
"Maaf saya terlambat," ucap Soraya yang tiba-tiba hadir di tengah meeting itu.
"Raya..." tampak semua mata staf dan Tio tertuju pada Soraya yang berada diambang pintu ruangan tersebut.
Mamang Tio kemarin sempat mengatakan kalau senin ini akan ada meeting antara staf saja dan yang memimpin meeting itu adalah Tio sendiri. Karena memang Tuan Frans sudah memberinya amanah menggantikan Derry sementara waktu.
Staf yang lain masih tidak tahu mengenai hilangnya Soraya beberapa waktu lalu. Dan saat ini Soraya muncul dengan wajah yang cukup sedikit pucat.
Walau kemarin siang dia sempat tidak enak badan dan mual-mual, namun senin ini dia sudah memiliki tekad yang kuat untuk kembali bekerja dan mempertahankan rumah tangganya tersebut.
Walau masih banyak orang yang belum tahu mengenai pernikahannya dengan pewaris tunggal perusahaan tanah tersebut, Soraya tidak mementingkan hal itu, dia tetap berperilaku layaknya staf sama.
"Raya.. silahkan duduk," sambut Tio dengan wajah yang tampak gembira karena Soraya bisa bergabung meeting hari ini.
"Baiklah semua, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi saya, karena tim audit keuangan kita yang handal telah pun kembali ke perusahaan hari ini. Saya patut bersyukurlah karena Soraya ingin membantu kita kembali disini," jelas Tio tampak membuka kata sambutan untuk memulai meeting itu.
Meeting pun dimulai, untuk beberapa minggu yang telah Soraya lewati tampak memang ada beberapa kendala dan masalah yang dihadapi perusahaan ini.
Satu persatu staf unggul yang memegang jabatan mereka tersebut melakukan persentase hasil mereka sebulan yang lalu hingga hari ini.
Soraya masih hanya mendengarkannya. Bahkan Tio juga sempat mengatakan di ruangan ini kendala mengenal tanah yang di sewa Tuan Aladin di kota Surabaya.
Mengingat mengenai Tuan Aladin yang mereka datangi tersebut, teringat kembali masa-masa indah dia dan Derry dalam hotel yang sama. Masa indah itu datang bersamaan masa pahit yang hingga kini masih terasa pahitnya.
Ya! hidup adalah sebuah permainan takdir yang telah Tuhan tulis dalam naskah yang penuh lika-liku dalam setiap babnya. Ada bab yang menceritakan kebahagiaan, ada juga bab yang menceritakan konflik, masalah, hal berat dalam hidup dan, sebagainya.
Kita makhluk hanya menjadi pemeran dalam tulisan naskah Tuhan tersebut. Hari ini tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa, namun naskah yang telah ditulis Tuhan itu tidak akan merubah sesuatu apapun selain dia menghendaki perubahan itu.
Dalam salah satu agama, ada yang mengatakan takdir itu ada yang bisa kita rubah, ada juga yang tidak bisa kita rubah.
Jodoh, maut, rezeki semuanya adalah ketetapan Tuhan. Lalu, adakah hal yang bisa dirubah dari ketetapan ini??
Ya! jalannya. Mau kemana yang kita pilih, Tuhan telah membuat kita sedikit memiliki hak untuk menentukan, dari kita diberikannya akal pikiran, diberikannya hati yang bisa memandang dengan ikhlas.
__ADS_1
Ketika kita ingin berbuat jahat, pikiran membantu kita merubah takdir kejahatan tersebut, namun satu hal lagi, itu berlaku hanya untuk orang-orang yang berpikir benar.
Kembali pula saya katakan di bab ini, jika semuanya dunia memiliki kebenaran, untuk apa kita semua hidup?? lucu bukan!
Kejahatan dan kebaikan adalah sebuah antonim Tuhan juga. Apa kita bisa memberantas kejahatan dengan tuntas?? tidak mungkin! itu lagi-lagi saya ingatkan hanya lah sebuah antonim Tuhan yang memang sedia kala adanya.
Soraya dan Derry? apa mereka tahu nasib akan membawa mereka kepada sebuah cinta yang panjang??
Manusia hanya bisa membuat perencanaan, seperti Derry san Soraya yang telah menandatangani kontrak pernikahan hanya 90 hari. Berlalu 90 hari, antara mereka masih pun berlaku hingga saat ini.
