tanpa sepengetahuan mama Derry tersebut.
Tuan Osman yang sekarang sedang di villa itu bersama istrinya saat ini. Ya! kemarin malam istrinya datang berkunjung ke sini. Karena memang pekerjaan sang istri sebagai pengacara itu saat ini sedang tidak sibuk.
Tuan Osman sedang mandi, sang istri merasa geram melihat Fanni dari tadi menelpon suaminya tersebut. Istri Tuan Osman mengira wanita satu itu sudah tidak berhubungan lagi dengan suaminya itu, namun saat ini dia kecolongan.
Tampaknya si istri mengotak atik ponsel Tuan Osman tersebut. Tuan Osman yang baru saja mandi pagi ini, tiba-tiba keluar dari balik pintu tersebut, dan dia mengernyitkan dahinya melihat sang istri memegang ponselnya itu.
Baru saja ingin membuka pesan Fanni tersebut, sang istri terkejut dengan kehadiran suaminya di depan wajahnya dan dengan cepat mengambil ponsel itu.
"Sudah berapa kali kubilang padamu, jangan otak-atik ponselku!" ucap Tuan Osman dengan tegas.
__ADS_1
"Kau masih selingkuh dengan wanita ****** itu??" tanya sang istri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak, aku tidak selingkuh dengannya," jawab Tuan OSMAN yang merasa santai saja.
"Jadi, untuk apa dia menelponmu berulang kali?? dasar tukang zina kau!!" ucap sang istri lagi yang berteriak kuat di hadapan Tuan Osman tersebut.
Prak..
"Auh!
Terpekik istrinya itu, tangan Tuan Osman yang cukup tebal itu mendarat di pipi mulus sang istri saat ini. Tuan Osman tidak menyukai wanita yang meneriaki tepat di wajahnya itu.
"Diamlah, aku tidak ingin ribut denganmu!"
Tuan OSMAN tampak meninggalkan kamar itu. Dengan cepat dia berpakaian setelah melihat isi pesan tersebut. Tanpa menghiraukan istrinya itu, dia pun bergegas keluar.
Sang istri yang malang itu masih memegangi pipinya yang terasa sakit saat ini. Matanya berkaca-kaca dan menyimpan dendam Sekarang.
Sekarang Tuan Osman pun memerintahkan supirnya untuk segera melaju ke bandar kota Jakarta saat ini menuju perusahaan Derry tersebut.
Melihat pesan itu Tuan Osman sangat puas dengan kerja Fanni yang cepat dan bisa di andalkannya itu.
"Lajukan lagi!!" perintah Tuan Osman kepada supirnya.
Tampak wajah dengan kemenangan itu saat ini, tidak sabar untuk segera mendapatkan tanah tersebut. Surat-surat tanah itu berada di tangan Fanni dan kuasa Fanni saat ini, itulah mengapa dengan tidak sabarnya Tuan Osman pun ingin cepat sampai di perusahaan itu.
Fanni saat ini asyik berselfi ria, dia yang duduk di kursi CEO itu membagikan foto bahagianya pagi ini. Sahabat baiknya Tissa melihatnya di sosial media cukup terkejut saat ini, karena perubahan Fanni sekarang.
Papanya pula yang sedang online sosial media dan berteman dengan anaknya tersebut, terkejut dan rasanya Papanya itu ingin membujuk Fanni kembali.
Demi perusahaan dan modal banyak, pikir Papa Fanni. Dia harus lebih mendekati anak gadisnya itu, dan karena Fanni pemegang perusahaan dan saham milik mama Derry itu, kini tampak orang-orang yang melihatnya di sosial media tersebut, mereka ingin berteman dekat dengan Fanni.
Apalagi anak-anak dari pesaing perusahaan ini, mereka tampak menikmati keadaan perusahaan Derry yang dikabarkan goyah saat ini.
__ADS_1