
"Kemana Soraya ya??" tanya Tio tampak bingung.
Setelah Tio sampai dan dia juga turun menemui pembantu dan sekuriti yang berjaga di sana. Mereka mengatakan Soraya sudah dari pagi berangkat dari rumah mewah tersebut.
Sedangkan dia baru saja bertemu dengan Soraya di rumahnya itu. Benar tebakan Tio, tampak ada sesuatu yang tidak beres terjadi saat ini.
Dia tidak ingin Soraya tersakiti lagi. Apa Soraya sengaja meninggalkan Derry dalam keadaan koma seperti ini??" tanya Tio di hatinya.
Ah! tidak mungkin!! Soraya benar-benar mencintai Derry, rasanya itu tidak mungkin, ucap Tio kembali membuang pikiran jahatnya kepada Soraya.
Dia pun menuju ke apartemen SORAYA saat ini. Dengan cepat mobil itu dijalankan, namun baru setengah jalan, tiba-tiba sekretaris Derry menelponnya tersebut.
"Hallo Tsania!" ucap Tio.
"Hallo pak Tio, apa bisa segera ke kantor?? ada yang harus bapak tanda tangani," jelas Tsania kepadanya.
"Oh.. baik saya segera ke kantor," ucap Tio kembali.
Dia mengurungkan niatnya ke apartemen SORAYA tersebut. Kini TIO terus jalan lurus menuju kantornya. Karena ada hal yang cukup mendadak membuatnya dengan cepat mengendarai mobil tersebut.
Soraya pula telah sampai membawa Yumita ke apartemen miliknya itu. Sangat kagum Yumita dengan apartemen milik kakaknya tersebut.
Soraya sudah menjelaskan, apartemen ini pemberian dari Derry untuknya. Yumita juga salut kepada Derry, dia tampak menghargai Soraya menjadi istrinya tersebut, walau pernikahan itu hanya sebatas kontrak 90 hari.
Hari mulai petang, Matahari hampir terbenam saat ini. Nurdin dan Nadim melihat sunset hanya dari atas balkonnya.
Pemandangan yang indah menurut mereka saat ini. Yumita pula tidur bersama Soraya. Yumita ingin bertanya, namun dia tampak takut dan sedikit ragu-ragu.
"Yumi.. apa badanmu masih sakit??" tanya Soraya kembali.
"Sudah tidak kak, ibu Bang Tio benar-benar merawatku dengan baik," jelas Yumita kepada kakaknya tersebut.
"Syukurlah kalau begitu, yasudah kamu istirahat saja disini ya," ucap Soraya lagi.
"Iya kak, terima kasih. Apa kakak baik-baik saja?? tanya Yumita kembali.
"Iya, kakak baik-baik saja kok, ada apa memangnya?" tanya Soraya pula.
"Kenapa kakak tidak menjaga bang Derry di rumah sakit kak??" mencoba memberanikan diri bertanya kepada kakaknya tersebut.
__ADS_1
"Mmm, untuk itu nanti saja kakak jelaskan," ucap Soraya masih ingin menyembunyikannya.
Mama Derry pula ke ruangan Fanni saat ini. Fanni tampak sudah sadar namun kondisinya melemah sekarang.
Mama Derry juga sudah menjelaskan kepada Papa Fanni mengenai keinginannya mendekatkan Derry dan Fanni kembali saat ini.
Papa Fanni masih tampak marah kepada keluarga Derry tersebut, dan karena Mama Derry telah memberitahukan hal mengenai dirinya telah mengusir Soraya dari rumah tersebut membuat Papa Fanni menyetujui Fanni dirawat satu ruangan dengan Derry.
Hari telah pun malam. Para perawat membantu memindahkan Fanni ke ruangan Vip dimana Derry dirawat saat ini.
Terkejut Tuan Frans melihat istrinya membawa Fanni ke kamar tersebut, tanpa sepengetahuan dirinya itu. Namun, Tuan Frans juga enggan melarang hal itu, karena dia merasa bersalah kepada Papa Fanni dan Fanni tersebut.
"Pa, mulai malam ini Fanni biarkan dirawat disini, bersama-sama dengan Derry, kasihan Papa Fanni tidak bisa beranjak kemana-mana," jelas Mama Derry tersebut.
"Iya tidak apa-apa, biar kami bisa menjaga mereka berdua disini," ucap Tuan Frans tampak menyetujui hal itu.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, sudah dari kemarin tidak balik ke rumah," ucap Papa Fanni tersebut.
"Ya Sudah serahkan saja Fanni dengan kami," ucap Mama Derry lagi.