Walau Derry koma, hatinya tetaplah hidup dalam mencintai Soraya. Siapa yang tahu sebuah hati manusia? Ya! kembali lagi kepada sang pencipta.
Meeting pun telah selesai saat ini. Jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang. Saat nya para staf istirahat dan makan siang, ada yang ke kantin, ada juga yang hanya makan di ruangannya masing-masing.
Soraya dan Tio kali ini tampak makan di kantin berdua sekarang. Tio berbincang santai mengenai sekolah Nurdin dan Nadim.
Bahkan bulan depan Soraya ingin mendaftarkan Yumita ke kampus yang cukup bergengsi di kota Jakarta ini. Yumita bilang dia menyukai jurusan bagian management.
Yumita sejak masih bersekolah menengah dia mengimpikan menjadi seorang sekretaris di perusahaan besar. Dan hal itu diketahui Soraya, dia pun memasukkan adik perempuannya itu ke kampus yang ada jurusan perkantoran tersebut.
Yang berlalu biarlah berlalu. Sebuah takdir tentang kematian yang membuat kedua orang tuanya bersamaan tiada, sudah sedikit demi sedikit dia lupakan dan terima lapang dada.
Benar kata orang, keikhlasan membuat kita merasa nyaman dan tentram. Namun, sebuah dendam membuat kita tidak tenang bahkan runyam.
Pelajaran hidup banyak diambil Soraya dari kedua orang tuanya yang selalu mengedepankan agama dan menanamkannya di hati mereka semua.
Jauh dari keluarga dan tinggal di kota besar, membuat Soraya pernah melupakan nasehat penting itu.
"Minggu depan biarkan Nurdin dan Nadim aku yang mengantarkannya," ucap Tio menawarkan diri.
"Tidak usah lah Tio, aku kakaknya akan mengantarkan mereka," jawab Soraya dengan cepat.
"Tenang saja, aku akan menjadi bodyguard kalian!" ucap Tio lagi.
__ADS_1
"Oh.. iya Tio, Tsania kemana hari ini? aku tidak melihatnya di ruang meeting tadi," ucap Soraya yang baru teringat mengenai Tsania.
Soraya dan Tsania cukup mengenal baik dan akrab juga. Antara keduanya terbilang menjadi teman yang akrab di dalam lingkungan perusahaan itu.
Tsania yang selalu baik dan ramah itu, serta dia bukan tipe wanita yang mencampuri dan ingin tahu urusan orang tersebut, itulah mengapa Soraya berteman baik dengan Tsania.
"Tsania pagi tadi aku telpon, katanya dia sedang sakit," ucap Tio.
"Benarkah?? dia sakit apa??" tanya Soraya tampak khawatir.
"Tidak tahu pasti Raya..tapi katanya hari ini dia akan ke dokter kok," ucap Tio.
"Oh.. nanti pulang kerja aku mau jenguk Tsania kalau begitu," ucap Soraya lagi.
"Ide yang bagus juga itu," sahut Tio kembali.
"Kamu mau ikut??" tanya Soraya kepada Tio saat ini.
"Boleh saja kalau sempat, karena sore nanti aku mau nganterin ibu ke rumah sakit," ucap Tio lagi.
"Ibu kenapa Tio??" tanya Soraya khawatir.
"Tidak apa-apa Raya, hanya saja mau mengecek gula darahnya saja, dan sekalian menjenguk Derry," ucap Tio lagi dengan jujur di hadapan SORAYA.
"Oh.. syukurlah, kalau kamu melihat Derry jangan lupa fotokan dia untukku, aku juga ingin melihat kondisinya," pinta Soraya kepada Tio saat ini.
"Pasti, aku akan memenuhi keinginanmu Raya, kau bersabar saja, semua akan berlalu dengan cepat," ucap Tio menguatkan Soraya tersebut.
Walau cinta masih terbenam di hati, namun Tio yang tulus sanggup menepis godaan dan hasutan Setan yang menyuruhnya mengambil Soraya dari tangan Derry.
Kini jam siang pun telah lewat, mereka kembali ke ruangan masing-masing dan mengerjakan pekerjaan masing-masing juga.
Setiap sudut ruangan ini ada bayangan Derry berdiri dan tersenyum kepada Soraya. Ya! rindu telah membuat semuanya tampak ada, namun rindu tidak mampu memberikan kenyataan yang ada.
__ADS_1
****