90 DAYS

90 DAYS
MENYIASAT


__ADS_3

"Kemana Soraya ya??" tanya Tio  tampak bingung.


Setelah Tio sampai dan dia juga turun menemui pembantu dan sekuriti yang berjaga di sana. Mereka mengatakan Soraya  sudah dari pagi berangkat dari rumah mewah tersebut.


Sedangkan dia baru saja bertemu dengan Soraya  di rumahnya itu. Benar tebakan Tio, tampak ada sesuatu yang tidak beres terjadi saat ini.


Dia tidak ingin Soraya  tersakiti lagi. Apa Soraya  sengaja meninggalkan Derry  dalam keadaan koma seperti ini??" tanya Tio di hatinya.


Ah! tidak mungkin!! Soraya  benar-benar mencintai Derry, rasanya itu tidak mungkin, ucap Tio kembali membuang pikiran jahatnya kepada Soraya.


Dia pun menuju ke apartemen SORAYA  saat ini. Dengan cepat mobil itu dijalankan, namun baru setengah jalan, tiba-tiba sekretaris Derry  menelponnya tersebut.


"Hallo Tsania!" ucap Tio.


"Hallo pak Tio, apa bisa segera ke kantor?? ada yang harus bapak tanda tangani," jelas Tsania kepadanya.


"Oh.. baik saya segera ke kantor," ucap Tio kembali.


Dia mengurungkan niatnya ke apartemen SORAYA tersebut. Kini TIO  terus jalan lurus menuju kantornya. Karena ada hal yang cukup mendadak membuatnya dengan cepat mengendarai mobil tersebut.


Soraya  pula telah sampai membawa Yumita  ke apartemen miliknya itu. Sangat kagum Yumita  dengan apartemen milik kakaknya tersebut.


Soraya  sudah menjelaskan, apartemen ini pemberian dari Derry  untuknya. Yumita  juga salut kepada Derry, dia tampak menghargai Soraya menjadi istrinya tersebut, walau pernikahan itu hanya sebatas kontrak 90 hari.


Hari mulai petang, Matahari hampir terbenam saat ini. Nurdin dan Nadim melihat sunset hanya dari atas balkonnya.


Pemandangan yang indah menurut mereka saat ini. Yumita  pula tidur bersama Soraya. Yumita  ingin bertanya, namun dia tampak takut dan sedikit ragu-ragu.


"Yumi.. apa badanmu masih sakit??" tanya Soraya  kembali.


"Sudah tidak kak, ibu Bang Tio  benar-benar merawatku dengan baik," jelas Yumita  kepada kakaknya tersebut.


"Syukurlah kalau begitu, yasudah kamu istirahat saja disini ya," ucap Soraya  lagi.


"Iya kak, terima kasih. Apa kakak baik-baik saja?? tanya Yumita  kembali.


"Iya, kakak baik-baik saja kok, ada apa memangnya?" tanya Soraya  pula.


"Kenapa kakak tidak menjaga bang Derry  di rumah sakit kak??" mencoba memberanikan diri bertanya kepada kakaknya tersebut.

__ADS_1


"Mmm, untuk itu nanti saja kakak jelaskan," ucap Soraya  masih ingin menyembunyikannya.


Mama Derry  pula ke ruangan Fanni  saat ini. Fanni  tampak sudah sadar namun kondisinya melemah sekarang.


Mama Derry  juga sudah menjelaskan kepada Papa Fanni  mengenai keinginannya mendekatkan Derry  dan Fanni  kembali saat ini.


Papa Fanni  masih tampak marah kepada keluarga Derry  tersebut, dan karena Mama Derry  telah memberitahukan hal mengenai dirinya telah mengusir Soraya  dari rumah tersebut membuat Papa Fanni  menyetujui Fanni  dirawat satu ruangan dengan Derry.


Hari telah pun malam. Para perawat membantu memindahkan Fanni  ke ruangan Vip dimana Derry  dirawat saat ini.


Terkejut Tuan Frans  melihat istrinya membawa Fanni  ke kamar tersebut, tanpa sepengetahuan dirinya itu. Namun, Tuan Frans  juga enggan melarang hal itu, karena dia merasa bersalah kepada Papa Fanni  dan Fanni  tersebut.


"Pa, mulai malam ini Fanni  biarkan dirawat disini, bersama-sama dengan Derry, kasihan Papa Fanni  tidak bisa beranjak kemana-mana," jelas Mama Derry  tersebut.


"Iya tidak apa-apa, biar kami bisa menjaga mereka berdua disini," ucap Tuan Frans  tampak menyetujui hal itu.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya, sudah dari kemarin tidak balik ke rumah," ucap Papa Fanni  tersebut.