"Terima kasih banyak, saya titip Fanni," ucapnya lalu keluar dari kamar tersebut.
Kini tampak secercah peluang untuk Fanni bisa mendapatkan Derry kembali. Fanni juga sempat mendengar Mama Derry mengusir Soraya, ketika Mama Derry membicarakan hal itu, Fanni sudah sadar namun memang masih lemah.
"Fanni.. kamu mau apa nak??" tanya Mama Derry dengan penuh kehangatan kepada Fanni tersebut.
"Tidak Ma, berada di samping Derry begini sudah membuat Fanni bahagia," ucapnya lemah.
Tuan Frans hanya tersenyum pahit saat ini. Dia tampak lemah dihadapan istrinya tersebut. Dia pun mencoba menarik tangan istrinya untuk keluar ruangan sejenak.
"Fanni.. Papa dan Mama keluar dulu ya, mau keruangan dokter," ucap Tuan Doris mencari alasan.
"Apaan sih... Pa!" nada ditahan tangannya ditarik dengan kuat oleh Tuan Frans.
Sampai di luar ruangan, Tuan Frans tetap mengajak Nyonya besar tersebut turun ke bawah, dia ingin Neila mendengar ucapan tidak sukanya tersebut.
"Ma, mama apa-apaan membawa Fanni ke ruangan Derry??" tanya Tuan Frans sedikit kesal.
"Pa, Fanni dan Derry itu memiliki cinta mati!!" jelasnya dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
"Ma, itu dulu, sekarang Derry sudah memiliki istri, bagaimana kalau Soraya melihat ini?? Mama tidak berpikir kah tentang perasaan Soraya??" seolah ingin membuka pikiran dan hati istrinya tersebut.
"Bukan urusan Mama!! Mama tidak ingin mempunyai menantu yang hanya memanfaatkan Derry saja, biarkan Fanni dan Derry bersatu kembali!!"
Dengan cepat Nyonya besar meninggalkan Tuan Frans dan dia kembali ke ruangan dimana Derry dan Fanni bersama dirawat.
"Ya Tuhan.. kenapa istriku menjadi seperti ini??" tanya Tuan Frans di hatinya.
Dia pun memikirkan nasib Soraya jika melihat suaminya di dekatkan oleh wanita lain. Walau Tuan Frans seorang lelaki, namun dia tampak memikirkan hati menantunya tersebut.
Tuan Frans pun tidak kembali ke kamar tersebut, Tuan Frans memutuskan pulang ke rumahnya malam ini. Dia masih kesal dengan sikap istrinya tersebut membuat keputusan sebelah pihak dan tampak menyudutkan menantunya yaitu Soraya.
Tio pula telah kembali ke rumah nya. Mengikuti Soraya hari ini gagal dia lakukan. Jam masih menunjukkan pukul delapan, Tuan Frans sudah pun sampai di rumah mewahnya tersebut.
Ingin rasanya dia mengetuk pintu kamar Soraya, namun perasaan ragu-ragu menyelimuti dirinya itu.
Setelah selesai mandi, dia berencana menyuruh Tio untuk datang ke rumah dan memberikan perkembangan tentang tanah yang baru saja mereka perbesar jalannya tersebut.
"Oke.. Om, Tio akan kesana sekarang," ucap Tio dengan penuh semangat.
Panggilan itu pun terputus, dan Tuan Frans menunggu Tio datang. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan oleh Tio untuk menyelidiki keberadaan Soraya saat ini.
Tio berpikir, Soraya tadi siang membawa adik-adiknya ke rumah sakit, tidak mungkin saja Soraya kembali ke apartemennya tersebut.
Dengan cepat dan berpakaian rapi, Tio pun keluar. Malam ini dia tidak pulang ke rumah orang tuanya tersebut, dia pulang ke apartemennya sendiri.
Mobil itu begitu laju menuju arah rumah Tuan Frans. Dengan cepat pagar rumah tersebut di bukakan oleh sekuriti yang telah mengenal Tio tersebut.
"Terima kasih pak!!" ucap Tio sambil menghidupkan klakson mobilnya.
Dia pun masuk ke dalam, dengan hati yang sedikit berdebar dan takut salah bicara. Pasalnya Tuan Frans pun tahu, kalau Tio pernah mencintai Soraya.
Dia tidak ingin Tuan Frans berprasangka buruk kepadanya atau pun kepada Soraya, karena memang diantara mereka tidak pernah ada cinta yang bersambut.
Akankah Tio berani membuka mulutnya untuk bertanya??
.
****
__ADS_1