"Ya Sudah serahkan saja Fanni  dengan kami," ucap Mama Derry  lagi.


"Terima kasih banyak, saya titip Fanni," ucapnya lalu keluar dari kamar tersebut.


Kini tampak secercah peluang untuk Fanni  bisa mendapatkan Derry  kembali. Fanni  juga sempat mendengar Mama Derry  mengusir Soraya, ketika Mama Derry  membicarakan hal itu, Fanni  sudah sadar namun memang masih lemah.


"Fanni.. kamu mau apa nak??" tanya Mama Derry  dengan penuh kehangatan kepada Fanni  tersebut.


"Tidak Ma, berada di samping Derry  begini sudah membuat Fanni  bahagia," ucapnya lemah.


Tuan Frans  hanya tersenyum pahit saat ini. Dia tampak lemah dihadapan istrinya tersebut. Dia pun mencoba menarik tangan istrinya untuk keluar ruangan sejenak.


"Fanni.. Papa dan Mama keluar dulu ya, mau keruangan dokter," ucap Tuan Doris mencari alasan.


"Apaan sih... Pa!" nada ditahan tangannya ditarik dengan kuat oleh Tuan Frans.


Sampai di luar ruangan, Tuan Frans  tetap mengajak Nyonya besar  tersebut turun ke bawah, dia ingin Neila mendengar ucapan tidak sukanya tersebut.


"Ma, mama apa-apaan membawa Fanni  ke ruangan Derry??" tanya Tuan Frans  sedikit kesal.


"Pa, Fanni  dan Derry  itu memiliki cinta mati!!" jelasnya dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


"Ma, itu dulu, sekarang Derry  sudah memiliki istri, bagaimana kalau Soraya  melihat ini?? Mama tidak berpikir kah tentang perasaan Soraya??" seolah ingin membuka pikiran dan hati istrinya tersebut.


"Bukan urusan Mama!! Mama tidak ingin mempunyai menantu yang hanya memanfaatkan Derry  saja, biarkan Fanni  dan Derry  bersatu kembali!!"


Dengan cepat Nyonya besar  meninggalkan Tuan Frans  dan dia kembali ke ruangan dimana Derry  dan Fanni  bersama dirawat.


"Ya Tuhan.. kenapa istriku menjadi seperti ini??" tanya Tuan Frans  di hatinya.


Dia pun memikirkan nasib Soraya  jika melihat suaminya di dekatkan oleh wanita lain. Walau Tuan Frans  seorang lelaki, namun dia tampak memikirkan hati menantunya tersebut.


Tuan Frans  pun tidak kembali ke kamar tersebut, Tuan Frans  memutuskan pulang ke rumahnya malam ini. Dia masih kesal dengan sikap istrinya tersebut membuat keputusan sebelah pihak dan tampak menyudutkan menantunya yaitu Soraya.


Tio pula telah kembali ke rumah nya. Mengikuti Soraya hari ini gagal dia lakukan. Jam masih menunjukkan pukul delapan, Tuan Frans  sudah pun sampai di rumah mewahnya tersebut.


Ingin rasanya dia mengetuk pintu kamar Soraya, namun perasaan ragu-ragu menyelimuti dirinya itu.


Setelah selesai mandi, dia berencana menyuruh Tio untuk datang ke rumah dan memberikan perkembangan tentang tanah yang baru saja mereka perbesar jalannya tersebut.


"Oke.. Om, Tio akan kesana sekarang," ucap Tio dengan penuh semangat.


Panggilan itu pun terputus, dan Tuan Frans  menunggu Tio datang. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan oleh Tio untuk menyelidiki keberadaan Soraya  saat ini.


Tio berpikir, Soraya  tadi siang membawa adik-adiknya ke rumah sakit, tidak mungkin saja Soraya kembali ke apartemennya tersebut.


Dengan cepat dan berpakaian rapi, Tio pun keluar. Malam ini dia tidak pulang ke rumah orang tuanya tersebut, dia pulang ke apartemennya sendiri.


Mobil itu begitu laju menuju arah rumah Tuan Frans. Dengan cepat pagar rumah tersebut di bukakan oleh sekuriti yang telah mengenal Tio tersebut.


"Terima kasih pak!!" ucap Tio sambil menghidupkan klakson mobilnya.


Dia pun masuk ke dalam, dengan hati yang sedikit berdebar dan takut salah bicara. Pasalnya Tuan Frans  pun tahu, kalau Tio pernah mencintai Soraya.


Dia tidak ingin Tuan Frans  berprasangka buruk kepadanya atau pun kepada Soraya, karena memang diantara mereka tidak pernah ada cinta yang bersambut.


Akankah Tio  berani membuka mulutnya untuk bertanya??


.


****

__ADS_1


__ADS_2